Video klip di atas ada "anugerah terindah yang pernah kumiliki" versi akustik blues. Dan ilmu adalah anugerah terbesar dari Allah ﷻ yang berfungsi sebagai cahaya penerang, pedoman hidup, dan sarana bagi manusia untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi
Dalam kitab Ihya’ Ulûmiddîn, Abu Hamid Al-Ghazali mencatat kuadran, yang sejatinya pendapat Al-Khalil ibn Ahmad. Manusia itu ada empat (tipe).
(Pertama), manusia yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Itu orang berilmu, maka ikutilah dia!
(Kedua), manusia yang tahu dan ndak tahu bahwa dirinya tahu. Itu orang yang tidur, maka bangunkanlah dia!
(Ketiga), manusia yang ndak tahu dan tahu bahwa dia ndak tahu. Itu pencari petunjuk, maka berilah dia petunjuk!
(Keempat), manusia yang ndak tahu dan ndak tahu bahwa dirinya ndak tahu. Itu orang dungu, maka tolaklah dia!
Tipe pertama adalah tipe ideal orang berilmu, yaitu menyadari dirinya mengetahui dan mengamalkan ilmu pengetahuannya. Misalnya orang berilmu itu tahu bahwa “Islâm” itu serumpun dengan “salâm” yang berarti damai. Kemudian, dia berupaya untuk bersikap santun, merangkul semua pihak, dan menebarkan kasih kepada para penghuni bumi. Ketika dimusuhi dan dimaki pun, orang berilmu tersebut memaafkan pihak yang memusuhi dan memakinya. Orang berilmu semacam itulah yang termasuk ulama yang patut diikuti.
Tipe kedua bukan tipe ideal orang berilmu. Orang model kedua itu sebenarnya berilmu. Tapi dia ndak benar-benar menerapkan ilmunya dengan baik. Orang yang berilmu semacam itu, menurut catatan di Ihya’ tersebut adalah orang yang sedang tidur (comfort-zone). Dia perlu disadarkan. Karena dia berilmu, tentu cara penyadarannya pun harus dengan ilmu juga: baik dengan perdebatan yang baik maupun dengan pernyataan bijak yang mengarah ke hakikat ilmu. Memang ndak ada orang yang menguasai semua disiplin ilmu, tetapi sadarlah bahwa setiap kita mempunyai kelebihan yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita, temukanlah. Dan dengan kelebihan ilmu atau ketrampilan itu terlibatlah dalam kiprah dakwah. Untuk memakmurkan masjid misalnya, ndak hanya butuh ustadz alumni pesantren atau IAIN, tapi perlu ahli audio agar suaranya terdengar jelas, perlu ahli AC agar jamaah nyaman di masjid, perlu ahli drainase agar toilet ndak bau bahkan perlu ahli IT yang mampu meng-upload ceramah-ceramah yang bermutu, meredam puisi dan statement yang ndak bermutu. Apalagi untuk membangun umat, Islam rahmatan lil alamin, perlu ekonom, pengusaha, politisi, ahli medis, dan lain lain, agar ilmuwan muslim berperan siginfikan.
Tipe ketiga adalah tipe ideal orang yang ndak tahu. Dia memang ndak tahu, tapi dia sadar bahwa dirinya ndak tahu, sehingga dia selalu belajar dan siap bertanya kepada siapapun yang layak untuk ditanya tentang ilmu dan informasi. Hasilnya, orang yang ndak berilmu semacam ini lambat laun menjadi orang yang berilmu. Sekiranya orang berilmu bertemu dengan tipe ketiga ini, sepatutnya orang berilmu itu berkenan mengajarinya, karena orang tipe ketiga ini adalah pembelajar yang perlu diajari untuk perbaikan masa kini dan masa depan.
Tipe keempat adalah tipe manusia paling buruk. Dia adalah orang bodoh, tapi ndak menyadari kebodohannya. Seharusnya orang bodoh belajar pada orang yang pintar. Tapi orang bodoh yang ndak sadar dirinya bodoh adalah orang yang enggan belajar. Dia merasa puas dengan kondisi dirinya. Cenderung menolak untuk diajari, bahkan sering sok tahu, meski aslinya cuma tahu sedikit atau ndak tahu atau ngawur. Orang semacam itu adalah orang bodoh kuadrat (jâhil murakkab) yang ndak bisa diubah dan berubah menjadi baik.
Berdasarkan paparan di atas tampak jelas bahwa tipe pertama adalah sifat paling ideal yang seharusnya kita miliki, yaitu berpengetahuan dan menyadari apa yang kita ketahui sekaligus menjalankan dan menebarkannya. Sekiranya kita belum mencapai level pertama itu, minimal kita menjadi orang tipe ketiga, yaitu orang yang belum tahu dan menyadari ketidaktahuan diri dan berusaha untuk mengetahui dengan cara terus menerus belajar kepada orang-orang tipe pertama itu. Yang jelas, sepatutnya kita membangunkan orang tipe kedua, karena orang tipe kedua adalah orang yang justru perlu diberi peringatan bukan untuk do something, agar ilmunya bermanfaat.
AIlah ﷻ menjadikan alam dunia dan seluruh isinya sebagai tempat manusia berusaha untuk mencari nafkah sekaligus ladang beramal. Alam akhirat merupakan tempat diberikannya balasan atas semua usaha manusia selama hidup di dunia. Manusia bisa mendapat pahala atau siksa di akhirat, semua itu bergantung usaha manusia selama menjalani kehidupan di alam dunia. Menurut Imam Al Ghazali, kehidupan dunia sebagai tempat bekerja dan mencari penghidupan bukanlah tujuan akhir dari kehidupan manusia. Alam dunia ndak lebih dari sarana atau jalan mencapai kehidupan akhirat yang lebih kekal. Dunia merupakan kebun tempat bercocok tanam untuk menuai hasilnya di alam akhirat, dan sekaligus menjadi pintu masuk ke negeri akhirat. Berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat, manusia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
Pertama, manusia yang melupakan tempat kembalinya (kehidupan akhirat), dan menjadikan kehidupan dunia sebagai satu-satunya tujuan. Mereka adalah orang-orang yang merugi. Mereka pasti akan mendapatkan kebinasaan saat berada di sisi Allah ﷻ kelak (di alam akhirat).
Kedua, manusia yang menjadikan tempat kembalinya di kehidupan akhirat sebagai satu-satunya tujuan. Mereka ndak terlalu menyibukkan diri dalam mengejar urusan duniawi. Mereka larut dalam urusan akhirat berikut kebahagiaan yang dinantinya. Inilah kelompok orang-orang yang ingin meraih keberuntungan sejati.
Ketiga, manusia yang mengambil jalan tengah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Mereka berkeyakinan bahwa tujuan kembalinya adalah alam akhirat, sebagai sesuatu yang pasti terjadi, namun tetap mengambil bagian dari kehidupan dunia dengan tetap berniaga, bekerja dan berdagang misalnya. Kelompok ketiga ini berkeyakinan bahwa orang-orang yang ndak bisa mengambil jalan yang lurus dalam mencari penghidupan ndak akan mendapatkan kebahagiaan, baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak. Mereka yang menganggap dunia ini sebagai sarana memperoleh kehidupan akhirat akan mengikuti ketentuan dan aturan syari’at dalam pencariannya, serta berusaha mendapatkan kebahagiaan di dalam jalan pertengahan ini. Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana (bumi) penghidupan untukmu. (Akan tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS Al-Araf ayat 10).
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Dalam kitab Ihya’ Ulûmiddîn, Abu Hamid Al-Ghazali mencatat kuadran, yang sejatinya pendapat Al-Khalil ibn Ahmad. Manusia itu ada empat (tipe).
(Pertama), manusia yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Itu orang berilmu, maka ikutilah dia!
(Kedua), manusia yang tahu dan ndak tahu bahwa dirinya tahu. Itu orang yang tidur, maka bangunkanlah dia!
(Ketiga), manusia yang ndak tahu dan tahu bahwa dia ndak tahu. Itu pencari petunjuk, maka berilah dia petunjuk!
(Keempat), manusia yang ndak tahu dan ndak tahu bahwa dirinya ndak tahu. Itu orang dungu, maka tolaklah dia!
Tipe pertama adalah tipe ideal orang berilmu, yaitu menyadari dirinya mengetahui dan mengamalkan ilmu pengetahuannya. Misalnya orang berilmu itu tahu bahwa “Islâm” itu serumpun dengan “salâm” yang berarti damai. Kemudian, dia berupaya untuk bersikap santun, merangkul semua pihak, dan menebarkan kasih kepada para penghuni bumi. Ketika dimusuhi dan dimaki pun, orang berilmu tersebut memaafkan pihak yang memusuhi dan memakinya. Orang berilmu semacam itulah yang termasuk ulama yang patut diikuti.
Tipe kedua bukan tipe ideal orang berilmu. Orang model kedua itu sebenarnya berilmu. Tapi dia ndak benar-benar menerapkan ilmunya dengan baik. Orang yang berilmu semacam itu, menurut catatan di Ihya’ tersebut adalah orang yang sedang tidur (comfort-zone). Dia perlu disadarkan. Karena dia berilmu, tentu cara penyadarannya pun harus dengan ilmu juga: baik dengan perdebatan yang baik maupun dengan pernyataan bijak yang mengarah ke hakikat ilmu. Memang ndak ada orang yang menguasai semua disiplin ilmu, tetapi sadarlah bahwa setiap kita mempunyai kelebihan yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita, temukanlah. Dan dengan kelebihan ilmu atau ketrampilan itu terlibatlah dalam kiprah dakwah. Untuk memakmurkan masjid misalnya, ndak hanya butuh ustadz alumni pesantren atau IAIN, tapi perlu ahli audio agar suaranya terdengar jelas, perlu ahli AC agar jamaah nyaman di masjid, perlu ahli drainase agar toilet ndak bau bahkan perlu ahli IT yang mampu meng-upload ceramah-ceramah yang bermutu, meredam puisi dan statement yang ndak bermutu. Apalagi untuk membangun umat, Islam rahmatan lil alamin, perlu ekonom, pengusaha, politisi, ahli medis, dan lain lain, agar ilmuwan muslim berperan siginfikan.
Tipe ketiga adalah tipe ideal orang yang ndak tahu. Dia memang ndak tahu, tapi dia sadar bahwa dirinya ndak tahu, sehingga dia selalu belajar dan siap bertanya kepada siapapun yang layak untuk ditanya tentang ilmu dan informasi. Hasilnya, orang yang ndak berilmu semacam ini lambat laun menjadi orang yang berilmu. Sekiranya orang berilmu bertemu dengan tipe ketiga ini, sepatutnya orang berilmu itu berkenan mengajarinya, karena orang tipe ketiga ini adalah pembelajar yang perlu diajari untuk perbaikan masa kini dan masa depan.
Tipe keempat adalah tipe manusia paling buruk. Dia adalah orang bodoh, tapi ndak menyadari kebodohannya. Seharusnya orang bodoh belajar pada orang yang pintar. Tapi orang bodoh yang ndak sadar dirinya bodoh adalah orang yang enggan belajar. Dia merasa puas dengan kondisi dirinya. Cenderung menolak untuk diajari, bahkan sering sok tahu, meski aslinya cuma tahu sedikit atau ndak tahu atau ngawur. Orang semacam itu adalah orang bodoh kuadrat (jâhil murakkab) yang ndak bisa diubah dan berubah menjadi baik.
Berdasarkan paparan di atas tampak jelas bahwa tipe pertama adalah sifat paling ideal yang seharusnya kita miliki, yaitu berpengetahuan dan menyadari apa yang kita ketahui sekaligus menjalankan dan menebarkannya. Sekiranya kita belum mencapai level pertama itu, minimal kita menjadi orang tipe ketiga, yaitu orang yang belum tahu dan menyadari ketidaktahuan diri dan berusaha untuk mengetahui dengan cara terus menerus belajar kepada orang-orang tipe pertama itu. Yang jelas, sepatutnya kita membangunkan orang tipe kedua, karena orang tipe kedua adalah orang yang justru perlu diberi peringatan bukan untuk do something, agar ilmunya bermanfaat.
AIlah ﷻ menjadikan alam dunia dan seluruh isinya sebagai tempat manusia berusaha untuk mencari nafkah sekaligus ladang beramal. Alam akhirat merupakan tempat diberikannya balasan atas semua usaha manusia selama hidup di dunia. Manusia bisa mendapat pahala atau siksa di akhirat, semua itu bergantung usaha manusia selama menjalani kehidupan di alam dunia. Menurut Imam Al Ghazali, kehidupan dunia sebagai tempat bekerja dan mencari penghidupan bukanlah tujuan akhir dari kehidupan manusia. Alam dunia ndak lebih dari sarana atau jalan mencapai kehidupan akhirat yang lebih kekal. Dunia merupakan kebun tempat bercocok tanam untuk menuai hasilnya di alam akhirat, dan sekaligus menjadi pintu masuk ke negeri akhirat. Berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat, manusia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
Pertama, manusia yang melupakan tempat kembalinya (kehidupan akhirat), dan menjadikan kehidupan dunia sebagai satu-satunya tujuan. Mereka adalah orang-orang yang merugi. Mereka pasti akan mendapatkan kebinasaan saat berada di sisi Allah ﷻ kelak (di alam akhirat).
Kedua, manusia yang menjadikan tempat kembalinya di kehidupan akhirat sebagai satu-satunya tujuan. Mereka ndak terlalu menyibukkan diri dalam mengejar urusan duniawi. Mereka larut dalam urusan akhirat berikut kebahagiaan yang dinantinya. Inilah kelompok orang-orang yang ingin meraih keberuntungan sejati.
Ketiga, manusia yang mengambil jalan tengah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Mereka berkeyakinan bahwa tujuan kembalinya adalah alam akhirat, sebagai sesuatu yang pasti terjadi, namun tetap mengambil bagian dari kehidupan dunia dengan tetap berniaga, bekerja dan berdagang misalnya. Kelompok ketiga ini berkeyakinan bahwa orang-orang yang ndak bisa mengambil jalan yang lurus dalam mencari penghidupan ndak akan mendapatkan kebahagiaan, baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak. Mereka yang menganggap dunia ini sebagai sarana memperoleh kehidupan akhirat akan mengikuti ketentuan dan aturan syari’at dalam pencariannya, serta berusaha mendapatkan kebahagiaan di dalam jalan pertengahan ini. Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana (bumi) penghidupan untukmu. (Akan tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS Al-Araf ayat 10).
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Video klip kedua SettiaBlog kasih judul "singgasana rembulan".
Manusia harus bersujud dan taat kepada Allah ﷻ karena sebuah alasan. Itu karena manusia merupakan mahluk ciptaan-Nya. Dalam hal ini, ideologi harus dikunci terlebih dahulu. Bila kesadaran sebagai makhluk ciptaan Allah ﷻ hilang, maka terjadi ketidakseimbangan. Ada proses logika penghambaan yang sebenarnya mudah untuk dicerna. Namun, karena logika ndak juga diterima oleh kebanyakan manusia, maka titik ketaatan ndak kunjung masuk. Salah satu proses fakta yang membuat lebih cepat merasa sebagai hamba Allah ﷻ adalah proses penuaan. Proses penuaan ini ndak bisa kita tahan karena semua orang akan menjadi tua. Kita bisa berobat kemana pun, namun menjadi tua itu ndak bisa dihindari oleh setiap orang.
Kecerdasan paling tinggi adalah kecerdasan bertahan hidup. Hal ini yang telah dibuktikan oleh orang-orang tua di sekitar kita. Bagi orang tua, yang semula kokoh menjadi lemah, terang menjadi gelap, kuat menjadi lemah, cepat menjadi lambat, ingat menjadi lupa dan seterusnya. Ketika melihat hal-hal di sekitar, sesungguhnya manusia bisa mencapai kesadaran sebagai hamba Allah ﷻ. Di dalam shalat, semua bacaan dan gerakan adalah penegasan sebagai hamba Allah ﷻ. Totalitas ketaatan sama dengan totalitas penghambaan. Kesempurnaan penghambaan dikejawantahkan dengan kesempurnaan ketaatan.
Ketika manusia bisa menemukan satu kesadaran sebagai hamba Allah ﷻ, maka akan dengan mudah bergeser kepada ketaatan. Dengan totalitas dalam penghambaan, maka akan muncul totalitas dalam ketaatan. Hal ini yang melahirkan totalitas keimanan. Manusia itu akan merasa nyaman dengan semua keputusan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ luar biasa takutnya kepada Allah ﷻ karena beliau sudah menyadari dirinya sebagai hamba Allah ﷻ. Sementara itu, orang biasa malah berani luar biasa kepada Allah ﷻ. Kesadaran seseorang atas penghambaan mengantarkan kesadaran atas ketaatan.
Ciri Seseorang Sudah Memiliki Ketaatan yang Baik
1. Lapang dan Ridha terhadap Keputusan Allah ﷻ
Ciri pertama orang yang sudah memiliki ketaatan yang baik adalah bersikap lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah ﷻ. Bersikap sangat lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah ﷻ, baik keputusan Allah ﷻ di dalam syariat maupun di alam semesta. Diberi keputusan oleh Allah ﷻ itu sungguh menyenangkan karena membawa kebaikan. Ada beberapa keputusan Allah ﷻ yang membuat kita senang, misal wanita boleh dinikahi. Ada beberapa keputusan Allah ﷻ yang bisa jadi berat, misalkan perintah berjihad, berzakat, menjaga pandangan dan banyak lain lagi. Kita perlu menerima itu semua karena kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah ﷻ.
2. Melaksanakan Ketaatan dengan Senang Hati
Semua hal di alam semesta terjadi atas keputusan Allah ﷻ, maka sudah seharusnya manusia senang dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Berdasarkan survey, 54% seseorang ndak mendapatkan jodoh yang sesuai harapan. Apakah kemudian kita jadi menderita? Kita yang memutuskan untuk menerima keputusan Allah ﷻ ini atau ndak. Begitu Allah ﷻ hidupkan seorang hamba-Nya, Allah ﷻ memberinya rahmah. Semua halnya diurus oleh Allah ﷻ sejak bayi. Dengan demikian, kita senang untuk taat kepada Allah ﷻ.
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, diriwayatkan dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).
Hidup seringkali terasa sempit karena kurangnya penghambaan kepada Allah ﷻ. Ketika datang provokasi materialisme dan hedonisme, hidup terasa penat. Manusia merasa kehilangan eksistensi, sehingga hidup selalu dibayang-bayangi oleh pandangan orang lain. Apa kata orang kalau anak saya ndak sekolah di sekolah favorit? Apa kata orang kalau HP saya adalah HP yang jadul? Padahal, hidup sebagai hamba Allah ﷻ itu adalah yang paling menenangkan.
Orang-orang sekarang sering stres, karena ndak kuat atas cibiran orang-orang di sekitarnya. Sikap “julid” orang-orang sekitar itu seringkali mendesak seseorang untuk berlaku materialistis supaya diterima. Kalau tingkat kesadaran kita atas ketaatan ini tinggi, maka kita akan menjalankan seluruh konsep cabang iman dengan senang hati. Ndak ada orang yang paling kuat dalam sejarah manusia selain dari Firaun (Ramses II). Karena semua keinginannya selalu terwujud dan lupa bahwa semua hal itu adalah pemberian Allah ﷻ. Maka dia sampai tiba pada pengakuan diri sebagai Tuhan. Ketika orang sekuat Firaun yang mengejar Musa itu ndak bisa menanggung bahwa laut itu bisa menenggelamkan dirinya, maka bagaimana dengan para penentang Allah ﷻ yang lain?.
3. Maksimal dalam Ketaatan kepada Allah ﷻ
Hal yang membedakan generasi sahabat dengan generasi saat ini adalah dalam tingkat ketaatan kepada Allah ﷻ. Para sahabat maksimal dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Mereka taat dengan “plong” dan “lepas”, ndak ada tawar-menawar. Secara kontras, umat muslim sekarang ini lebih sering menawar-nawar Islam daripada menawar-nawar budaya. Ketaatan yang terjadi hanya pada koridor yang semampunya. Muslim yang baik adalah yang bisa totalitas dalam ketaatannya. Sikap tawar-menawar yang dilakukan manusia dalam ketaatan itu bisa jadi terjadi karena sikap berlebihan dalam sisi berharapnya di atas sisi ketakutannya. Hal ini bisa jadi karena kurangnya ilmu.
Manusia harus bersujud dan taat kepada Allah ﷻ karena sebuah alasan. Itu karena manusia merupakan mahluk ciptaan-Nya. Dalam hal ini, ideologi harus dikunci terlebih dahulu. Bila kesadaran sebagai makhluk ciptaan Allah ﷻ hilang, maka terjadi ketidakseimbangan. Ada proses logika penghambaan yang sebenarnya mudah untuk dicerna. Namun, karena logika ndak juga diterima oleh kebanyakan manusia, maka titik ketaatan ndak kunjung masuk. Salah satu proses fakta yang membuat lebih cepat merasa sebagai hamba Allah ﷻ adalah proses penuaan. Proses penuaan ini ndak bisa kita tahan karena semua orang akan menjadi tua. Kita bisa berobat kemana pun, namun menjadi tua itu ndak bisa dihindari oleh setiap orang.
Kecerdasan paling tinggi adalah kecerdasan bertahan hidup. Hal ini yang telah dibuktikan oleh orang-orang tua di sekitar kita. Bagi orang tua, yang semula kokoh menjadi lemah, terang menjadi gelap, kuat menjadi lemah, cepat menjadi lambat, ingat menjadi lupa dan seterusnya. Ketika melihat hal-hal di sekitar, sesungguhnya manusia bisa mencapai kesadaran sebagai hamba Allah ﷻ. Di dalam shalat, semua bacaan dan gerakan adalah penegasan sebagai hamba Allah ﷻ. Totalitas ketaatan sama dengan totalitas penghambaan. Kesempurnaan penghambaan dikejawantahkan dengan kesempurnaan ketaatan.
Ketika manusia bisa menemukan satu kesadaran sebagai hamba Allah ﷻ, maka akan dengan mudah bergeser kepada ketaatan. Dengan totalitas dalam penghambaan, maka akan muncul totalitas dalam ketaatan. Hal ini yang melahirkan totalitas keimanan. Manusia itu akan merasa nyaman dengan semua keputusan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ luar biasa takutnya kepada Allah ﷻ karena beliau sudah menyadari dirinya sebagai hamba Allah ﷻ. Sementara itu, orang biasa malah berani luar biasa kepada Allah ﷻ. Kesadaran seseorang atas penghambaan mengantarkan kesadaran atas ketaatan.
Ciri Seseorang Sudah Memiliki Ketaatan yang Baik
1. Lapang dan Ridha terhadap Keputusan Allah ﷻ
Ciri pertama orang yang sudah memiliki ketaatan yang baik adalah bersikap lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah ﷻ. Bersikap sangat lapang dan ridha terhadap semua keputusan Allah ﷻ, baik keputusan Allah ﷻ di dalam syariat maupun di alam semesta. Diberi keputusan oleh Allah ﷻ itu sungguh menyenangkan karena membawa kebaikan. Ada beberapa keputusan Allah ﷻ yang membuat kita senang, misal wanita boleh dinikahi. Ada beberapa keputusan Allah ﷻ yang bisa jadi berat, misalkan perintah berjihad, berzakat, menjaga pandangan dan banyak lain lagi. Kita perlu menerima itu semua karena kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah ﷻ.
2. Melaksanakan Ketaatan dengan Senang Hati
Semua hal di alam semesta terjadi atas keputusan Allah ﷻ, maka sudah seharusnya manusia senang dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Berdasarkan survey, 54% seseorang ndak mendapatkan jodoh yang sesuai harapan. Apakah kemudian kita jadi menderita? Kita yang memutuskan untuk menerima keputusan Allah ﷻ ini atau ndak. Begitu Allah ﷻ hidupkan seorang hamba-Nya, Allah ﷻ memberinya rahmah. Semua halnya diurus oleh Allah ﷻ sejak bayi. Dengan demikian, kita senang untuk taat kepada Allah ﷻ.
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, diriwayatkan dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).
Hidup seringkali terasa sempit karena kurangnya penghambaan kepada Allah ﷻ. Ketika datang provokasi materialisme dan hedonisme, hidup terasa penat. Manusia merasa kehilangan eksistensi, sehingga hidup selalu dibayang-bayangi oleh pandangan orang lain. Apa kata orang kalau anak saya ndak sekolah di sekolah favorit? Apa kata orang kalau HP saya adalah HP yang jadul? Padahal, hidup sebagai hamba Allah ﷻ itu adalah yang paling menenangkan.
Orang-orang sekarang sering stres, karena ndak kuat atas cibiran orang-orang di sekitarnya. Sikap “julid” orang-orang sekitar itu seringkali mendesak seseorang untuk berlaku materialistis supaya diterima. Kalau tingkat kesadaran kita atas ketaatan ini tinggi, maka kita akan menjalankan seluruh konsep cabang iman dengan senang hati. Ndak ada orang yang paling kuat dalam sejarah manusia selain dari Firaun (Ramses II). Karena semua keinginannya selalu terwujud dan lupa bahwa semua hal itu adalah pemberian Allah ﷻ. Maka dia sampai tiba pada pengakuan diri sebagai Tuhan. Ketika orang sekuat Firaun yang mengejar Musa itu ndak bisa menanggung bahwa laut itu bisa menenggelamkan dirinya, maka bagaimana dengan para penentang Allah ﷻ yang lain?.
3. Maksimal dalam Ketaatan kepada Allah ﷻ
Hal yang membedakan generasi sahabat dengan generasi saat ini adalah dalam tingkat ketaatan kepada Allah ﷻ. Para sahabat maksimal dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Mereka taat dengan “plong” dan “lepas”, ndak ada tawar-menawar. Secara kontras, umat muslim sekarang ini lebih sering menawar-nawar Islam daripada menawar-nawar budaya. Ketaatan yang terjadi hanya pada koridor yang semampunya. Muslim yang baik adalah yang bisa totalitas dalam ketaatannya. Sikap tawar-menawar yang dilakukan manusia dalam ketaatan itu bisa jadi terjadi karena sikap berlebihan dalam sisi berharapnya di atas sisi ketakutannya. Hal ini bisa jadi karena kurangnya ilmu.
