Mar 28, 2024

Konsep Law of Attraction dalam Islam Menurut Perspektif Al Qur'an dan Hadits

 


Gambar yang ada di video klip di atas SettiaBlog buat kemaren sore. Di xperia kan ada aplikasi bawaan 'sketsa', SettiaBlog campur beberapa warna terus SettiaBlog gurat menggunakan ujung jari telunjuk. E... kok mirip pohon, langsung SettiaBlog kasih bintik - bintik putih dan sedikit pastel, di tambah efek salju turun. Terus SettiaBlog kasih lagu "a thousand years". Jadilah video klip di atas. Dalam lirik A thousand years sendiri mengisahkan tentang rasa bahagia seseorang ketika menemukan dambaan hati yang membuat jantungnya kembali berdegup. Pertemuan ini memberikan cinta yang tidak memiliki batas waktu dan akan terus bersemi setiap tahunnya. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk mewujudkan apa yang di dambakan, di impikan dan di harapkan. Setiap manusia sendiri sebenarnya punya kemampuan untuk menarik apa pun hal yang kita yakini ke dalam kehidupan dengan pikiran, biasanya dikenal dengan law of attraction.

Dalam psikologi, law of attraction atau hukum ketertarikan menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dipikirkan, baik hal positif maupun negatif, itulah yang akan terjadi dalam kehidupan. Konsep law of attraction  dalam Islam telah diajarkan melalui Al Qur'an dan hadits. Dalam konsep law of attraction  menurut perspektif Islam, apa pun yang disangka dan diyakini dalam pikiran akan direalisasikan oleh Allah SWT. Jika seseorang berpikir berhasil, maka ia akan berhasil. Sebaliknya, jika dirinya berpikir gagal, maka ia juga akan gagal. Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk mengisi pikiran sesuai dengan apa yang diinginkan dan diharapkan.

Law of attraction dalam Islam merupakan bagian dari hukum Allah yang berlaku untuk semua hamba-Nya, tidak mengenal tabiat, ketakwaannya, ataupun kemaksiatannya. Konsep ini tertuang di Al Qur'an, salah satunya dalam surat Az-Zalzalah ayat 7-8 yang berbunyi:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ - 7
Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ - 8
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa law of attraction  dalam Islam sudah ada sejak Al Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Lewat ayat itu, Allah mengingatkan hamba-Nya untuk selalu berpikir positif dan menebar kebaikan pada orang sekitar agar mereka mendapatkan balasan yang serupa. Konsep Law of Attraction Al Qur'an mengarah pada tiga hal, yakni do'a,  dzan (prasangka) , dan syukur.

Jika seseorang berdo'a dan memantaskan diri di hadapan Allah SWT, do'anya akan cepat terwujud. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al Mu'min ayat 60.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Al-Mu’min: 60)

Begitu pula dengan seseorang yang berhusnudzan atau berprasangka baik kepada Allah SWT, niscaya akan menerima hal-hal positif di dalam hidupnya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhori).

Pada intinya, law of attraction dalam Islam merupakan hukum tarik-menarik yang secara langsung melibatkan peran Allah dalam memengaruhi tercapainya tujuan hidup manusia. Karena itu, sebagai umat yang beriman, kaum Muslimin harus selalu berpikir positif dan menghindari prasangka buruk (suudzon), baik kepada Allah SWT maupun sesama manusia.

No comments:

Post a Comment