Video klip di atas ada "melodia de uma noite" karya komponis Portugal, Silvestre Fonseca. Lagu ini di mainkan Ilona Guitar dengan cantiknya. Melodia de uma noite bisa di artikan melodi di malam hari. Maaf ya kalau SettiaBlog salah mengartikan, SettiaBlog ndak begitu bisa bahasa Portugal, yang jelas lagu ini menggambarkan suasana syahdu pada waktu malam hari. Bagi orang muslim waktu tengah malam yang syahdu kayak gitu sangat cocok untuk qiyamul lail.
Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi? Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang ndak ada habisnya. Di titik itu, rasanya kapasitas diri sudah ndak mampu lagi menampung semuanya. Respons paling manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar: masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting. Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ.
Dalam surah Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi Muhammad ﷺ. Di awal-awal masa kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat, jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy. Ada momen di mana tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah ﷺ memilih untuk menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya. Tentu saja, sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut ndak akan pernah menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah ﷻ ndak menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”
Lalu dilanjutkan di surah Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah ﷻ langsung memberikan sebuah “resep” yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari separuh itu.” Allah ﷻ bmemerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Ndak lain karena ketika dunia sedang terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering. Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.
Mengapa Shalat Malam Pernah Menjadi Kewajiban?
Banyak yang mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah ﷻ memberikan satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam). Di hadapan tugas kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif, Rasulullah ﷺ dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya. Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.
Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah ﷻ bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah ﷻ ndak serta-merta menyuruh Rasulullah ﷺ untuk membalas perlakuan mereka, ndak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.bSebaliknya, Allah ﷻ justru memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga malam melalui qiyamul lail. Allah ﷻbhendak mengokohkan fondasi jiwa kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang hari.
Shalat malam diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat dirinya yang bermula dari “al-‘alaq”, segumpal darah yang lemah, terbatas, dan ndak memiliki daya apa-apa. Lewat untaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan kesombongan manusiawi dikikis habis. Di atas sajadah, seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah, pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah ﷻ justru akan turun. Menariknya, ketika Allah ﷻ sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali ndak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.
Pada akhirnya, harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah ﷺ, juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau pewaris estafet risalah Islam. Ketika terjun ke masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya problematika umat dan beratnya tantangan dakwah. Di titik itulah akan sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah ﷻ.
Secara fitrah sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi setiap tekanan eksternal. Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, ndak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.
Malam hari adalah waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi transendental langsung dari pusat ketenangan universal. Jadi, jika hari ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam. Jangan paksakan logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu, bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah ﷻ. Karena dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah dunia di siang hari dilahirkan.
Seorang pakar tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surah Al-Muzzammil itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk perintah langsung yang tegas. Lebih dari itu, sebuah ibadah sunnah (anjuran) ndak mungkin membatasi durasi waktu secara detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah tersebut berstatus sangat penting dan wajib. Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah ﷺ, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”
Aisyah kemudian menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi ﷺ dan para sahabat melakukannya selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”
Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib ini. Baru setelah satu tahun berlalu, Allah ﷻ menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Meski status hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail ndak pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6) Bagi Rasulullah ﷺ sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.
Saat ditanya mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)” Pertanyaan retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita. Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir. Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah ﷻ untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi? Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang ndak ada habisnya. Di titik itu, rasanya kapasitas diri sudah ndak mampu lagi menampung semuanya. Respons paling manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar: masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting. Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ.
Dalam surah Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi Muhammad ﷺ. Di awal-awal masa kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat, jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy. Ada momen di mana tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah ﷺ memilih untuk menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya. Tentu saja, sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut ndak akan pernah menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah ﷻ ndak menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”
Lalu dilanjutkan di surah Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah ﷻ langsung memberikan sebuah “resep” yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari separuh itu.” Allah ﷻ bmemerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Ndak lain karena ketika dunia sedang terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering. Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.
Mengapa Shalat Malam Pernah Menjadi Kewajiban?
Banyak yang mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah ﷻ memberikan satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam). Di hadapan tugas kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif, Rasulullah ﷺ dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya. Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.
Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah ﷻ bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah ﷻ ndak serta-merta menyuruh Rasulullah ﷺ untuk membalas perlakuan mereka, ndak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.bSebaliknya, Allah ﷻ justru memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga malam melalui qiyamul lail. Allah ﷻbhendak mengokohkan fondasi jiwa kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang hari.
Shalat malam diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat dirinya yang bermula dari “al-‘alaq”, segumpal darah yang lemah, terbatas, dan ndak memiliki daya apa-apa. Lewat untaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan kesombongan manusiawi dikikis habis. Di atas sajadah, seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah, pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah ﷻ justru akan turun. Menariknya, ketika Allah ﷻ sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali ndak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.
Pada akhirnya, harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah ﷺ, juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau pewaris estafet risalah Islam. Ketika terjun ke masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya problematika umat dan beratnya tantangan dakwah. Di titik itulah akan sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah ﷻ.
Secara fitrah sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi setiap tekanan eksternal. Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, ndak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.
Malam hari adalah waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi transendental langsung dari pusat ketenangan universal. Jadi, jika hari ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam. Jangan paksakan logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu, bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah ﷻ. Karena dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah dunia di siang hari dilahirkan.
Seorang pakar tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surah Al-Muzzammil itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk perintah langsung yang tegas. Lebih dari itu, sebuah ibadah sunnah (anjuran) ndak mungkin membatasi durasi waktu secara detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah tersebut berstatus sangat penting dan wajib. Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah ﷺ, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”
Aisyah kemudian menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi ﷺ dan para sahabat melakukannya selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”
Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib ini. Baru setelah satu tahun berlalu, Allah ﷻ menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Meski status hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail ndak pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6) Bagi Rasulullah ﷺ sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.
Saat ditanya mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)” Pertanyaan retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita. Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir. Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah ﷻ untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Video klip kedua ada "ya sudahlah" milik Bondan yang udah di cover. Untuk ilustrasinya itu, ide awalnya dari pernyataan Ilona yang ingin membuat klip di alam terbuka. Kenapa kok di buat naik Kerbau SettiaBlog? Jalan untuk menuju tempat itu cukup susah, paling mudah naik Kerbau ...he...he... Bercanda ...bercanda. Ini ada sedikit cerita sejarah saat kerajaan Majapahit berniat melakukan ekspansi. Untuk menghindari perang besar dan pertumpahan darah, Raja Pagaruyung dan panglima Majapahit sepakat menyelesaikan sengketa melalui adu kerbau. Cerita ini tercatat di Serat Pararaton. Majapahit waktu itu membawa kerbau yang sangat besar dan kuat. Sementara kerajaan Pagaruyung menggunakan seekor anak kerbau (dikenal sebagai gudel) yang lapar dan sengaja ndak diberi makan berhari-hari. Di ujung tanduk anak kerbau tersebut, dipasang pisau besi yang tajam. Saat diadu di arena, anak kerbau yang sangat lapar itu berlari ke arah kerbau besar Majapahit. Anak kerbau itu mengira kerbau besar tersebut adalah induknya dan bermaksud untuk menyusu. Anak kerbau itu terus menyeruduk dan melukai perut kerbau Majapahit menggunakan pisau di tanduknya.
Sebenarnya cerita kayak gini unsurnya bahasa sanepan. Sebenarnya Majapahit kala itu kalah karena strategi gerilya yang di gunakan pasukan Pagaruyung. Terutama, kerajaan Pagaruyung memiliki bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup susah untuk di lalui. Kondisi alam ini yang di manfaatkan oleh pasukan Kerajaan Pagaruyung. Kok malah ngomongin sejarah...he...he...maaf ...maaf. Yang jelas di sinilah pentingnya sebuah strategi dalam bertindak.
Berpikir strategis adalah cara berpikir untuk menyikapi persoalan dengan membuat rencana setelah melakukan analisis terlebih dahulu pada tantangan atau rintangan. Cara berpikir yang satu ini tentu dibutuhkan dalam dunia kerja karena dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi diri untuk menyelesaikan pekerjaan. Ndak hanya para pemimpin, tapi karyawan juga perlu memiliki kemampuan ini agar dapat memahami instruksi yang diberikan.
Berpikir secara strategis diartikan sebagai proses pikir yang intensional dan rasional. Dengan berpikir secara strategis, Anda berfokus terhadap analisis, faktor kritis, serta variabel-variabel yang akan memengaruhi suatu hal dalam jangka panjang. Ini bisa berlaku untuk sebuah proyek, bisnis, atau juga untuk keputusan pribadi yang kamu buat.
Sebagai seorang strategic thinker, Anda akan selalu berhati-hati dalam membuat keputusan dan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan pertimbangan yang terukur. Cara inilah yang bisa mewujudkan rencana dan tujuan yang jelas, serta keputusan yang tepat. Untuk bisa berpikir secara strategis, Anda butuh mengasah research skill, analytical thinking, kemampuan berinovasi, menyelesaikan masalah, komunikasi, kepemimpinan, dan membuat keputusan.
Bisnis berkembang dengan begitu cepat dengan adanya teknologi dan sumber daya lainnya yang memadai. Oleh karena itu, kita harus cepat beradaptasi dan menyusun rencana untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Jika ndak, perusahaan akan tertinggal dan kalah dalam persaingan. Nah, berpikir strategis adalah salah satu cara untuk menghasilkan rencana-rencana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, Anda bisa selalu mengantisipasi, memperkirakan, dan mengambil kesempatan dengan sigap.
Ini bukan hanya tanggung jawab pemimpin perusahaan, tetapi juga semua stakeholder yang terlibat. Semakin besa Anda bisa berkontribusi dalam pekerjaan Anda, tentu perusahaan pun akan semakin menghargai posisi Anda.
Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Strategis
1. Berorientasi pada masa depan
Berpikir strategis kerap kali dikaitkan dengan membuat rencana. Oleh karena itu, Anda perlu memiliki orientasi terhadap masa depan agar terbiasa berpikir strategis. Ketika dihadapkan dengan sebuah proyek atau pekerjaan, mulailah dengan memprediksi apa yang akan menjadi rintangan-rintangan di masa depan serta bagaimana solusinya. Buat beberapa rencana untuk menyelesaikan masalahmu, lalu coba satu persatu untuk mengetahui mana yang berhasil. Hal ini akan membuat Anda terlatih untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dengan memiliki orientasi terhadap masa depan. Selain itu, waktu pun akan lebih banyak terhemat.
2. Coba berbagai hal baru
Kemampuan berpikir strategis akan menuntut Anda untuk memiliki wawasan yang luas. Oleh karena itu, cobalah untuk melakukan hal-hal baru dan menambah wawasan Anda. Pengalaman baru dapat menjadi pelajaran dan akan membantu Anda mendapatkan insight atau sudut pandang baru dalam menyikapi suatu hal. Selain itu, Anda juga akan terlatih untuk memperhitungkan berbagai risiko dan tantangan yang dihadapi.
3. Latih manajemen waktu dan prioritas
Kemampuan berpikir strategis pun memerlukan keahlian manajemen waktu dan skala prioritas. Rencana bagus sekali pun kemungkinan ndak dapat berjalan dengan baik tanpa manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas yang baik. Oleh karena itu, skill satu ini selain dibutuhkan untuk mengembangkan pola pikir strategis, juga berguna untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan. Anda dapat memulai melatih manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas dari kegiatan sehari-hari, seperti mengatur waktu kapan Anda harus tidur dan bangun.
4. Melibatkan berbagai faktor saat membuat rencana
Seseorang dengan kemampuan berpikir strategis mengetahui bahwa faktor seperti ide, kesempatan, dan sumber daya berkaitan satu sama lain. Sehingga, dia akan mempertimbangkan semuanya ketika membuat rencana. Untuk menemukan ide, Anda dapat mencoba dengan meluangkan waktu untuk mendapat pengalaman baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini akan memberikan Anda inspirasi, lho. Sedangkan untuk melihat kesempatan, perhatikan apa yang kompetitor lakukan lalu buatlah sebuah riset persaingan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui besarnya kesempatan yang dimiliki. Lalu untuk sumber daya, Anda dapat melakukan riset langsung untuk mencari bahan baku atau jika berupa sumber daya manusia, Anda dapat menggunakan diskusi. Dengan melibatkan banyak faktor, maka risiko-risiko yang akan dihadapi pun akan dapat terlihat dan mudah untuk diperhitungkan.
5. Menanyakan pertanyaan strategis
Menurut Harvard Business School, menanyakan pertanyaan strategis pun dapat mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Hal ini dapat membantu Anda dalam melatih kemampuan perencanaan, melihat kesempatan dan juga mindset strategis untuk mengembangkan karier. Contoh pertanyaan strategis adalah sebagai berikut;
Bagaimana kita dapat menempatkan produk dalam pasar yang baru?
Ke mana arah perkembangan dari produk atau brand ini?
Apa langkah-langkah yang bisa diambil untuk menjaga konsumen dalam memakai produk ini?
6. Observasi dan refleksi
Selain menanyakan pertanyaan strategis, coba juga untuk mencari jawabannya. Anda bisa menemukannya dengan melakukan observasi dan refleksi. Melakukan kedua hal tersebut adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berpikir strategis. Anda bisa mengobservasi dengan mencari informasi sebanyak mungkin untuk menjadi dasar dalam membuat strategi baru. Setelah itu, cari juga apa yang salah dan harus diperbaiki dalam strategi atau prosedur yang telah berlaku.
7. Berhati-hati terhadap bias
Setiap orang memiliki bias terhadap sebuah hal atau topik. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati terhadap hal tersebut. Cobalah untuk menilai pemikiran yang sudah Anda buat. Apakah Anda membuat pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada atau karena Anda memang memiliki preferensi lain yang mendukung pemikiran tersebut? Dengan mengakui bahwa pemikiran sendiri ndak sempurna, hal ini memungkinkan Anda untuk berpikir lebih strategis ketika akan membuat keputusan.
8. Mempertimbangkan ide yang berlawanan
Ketika Anda sudah menemukan ide, cobalah untuk mengkritisi ide tersebut. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Dengan mengkritisi pemikiran sendiri, Anda bisa melihat kekurangan dari pemikiran yang telah dibuat. Anda juga bisa menajamkan kemampuan berpikir logis untuk mengomunikasikan dan menjalankan strategi Anda. Cobalah untuk mempertanyakan diri Anda sendiri ketika membuat keputusan. Haruskah Anda mengambil dari perspektif lain? Adakah detail yang terlewat?
Itulah beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Jangan ragu untuk berdiskusi dan terbuka terhadap saran juga kritik melalui diskusi agar pola pikir strategis Anda terus dapat terasah dan berkembang.
Sebenarnya cerita kayak gini unsurnya bahasa sanepan. Sebenarnya Majapahit kala itu kalah karena strategi gerilya yang di gunakan pasukan Pagaruyung. Terutama, kerajaan Pagaruyung memiliki bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup susah untuk di lalui. Kondisi alam ini yang di manfaatkan oleh pasukan Kerajaan Pagaruyung. Kok malah ngomongin sejarah...he...he...maaf ...maaf. Yang jelas di sinilah pentingnya sebuah strategi dalam bertindak.
Berpikir strategis adalah cara berpikir untuk menyikapi persoalan dengan membuat rencana setelah melakukan analisis terlebih dahulu pada tantangan atau rintangan. Cara berpikir yang satu ini tentu dibutuhkan dalam dunia kerja karena dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi diri untuk menyelesaikan pekerjaan. Ndak hanya para pemimpin, tapi karyawan juga perlu memiliki kemampuan ini agar dapat memahami instruksi yang diberikan.
Berpikir secara strategis diartikan sebagai proses pikir yang intensional dan rasional. Dengan berpikir secara strategis, Anda berfokus terhadap analisis, faktor kritis, serta variabel-variabel yang akan memengaruhi suatu hal dalam jangka panjang. Ini bisa berlaku untuk sebuah proyek, bisnis, atau juga untuk keputusan pribadi yang kamu buat.
Sebagai seorang strategic thinker, Anda akan selalu berhati-hati dalam membuat keputusan dan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan pertimbangan yang terukur. Cara inilah yang bisa mewujudkan rencana dan tujuan yang jelas, serta keputusan yang tepat. Untuk bisa berpikir secara strategis, Anda butuh mengasah research skill, analytical thinking, kemampuan berinovasi, menyelesaikan masalah, komunikasi, kepemimpinan, dan membuat keputusan.
Bisnis berkembang dengan begitu cepat dengan adanya teknologi dan sumber daya lainnya yang memadai. Oleh karena itu, kita harus cepat beradaptasi dan menyusun rencana untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Jika ndak, perusahaan akan tertinggal dan kalah dalam persaingan. Nah, berpikir strategis adalah salah satu cara untuk menghasilkan rencana-rencana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, Anda bisa selalu mengantisipasi, memperkirakan, dan mengambil kesempatan dengan sigap.
Ini bukan hanya tanggung jawab pemimpin perusahaan, tetapi juga semua stakeholder yang terlibat. Semakin besa Anda bisa berkontribusi dalam pekerjaan Anda, tentu perusahaan pun akan semakin menghargai posisi Anda.
Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Strategis
1. Berorientasi pada masa depan
Berpikir strategis kerap kali dikaitkan dengan membuat rencana. Oleh karena itu, Anda perlu memiliki orientasi terhadap masa depan agar terbiasa berpikir strategis. Ketika dihadapkan dengan sebuah proyek atau pekerjaan, mulailah dengan memprediksi apa yang akan menjadi rintangan-rintangan di masa depan serta bagaimana solusinya. Buat beberapa rencana untuk menyelesaikan masalahmu, lalu coba satu persatu untuk mengetahui mana yang berhasil. Hal ini akan membuat Anda terlatih untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dengan memiliki orientasi terhadap masa depan. Selain itu, waktu pun akan lebih banyak terhemat.
2. Coba berbagai hal baru
Kemampuan berpikir strategis akan menuntut Anda untuk memiliki wawasan yang luas. Oleh karena itu, cobalah untuk melakukan hal-hal baru dan menambah wawasan Anda. Pengalaman baru dapat menjadi pelajaran dan akan membantu Anda mendapatkan insight atau sudut pandang baru dalam menyikapi suatu hal. Selain itu, Anda juga akan terlatih untuk memperhitungkan berbagai risiko dan tantangan yang dihadapi.
3. Latih manajemen waktu dan prioritas
Kemampuan berpikir strategis pun memerlukan keahlian manajemen waktu dan skala prioritas. Rencana bagus sekali pun kemungkinan ndak dapat berjalan dengan baik tanpa manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas yang baik. Oleh karena itu, skill satu ini selain dibutuhkan untuk mengembangkan pola pikir strategis, juga berguna untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan. Anda dapat memulai melatih manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas dari kegiatan sehari-hari, seperti mengatur waktu kapan Anda harus tidur dan bangun.
4. Melibatkan berbagai faktor saat membuat rencana
Seseorang dengan kemampuan berpikir strategis mengetahui bahwa faktor seperti ide, kesempatan, dan sumber daya berkaitan satu sama lain. Sehingga, dia akan mempertimbangkan semuanya ketika membuat rencana. Untuk menemukan ide, Anda dapat mencoba dengan meluangkan waktu untuk mendapat pengalaman baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini akan memberikan Anda inspirasi, lho. Sedangkan untuk melihat kesempatan, perhatikan apa yang kompetitor lakukan lalu buatlah sebuah riset persaingan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui besarnya kesempatan yang dimiliki. Lalu untuk sumber daya, Anda dapat melakukan riset langsung untuk mencari bahan baku atau jika berupa sumber daya manusia, Anda dapat menggunakan diskusi. Dengan melibatkan banyak faktor, maka risiko-risiko yang akan dihadapi pun akan dapat terlihat dan mudah untuk diperhitungkan.
5. Menanyakan pertanyaan strategis
Menurut Harvard Business School, menanyakan pertanyaan strategis pun dapat mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Hal ini dapat membantu Anda dalam melatih kemampuan perencanaan, melihat kesempatan dan juga mindset strategis untuk mengembangkan karier. Contoh pertanyaan strategis adalah sebagai berikut;
Bagaimana kita dapat menempatkan produk dalam pasar yang baru?
Ke mana arah perkembangan dari produk atau brand ini?
Apa langkah-langkah yang bisa diambil untuk menjaga konsumen dalam memakai produk ini?
6. Observasi dan refleksi
Selain menanyakan pertanyaan strategis, coba juga untuk mencari jawabannya. Anda bisa menemukannya dengan melakukan observasi dan refleksi. Melakukan kedua hal tersebut adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berpikir strategis. Anda bisa mengobservasi dengan mencari informasi sebanyak mungkin untuk menjadi dasar dalam membuat strategi baru. Setelah itu, cari juga apa yang salah dan harus diperbaiki dalam strategi atau prosedur yang telah berlaku.
7. Berhati-hati terhadap bias
Setiap orang memiliki bias terhadap sebuah hal atau topik. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati terhadap hal tersebut. Cobalah untuk menilai pemikiran yang sudah Anda buat. Apakah Anda membuat pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada atau karena Anda memang memiliki preferensi lain yang mendukung pemikiran tersebut? Dengan mengakui bahwa pemikiran sendiri ndak sempurna, hal ini memungkinkan Anda untuk berpikir lebih strategis ketika akan membuat keputusan.
8. Mempertimbangkan ide yang berlawanan
Ketika Anda sudah menemukan ide, cobalah untuk mengkritisi ide tersebut. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Dengan mengkritisi pemikiran sendiri, Anda bisa melihat kekurangan dari pemikiran yang telah dibuat. Anda juga bisa menajamkan kemampuan berpikir logis untuk mengomunikasikan dan menjalankan strategi Anda. Cobalah untuk mempertanyakan diri Anda sendiri ketika membuat keputusan. Haruskah Anda mengambil dari perspektif lain? Adakah detail yang terlewat?
Itulah beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Jangan ragu untuk berdiskusi dan terbuka terhadap saran juga kritik melalui diskusi agar pola pikir strategis Anda terus dapat terasah dan berkembang.

No comments:
Post a Comment