Jul 1, 2026

Pencapaian Tertinggi Dalam Hidup

 


Video klip di atas ada "Moonlight" milik Ariana Grande yang udah di cover. Ariana, SettiaBlog pinjam lagunya dulu ya. SettiaBlog terinspirasi oleh strawberry moon yang terjadi kemaren lusa. Strawberry Moon itu, sebutan bulan purnama yang muncul pada bulan Juni. Secara filosofis, bulan purnama melambangkan puncak pencapaian, kesempurnaan, dan pencerahan. Fase ini merepresentasikan titik balik di mana sebuah siklus mencapai keutuhan penuh setelah melalui proses pertumbuhan.

Berbicara tentang pencapaian tertinggi dalam hidup, semua akan kembali kepada individu masing-masing tentunya. Sudut pandang , latar belakang , kemampuan intelektual dan spiritual bersatu dalam pemahaman seseorang ketika berpikir dengan cara sederhana, “Sebenarnya mau apa yang dicapai dalam hidup ini?”

Secara harfiah pencapaian tertinggi dalam hidup sudah pasti mencapai apa yang diinginkan, apa yang sudah direncanakan. Bisa rencana jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang untuk masa depan. Lebih luas dan mulia lagi, jika menyertakan kepentingan orang banyak didalamnya. Terlalu tinggikah seperti itu? Namanya juga pencapaian tertinggi untuk diri sendiri tentu berbicara tentang keinginan diri sendiri yang masih banyak belum terpenuhi dan ingin terealisasi dengan sempurna, ngapain mikirin orang lain! Huuss...sebaiknya jangan ngomong kayak gitu kan ya.

Manusiawi sekali anggapan seperti itu, mengingat kita adalah makhluk social. Karena, bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau diri sendiri belum bisa kita “tolong”. Tapi seiring bertambahnya usia, SettiaBlog yakin, setiap manusia pelan-pelan ingin menemukan sisi humanisnya. Sisi dimana dia akan merasa tentram, damai jika sudah berbuat sesuatu untuk orang lain, untuk lingkungan – dengan begitu dia harus memposisikan dirinya sebagai orang yang bijaksana terlebih dulu.

Menjalani hidup dengan merenungi perjalanan hidup, adalah hal yang berbeda. Menjalaninya berarti menerima dengan lapang hati, apa yang sekarang diberikan Allah ﷻ kepada kita. Masalah yang didepan mata beserta jalan keluar yang bersembunyi di dalamnya, adalah suatu yang harus kita terima dengan ikhlas-tanpa pertanyaan balik kepadaNya. Kita perlu merenung, sudah sejauh mana pencapaian saya dalam hidup ini. Berhasilkah saya memanfaatkan kesempatan “kontrak hidup” yang diberikanNYA, menikmati jatah umur yang sudah ditetapkan ?

Seperti halnya, pertanyaan lumrah yang ditanyakan kepada setiap orang, “apa cita-citamu?”. Ketika ketika malu untuk mengungkapkan hal yang bersifat impian dan keinginan maka jawaban terbaiknya adalah, “sukses dunia dan akhirat”. Apakah salah dengan jawaban ini? Tentu ndak, tapi masih bersifat umum yang perlu dijabarkan secara rinci, agar perjalanan menuju pencapaian tersebut memang bukan sekedar menutup obrolan seputar pertanyaan tentang cita-cita atau pencapaian hidup.

Disini, persepsi tentang makna pencapaian dalam hidup, ada baiknya ditanya lagi ke dalam hati nurani. Dulu mungkin, ketika masih usia sekolah, yang terpikir hanya sebatas mendapatkan ijazah dan melanjutkan ke jenjang sekolah terbaik dan terfavorit, dengan cara belajar yang rajin. Ketika sudah dicapai, ada lagi tingkatan yang ingin ditembus, menjadi strata menengah atas, yang mapan hingga anak cucu. Ketika anak sudah berkeluarga, ada lagi keinginan memapankan yang sudah mapan, begitulah roda selanjutnya dalam kehidupan yang terus dijalani. Tentu diiringi dengan pengakuan lingkungan yang bersifat aktualisasi diri juga berarti sebagai pengakuan atas pencapaian yang kita dapatkan.

Jika kita terus berpatokan bahwa, penuhi diri sendiri dulu, baru orang lain, sampai kapanpun, kita ndak pernah bisa merasakan level atas pencapaian tertinggi dalam hidup. SettiaBlog menyadarinya lumayan terlambat, lha terus, gimana ? Ada baiknya semuanya berjalan di usahan beriringan. Artinya, sembari kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, sejalan dengan kita meniti rencana-rencana kita, disitu pula kita selipkan kebutuhan akan eksistensi diri, kebutuhan diakui oleh lingkungan. Tentu saja dengan maksud positif, berbuat sesuatu untuk sesama, bagaimanapun caranya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sesuai dengan status kita saat ini. Contoh paling sederhana yang sering pada saat momen motivasi, pengembangan diri atau acara sejenisnya, kita selalu diajak untuk membuat 100 daftar keinginan.

Setiap orang memiliki impian. Sesuatu yang diimpikan masing-masing orang pun berbeda. Impian merupakan langkah menuju sukses yang terpenting, karena dengan adanya impian, berarti kita memiliki tujuan. Setiap kita melakukan suatu hal, pasti ada tujuannya. Dengan adanya mimpi tersebut, kita dapat termotivasi untuk melakukan hal yang dapat membawa kita meraih impian tersebut. Tujuan terbaiknya bisa dikatakan sebagai bentuk pencapaian tertinggi dalam hidup. Berbicara secara pengalaman, untuk 100 daftar keinginan ini bisa di buat buat dalam bentuk dua hal. Maksudnya gimana? Buat 100 daftar keinginan yang ingin dicapai dalam jangka waktu panjang dan 100 daftar keinginan yang ingin dicapai setiap tahun. Karena berbicara 100 daftar keinginan jangka panjang tentulah harus dibarengi dengan pencapaian kecil pendukung dari pencapaian terbesarnya. Ibaratnya seperti yang dipaparkan diatas, Anda ingin sukses dunia dan akhirat tapi ndak merencanakan secara rinci bentuk sukses dunianya seperti apa dan supaya bisa sukses di dimensi abadi, bentuk ibadah apa aja yang ingin Anda targetkan.

Jadi segera ambil kertas atau buku dan tentu pulpen bila perlu warna-warni agar menyegarkan mata saat mengulas dan evaluasi daftar keinginan Anda. Kenapa ndak ditulis dalam bentuk digital? Boleh-boleh aja bila merasa nyaman menuliskan secara digital. Tapi buat SettiaBlog, rasanya jauh lebih berbeda bila ditulis dengan tangan (rasanya lebih mengena kalau di tulis pakai tangan, ya itu yang SettiaBlog rasakan lho ya)

Bagi yang yang baca blog Settia saat ini, kalau masih muda, bersyukurlah bahwa kalian masih punya banyak waktu untuk berbuat yang terbaik bagi diri dan lingkungan sekitar, ndak perlu nunggu dewasa. Ndak perlu nunggu pas udah bekerja. Jadilah yang terbaik yang Anda bisa, raih impian Anda setinggi mungkin, langit adalah batasnya!

Dan untuk yang usianya senasib seperti SettiaBlog, he he he, lebih baik terlambat daripada telat banget apalagi ndak sama sekali. Mestinya dengan pengalaman yang sudah lebih banyak, kita bisa menentukan langkah lebih matang, lebih sedikit salahnya.

Dalam meraih pencapaian tertinggi dalam hidup, kadang kita dibenturkan oleh beberapa halangan yang sifatnya takdir atau sesuatu yang ndak kita duga. Boleh keras dalam mencapainya tapi terkadang perlu untuk realistis dan mundur sejenak bila dirasa ndak mungkin untuk diraih. Inilah mengapa menggunakan dua cara dalam membuat 100 daftar keinginan, agar goal akhirnya semua bisa tercapai walau bertahap dan perlahan.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Bahasan ini sama sekali ndak mau menasehati, mengingatkan apalagi menggurui. Bahasan ini, sepenuhnya sebagai ajang untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa SettiaBlog harus merenungi lagi tentang makna pencapaian dalam hidup SettiaBlog.


Video klip di atas ada "pagi setelah malam". Sebentar SettiaBlog, di mana - mana pagi itu setelah malam. Masak tho....he...he.... Kalau membuat judul lagu mbok yang menarik gitu lho SettiaBlog. Ya..ya .., Sekarang SettiaBlog tak cerita aja ya. Duduk yang manis..!

Dahulu kala di sebuah desa kecil yang tenang di tepi hutan lebat hiduplah tiga bersaudara Rosan, Hogan dan Sami mereka tinggal di sebuah pondok sederhana yang diwariskan oleh orang tua mereka yang telah tiada. Mereka hidup rukun, ketiganya dikenal sebagai pemuda yang jujur bekerja keras dan selalu membantu sesama. Setiap hari mereka pergi ke hutan untuk menebang kayu dengan bahu yang kokoh dan tangan yang kuat mereka memotong pohon-pohon tua dan membawa kayu gelondongan itu ke pasar untuk di jual. Penghasilan mereka cukup untuk makan sehari - hari.

Tetapi kehidupan sederhana itu ndak memberikan kebahagiaan kepada mereka, ada kekosongan yang selalu menghantui hati mereka. "Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?" tanya Rosan suatu malam ketika mereka duduk di depan perapian. Wajahnya terlihat murung seperti bayang-bayang api yang menari ndak beraturan. "Aku ingin memiliki rumah besar dan megah mungkin saat itu aku akan bahagia." jawab Rosan dengan mata berbinar . Hogan mengangguk pelan. "Aku ingin ladang yang luas dengan hasil panen yang melimpah dengan begitu kita ndak perlu lagi bekerja keras di hutan." Sedangkan Sami yang paling muda tersenyum kecil "aku hanya ingin seorang istri yang cantik yang membuatku merasa istimewa setiap kali aku pulang ke rumah."

Keinginan mereka begitu berbeda namun kesedihan yang mereka rasakan sama, hidup yang mereka jalani tampak hampa. Meskipun mereka memiliki segalanya untuk bertahan. Pada suatu sore saat mereka berjalan pulang dari hutan dengan membawa tumpukan kayu. Mereka melihat seorang pria tua yang membungkuk di pinggir jalan wajahnya sayu dan ia membawa keranjang berat di punggungnya. Hati ketiga bersaudara itu tergerak tanpa pikir panjang mereka segera menurunkan kayu yang mereka bawa dan segera menghampiri pria tua itu. "Kek, biarkan kami membantu Anda membawa keranjang itu." kata Hogan dengan sopan. Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum lemah. "Terima kasih anak-anakku keranjang ini berisi apel yang aku kumpulkan dari hutan, rumahku ndak jauh dari sini."

Rosan , Hogan dan Sami bergantian memikul keranjang itu sebab keranjang yang terisi penuh apel yang ternyata lebih berat dari kelihatannya, meskipun terasa berat dan perjalanan cukup jauh mereka ndak mengeluh. Ketika akhirnya tiba di rumah pria tua itu, mereka merasa sangat lelah tetapi juga puas telah membantu seseorang. Pria tua itu tersenyum lembut "kebaikan kalian ndak akan aku lupakan, aku sebenarnya bukanlah orang biasa dan aku ingin memberikan hadiah atas ketulusan kalian. Katakanlah apa yang paling kalian inginkan dalam hidup ini." Ketiga bersaudara itu terkejut meski diliputi keraguan namun mereka tetap menjawab dengan jujur Rosan menginginkan rumah besar, Hogan mendambahkan ladang luas dan Sami bermimpi memiliki istri yang cantik. Mendengar permintaan ketiga bersaudara itu pria tua itu mengangguk. "Baiklah pulanglah ke rumah kalian, apa yang kalian inginkan akan menunggu di sana." katanya.

Ketiga bersaudara itu kebingungan, ketika ketiga bersaudara itu tiba di rumah mereka mereka tercengang sebuah rumah besar dengan pilar-pilar megah berdiri di samping pondok lama mereka. Pelayan-pelayan berbaris di depan pintu siap melayani Rosan. Di kejauhan ladang luas yang subur terbentang lengkap dengan para pekerja yang sibuk di sana. Hogan merasa seperti bermimpi. Dan Sami, ia melihat wanita yang cantik berdiri di depan rumah, tersenyum padanya malu - malu. "Aku adalah istrimu." katanya lembut. Mata Sami berbinar penuh kebahagiaan.

Mulai hari itu kehidupan mereka berubah seketika. Rosan menikmati kenyamanan rumah megahnya. Hogan mengawasi ladangnya yang luas. Dan Sami menghabiskan waktu bersama istrinya yang cantik. Awalnya semua terasa sempurna, hari-hari mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Ndak ada lagi rasa lelah atau keluhan yang mereka rasakan sebelumnya namun kebahagiaan itu ndak bertahan lama.

Setelah satu tahun Rosan mulai bosan dengan rumahnya. Dia merasa malas dan biarkan pelayan-pelayannya bekerja tanpa pengawasan. Rumah yang megah itu perlahan menjadi suram, pelayan-pelayan mulai kehilangan semangat dan suasana di rumah itu terasa hampa. Di sisi lain Hogan merasa terbebani dengan ladangnya ia ndak lagi menikmati pekerjaan yang sebelumnya ia dambakan. Hasil panen yang melimpah justru membuatnya khawatir akan serangan hama atau cuaca buruk. Setiap malam ia terjaga memikirkan, bagaimana melindungi ladangnya dari ancaman yang ndak kunjung datang. Sedangkan Sami yang awalnya terpesona dengan kecantikan istrinya mulai menganggap keberadaannya biasa aja. Bahkan ia seringkali pusing mendengar keluhan dan omelan dari sang istri. ia merasa hubungan mereka kehilangan kehangatan, percakapan mereka menjadi singkat dan momen-momen kebersamaan yang dulu membahagiakan kini terasa hambar.

Ketiganya kembali merasakan kekosongan yang sama seperti sebelumnya. Mereka sadar bahwa meskipun keinginan mereka telah terwujud kebahagiaan sejati tetap ndak mereka temukan. Kebahagiaan yang dulu mereka pikir akan datang dengan harta, tanah atau cinta ternyata hanya sementara.

Suatu hari saat udara terasa cukup dingin mereka memutuskan untuk menemui pria tua itu lagi. Setelah mencari di hutan mereka akhirnya menemukan rumahnya. Pria tua itu sedang duduk di depan perapian menghangatkan badannya yang ndak lagi prima. Kehangatan di dalam rumah itu memberikan rasa tenang, di tengah kekecewaan mereka. "Kek kami membutuhkan bantuanmu lagi." kata Rosan. "Kami ndak lagi bahagia meskipun keinginan kami telah terpenuhi." Pria tua itu tersenyum bijak. "Anak-anakku kebahagiaan sejati ndak terletak pada apa yang kalian miliki tetapi pada bagaimana kalian mensyukuri dan menghargainya. Kalian memiliki segalanya tetapi ndak memiliki kepuasan, tanpa kepuasan kebahagiaan akan selalu memudar." Ketiga bersaudara itu termenung mereka menyadari kesalahan mereka. Pri tua itu melanjutkan, "kepuasan adalah kunci kebahagiaan, syukurilah apa yang kalian miliki dan belajarlah untuk menikmatinya dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."

Pria tua itu mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan adalah perjalanan bukan tujuan. Setelah pertemuan itu Rosan, Hogan dan Sami pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan. Mereka mulai memperhatikan segala yang mereka miliki. Rosan mulai mensyukuri rumah besarnya dan ndak lagi fokus pada lelahnya mengurus rumah. Hogan mulai menghargai setiap hasil panennya dan ndak lagi resah dengan hama yang kadang datang. Dan Sami mulai merasakan kembali kehangatan dari senyum manis istrinya dan ndak lagi suntuk dengan istrinya yang kadang merepotkan. Kehidupan mereka berubah, mereka ndak lagi fokus pada apa yang kurang dalam kehidupan mereka. Tetapi lebih fokus pada apa yang mereka miliki. Mereka akhirnya menyadari bahwa rahasia kebahagiaan ndak terletak pada apa yang dimiliki tetapi pada bagaimana menikmati setiap momen dengan hati yang tulus dan penuh syukur.

Ingatlah untuk menikmati apa yang telah dianugerahkan kepada kita dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur agar kebahagiaan senantiasa menyertai kehidupan kita, jangan lupa ya. He...he....

Jun 26, 2026

Ketika Realita Ndak Sesuai Ekspektasi Ini yang Sebaiknya Dilakukan

 


Video klip di atas ada "Perfect" miliknya Simple Plan. Liriknya c menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang merasa selalu gagal memenuhi ekspektasi atau harapan tinggi dari sang ayah. Lagu ini adalah luapan rasa kecewa dan permintaan maaf karena sang anak merasa dirinya ndak pernah dianggap sempurna. Terkadang tuntutan orang tua yang berlebihan justru memicu beban emosional yang berat bagi anak. Kalau dalam pepatah bijak "manusia hanya mampu berikhtiar dan membuat rencana, namun pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasil akhirnya."

Ketika kehidupan berjalan ndak sesuai dengan ekspektasi, hal ini bisa memicu perasaan kecewa hingga patah semangat. Ekspektasi sendiri biasa di maknai suatu kepercayaan atau keyakinan dari seseorang tentang berbagai hal yang semestinya terjadi pada sebuah situasi tertentu. Pikiran ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, informasi yang didapatkan hingga perkiraan pribadi.

Namun ada kalanya realita berjalan ndak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, kita sering diimbau untuk belajar mengelola harapan agar ndak mudah kecewa. Seperti apa caranya?

Mengapa kenyataan bisa berjalan ndak sesuai ekspektasi?
Seringkali ketidaksesuaian hasil membuat seseorang terlalu larut pada kegagalan yang terjadi. Padahal ada banyak faktor yang dapat menyebabkan situasi ndak berjalan sesuai dengan harapan.

1. Ketidakpastian dan perubahan

Dalam hidup, ndak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Apa yang menjadi tren hari ini, belum tentu akan relevan beberapa waktu mendatang. Situasi ndak terduga seperti masalah kesehatan, perubahan ekonomi, hingga bencana alam dapat mengubah rencana yang sudah kita buat.

2. Harapan yang ndak realistis

Kekecewaan sering terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan kurangnya fleksibilitas untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan. Misalnya, ketika memulai bisnis dan berharap cepat sukses tanpa mempertimbangkan potensi dan risiko, membuat semangat seseorang akan naik turun saat menjalankan usahanya.

3. Faktor eksternal dan lingkungan

Faktor di luar kendali kita seperti keputusan dan tindakan orang lain, keterbatasan dan kesalahan yang dilakukan manusia serta musibah, dapat menyebabkan hasil yang kita harapkan ndak terjadi.

Karena adanya beberapa faktor di atas kita perlu belajar mengendalikan ekspektasi, sehingga bisa mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan.
Bagaimana cara mengendalikan pikiran ketika hidup tidak sesuai ekspektasi?
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.”
Sehingga kunci utama dalam mengelola ekspektasi adalah latihan mengontrol pikiran. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan.

1. Melatih diri menjadi fleksibel dan adaptif

Kita di tuntut untuk menjadi fleksibel dan adaptif, sebab perubahan situasi akan terus terjadi. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri mengendalikan respon ketika situasi ndak berjalan sesuai rencana. Selanjutnya, fokus untuk menemukan antisipasi atau jalan keluar yang baik ketika menghadapi situasi tersebut.

2. Melatih diri untuk realistis

Latih diri untuk berpikir realistis dengan memahami keterbatasan dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Sadari bahwa ada hal-hal di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil dari segala rencana.

3. Fokus pada proses

Biasakan diri untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, kita ndak hanya terpaku pada kegagalan atau keberhasilan, tetapi melihat proses tersebut sebagai usaha terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Jangan membandingkan diri dengan orang lain

Coba tetap fokus pada progres diri sendiri supaya ndak membandingkan diri kita dengan progres orang lain. Sebab setiap individu mengalami pengalaman keberhasilan maupun kegagalan dengan pelajaran yang berbeda-beda. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan mengurangi intensitas bermedia sosial, membangun ketahanan mental dengan membaca buku atau melatih mindfulness, menemukan support system yang tepat serta menjaga kesehatan diri.

5. Belajar dari pengalaman

Pandang situasi yang ndak sesuai rencana sebagai pelajaran dan kesempatan untuk mengembangkan diri agar lebih baik lagi. Melatih pikiran dan perasaan kita dengan menerapkan mindset tersebut, dapat menguatkan kemampuan untuk agile memandang keberhasilan maupun kegagalan sebagai proses hidup yang saling melengkapi. Meskipun hidup terkadang tidak sesuai ekspektasi, hal tersebut tidak membatasi kita untuk bisa meraih kebahagiaan.

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Terkadang emang sulit buat kita menerima realita yang ada. Apalagi saat segala sesuatu ndak berjalan sesuai rencana. Ada pemikiran namanya stoikisme, ya itu bisa jadi salah satu cara buat bantu kita ngehadapinnya. Apa c stoikisme itu? Stoikisme itu filosofi yang lahir dari zaman Yunani dan Romawi. Intinya c ngajarin kita buat nerima aja hal-hal yang di luar kendali kita, dan fokus ke apa yang bisa kita kontrol. Prinsip ini cocok banget buat ngebantu kita jaga keseimbangan hidup, apalagi pas lagi ngerasa tertekan atau hidup ndak sesuai harapan.

Sebenernya, stoikisme ngajarin apa aja c?
Kenali Perbedaan Antara yang Bisa dan ndak Bisa Dikendalikan
Salah satu ajaran utama dalam stoikisme adalah pemisahan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang ndak bisa kita kendalikan. Dalam hidup, banyak hal yang berada di luar kendali kita—cuaca, perilaku orang lain, atau bahkan beberapa aspek dari karier kita.

Filosofi ini mengajarkan kita untuk hanya fokus pada aspek yang ada dalam jangkauan kita, seperti sikap, reaksi, dan keputusan kita sendiri.
Misalnya, Anda udah dateng ke kampus buat kuliah. Terus tiba-tiba dosen mendadak ngebatalin kuliah. Nah, daripada kesel dan badmood, mending Anda manfaatin waktu itu buat ngerjain tugas lain atau nongkrong sama temen. Daripada fokus ke emosi “marah” mending langsung switch plan lain yang bisa dikendalikan.

Menjaga Ketenangan Mental dengan Kontrol Diri
Stoikisme mengajarkan pentingnya kontrol diri, yaitu kemampuan untuk ndak terguncang oleh emosi eksternal atau situasi yang menantang. Kita bisa mengelola emosi dengan bijak. Misalnya dengan mengambil napas dalam-dalam atau memberi diri kita waktu untuk berpikir. Pikirkan Jalan keluar yang tepat dan efektif dari masalah yang kita hadapi. Dalam situasi stres, misalkan ada deadline tugas mepet. Bukannya panik atau menyerah pada rasa takut, kita bisa memilih untuk tenang, membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil, dan menyelesaikannya satu per satu.

Berlatih Bersyukur dan Fokus pada Hal-Hal Positif
Salah satu cara stoikisme mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan hidup adalah dengan menghargai apa yang kita miliki. Bukan berfokus pada apa yang kita ndak miliki. Setiap hari, kita bisa berlatih untuk bersyukur atas hal-hal yang baik dalam hidup. Entah itu hubungan yang sehat, tempat tinggal yang nyaman, atau bahkan hal-hal kecil lain yang sering kita abaikan. Misalnya, pas lagi capek atau frustrasi, coba deh ingetin diri buat bersyukur atas apa yang kita punya, kayak pekerjaan yang masih jalan atau tubuh yang masih sehat. Itu bisa bantu ngebalance pikiran dan bikin kita lebih positif lagi.

Mengubah Pandangan Terhadap Tantangan
Menurut filsuf Stoik, seperti Seneca dan Epictetus, tantangan dalam hidup bukanlah hambatan, melainkan kesempatan untuk mengasah karakter kita. Setiap kegagalan atau kesulitan yang kita hadapi adalah cara untuk belajar dan tumbuh. Jadi daripada melihatnya sebagai beban, kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk menjadi lebih kuat.

Menerima Ketidakpastian dengan Kedamaian
Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari hidup. Alih-alih coba buat mengontrol semuanya, kita perlu belajar untuk menerima. Ada banyak hal yang ndak kita ketahui atau yang bisa berubah kapan saja. Dengan menerima ketidakpastian, kita bisa mengurangi kecemasan dan stres yang berlebihan. Misalnya, pas lagi dihadapin sama masa depan yang ndak pasti, kayak pas milih karier atau ambil keputusan besar lainnya. Asal udah melakukan usaha terbaik, kita bisa coba santai dan ndak overthinking sama apapun hasilnya nanti.

Nerapin prinsip stoik dalam hidup sehari-hari bisa bantu kita jaga keseimbangan dan ketenangan mental. Meskipun dihadapkan tekanan atau situasi yang nggak sesuai harapan. Filosofi ini ngingetin kita. Meskipun ndak bisa ngontrol semuanya, kita tetap punya kontrol penuh atas sikap dan reaksi kita.


Video klip kedua ada "bayangan hujan", lagu ini untuk yang lagi ngebet pengen nikah tapi jodohnya belum ada. Huuu...s, SettiaBlog kamu jangan nyindir - nyindir orang gitu tha! Ndak kok, SettiaBlog ndak menyindir siapapun. Maaf...maaf, itu hanya candaan. He...he....jangan ada yang marah ya. Di ilustrasinya itu, ada yang tahu ndak itu lagi baca buku apa? Itu lagi baca buku Arjuna Wiwaha. Buku apa itu SettiaBlog ? Arjuna Wiwaha dibuat pada abad ke-11, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Airlangga yang memimpin Kerajaan Medang atau Kahuripan di Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh pujangga besar bernama Mpu Kanwa. Inti ceritanya itu untuk menguji keteguhan hati Arjuna, Batara Indra mengutus tujuh bidadari cantik (termasuk Dewi Supraba dan Tilottama) untuk menggodanya. Arjuna berhasil menolaknya karena ia telah menguasai pengendalian diri. Sebagai hadiah atas jasanya menyelamatkan kahyangan dan bumi, Arjuna dinobatkan menjadi raja di kahyangan dan dikawinkan dengan tujuh bidadari cantik itu.

Setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh proses berpikir yang pada akhirnya menciptakan suatu keputusan. Namun untuk bisa mengambil keputusan yang tepat, kita harus mengendalikan keserakahan dalam diri untuk ndak sembrono mengutamakan keputusan yang dapat berujung bencana — meski kadang menggoda untuk melakukannya. Memiliki keteguhan hati akan memberikan banyak pengaruh positif pada karakter diri. Keteguhan hati bahkan dianggap sebagai faktor penting dalam keberhasilan hidup demi tercapainya suatu tujuan.

Sederhananya, keteguhan hati bisa didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri untuk sejenak meninggalkan keinginan semu demi mencapai tujuan jangka panjang yang tentunya lebih besar. Keteguhan hati bukan hanya terkait dengan memiliki motivasi atau tekad untuk mencapai sesuatu, tetapi juga melibatkan pengendalian pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Dan untuk dapat mengendalikan diri, segala tindak-tanduk dan perilaku harus Anda lakukan secara sadar, dengan melibatkan kemampuan berpikir logis dan mengatur emosi, serta melibatkan kemampuan menahan godaan. Banyak yang percaya bahwa keteguhan hati merupakan faktor penting dalam membuat perubahan gaya hidup. Dengan pengendalian diri yang baik, kita dapat menerapkan pola makan sehat dan olahraga yang konsisten atau berhenti menunda-nunda pekerjaan.

Kegagalan dalam mencapai tujuan dapat dipengaruhi oleh banyak hal — bukan hanya disebabkan kurangnya pengendalian diri atau keteguhan hati. Namun para ahli yakin bahwa keteguhan hati merupakam hal yang penting dalam mencapai tujuan tersebut. Suatu studi pada tahun 1960 mengujicobakan pengendalian diri pada masa anak-anak. Setiap anak diberi sebuah marshmallow. Jika mereka mau menunggu 15 menit maka akan diberikan dua buah marshmallow. Peneliti melakukan pengamatan tindak lanjut hingga mereka dewasa, dan menemukan kelompok anak yang memilih untuk menunggu demi mendapatkan dua buah marshmallow memiliki tingkat kesuksesan akademik, kualitas kesehatan fisik dan sosial yang lebih baik. Dari sini peneliti berkesimpulan bahwa kekuatan pengendalian diri yang sudah tertanam sejak masa kecil dapat menjadi suatu perlindungan dari gaya hidup sembrono saat mereka tumbuh dewasa. Penelitian ini dikenal dengan nama “eksperimen marshmallow”. Temuan dari studi tersebut tetap konsisten dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukan seseorang yang memiliki keteguhan hati mampu menunda kenikmatan sesaat dan ndak memiliki sifat impulsif. Peneliti lain juga menemukan kemampuan pengendalian diri pada usia dewasa diperlukan untuk menjaga hubungan sosial, menjaga kesehatan mental dan fisik.

Banyak ahli psikologi yang juga yakin bahwa kekuatan pengendalian diri tetap ada batasnya, sehingga keteguhan hati seseorang bisa tandas habis. Pada kenyataannya, menahan diri atau bersabar untuk memperoleh suatu hal yang diinginkan atau bahkan yang dibutuhkan juga berdampak pada kondisi mental. Keteguhan hati dapat diibaratkan seperti sebuah otot. Terlalu lama ndak dipakai akan menguras habis kekuatannya, tapi keseringan dipakai juga dapat menyebabkan otot cepat aus dan ndak efektif. Dalam suatu studi tahun 1998, peneliti menempatkan subjek penelitian pada ruangan yang semerbak dengan aroma kue. Peserta dibagi dalam dua kelompok: Satu hanya diberikan satu sampel kukis, sementara yang lain diberikan beberapa sampel dalam sebuah wadah. Kemudian mereka ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Di akhir penelitian, kelompok yang diberikan satu sampel kukis cenderung menyerah lebih cepat dibandingkan kelompok yang diberikan kukis dalam jumlah yang lebih banyak. Ini menunjukan kalau pengendalian diri bisa merosot drastis dalam kondisi tertetentu.

Meski demilkian, hasil penelitian tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik masing-masing subjek penelitian. Mereka mungkin ndak dapat fokus bekerja karena kelaparan, atau karena dorongan untuk iseng ngemil. Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan memerlukan tenaga banyak untuk tetap dapat bekerja optimal. Oleh karena itu, otak yang kekurangan bahan bakar dapat mengorbankan proses pengendalian diri. Aspek psikologis lainnya juga dapat berpengaruh dalam kemerosotan keteguhan hati yang Anda miliki, misalnya mood, serta prinsip dan sikap seseorang terhadap suatu rangsangan.

Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah keteguhan hati merosot drastis:

Kenali kondisi diri sendiri – ketika Anda mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri buatlah sedikit pengecualian dalam beberapa waktu tanpa kehilangan kendali penuh. Misalnya seperti saat Anda sedang berdiet, sediakan satu hari “curang” dalam seminggu untuk makan makanan “ndak sehat” yang Anda inginkan, kemudian kembali ke rutinitas diet seperti biasa setelahnya.

Alihkan perhatian – saat sedang menghadapi keinginan untuk melakukan suatu hal yang dapat menunda tujuan Anda, cobalah alihkan pikiran dengan melakukan kegiatan lain. Mengalihkan pikiran dari suatu keinginan sesaat adalah penting untuk bisa tetap fokus terhadap tujuan Anda.

Buatlah suatu kebiasaan baru – stress saat sedang berusaha fokus terhadap tujuan dapat membuat kita cenderung kembali kepada kebiasaan lama yang justru semakin menjauhkan kita dari gol itu sendiri. Suatu kebiasaan baru yang ndak berlawanan dengan tujuan dapat membuat kondisi pikiran lebih rileks dan menjauhkan dari perasaan jenuh.

Capai tujuan dengan perlahan – salah satu penyebab seseorang cepat menyerah adalah karena tujuan tersebut terasa sangat berat untuk digapai, dan ingin dicapai dalam waktu singkat. Salah satu cara untuk mencegah Anda putus asa di tengah jalan adalah dengan melakukan pekerjaan tersebut secara perlahan dan bertahap. Jangan terlalu terpaku pada seberapa banyak porsi yang harus dilakukan, tetapi cobalah fokus terhadap proses dan kemajuan dari apa yang sudah dikerjakan.

Jadi diri sendiri – meski klise, hal terpenting dalam menggolkan suatu tujuan adalah menyadari apa yang benar-benar ingin Anda capai. Memaksakan diri untuk memenuhi atau mengikuti tujuan yang ditetapkan orang lain akan membuat Anda sangat terbebani karena ndak sesuai dengan keinginan diri Anda sebenarnya. Ini yang membuat keteguhan hati Anda mudah goyah di tengah jalan.

Jun 22, 2026

Cara Menghilangkan Sinisme

 


Video klip di atas ada "wonder" milik Katy Perry, lagu juga di bawakan Katy Perry di acara Opening Ceremony of the FIFA World Cup 2026 di Los Angeles. Lagu ini dibuka dengan pertanyaan, apakah hati kita akan tetap bersemangat dan apakah kita masih akan melihat dunia dengan penuh kekaguman saat kita semakin tua nanti? Terus ada potongan lirik can somebody promise me / Our innocence doesn't get lost in a cynical world?
. Ini sebuah permohonan agar seseorang ndak kehilangan kemurnian hati dan kepolosannya di tengah-tengah dunia yang seringkali membuat kita menjadi pesimis dan sinis. Lha sinis itu apa? Sinis itu sikap atau pandangan yang meremehkan, memandang rendah, atau mengejek orang lain. Dan sikap ini tentu kurang baik kan ya.

Tahukah Anda, bahwa emosi itu sifatnya menular? Apa yang Anda rasakan terefleksi dari sikap dan pembawaan Anda sehari-hari. Bila diri Anda adalah pribadi yang ceria dan periang, Anda akan membawa sukacita di lingkungan Anda. Begitu pula dengan sebaliknya, bila diri Anda adalah orang negatif, tanpa disadari Anda pun akan membawa sikap pesimis dan sinisme di circle Anda.

Meski sinisme adalah salah satu ekspresi untuk mengungkapkan rasa ndak suka Anda pada sesuatu, tapi ini bukan cara komunikasi yang sehat. Bahkan, sinisme dapat memicu relasi toksik karena memicu ketegangan tanpa berterus terang.

1.Sinisme membentangkan jarak antara Anda dengan dia

Sadarkah Anda, dengan bersikap sinis, itu sama saja ndak berterus terang ke orang lain yang berhadapan dengan Anda? Marah dan kesal dengan sikapnya, merasa dikhianati serta dirusak kepercayaan Anda, tapi giliran bertemu langsung Anda hanya menyindir dengan kata-kata yang menyakiti hati. Anda berharap dia akan segera tahu dan sadar kesalahannya, tapi ternyata ndak. Hal itulah yang membuat Anda makin dongkol dan berakhir mendiamkannya. Kenapa ndak langsung Anda komunikasikan saja akar masalahnya? Bersikap sinis malah ndak menyelesaikan apa-apa. Kesalahpahaman kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi malah berekor panjang, karena sikap kekanak-kanakan Anda.

2.Bikin teman Anda merasa down

Banyak orang berpikir, sinisme adalah salah satu cara menegur. Padahal, belum tentu ini bekerja pada semua orang. Justru beberapa tipe orang akan merasa down bila dibalas dengan sikap yang sama. Ia merasa ndak berguna, ndak berharga, dan tertekan. Awalnya, mungkin ia mau berubah menjadi lebih baik. Namun, hal itu gagal dilakukan, karena sikap dan ucapan negatif Anda. Memang awalnya Anda ndak merasa bersalah akan hal itu. Sebab, Anda merasa jika niat Anda sebenarnya baik, yakni untuk mengingatkan supaya dia ndak melakukan hal yang sama. Namun, kesinisan Anda bisa ditangkap orang sebagai penghinaan. Oleh karena itu, penting untuk kita berhati-hati dalam mengolah kata.

3.Sinisme bikin orang sulit percaya pada Anda

Ketika Anda mengatakan pujian atau kalimat positif lainnya, alih-alih diterima dengan tangan terbuka, hal itu malah menambah tanda tanya dalam benak teman Anda. Mereka ndak yakin, apakah pujian yang Anda lontarkan serius atau lagi-lagi hanya sekedar wujud kesinisan saja? Orang lain jadi ndak nyaman bicara dengan Anda, takut digosipkan, dan takut mendapat sikap sinis saat ndak sengaja melakukan kesalahan. Pembawaan diri Anda bisa sangat berpengaruh dengan bagaimana orang akan memandang Anda, lho.

4.Sinisme bikin orang ndak nyaman

Apalagi, saat Anda bertemu orang baru. Ia pasti akan langsung merasa risi bila tahu karakter Anda yang suka berbicara sinis. Vibes yang Anda bawa negatif dan membuat mereka ndak nyaman. Bahkan orang-orang terdekat Anda pun perlahan akan merasa lelah. Sekali dua kali, mereka memaklumi akan hal itu. Namun, terus-menerus menerima kesinisan Anda sama saja dengan menyerap energi negatif Anda masuk ke dalam tubuhnya. Saat berinteraksi dengan orang lain, Anda pasti ingin mendapat energi positif sebanyak-banyaknya. Begitu pula dengan teman Anda. Jangan demi suasana hati atau kepentingan Anda pribadi, Anda seenaknya bersikap sinis pada orang lain. Coba posisikan diri sendiri, bila Anda yang mendapat sikap sinis tadi. Anda pasti dongkol juga, kan?

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan hubungan antara sikap sinis dan kesuksesan ekonomi. Orang dengan sikap sinis yang tinggi cenderung memiliki pendapatan lebih rendah dibanding orang-orang positif. Mengapa demikian? Ternyata, orang sinis enggan percaya pada orang lain yang menyebabkan mereka sulit untuk bekerja sama. Kecurigaan mereka secara konstan menghalangi mereka untuk meminta bantuan dan malah berdampak buruk pada karier. Tentu saja, ada banyak akibat buruk lainnya jika Anda sering bersikap sinis. Kabar baiknya, sikap buruk ini dapat dikurangi lewat tindakan dari dalam diri kita sendiri, kok.

1. Berdamai dengan diri sendiri

Tanpa disadari, sikap sinis yang terbentuk sekarang adalah buah dari pengalaman buruk di masa lalu. Entah perundungan atau pengkhianatan, pengalaman pahit tersebut membuat Anda terlalu takut untuk percaya pada orang lain. Namun, perlu diketahui bahwa ndak semua orang sama. Menetap dalam kenangan buruk hanya menghambat langkah Anda. Ambil keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri dan perlahan kembali jalin relasi yang sehat dengan orang lain. Ini adalah langkah paling awal untuk mengubah sikap sinis Anda.

2. Lepaskan victim mentality

Adakah yang sampai sekarang masih menyalahkan orang lain karena telah menahan Anda maju? Memang terkadang, hidup terasa ndak adil. Orang yang dulu menjahati Anda seolah tampak baik-baik saja. Bahkan, bagi Anda hidupnya terkesan lebih mapan dari keadaan Anda saat ini. Tetapi, ndak akan ada yang berubah bila Anda terus melihat diri sendiri sebagai korban. Sudah saatnya untuk Anda bangkit, melangkah maju, dan meninggalkan kepedihan masa lalu. Izinkan diri Anda untuk melakukan banyak hal serta membuat pilihan baru terlepas dari seberapa pahit masa lalu Anda.

3. Praktikan bersyukur

Latih diri Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Cara paling sederhana, setiap pagi cari satu hal untuk Anda syukuri. Begitu pula sebelum tidur. Ingat-ingat hal baik apa yang bisa Anda syukuri selama sehari penuh. Ini adalah salah satu cara untuk mengikis sikap sinis dan menggantinya dengan aura positif. Bukan berarti toxic positivity, ya. Saat sesuatu berjalan ndak baik, Anda masih bisa mengakui perasaan negatif Anda. Tapi, di banyak kesempatan, cobalah untuk selalu melihat sisi baik dan mensyukurinya.

4. Latih diri Anda untuk melihat kualitas baik pada diri orang lain

Strategi lain untuk mengurangi rasa sinis ialah menggantinya dengan mencari kualitas baik dalam diri orang di sekitar Anda. Jangan selalu menempatkan kecurigaan dan keraguan Anda pada mereka. Pasti teman atau rekan kerja Anda sekarang memiliki setidaknya satu karakter positif. Sesekali, ndak apa-apa untuk mengakui, bahkan memuji kelebihan mereka. Walau awalnya sulit, kebiasaan ini bagus agar Anda bisa belajar untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda serta mengajarimu untuk kembali terbuka terhadap orang lain.

5. Bergaul dengan orang positif

Barangkali, sikap sinis Anda sekarang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman Anda. Jangan salah, lho! Pergaulan juga merpakan salah satu faktor terbesar yang membentuk jati diri kita. Mulai sekarang, cari lingkaran pertemanan yang positif dan saling mendukung. Hindari berkawan dengan orang skeptis dan negatif. Besar kemungkinan hidup Anda pun akan tertular aura negatif yang berkelindan di sekitar lingkungan tersebut.

Nnak sulit, kok, untuk mengubah sikap sinis. Mudah curiga, skeptis, sering negative thinking, tentu berpotensi meminimalisir tingkat relasi yang kita miliki dengan orang lain. Jauh lebih enak kalau jadi orang yang ramah dan positif, bukan?


Video klip kedua ini musiknya SettiaBlog buat jenis "blues". Musik blues sendiri mengekspresikan penderitaan, harapan, dan perjuangan hidup. Emang waktu itu masih banyak penindasan. Ya, seperti saat Indonesia masih di jajah dulu. Kalau sekarang udah ndak ada c, paling adanya diri kita yang di tindas oleh hawa nafsu.

Salah satu hal yang sangat berat dalam kehidupan seorang muslim memang berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, serta mendorong jiwanya senantiasa taat kepada Allah ﷻ. Seorang muslim harus senantiasa memaksa jiwanya untuk teguh di atas kebenaran. Dia pun senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ﷻ agar mampu istikamah dalam menundukkan hawa nafsunya. Rasulullah ﷺ bersabda ketika haji Wada’,
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang beriman itu? Orang yang beriman adalah orang yang memberi rasa aman bagi jiwa dan harta orang lain. Seorang muslim adalah orang yang ucapan dan tindakannya tidak menyakiti (mengganggu) orang lain. Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Terdapat dua jenis manusia ketika berinteraksi bersama hawa nafsu:
Pertama, ia berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, dia menundukkannya agar segera melakukan kebaikan dan ketaatan.
Kedua, ia membiarkan (mengumbar) hawa nafsunya, sehingga membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa. Allah ﷻ telah menyebutkan dua jenis manusia ini dalam firman-Nya,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
“Menyucikan jiwa” adalah dengan berupaya sungguh-sungguh membersihkan dan memurnikan jiwa tersebut dari kekufuran, kemaksiatan, dan dosa. Dia senantiasa memperbaiki dirinya dengan melakukan ketaatan dan aktivitas kebaikan. Sebaliknya, “mengotori jiwa” adalah dengan ndak melakukan aktivitas kebaikan dan melakukan kemaksiatan. Dia pun menuruti bisikan dan dorongan jiwa untuk melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan dan siksa Allah ﷻ. Allah ﷻ telah membentuk dua potensi jiwa pada diri manusia, yaitu nafsun ammaratun bis-suu (jiwa yang selalu memerintahkan untuk melakukan keburukan) dan nafsun muthmainnah (jiwa yang damai dan tenang). Keduanya saling berkebalikan dan bertolak belakang. Hal yang paling berat bagi seseorang yang memiliki nafsun ammaratun bis-suu adalah melakukan ibadah, ketaatan, dan berbagai aktivitas yang diridai oleh Allah ﷻ. Sedangkan sebaliknya, perkara terberat bagi seseorang yang memiliki nafsun muthmainnah adalah melakukan maksiat dan dosa.

Kedua jenis jiwa (nafsu) ini disebutkan dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan perihal istri al-Aziz, pembesar Mesir,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
Makna ayat di atas adalah hawa nafsu itu senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengerjakan segala keburukan. Inilah karakter dan tabiat dasar dari hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan pertolongan Allah ﷻ sehingga ia mampu berlari menyelamatkan diri dari dorongan nafsu tersebut. Itulah mengapa lanjutan ayat tersebut adalah, “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” Artinya, seseorang bisa selamat dari keburukan nafsunya itu semata-mata berkat rahmat dan karunia dari Allah ﷻ. Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan edukasi kepada para sahabat dalam khutbah hajat yang disampaikan beliau. Beliau Rasulullah ﷺ membimbing mereka agar mengucapkan doa,
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon pengampunan-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan perbuatan kami.” (HR. Abu Dawud no. 2118, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 1404, dan Ibnu Majah no. 1892, dinilai sahih oleh Al-Albani) Pada hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan terlebih dahulu keburukan jiwa, sebelum menyebutkan kejelekan perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa kejelekan perbuatan (tindakan) itu berasal dari keburukan jiwa. Apabila jiwanya buruk, ia akan mengajak pemiliknya untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang jelek. Ia tidak akan selamat, kecuali apabila Allah ﷻ menyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu tersebut.

Apabila setiap muslim menyadari karakter nafsun ammaratun bis-suu yang selalu mengajak untuk melakukan kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan, maka tentu ia akan berusaha konsisten untuk bersungguh-sungguh mengobati dan menyembuhkannya. Sampai nafsu tersebut berada dalam kendali kita, bukan nafsu itu yang justru mengendalikan kita. Apabila nafsu telah mengendalikan dirinya, seseorang akan menuruti syahwat tanpa mempedulikan apakah Allah ﷻ rida ataukah murka. Intinya, setiap muslim harus senantiasa berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsunya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) Malik bin Dinar rahimahullah menuturkan,
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ النَّفِيسَةِ: أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ ثُمَّ ذَمَّهَا ثُمَّ خَطَمَهَا، ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ؛ فَكَانَ لَهَا قَائِدًا
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata pada hawa nafsunya, “Bukankah engkau telah melakukan dosa ini dan dosa itu? Kemudian dia mencela dan mengekangnya. Lalu, dia pun memaksanya untuk tunduk pada aturan (kitab) Allah, sehingga dia pun mengendalikan nafsunya.” (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dalam I’lam al-Qulub no. 38)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat Kufah. Beliau radhiyallahu ‘anhu menyampaikan,
يا أَيُّهَا النَّاسُ! إن أخوف ما أخاف عليكم طول الأمل واتباع الهوى، فأما طول الأمل فينسي الآخرة، وأما اتباع الهوى فيصد عن الحق ألا وإن الدنيا قد تولت مدبرة والآخرة قد أقبلت مقبلة ولكل واحدة منهما بنون فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا فان اليوم عمل ولا حساب والآخرة حساب ولا عمل
“Sungguh, perkara yang paling saya takutkan dari kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan adalah melupakan dari akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah berpaling dari kebenaran. Ketahuilah, sungguh dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih di depan. Dan setiap mereka memiliki anak. Jadilah anak-anak yang berorientasi pada akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak yang berorientasi pada dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah waktu beramal tanpa adanya hisab. Sedangkan hari kiamat besok adalah waktu dihisab tanpa bisa beramal lagi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 10614)

Oleh karena itu, hendaknya setiap kita berjuang melawan dan mengevaluasi jiwa kita sebelum dihisab oleh Allah ﷻ pada hari kiamat. Kita mengevaluasi segala aktivitas dan tindakan yang telah dilakukan, sebelum kita berdiri di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat. Karena orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri dan melakukan aktivitas kebaikan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

Jun 16, 2026

Hakikat Tujuan Hidup Manusia dalam Perspektif Islam

 


Video klip di atas ada " seluruh nafas ini" milik Last Child. Salah satu lagu Indonesia yang banyak di cover. Seluruh nafas ini sama artinya dengan hidup ini. Apa salahnya di awal bulan Muharam ini kita sedikit merenungkan kembali, apa c sebenarnya tujuan hidup ini. Sedikit ilustrasi.
Seorang anak yang rajin sembahyang tiba-tiba mogok karena melihat hal-hal di tempat sembahyang yang menurutnya membuat orang ndak bisa lagi fokus dalam bersembahyang. Hati mereka menyeru Allah ﷻ, tapi tangan-tangan mereka asyik dengan gawai. Mulut-mulut yang mengagungkan nama Allah ﷻ sekaligus bergosip. Sang Ayah yang tahu hal itu hanya meminta satu syarat sebelum Si anak mengambil keputusan.
“Isislah gelas penuh dengan air dan bawalah berkeliling di tempat sembahyang. Ingat, jangan sampai ada air yang tumpah”.
Si anak pun membawa segelas air berkeliling tempat sembahyang dengan hati-hati hingga ndak setetes air pun jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,
“Bagaimana, sudah kamu bawa air itu keliling tempat sembahyang?”
“sudah Ayah”
“Apakah ada yang tumpah”
“Ndak”
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang yang sibuk dengan gawainya”
“Wah, saya ndak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini,”
jawab si anak
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang-orang yang membicarakan kejelekan orang lain?” tanya sang Ayah lagi.
“Wah, saya ndak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas”
Sang Ayah pun tersenyum lalu berkata:
“Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu ndak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain.
Jangan sampai kesibukan Anda menilai kualitas orang lain membuat Anda lupa akan kualitas diri Anda.


Pernahkah Anda bertanya-tanya, “Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?” atau “Apa makna hidup ini sebenarnya?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, yang seringkali memicu perenungan mendalam, adalah inti dari apa yang kita sebut filsafat manusia. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, dianugerahi akal yang sehat sehingga pada saat-saat tertentu, kita mulai memikirkan dan mempertanyakan keberadaan diri kita sendiri.

Pencarian tujuan hidup manusia adalah bagian dari pencarian kebahagiaan sejati yang seringkali kita rasakan hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Namun, dalam Islam, manusia ndak diciptakan tanpa tujuan dalam hidup. Islam memberikan jawaban yang jelas dan tegas mengenai hal ini. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ bukan tanpa maksud. Justru, Allah ﷻ telah menetapkan dua tujuan hidup manusia yang utama dan saling berkaitan: yaitu untuk beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Kedua pilar ini menjadi landasan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Seringkali, di dunia modern ini, kita mengartikan mencari tujuan hidup sebagai pencarian kesuksesan material. Kita berpikir bahwa menemukan tujuan berarti mendapatkan karir yang gemilang, memiliki kekayaan melimpah, atau mencapai ketenaran di media sosial. Namun, tujuan hidup Anda menurut Islam jauh melampaui hal-hal yang bersifat duniawi dan fana. Kesuksesan dan kekayaan hanya menjadi alat, bukan tujuan akhir. Tujuan hidup adalah sesuatu yang bernilai dan dianggap penting. Oleh karena itu, hidup akan bermakna jika kita berhasil melaksanakan suatu tujuan hidup. Namun, Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, pernah berpendapat bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, atau kebahagiaan.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Islam bahwa kebahagiaan sejati adalah tujuan, tetapi Islam menawarkan jalan yang lebih jelas untuk menemukan kebahagiaan itu.

Setiap individu memiliki tujuan hidupnya yang unik, namun semua bermuara pada satu esensi: kembali kepada Allah ﷻ. Manusia di dunia ini sedang berproses untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Allah ﷻ ndak menciptakan kita dengan sia-sia, dan keberadaan kita memiliki makna yang mendalam. Tujuannya adalah agar kita, sebagai makhluk yang memiliki akal dan hawa nafsu, dapat memilih jalan yang benar untuk tunduk dan beribadah kepada-Nya. Allah ﷻ ingin melihat apakah kita memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun kita memiliki kebebasan untuk bertindak.

Pencarian akan makna hidup seringkali dipenuhi dengan tantangan. Anda mungkin merasa terombang-ambing oleh ekspektasi masyarakat, perbandingan di media sosial, atau bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan hidup yang Anda inginkan. Banyak orang yang bingung mencari tujuan hidup karena menganggapnya hanya sebatas hal-hal duniawi. Terkadang, kita begitu fokus menentukan tujuan hidup yang salah, sehingga ketika kita gagal, kita merasa putus asa. Namun, Islam mengajarkan pentingnya konsisten dalam mencari makna hidup sejati. Menemukan makna hidup ndak terjadi dalam semalam. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, refleksi, dan keyakinan yang kuat.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.
(Pernikahan yang sukses ndak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama.)

SettiaBlog, kamu ngomong kayak gitu sadar? He...he....


Video klip kedua ini ada "seperti air mengalir". Maaf ya, ini SettiaBlog ndak membuat lagu lho ya. SettiaBlog hanya mengenalkan sedikit sastra lama, yang ini milik Kahlil Gibran. Kalau yang bahasan sebelumnya itu potongan dialog Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Walaupun ndak merasa membuat lagu tapi tetap masih memperhatikan musiknya kok. Di situ SettiaBlog kasih sedikit sentuhan nuansa Jawa. Untuk vokalnya SettiaBlog terinspirasi lengkingan vokalisnya Within Temptation, Sharon den Adel. Jika Anda melihat secara utuh Anda akan ngerti.

Let it flow. Biarkan mengalir. Ungkapan ini pasti sering kita dengar. Ya, sebuah ungkapan singkat namun sarat makna. Flow yang dalam arti harfiahnya bermakna ‘mengalir’, ‘melimpah’, mengandaikan sebuah keadaan yang bebas, ndak dibatasi dan ndak terikat dengan sesuatu. Flow adalah sebuah keadaan yang menunjukkan ketenangan, kenyamanan, bahkan dalam kondisi tertentu “kebebasan”. Layaknya air yang mengalir bebas ke mana pun ia suka. Filosofi air yang mengalir bebas sering menjadi acuan seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Hidup ini akan terasa nikmat kalau kita menjalaninya dengan perasaan lepas, jiwa yang bebas, pikiran yang merdeka, ndak dikungkung atau dibelenggu oleh apa pun dan siapa pun. Hidup ini akan terasa damai kalau kita menjalaninya dengan tenang, mengalir seperti air. Makna lain dari filosofi air mengalir adalah bahwa segala sesuatu yang terus mengalir, bergerak akan selalu menghadirkan kebaruan dan kejernihan. Hidup pun demikian adanya.

Hidup adalah bergerak dan mengalir. Jika diam dan tetap maka hanya kebekuan dan kejumudan pikiran dan perasaan yang akan kita rasakan. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikian juga hendaknya dengan kehidupan kita. Meski kita tengah berada di posisi yang tinggi, memiliki kelimpahan materi, ilmu pengetahuan yang mumpuni, kedudukan yang bergengsi, tetaplah rendah hati. Lihatlah bagaimana kehidupan orang di sekeliling kita. Banyak di antara mereka yang masih kesulitan ekonomi, pendidikan tinggi ndak mampu dijangkau karena mahalnya biaya yang harus dibayar, pekerjaan ndak menentu sekadar untuk dapat menyambung hidup, dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuat kehidupan mereka terasa ndak nyaman. Sapalah mereka, dekati mereka, bantulah mereka. Inilah makna air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Jadilah seperti air yang tenang tetapi menghanyutkan, bukan seperti air yang beriak tanda tak dalam. Ya, dalam menjalani hidup ini jadilah pribadi yang tenang. Tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang. Tenang karena kita memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup. Tenang karena kita memiliki Allah yang Maha segala-galanya. Janganlah menjadi air yang beriak. Karena itu pasti tanda tak dalam. Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ndak perlu banyak tingkah dan gaya, yang hanya akan menunjukkan kepongahan di balik kekosongan jiwa. Ndak usah banyak sesumbar apalagi berkoar-koar sembari membusungkan dada, yang hanya akan membuat orang lain jengah dan akhirnya tahu kualitas dan kapasitas diri kita sesungguhnya.

Jun 12, 2026

Imajinasi dan Ilmu Pengetahuan

 


Video klip di atas ada "I Knew It, I Knew You" milik Taylor Swift. Lagu ini merupakan soundtrack utama film animasi Toy Story 5. Masih ada yang ingat film animasi Toy Story? Tema Toy Story 5 sendiri berpusat pada perjuangan mainan fisik bertahan di era digital. Film ini membandingkan ikatan emosional antara manusia dan mainan klasik dengan pesona teknologi modern seperti tablet. Ini adalah metafora tentang pentingnya kehadiran alam nyata dan imajinasi di dunia yang serba instan ini.

Dalam perspektif awam, imajinasi masih sering diposisikan dalam arti peyoratifnya. Imajinasi dianggap serupa dengan ilusi, khayalan, dan fantasi. Salah persepsi ini berakibat pada masih kurang dipertimbangkannya imajinasi sebagai sumber pengetahuan yang sahih. Orang sering mengajak kita untuk berpikir realistis ketika kita mengajukan gagasan yang muluk-muluk. Mereka ndak menyadari bahwa anjuran mereka –sebagaimana dikemukakan Allan Loy McGinnis dalam buku best seller-nya, The Power of Optimism sebenarnya bentuk kekhawatiran-kekhawatiran yang disembunyikan. “Worry is misuse of imagination” (kekhawatiran adalah imajinasi yang disalahgunakan). Kekhawatiran itu, oleh Kierkegaard dianggap sebagai sikap yang berlebihan dalam merespon bahaya, atau semacam sikap memandang rendah kemampuan kita.

Mengganggap imajinasi sejenis dengan khayalan, fantasi, atau ilusi, merupakan sikap yang gegabah. Istilah fantasi itu sendiri lebih berkaitan dengan daya membayangkan sesuatu hal yang ndak real atau yang ndak mungkin terjadi. Dengan demikian, fantasi sepadan dengan khayalan atau ilusi, terjemahan dari bahasa Inggris, illusion. Secara terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu yang jelas-jelas keliru. Jika fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) berhubungan dengan gambaran objek yang ndak mungkin dan memang ndak ada dalam kenyataan, maka imajinasi merupakan daya yang menghasilkan gambaran objek yang bersifat mungkin atau logis. Imajinasi ndak terkait dengan penggambaran yang membabi buta tentang suatu objek atau konsep tertentu. Dalam bahasa inggris, ada beberapa variasi kata untuk imajinasi, yaitu imagery, imaginary, dan imagine. Imagery merupakan bahasa figuratif untuk merujuk sebuah gambaran, objek, ide, dalam pikiran seseorang (pembaca atau pendengar), sehingga istilah ini sering digunakan oleh para penyair dalam karya-karyanya.

Imagery sering diartikan sebagai perumpamaan atau tamsil, meskipun ia memiliki arti yang lebih luas dari sekedar perumpamaan. Selanjutnya, imaginary dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai yang imajiner atau khayal; contohnya bilangan imajiner sebagai bilangan khayal. Sementara kata imagine (kata kerja) berarti membentuk suatu gambaran mental tentang sesuatu, atau memikirkan sesuatu sebagai bisa terjadi atau mungkin. Imagine adalah tindakan membayangkan, meskipun pada prakteknya terdapat perbedaan antara “membayangkan” dan “mengimajinasikan”. “Membayangkan” mempunyai konotasi sebagai sesuatu yang lebih mudah dilakukan karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan “mengimajinasikan” itu merambah wilayah yang lebih luas sehingga ndak dapat direduksi sebagai sekedar membayangkan. Maka dari itu, imajinasi lebih tepat diartikan sebagai kekuatan potensial yang telah memberikan kontribusi berharga bagi lahirnya pengetahuan.

Perlu diketahui perbedaan antara berimajinasi dan berpikir (logis), lebih khusus terkait dengan proses lahirnya pengetahuan. Berpikir merupakan aktivitas mental untuk melahirkan atau memformulasikan pengetahuan dengan merujuk pada aturan berpikir atau konsep tertentu yang cenderung bersifat membatasi, bahkan mengikat. Misalnya anjuran berpikir lurus menurut logika identitas Aristotelian –di mana cara berpikir yang ndak mematuhi hukum logika tersebut dapat terjatuh dalam “sesat pikir” (the fallacy). Sementara dalam berimajinasi proses mental kita ndak lagi diikat oleh hukum berpikir atau konsep kebenaran tertentu, sehingga pikiran menjadi bebas untuk mencari wawasan pengetahuan baru. Disadari atau ndak, peran imajinasi begitu besar dalam melahirkan teori-teori agung di bidang ilmu pengetahuan. Ketika para ilmuwan sudah kehabisan ide untuk memecahkan suatu permasalahan—karena logika telah menunjukkan keterbatasan-keterbatasannya, terkadang imajinasi bebas mereka justru yang mempunyai peranan besar dalam pemecahan problem-problem keilmuan. Bahkan ilmuwan sekaliber Einstein mengatakan, ”imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”.

Peran imajinasi dalam proses penelusuran pengetahuan membawa banyak hal yang sering ndak terduga. Meski berimajinasi ndak dibatasi oleh hukum berpikir dan konsep tertentu, namun proses mental tetap terarah pada citra atau imaji-imaji tertentu sebagai representasi dari persoalan yang sedang dibayangkan. Ketika Einstein menemukan rumus E=mc2 , dia tentu meng-imaji-kan variabel-variabel itu dalam pikirannya. Ketika Newton tiba-tiba menyadari teori gravitasinya karena melihat buah apel jatuh ke tanah, dia juga men-citra-kan sesuatu dalam benaknya. Dengan demikian, mengimajinasikan “imaji” merupakan proses yang melahirkan kedua teori tersebut. Tentang kemampun melahirkan konsep dari imaji-imaji yang dicecap, ada sebuah konsep menarik yang diperkenalkan Sartre dalam bukunya L’imaginaire: Psychologie phenomenogique de l’imagination , yaitu tentang “imajinasi kreatif”. Imajinasi kreatif ini terkait dengan kemampuan pikiran seseorang untuk merasakan apa yang disebut Kant “pengalaman estetik”. Ketika seseorang mampu menangkap makna dan menemukan seepisode cerita dalam sebuah lukisan, atau merasakan emosi dalam selantun lagu yang ndak bisa dirasakan oleh orang lain, maka orang itu memiliki imajinasi kreatif. Dengan kata lain, ndaklah disebut imajinatif jika melihat makna dan cerita dalam sebuah lukisan yang juga bisa dilihat orang lain. Imajinasi kreatif ini disebut Sartre sebagai “tindakan menciptakan sebuah objek dalam ketiadaannya”.

Hans George Gadamer, dalam Philosophical Hermeneutics mengatakan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang tumbuh dalam ruang sosial dan masa historis tertentu. Citra tentang manusia dan lingkungannya selalu dibentuk dan direkayasa dalam lembaran sejarah. Sehingga, ndaklah berlebihan jika Simone Weil menganggap bahwa imajinasi dan fiksi telah membentuk lebih dari tiga perempat kehidupan nyata manusia. Pernyataan di atas hendak menegaskan bahwa pengetahuan yang kita peroleh sebenarnya lahir dari imaji-imaji tentang segala hal yang telah kita cecap, entah ia merujuk pada objek yang real ataupun yang imajiner. Imaji-imaji yang memenuhi ruang mental kita itu menjadi semacam penyedia bahan baku bagi kegiatan merumuskan pengetahuan. Dalam konteks ini, antara imajinasi dan rasio sebenarnya saling mendukung. Sebagai salah satu potensi intelek, imajinasi berfungsi sebagai pemecah kebuntuan ketika rasio ndak lagi mampu menyelesaikan persoalan pengetahuan yang membekap kita. Dengan dayanya, imajinasi mampu membuat tautologi-tautologi baru atas imaji-imaji yang memenuhi benak kita yang tidak dapat dikerjakan oleh rasio. Ketika pola-pola tautologi itu telah eksis dalam pikiran kita, rasio kemudian memerankan dirinya kembali, yaitu sebagai evaluator dan perumus bagi tautologi-tautologi itu agar polanya semakin matang dan presisi.

Imajinasi membuat dunia hadir dalam banyak kemungkinan, dan rasio membuat kemungkinan-kemungkinan itu menjadi pengetahuan yang masuk akal. Imajinasi juga memampukan kita menghayati dunia dan kenyataan sebagai momen puitis (ingat imajinasi kreatifnya Sartre). Jika di ranah saintifik antara imajinasi dan rasio masih bisa didamaikan, maka di ranah estetis keduanya cenderung saling menegasikan. Sebagai modus representasi dunia dan kenyataan, imajinasi adalah sumber bagi bahasa konotatif-puitis, sementara rasio adalah sumber bagi bahasa denotatif-logis. Kedua modus representasi ini akan melahirkan corak dunia yang sangat berbeda. Jika kita hanya mengandalkan bahasa denotatif-logis sebagai basis representasi, maka dunia akan mewujud sebagai objek formulatif semata. Di ranah estetis, dengan mengacu Heidegger, bahasa konotatif-puitis sebenarnya lebih berpotensi memunculkan “ketidaktersembunyian” (aletheia) karena lebih membuka pengalaman, bukan menciutkannya. Oleh karena bahasa puisi hendak meng-imaji-kan sesuatu, maka hanya imajinasilah yang mampu memberikan konteks imajinatif pada pikiran kita.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. SettiaBlog. Jujur aja, kamu itu Ndak pantes buat bahasan yang sifatnya serius seperti bahasan di atas. Masak tho....he.....he.....
Penasaran dengan kepribadian sesungguhnya yang Anda miliki? Tes kepribadian adalah salah satu jawaban dari rasa penasaran Anda tersebut. Tes kepribadian di bawah ini dapat mengungkapkan imajinasi seperti apa yang Anda miliki. Jika penasaran, caranya mudah, cukup dengan melihat gambar di bawah ini dan katakan gambar apa yang pertama Anda lihat. Jika sudah, cocokkan dengan jawaban di bawahnya!




Jika gambar pertama yang Anda lihat adalah wajah seorang wanita maka tandanya Anda memiliki imajinasi yang sangat kuat dan juga hidup. Walaupun demikian, Anda bisa menyeimbangkan imajinasi Anda itu dengan sifat pragmatis yang Anda miliki.

Anda ndak hanya dipenuhi oleh ide-ide luar biasa, tetapi Anda juga mampu mempraktikkan ide-ide Anda tersebut. Imajinasi Anda itulah yang membawa diri Anda ke tempat-tempat menarik. Namun Anda perlu memastikan bahwa imajinasi Anda itu ndak membuat Anda jadi melamun sepanjang hari, karena Anda tetap harus menyeimbangkannya dengan kehidupan nyata.

Jika gambar pertama dalam tes kepribadian ini yang Anda lihat adalah cangkir kopi maka tandanya Anda memiliki imajinasi yang abstrak. Anda bisa menemukan ide-ide original yang out of the box. Anda sering memikirkan ide-ide dan skenario yang fantastis, yang seringkali membuat orang lain tercengang.

Berbeda dari orang-orang yang melihat gambar wajah wanita, orang yang melihat cangkir kopi dalam tes kepribadian ini cenderung memiliki imajinasi yang lebih liar, namun tetap dalam konteks yang positif. Teruslah mengembangkan imajinasi Anda tersebut dan pergunakan untuk hal-hal yang bisa bermanfaat bagi diri Anda dan juga orang lain.


Video klip kedua ada "cukup". SettiaBlog pengen lagu yang ringan dan ceria. Dan SettiaBlog terinspirasi dari lagu lagu folk country yang ada di album "Foreverly " miliknya Norah Jones dan Billie Joe. Taylor, itu liriknya SettiaBlog pakai dialognya Romeo dan Juliet terus SettiaBlog tambahin monolog. Agak kacau c, ngepaskan kata katanya cukup susah. Ilustrasinya SettiaBlog ambil 3 pantai Bali, Aceh dan KalTim. Yang penting yang lihat bisa tersenyum, ya itu udah cukup. SettiaBlog emangnya ada tho cinta tanpa menuntut di balas. Kalau soal itu SettiaBlog kurang tahu....he....he.....Yang penting yang lihat bisa tersenyum. Kalau yang SettiaBlog tahu Allah ﷻ Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya.

Bukti bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang untuk semua hamba-Nya begitu banyak dan dapat dirasakan setiap waktu.
Allah Maha Pengasih menjadi salah satu sifat wajib-Nya yang harus dipercaya oleh semua umat Islam sedunia. Maha Pengasih dapat diartikan Allah ﷻ akan selalu memberikan rasa kasihnya untuk semua makhluk-Nya. Bukan hanya manusia saja, tetapi juga makhluk lainnya, seperti hewan serta tumbuhan. Kedua sifat Allah ﷻ tersebut juga sudah sering diucapkan dalam setiap kesempatan dalam bacaan Basmallah, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Bacaan tersebut sering diucapkan dan menjadi bukti bahwa Sang Kholiq memang benar-benar mengasihi dan menyayangi semua hamba-Nya tanpa terkecuali. ‍

Sebenarnya ada banyak buktinya dan mungkin Anda sekalian belum menyadarinya, baik secara langsung atau ndak. Sepertinya hal tersebut sudah sesuai dengan sifat manusia yang seharusnya selalu bersyukur. Terutama umat Islam yang sudah diberikan berbagai rezeki dan kenikmatan dalam kehidupannya sehari-hari. Lalu, apakah Anda sudah bersyukur hari ini? Jika sudah, minimal ucapkan hamdallah untuk memuji kebesaran-Nya. Begitu juga saat mengagumi bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang bisa mengucapkan basmallah terutama saat ingin memulai aktifitas baik sehari-hari. Lalu, apa saja bukti nyata bahwa Allah ﷻ benar-benar Maha Pengasih?

Berikut beberapa diantaranya yang seharusnya Anda ketahui.
1. Selalu Menerima Taubat Hamba-Nya

Allah ﷻ akan selalu menerima taubat setiap hambanya dengan penuh kasih sayang. Meskipun dosanya sudah banyak dan diibaratkan setinggi gunung, tetapi orang tersebut mau bertaubat. Allah ﷻ akan menerima taubatnya asalkan ndak mengulangi dosa dan kesalahannya. Jadi, taubatnya diterima dengan syarat ndak akan melakukannya lagi perilaku buruk atau maksiatnya. Selain itu, benar-benar bertaqwa kepada Sang Khaliq dengan menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

2. Memberi Rezeki pada Semua Makhluk-Nya

Bukti lainnya bahwa Allah Maha Pengasih, yaitu menjamin rezeki pada semua makhluk-Nya tanpa terkecuali. Mulai dari manusia, hewan, hingga tumbuhan sudah dijamin rezekinya. Khususnya untuk manusia bukan hanya umat Islam saja, tetapi seluruhnya yang hidup di dunia ini. Oleh karenanya, Anda sekalian harus selalu bersyukur setiap saat karena pemberian reseki dari Allah ﷻ tersebut.

3. Menambah Nikmat bagi Hamba-Nya yang Mau Bersyukur

Allah ﷻ sudah menjanjikan akan menambah nikmat rezeki diberikan kepada setiap hamba-Nya yang mau bersyukur. Salah satu bukti Allah Maha Pengasih yang ndak bisa terbantah lagi. Syaratnya hanya disuruh bersyukur setiap saat dari pemberian yang diterimanya. Entah rezeki yang Anda terima besar atau kecil, harus tetap bersyukur. Dengan begitu, rasanya akan selalu tercukupi dan terasa aman serta nyaman di hati.

Dengan mengucapkan basmallah saat ingin memulai aktifitas tertentu, Anda sudah memuji Allah ﷻ sebagai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selain mendapatkan pahala karena mengucapkannya, juga akan diberikan kemudahan, keberkahan, dan solusi tanpa diduga. Oleh karenanya, Anda jangan malu, ragu, atau pelit saat mengucapkannya dengan janji-janji seperti itu. Sudah banyak orang yang membuktikannya sendiri bahwa kehidupannya lebih baik saat bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Caranya cukup mudah dan ndak perlu dipersulit karena hanya melakukan hal-hal ringan saja sebagai bukti Allah Maha Pengasih. Misalnya, mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, hamdallah, basmallah, dan tahlil setiap saat.

Bukan hanya waktu sholat atau ibadah-ibadah khusus saja, tetapi dalam setiap kesempatan. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga akan beranjak tidur pada malam hari bisa mengucapkannya setiap saat. Jadi, silahkan untuk membiasakan diri setiap hari mulai dari sekarang khususnya Anda yang belum melakukannya. Mulai dari diri sendiri, lalu dapat ditularkan kebiasaan baik tersebut kepada anggota keluarga lainnya atau orang-orang terdekat. Dengan begitu, keberkahan akan selalu hadir bersama Anda setiap waktu dan dimana saja. Mulai di rumah, di jalan, tempat kerja, dan pastinya di masjid saat melakukan sholat jamaah lima waktu. Banyak buktinya dan Anda bisa merasakannya sendiri setiap waktu. Setelah membaca uraian diatas, Anda sebagai umat Islam harus lebih memahami bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang benar-benar ndak dapat terbantahkan.

Jun 8, 2026

Qiyamul Lail sebagai Jalan Keluar dari Keresahan Hidup

 


Video klip di atas ada "melodia de uma noite" karya komponis Portugal, Silvestre Fonseca. Lagu ini di mainkan Ilona Guitar dengan cantiknya. Melodia de uma noite bisa di artikan melodi di malam hari. Maaf ya kalau SettiaBlog salah mengartikan, SettiaBlog ndak begitu bisa bahasa Portugal, yang jelas lagu ini menggambarkan suasana syahdu pada waktu malam hari. Bagi orang muslim waktu tengah malam yang syahdu kayak gitu sangat cocok untuk qiyamul lail.

Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi? Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang ndak ada habisnya. Di titik itu, rasanya kapasitas diri sudah ndak mampu lagi menampung semuanya. Respons paling manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar: masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting. Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ.

Dalam surah Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi Muhammad ﷺ. Di awal-awal masa kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat, jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy. Ada momen di mana tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah ﷺ memilih untuk menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya. Tentu saja, sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut ndak akan pernah menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah ﷻ ndak menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”

Lalu dilanjutkan di surah Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah ﷻ langsung memberikan sebuah “resep” yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari separuh itu.” Allah ﷻ bmemerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Ndak lain karena ketika dunia sedang terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering. Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.

Mengapa Shalat Malam Pernah Menjadi Kewajiban?
Banyak yang mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah ﷻ memberikan satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam). Di hadapan tugas kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif, Rasulullah ﷺ dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya. Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.

Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah ﷻ bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah ﷻ ndak serta-merta menyuruh Rasulullah ﷺ untuk membalas perlakuan mereka, ndak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.bSebaliknya, Allah ﷻ justru memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga malam melalui qiyamul lail. Allah ﷻbhendak mengokohkan fondasi jiwa kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang hari.

Shalat malam diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat dirinya yang bermula dari “al-‘alaq”, segumpal darah yang lemah, terbatas, dan ndak memiliki daya apa-apa. Lewat untaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan kesombongan manusiawi dikikis habis. Di atas sajadah, seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah, pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah ﷻ justru akan turun. Menariknya, ketika Allah ﷻ sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali ndak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.

Pada akhirnya, harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah ﷺ, juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau pewaris estafet risalah Islam. Ketika terjun ke masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya problematika umat dan beratnya tantangan dakwah. Di titik itulah akan sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah ﷻ.

Secara fitrah sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi setiap tekanan eksternal. Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, ndak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.

Malam hari adalah waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi transendental langsung dari pusat ketenangan universal. Jadi, jika hari ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam. Jangan paksakan logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu, bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah ﷻ. Karena dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah dunia di siang hari dilahirkan.

Seorang pakar tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surah Al-Muzzammil itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk perintah langsung yang tegas. Lebih dari itu, sebuah ibadah sunnah (anjuran) ndak mungkin membatasi durasi waktu secara detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah tersebut berstatus sangat penting dan wajib. Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah ﷺ, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”
Aisyah kemudian menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi ﷺ dan para sahabat melakukannya selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”

Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib ini. Baru setelah satu tahun berlalu, Allah ﷻ menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Meski status hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail ndak pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6) Bagi Rasulullah ﷺ sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.

Saat ditanya mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)” Pertanyaan retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita. Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir. Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah ﷻ untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.


Video klip kedua ada "ya sudahlah" milik Bondan yang udah di cover. Untuk ilustrasinya itu, ide awalnya dari pernyataan Ilona yang ingin membuat klip di alam terbuka. Kenapa kok di buat naik Kerbau SettiaBlog? Jalan untuk menuju tempat itu cukup susah, paling mudah naik Kerbau ...he...he... Bercanda ...bercanda. Ini ada sedikit cerita sejarah saat kerajaan Majapahit berniat melakukan ekspansi. Untuk menghindari perang besar dan pertumpahan darah, Raja Pagaruyung dan panglima Majapahit sepakat menyelesaikan sengketa melalui adu kerbau. Cerita ini tercatat di Serat Pararaton. Majapahit waktu itu membawa kerbau yang sangat besar dan kuat. Sementara kerajaan Pagaruyung menggunakan seekor anak kerbau (dikenal sebagai gudel) yang lapar dan sengaja ndak diberi makan berhari-hari. Di ujung tanduk anak kerbau tersebut, dipasang pisau besi yang tajam. Saat diadu di arena, anak kerbau yang sangat lapar itu berlari ke arah kerbau besar Majapahit. Anak kerbau itu mengira kerbau besar tersebut adalah induknya dan bermaksud untuk menyusu. Anak kerbau itu terus menyeruduk dan melukai perut kerbau Majapahit menggunakan pisau di tanduknya.

Sebenarnya cerita kayak gini unsurnya bahasa sanepan. Sebenarnya Majapahit kala itu kalah karena strategi gerilya yang di gunakan pasukan Pagaruyung. Terutama, kerajaan Pagaruyung memiliki bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup susah untuk di lalui. Kondisi alam ini yang di manfaatkan oleh pasukan Kerajaan Pagaruyung. Kok malah ngomongin sejarah...he...he...maaf ...maaf. Yang jelas di sinilah pentingnya sebuah strategi dalam bertindak.

Berpikir strategis adalah cara berpikir untuk menyikapi persoalan dengan membuat rencana setelah melakukan analisis terlebih dahulu pada tantangan atau rintangan. Cara berpikir yang satu ini tentu dibutuhkan dalam dunia kerja karena dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi diri untuk menyelesaikan pekerjaan. Ndak hanya para pemimpin, tapi karyawan juga perlu memiliki kemampuan ini agar dapat memahami instruksi yang diberikan.

Berpikir secara strategis diartikan sebagai proses pikir yang intensional dan rasional. Dengan berpikir secara strategis, Anda berfokus terhadap analisis, faktor kritis, serta variabel-variabel yang akan memengaruhi suatu hal dalam jangka panjang. Ini bisa berlaku untuk sebuah proyek, bisnis, atau juga untuk keputusan pribadi yang kamu buat.

Sebagai seorang strategic thinker, Anda akan selalu berhati-hati dalam membuat keputusan dan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan pertimbangan yang terukur. Cara inilah yang bisa mewujudkan rencana dan tujuan yang jelas, serta keputusan yang tepat. Untuk bisa berpikir secara strategis, Anda butuh mengasah research skill, analytical thinking, kemampuan berinovasi, menyelesaikan masalah, komunikasi, kepemimpinan, dan membuat keputusan.

Bisnis berkembang dengan begitu cepat dengan adanya teknologi dan sumber daya lainnya yang memadai. Oleh karena itu, kita harus cepat beradaptasi dan menyusun rencana untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Jika ndak, perusahaan akan tertinggal dan kalah dalam persaingan. Nah, berpikir strategis adalah salah satu cara untuk menghasilkan rencana-rencana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, Anda bisa selalu mengantisipasi, memperkirakan, dan mengambil kesempatan dengan sigap.

Ini bukan hanya tanggung jawab pemimpin perusahaan, tetapi juga semua stakeholder yang terlibat. Semakin besa Anda bisa berkontribusi dalam pekerjaan Anda, tentu perusahaan pun akan semakin menghargai posisi Anda.

Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Strategis

1. Berorientasi pada masa depan

Berpikir strategis kerap kali dikaitkan dengan membuat rencana. Oleh karena itu, Anda perlu memiliki orientasi terhadap masa depan agar terbiasa berpikir strategis. Ketika dihadapkan dengan sebuah proyek atau pekerjaan, mulailah dengan memprediksi apa yang akan menjadi rintangan-rintangan di masa depan serta bagaimana solusinya. Buat beberapa rencana untuk menyelesaikan masalahmu, lalu coba satu persatu untuk mengetahui mana yang berhasil. Hal ini akan membuat Anda terlatih untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dengan memiliki orientasi terhadap masa depan. Selain itu, waktu pun akan lebih banyak terhemat.

2. Coba berbagai hal baru

Kemampuan berpikir strategis akan menuntut Anda untuk memiliki wawasan yang luas. Oleh karena itu, cobalah untuk melakukan hal-hal baru dan menambah wawasan Anda. Pengalaman baru dapat menjadi pelajaran dan akan membantu Anda mendapatkan insight atau sudut pandang baru dalam menyikapi suatu hal. Selain itu, Anda juga akan terlatih untuk memperhitungkan berbagai risiko dan tantangan yang dihadapi.

3. Latih manajemen waktu dan prioritas

Kemampuan berpikir strategis pun memerlukan keahlian manajemen waktu dan skala prioritas. Rencana bagus sekali pun kemungkinan ndak dapat berjalan dengan baik tanpa manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas yang baik. Oleh karena itu, skill satu ini selain dibutuhkan untuk mengembangkan pola pikir strategis, juga berguna untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan. Anda dapat memulai melatih manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas dari kegiatan sehari-hari, seperti mengatur waktu kapan Anda harus tidur dan bangun.

4. Melibatkan berbagai faktor saat membuat rencana

Seseorang dengan kemampuan berpikir strategis mengetahui bahwa faktor seperti ide, kesempatan, dan sumber daya berkaitan satu sama lain. Sehingga, dia akan mempertimbangkan semuanya ketika membuat rencana. Untuk menemukan ide, Anda dapat mencoba dengan meluangkan waktu untuk mendapat pengalaman baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini akan memberikan Anda inspirasi, lho. Sedangkan untuk melihat kesempatan, perhatikan apa yang kompetitor lakukan lalu buatlah sebuah riset persaingan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui besarnya kesempatan yang dimiliki. Lalu untuk sumber daya, Anda dapat melakukan riset langsung untuk mencari bahan baku atau jika berupa sumber daya manusia, Anda dapat menggunakan diskusi. Dengan melibatkan banyak faktor, maka risiko-risiko yang akan dihadapi pun akan dapat terlihat dan mudah untuk diperhitungkan.

5. Menanyakan pertanyaan strategis

Menurut Harvard Business School, menanyakan pertanyaan strategis pun dapat mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Hal ini dapat membantu Anda dalam melatih kemampuan perencanaan, melihat kesempatan dan juga mindset strategis untuk mengembangkan karier. Contoh pertanyaan strategis adalah sebagai berikut;
Bagaimana kita dapat menempatkan produk dalam pasar yang baru?
Ke mana arah perkembangan dari produk atau brand ini?
Apa langkah-langkah yang bisa diambil untuk menjaga konsumen dalam memakai produk ini?

6. Observasi dan refleksi

Selain menanyakan pertanyaan strategis, coba juga untuk mencari jawabannya. Anda bisa menemukannya dengan melakukan observasi dan refleksi. Melakukan kedua hal tersebut adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berpikir strategis. Anda bisa mengobservasi dengan mencari informasi sebanyak mungkin untuk menjadi dasar dalam membuat strategi baru. Setelah itu, cari juga apa yang salah dan harus diperbaiki dalam strategi atau prosedur yang telah berlaku.

7. Berhati-hati terhadap bias

Setiap orang memiliki bias terhadap sebuah hal atau topik. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati terhadap hal tersebut. Cobalah untuk menilai pemikiran yang sudah Anda buat. Apakah Anda membuat pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada atau karena Anda memang memiliki preferensi lain yang mendukung pemikiran tersebut? Dengan mengakui bahwa pemikiran sendiri ndak sempurna, hal ini memungkinkan Anda untuk berpikir lebih strategis ketika akan membuat keputusan.

8. Mempertimbangkan ide yang berlawanan

Ketika Anda sudah menemukan ide, cobalah untuk mengkritisi ide tersebut. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Dengan mengkritisi pemikiran sendiri, Anda bisa melihat kekurangan dari pemikiran yang telah dibuat. Anda juga bisa menajamkan kemampuan berpikir logis untuk mengomunikasikan dan menjalankan strategi Anda. Cobalah untuk mempertanyakan diri Anda sendiri ketika membuat keputusan. Haruskah Anda mengambil dari perspektif lain? Adakah detail yang terlewat?

Itulah beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Jangan ragu untuk berdiskusi dan terbuka terhadap saran juga kritik melalui diskusi agar pola pikir strategis Anda terus dapat terasah dan berkembang.