Jul 15, 2026

Kiat Menuju Sukses Menurut Islam dengan Sembilan ‘I’

 


Video klip di atas "Only God Knows Why" milik Kid Rock. Tema lagunya bagus kok , sebuah refleksi jujur tentang perjalanan hidup, perjuangan, dan pencarian jati diri. Perasaan terasing, penyesalan, dan usaha untuk terus melangkah maju menghadapi cobaan, di mana hanya Allah ﷻ yang mengetahui alasan di balik semua lika-liku kehidupan tersebut. Ya, mungkin ada juga orang yang kurang suka dengan pandangan seperti itu. Kalau SettiaBlog yakin dan percaya bahwa perjalan hidup yang SettiaBlog jalani merupakan rencana Allah ﷻ. Dan SettiaBlog percaya setiap orang memiliki standardnya masing - masing dalam menilai keberhasilan atau kesuksesan. Sementara dalam pandangan umum dan merupakan harapan setiap orang, kesuksesan sering diukur melalui kombinasi pencapaian karier, stabilitas finansial, kesehatan mental dan fisik, serta hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.

Sementara itu dalam Islam, kesuksesan ndak hanya sekedar diukur dari keberhasilan materi, tetapi juga dari keberkahan hidup yang dicapai melalui nilai-nilai Islam. Salah satu cara menuju kesuksesan adalah dengan menerapkan konsep Sembilan ‘I’, yang terdiri dari berbagai sikap dan tindakan yang didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

1. Ikhtiar (Memilah dan Memilih)

Ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh dalam memilih dan menjalani sesuatu dengan bijak. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Hadis Nabi Muhammad ﷺ juga menyebutkan:
“Ikatlah unta kalian, lalu bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebelum berserah diri kepada Allah.

2. Ijtihad (Serius)

Ijtihad berarti bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang jika bekerja, ia menyempurnakannya.” (HR. Thabrani)
Sikap serius dalam bekerja dan berusaha akan membawa hasil yang lebih baik, serta mendapatkan keberkahan dalam hidup.

3. Ikhtiyath (Hati-hati/Teliti)

Bersikap hati-hati dan teliti dalam setiap tindakan menghindarkan kita dari kesalahan yang merugikan. Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
Ketelitian dalam berpikir dan bertindak akan membawa kita pada keputusan yang lebih bijak dan tepat.

4. Isthibar (Sabar/Ulet)

Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi ujian kehidupan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 153:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Kesuksesan ndak datang dengan instan, melainkan membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

5. Istifadah (Mengambil Pelajaran dari Suatu Peristiwa)

Selalu berpikir positif dari suatu peristiwa Mengeluh ndak apa-apa, tetapi harus segera mencari solusi Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Dari setiap kejadian, ada hikmah yang bisa diambil agar kita semakin berkembang dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah.

6. Istianah (Kerjasama)

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Maidah: 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Kerjasama yang baik akan membawa keberhasilan yang lebih besar daripada bekerja sendiri.

7. Istisyarah (Berdiskusi)

Diskusi adalah cara untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Dalam Islam, musyawarah sangat dianjurkan, sebagaimana dalam QS. Asy-Syura: 38:
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”
Diskusi membantu kita dalam membuat keputusan yang lebih bijak dan matang.

8. Istiqamah (Konsisten)

Latihan istiqamah adalah ketika kita merasa ndak nyaman jika ndak melakukannya Allah ﷻ berfirman dalam QS. Fussilat: 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…”
Konsistensi dalam beribadah dan berusaha akan membentuk kebiasaan baik yang membawa keberkahan.

9. Istighatsah (Berdoa)

Apa yang kita lakukan semuanya akan kembali ke diri kita, maka jangan pernah berdoa jelek kepada orang lain Doa ibu lebih dahsyat dari ucapan malaikat Doa dapat menenangkan hati, dan yang terpenting adalah yakin Dalam QS. Al-Baqarah: 186, Allah ﷻ berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku.”
Berdoa dengan yakin akan memberikan ketenangan hati dan membawa kita lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya. Sembilan ‘I’ merupakan rumus atau langkah-langkah yang dapat melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses di dunia maupun akhirat. Dengan melatih emosi dan kebiasaan yang positif, kita akan semakin dekat dengan kesuksesan yang sejati kok. Untuk backgroundnya SettiaBlog gunakan conic gradient dengan sudut 60 derajat.


Video klip kedua ada "menjemput fajar". Lagu apa itu SettiaBlog? Ya dengerin sendiri aja biar tahu. Untuk ilustrasinya itu SettiaBlog ambil tokoh besar dari Sunda, Nyai Subang Larang. Di sekitar abad 14 dia sudah getol menyebarkan Islam di tanah Sunda. Dia juga termasuk wanita yang mempelopori pengajaran Al Quran. Jika Anda datang ke Kasepuhan Cirebon, di sana banyak sumber sejarah berkaitan dengan Nyai Subang Larang. Makanya bagi kaum muslim yang biasa ikut manaqiban dari jalur Kasepuhan Cirebon, dalam kegiatan acaranya pasti di awali kataman Al Quran. SettiaBlog kamu itu cerita apa c? Ndak paham SettiaBlog.....he....he.....maaf...maaf! Kalau gitu SettiaBlog cerita aja ya? Mmm......

Suatu ketika di sebuah desa kecil di Dataran Tiongkok hiduplah seorang pemuda bernama Suyo. Ia dikenal sebagai pemuda yang berwajah cukup tampan. Beberapa gadis diam-diam menaruh hati kepadanya. Namun di balik wajah yang rupawan itu, Suyo hanyalah seorang anak petani biasa yang menjalani hidup dengan sederhana. Hari-harinya dihabiskan membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Baginya, kehidupan desa yang tenang sudah cukup membuatnya merasa nyaman. Ia ndak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya harus menghadapi tantangan yang mampu mengubah seluruh jalan hidupnya.

Di desa yang sama ada seorang gadis yang telah lama mengisi hati Suyo. Setelah memikirkan dengan matang, ia akhirnya memberanikan diri datang ke rumah keluarga gadis itu untuk menyampaikan niat baiknya. Bukan untuk sekedar bertamu, melainkan untuk meminangnya secara terhormat sesuai adat yang berlaku pada masa itu. Namun harapan Suyo ndak berjalan semudah yang dibayangkan. Ayah gadis tersebut, seorang prajurit kerajaan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di medan perang, menatap Suyo dengan tenang. Namanya adalah Yijang, seorang veteran yang telah beberapa kali menghadapi pertempuran. Pengalaman panjang membuatnya memahami bahwa pada zaman yang penuh konflik, seorang laki-laki ndak cukup hanya memiliki wajah tampan dan hati yang baik. Ia juga harus mampu melindungi keluarganya ketika bahaya datang. Karena itulah Yijang mengajukan sebuah syarat. Jika Suyo ingin menikahi putrinya, ia harus mampu mengenai sasaran dengan busur dari jarak 100 m.

Bagi prajurit yang telah bertahun-tahun berlatih, syarat itu bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai. Namun, bagi seorang pemuda desa yang bahkan belum pernah memegang busur perang, tantangan tersebut terasa hampir mustahil dicapai. Lebih berat lagi, waktu yang diberikan hanya 1 tahun. Banyak orang mungkin akan menyerah bahkan sebelum mencoba. Belajar memanah hingga mencapai tingkat seperti itu biasanya membutuhkan latihan bertahun-tahun. Tetapi Suyo ndak melihat syarat tersebut sebagai penghinaan. Ia memahami alasan di balik permintaan Yijang. Sang ayah ndak sedang mencari alasan untuk menolak lamaran, melainkan ingin memastikan bahwa putrinya akan hidup bersama seseorang yang sanggup menjaganya di masa-masa sulit. Melihat tekad Suyo yang ndak goyah, Yijang mengambil sebuah busur perang beserta beberapa anak panah lalu menyerahkannya kepada pemuda itu. Suyo menerima busur tersebut dengan penuh hormat. Lalu pertemuan diakhiri.

Keesokan paginya, Suyo membawa busur itu menuju sebuah lahan kosong di dekat hutan kecil di belakang desa. Tempat itu cukup sepi sehingga ndak membahayakan warga yang melintas. Di sebelah kirinya terbentang pepohonan yang rapat. Sementara di sisi kanan berdiri pagar kayu panjang yang memisahkan desa dari hutan liar. Di tempat sunyi. Itulah perjalanan yang akan mengubah hidup Suyo benar-benar dimulai. Cukup jauh di hadapannya berdiri sebuah sasaran sederhana yang dibuat dari jerami. Busur pemberian Yizang kini berada di tangannya. Menunggu untuk digunakan untuk pertama kali. Namun kenyataan jauh berbeda dari bayangan Suyo. Suyo mencoba menarik tali busur sekuat tenaga. Otot lengannya menegang, wajahnya memerah, bahkan nafasnya mulai memburu. Meski seluruh tenaga telah dikerahkan, tali busur itu nyaris ndak bergerak. Busur perang itu dibuat untuk prajurit yang telah bertahun-tahun melatih kekuatan tubuhnya, bukan untuk seorang pemuda desa yang sehari-hari hanya bekerja di ladang. Ia ndak menyerah begitu saja. Berkali-kali ia mencoba menarik kembali hingga kedua lengannya mulai gemetar. Hingga setelah berusaha sampai matahari mulai naik, akhirnya ia berhasil melepaskan satu anak panah. Sayangnya, panah itu hanya meluncur sekitar 10 meter sebelum jatuh ke tanah. Jarak itu bahkan belum sepersepuluh dari syarat yang harus ia penuhi.

Suyo terdiam cukup lama. Baru hari pertama ia sudah menyadari betapa jauhnya kemampuan yang dimilikinya dibandingkan target yang harus dicapai dalam waktu 1 tahun. Dari balik pagar, melihat cucunya berlatih tanpa hasil, kakeknya menghampirinya. Meski bukan seorang pemanah hebat, kakeknya pernah mempelajari dasar-dasar memanah ketika masih muda. Sehingga ia memahami kesalahan terbesar yang dilakukan Suyo. Menurutnya, Mamanah bukan sekedar membidik sasaran. Sebelum itu, tubuh harus cukup kuat untuk menarik busur. Jika tenaga saja belum cukup, mempelajari teknik ndak akan banyak membantu. Nasihat sederhana itu mengubah cara berpikir suyo. Sejak hari itu, ia ndak lagi memaksakan diri terus memanah. Sebagian besar waktunya justru digunakan untuk membangun kekuatan tubuh. Setiap siang hingga sore, untuk memperkuat otot lengannya, ia menimba air dari sumur desa dengan ember kayu yang lebih besar. Ember demi ember diangkatnya bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tetapi juga membantu para tetangga yang membutuhkan tenaga tambahan. Ketika pekerjaan di ladang selesai, ia melanjutkan latihan fisik. Ia berlatih berbagai gerakan yang diajarkan kakeknya untuk memperkuat lengan, bahu, serta punggung. Latihan itu dilakukan tanpa pernah terlewat dan perubahan terbesar justru terjadi pada kebiasaannya.

Dulu Suyo baru bangun ketika matahari mulai meninggi. Kini sebelum ayam pertama berkokok, ia sudah terjaga dan bersiap untuk berlatih. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk rebahan berubah menjadi jam latihan. Ia ndak mau menyia-niakan waktu yang diberikan. Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Bangun sebelum fajar, berlatih fisik, membantu orang tuanya menggarap ladang, menimba air hingga sore, lalu kembali berlatih memanah sebelum matahari terbenam. Rutinitas itu terasa melelahkan. Tubuhnya sering dipenuhi pegal dan lecet. Telapak tangannya mulai mengeras akibat terus menggenggam tali busur dan mengangkat ember-ember berisi air. Namun, ndak sekalipun ia berpikir untuk menghentikan usahanya.

6 bulan berlalu tanpa terasa. Latihan yang terus diulang itu perlahan menunjukkan hasil. Lengan Suyo yang dulu kurus kini tampak jauh lebih berisi. Bahunya menjadi lebih kokoh, telapak tangannya dipenuhi kapalan dan napasnya jauh lebih teratur saat bekerja. Warga desa yang setiap hari melihatnya mulai menyadari perubahan itu. Pemuda yang dulu dikenal santai kini justru menjadi orang pertama yang sudah beraktivitas ketika sebagian besar warga masih terlelap. Suatu sore setelah menyelesaikan pekerjaan di ladang, Suyo kembali menuju tempat latihan di belakang desa. Ia mengambil busur pemberian Yizeng lalu menarik tali busur perlahan. Kali ini berbeda. Busur yang 6 bulan lalu bahkan nyaris ndak bisa ia tarik, kini dapat ia rentangkan hingga penuh. Otot-otot yang dibangunnya selama berbulan-bulan akhirnya mampu mengendalikan kekuatan busur perang itu. Suyo menghembuskan napas, memusatkan pandangan ke arah sasaran, lalu melepaskan anak panah. Anak panah melesat kencang hingga akhirnya jatuh ndak jauh dari sasaran. Jaraknya hampir mencapai 90 m. Suyo tersenyum untuk pertama kalinya sejak memulai latihan. Meski belum berhasil memenuhi syarat, setidaknya ia tahu bahwa seluruh kerja kerasnya ndak sia-sia.

Sang kakek yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan ikut merasa bangga. Menurutnya, kekuatan Suyo kini sudah cukup untuk menembakkan anak panah hingga jarak yang dibutuhkan. Yang masih kurang hanyalah teknik. Ia menjelaskan bahwa memanah jarak jauh bukan hanya mengandalkan tenaga. Cara berdiri, posisi kaki, tarikan tali busur, pengaturan nafas, hingga saat melepaskan jari dari tali busur harus dilakukan dengan tepat. Kesalahan kecil saja dapat membuat anak panah meleset beberapa meter dari sasaran. Nasihat itu menjadi awal dari latihan berikutnya. Sejak saat itu, Suyo ndak lagi berfokus memperkuat tubuh. Waktu latihannya lebih banyak dihabiskan untuk mengulang gerakan yang sama berkali-kali. Ia belajar mengendalikan napas, menjaga tubuh tetap stabil, dan membidik dengan lebih tenang. Setiap anak panah yang meleset menjadi pelajaran untuk tembakan berikutnya. 5 bulan kembali berlalu. Kini anak panah sudah mampu melampaui jarak 100 m. bahkan beberapa kali melesat lebih jauh dari sasaran. Namun, masalah yang sebenarnya baru mulai terasa. Mengenai sasaran dari jarak 100 m ternyata jauh lebih sulit daripada sekedar mencapainya. Tembakannya ndak pernah benar-benar tepat sasaran. Semakin keras ia berusaha menyempurnakan bidikannya, semakin ia menyadari betapa sulitnya kemampuan para prajurit kerajaan.

Tanpa terasa genap sudah 1 tahun sejak Suyo menerima busur dari Yizang. Hari yang selama ini ia nantikan akhirnya tiba. Pagi itu, Yizang pulang dari tempat penugasannya di kota untuk menepati janjinya menguji kemampuan Suyo. Suyo datang ke sebuah lapangan luas di pinggir desa. Tempat itu dipilih Yizang karena memiliki medan terbuka tanpa penghalang. Sama seperti kondisi yang biasa dijumpai di medan perang, di tengah lapangan berdiri sebuah orang-orangan yang dibuat dari jerami. Jaraknya tepat 100 m dari tempat Suyo berdiri. Suasana berubah hening ketika Suyo melangkah maju sambil membawa busur yang telah menemaninya berlatih selama setahun terakhir. Wajahnya terlihat tenang, tetapi di balik ketenangan itu, jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Semua kerja kerasnya selama 1 tahun akan ditentukan hanya dalam beberapa saat.

Yizang lalu menjelaskan aturan ujiannya. Suyo hanya diberi tiga kesempatan. Jika satu saja anak panah berhasil mengenai sasaran, maka ia dinyatakan memenuhi syarat. Suyo menganggukkan kepala. Ia menarik napas panjang kemudian memasang anak panah pertama pada busurnya. Gerakannya jauh lebih mantap dibandingkan saat pertama kali berlatih. Ia mengangkat busur, membidik dengan penuh keyakinan lalu melepaskan tali busur. Anak panah melesat sangat cepat menuju sasaran. Namun sesaat kemudian hembusan angin menyapu lapangan. Angin itu sebenarnya ndak terlalu kencang, tetapi cukup untuk mengubah arah terbang anak panah. Panah tersebut melintas beberapa langkah di samping sasaran sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Suyo terdiam. Barulah saat itu ia menyadari kesalahan yang ndak pernah terpikirkan selama berlatih.

Tempat latihannya berada di belakang desa diapit oleh hutan kecil di satu sisi dan pagar kayu tinggi di sisi lain. Selama 1 tahun penuh hampir ndak pernah ada angin yang cukup kuat untuk mempengaruhi arah anak panahnya. Sementara lapangan tempat ujian berlangsung benar-benar terbuka sehingga arah angin menjadi faktor yang ndak bisa diabaikan. Untuk percobaan kedua, Suyo mencoba menyesuaikan bidikannya. Ia sengaja mengarahkan busur sedikit menyimpang, berharap hembusan angin akan membawa anak panah kembali menuju sasaran. Namun, masih meleset. Melawan arah angin bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari hanya dengan perkiraan. Bahkan para pemanah kerajaan membutuhkan latihan bertahun-tahun untuk memahami perubahan arah angin di setiap tembakan. Namun, Suyo harus memahaminya saat itu juga.

Kini tinggal satu kesempatan terakhir. Suyo memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengingat kembali seluruh latihan yang telah dijalaninya selama 1 tahun. Setiap pagi yang dimulai sebelum fajar, setiap ember air yang diangkat dari sumur, setiap tetes keringat yang jatuh di tempat latihan, semuanya seolah terlintas dalam benaknya. Ia kembali mengangkat busurnya. Kali ini ia membidik lebih lama dari sebelumnya. Setelah merasa benar-benar siap, ia melepaskan anak panah terakhir dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Semua mata mengikuti laju anak panah itu. Sesaat kemudian terdengar suara lirih ketika anak panah menancap ke tanah. Bukan pada sasaran, melainkan beberapa langkah di sampingnya. Lapangan yang semula penuh harapan kembali diliputi keheningan. Suyo perlahan menurunkan busurnya. Ia ndak mengatakan apapun. Tubuhnya terasa lemas. Lalu ia terduduk di atas rumput sambil menundukkan kepala. Setahun penuh perjuangan ternyata belum cukup untuk mendapatkan pujaan hatinya. Ndak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata setelah tembakan terakhir itu. Yijang berjalan menghampiri Suyo. Wajahnya ndak menunjukkan kemarahan maupun kekecewaan yang berlebihan. Sebagai seorang prajurit, ia tahu betul bahwa satu tahun memang tak akan cukup untuk menguasai kemampuan memanah. Sesampainya di hadapan Suyo, Yijang mengambil kembali busur yang tahun lalu dipinjamkannya. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ujian telah selesai. Tanpa mengucapkan banyak kata, ia kemudian meninggalkan lapangan bersama beberapa tokoh desa yang sejak tadi menyaksikan jalannya ujian.

Suyo tetap duduk seorang diri. Tatapannya kosong mengarah ke tanah. Selama 1 tahun terakhir, seluruh hidupnya hanya berputar pada satu tujuan. Ia rela mengubah kebiasaannya, memaksa tubuhnya melewati batas, bahkan mengorbankan waktu istirahat yang dulu begitu ia sukai. Namun, pada akhirnya semua itu belum mampu membawanya mencapai hasil yang diharapkan. Rasa kecewa, kesal, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Bukan karena ia merasa usahanya sia-sia, melainkan karena ia begitu dekat dengan keberhasilan. Seandainya saja ia menyadari lebih awal pentingnya berlatih di tempat terbuka dan mempelajari arah angin, mungkin hasilnya akan berbeda.

Beberapa hari kemudian, Yijang kembali ke kota tempatnya bertugas. Kali ini ia membawa putrinya ikut bersamanya. Di sanalah ia telah memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan seorang prajurit yang telah memiliki kemampuan bertempur dan dianggap mampu memberikan perlindungan di tengah masa peperangan. Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Suyo. Ia menerima kenyataan tersebut tanpa mencoba mengubah keputusan siapun. Kesempatan yang pernah diberikan kepadanya telah ia jalani hingga batas waktu yang ditentukan. Ia gagal memenuhi syarat itu dan kesempatan yang diberikan kepadanya merupakan suatu kehormatan baginya.

Hari-hari berikutnya pun kembali berjalan seperti semula. Suyo kembali membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Namun tanpa ia sadari dirinya bukan lagi pemuda yang sama seperti setahun sebelumnya. Pekerjaan yang dulu terasa melelahkan kini dapat ia selesaikan dengan mudah. Mengangkat hasil panen, memikul karung atau menimba air dari sumur ndak lagi membuat lengannya cepat lelah. Tubuhnya telah terbiasa bekerja dari pagi hingga sore tanpa banyak mengeluh. Yang paling berubah justru kebiasaannya. Meski ndak ada lagi ujian yang menunggunya, Suyo tetap bangun sebelum matahari terbit setiap hari dan mulai mengerjakan apa saja. Tubuhnya seolah telah menyatu dengan rutinitas yang ia bangun selama 1 tahun. Waktu yang dahulu ia gunakan untuk latihan memanah kini dialihkan untuk membantu warga yang kesulitan. Setelah membantu orang tuanya di ladang, ia mulai membangun usahanya sendiri. Tanpa disadari Suyo, kegagalannya memang telah mengakhiri mimpinya. Namun, disiplin yang ia bangun selama setahun justru mulai membuka jalan menuju sesuatu yang sama sekali ndak pernah ia bayangkan. Bagi Suyo, semua itu sudah menjadi kebiasaan. Namun bagi warga desa, apa yang ia lakukan meninggalkan kesan yang berbeda. Ndak ada warga yang konsisten bangun lebih pagi darinya. Ndak ada warga yang bekerja lebih banyak darinya. Hingga pada suatu hari, kepala desa yang telah memimpin selama bertahun-tahun memutuskan mengundurkan diri karena usia yang ndak lagi muda. Warga kemudian berkumpul untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya. Beberapa nama sempat disebutkan. Namun setiap kali musyawarah berlangsung, pembicaraan selalu kembali kepada satu orang yang sama, Suyo. Bukan karena ia berasal dari keluarga terpandang, bukan pula karena memiliki kekayaan paling banyak. Warga memilihnya karena mereka telah melihat sendiri bagaimana ia menjalani hidup setiap hari. Kerja kerasnya, kedisiplinannya, dan kepeduliannya kepada sesama membuat banyak warga percaya kepadanya.

Tanpa persaingan yang berarti, Suyo akhirnya terpilih menjadi kepala desa. Di usianya yang masih muda, ia dipercaya memimpin seluruh warga desa. Kepercayaan itu bukan diperoleh dalam semalam, melainkan dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ia lakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Suyo memang gagal mencapai tujuan yang dahulu paling ia inginkan. Namun tanpa pernah ia sadari, satu tahun penuh latihan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Kebiasaan disiplin yang awalnya dilakukan demi mengejar satu tujuan justru mengantarkannya memperoleh kepercayaan, penghormatan, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Dan dari seorang pemuda desa biasa, Suyo akhirnya dikenal sebagai pemimpin termuda yang pernah dimiliki desanya.


Seringkiali perjuangan berakhir ndak sesuai harapan. Ada kalanya kita sudah berjuang keras, tetapi hasilnya tetap ndak memuaskan. Namun, jika selama proses itu kita membangun kebiasaan disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah, maka sebenarnya peluang besar sudah terbuka. Menjadi pribadi yang disiplin dan pekerja keras ndak akan pernah mengecewakan kita. Sebab itulah yang membentuk diri menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, lebih mampu, dan lebih siap menghadapi kesempatan lain di depan. Seperti Suyo, ia memang gagal memenuhi syarat untuk menikahi gadis yang ia cintai. Tetapi disiplin yang ia bangun selama 1 tahun telah mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia menjadi sosok teladan yang dihormati sehingga akhirnya dipercaya memimpin desanya di usia yang masih muda. Karena itu, jangan pernah menyesali usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab disiplin yang kita tanam hari ini mungkin ndak mengantarkan kita ke tujuan pertama, tetapi bisa saja mengantarkan kita pada masa depan yang jauh lebih baik.

Jul 9, 2026

Prinsip Hidup Menuntun Cara Kita Menjalani Hari

 


Video klip di atas ada "Stronger" dari Kelly Clarkson. Temanya c tentang pentingnya memiliki prinsip dalam hidup, ketahanan mental dan pemberdayaan diri. Percaya bahwa tantangan hidup membuat kita lebih tangguh.

Ada orang yang terlihat tenang meski hidupnya penuh tekanan. Ada juga yang tetap punya arah meskipun sedang berada di persimpangan besar. Jika diperhatikan lebih dalam, sering kali perbedaan itu bukan karena hidup mereka lebih mudah, tapi karena mereka memiliki prinsip hidup yang jelas. Prinsip hidup bukan sekadar kata-kata motivasi atau kalimat indah di media sosial. Ia adalah sesuatu yang lebih sunyi namun kuat: nilai yang diam-diam menentukan cara seseorang bertindak, memilih, bertahan, dan melangkah. Dalam keseharian, prinsip hidup bekerja seperti kompas batin. Kadang ndak terlihat, tetapi selalu memengaruhi keputusan yang kita buat, termasuk saat ndak ada orang lain yang menilai atau memberi arahan.

Prinsip hidup adalah nilai-nilai, keyakinan, atau pedoman fundamental yang dipegang seseorang untuk mengarahkan perilaku, menentukan prioritas, serta mengambil keputusan sehari-hari. Prinsip hidup membantu seseorang memahami apa yang benar bagi dirinya, apa yang perlu diperjuangkan, dan batas apa yang ndak boleh dilanggar. Misalnya, seseorang yang memegang prinsip kejujuran akan tetap berkata benar meskipun itu membuatnya rugi secara sementara. Sementara orang yang memiliki prinsip tanggung jawab akan tetap menyelesaikan tugasnya meski ndak diawasi. Prinsip hidup menjadi dasar yang memberi makna dalam langkah kecil maupun besar. Ia seperti fondasi yang ndak selalu terlihat, tetapi menentukan bentuk keseluruhan bangunan kehidupan seseorang.

Ndak ada prinsip hidup yang benar-benar lahir dari ruang kosong. Prinsip terbentuk dari nilai personal, yaitu hal-hal yang dianggap penting oleh seseorang berdasarkan pengalaman hidup, pola asuh, lingkungan, dan perjalanan emosionalnya. Nilai personal bisa berbeda antara satu orang dan orang lain. Ada yang menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ada yang menjunjung kebebasan. Ada pula yang merasa hidup harus dijalani dengan kontribusi sosial. Contohnya, seseorang yang pernah mengalami masa sulit mungkin membangun prinsip hidup tentang ketahanan mental: ndak mudah menyerah dan tetap tenang saat keadaan buruk. Sementara orang yang pernah dikhianati bisa membentuk prinsip bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang mahal dan ndak mudah diberikan. Nilai personal inilah yang membuat prinsip hidup terasa unik dan manusiawi. Prinsip bukan sekadar teori, tetapi hasil dari perjalanan hidup seseorang.

Meski setiap orang memiliki prinsip berbeda, ada beberapa prinsip umum yang sering muncul dalam kehidupan banyak orang karena relevansinya yang luas.
Prinsip pertama adalah integritas, yaitu konsistensi antara ucapan dan tindakan. Orang dengan integritas ndak hanya terlihat baik, tetapi memang berusaha hidup sesuai nilai yang ia yakini.
Prinsip kedua adalah disiplin. Dalam konteks nyata, disiplin bukan soal bangun jam lima pagi, tetapi kemampuan untuk tetap melakukan hal yang penting meskipun sedang ndak nyaman.
Prinsip ketiga adalah rasa hormat kepada orang lain. Prinsip ini membuat seseorang mampu menjaga sikap, mendengarkan, dan ndak merendahkan meski berbeda pandangan.
Prinsip keempat adalah kesederhanaan. yakni kemampuan untuk ndak hidup berlebihan dan tetap merasa cukup. Prinsip ini sering menjadi penopang mental di tengah tekanan gaya hidup modern.
Prinsip kelima adalah keberanian untuk berkembang. Bukan berarti harus selalu berubah drastis, tetapi berani mengakui kesalahan dan belajar menjadi versi diri yang lebih matang.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa prinsip hidup ndak selalu rumit, tetapi punya dampak besar dalam jangka panjang.

Keputusan hidup sering kali ndak datang dalam bentuk pilihan yang jelas. Kadang yang muncul justru dilema: mana yang mudah, mana yang benar, mana yang menguntungkan, mana yang bermakna. Di sinilah prinsip hidup berperan penting. Seseorang tanpa prinsip yang jelas cenderung mudah terbawa tekanan sosial, tren sesaat, atau keputusan impulsif. Sebaliknya, orang yang punya prinsip kuat akan lebih stabil dalam menentukan arah, bahkan saat situasi ndak mendukung. Misalnya dalam dunia kerja. Ketika diberi kesempatan mendapat keuntungan cepat dengan cara yang ndak etis, prinsip hidup menjadi pagar yang menjaga seseorang tetap berada di jalur yang sehat. Dalam keuangan, prinsip hidup juga sangat menentukan. Ada orang yang memegang prinsip kehati-hatian sehingga ndak mudah tergoda investasi berisiko tanpa pertimbangan matang. Ada pula yang memegang prinsip kemandirian sehingga lebih disiplin membangun tabungan dan aset jangka panjang. Prinsip hidup membuat keputusan ndak sekadar berdasarkan emosi sesaat, tetapi berdasarkan arah yang lebih dalam.

Manusia ndak hidup sendirian. Kita berada dalam relasi: keluarga, teman, komunitas, pekerjaan, hingga masyarakat luas. Prinsip hidup menjadi sesuatu yang menjaga hubungan sosial tetap sehat. Seseorang yang memegang prinsip empati akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan ndak mudah menyakiti orang lain. Orang yang memegang prinsip keadilan akan berusaha memperlakukan orang lain dengan setara, bahkan saat ndak ada keuntungan pribadi. Prinsip hidup juga membuat seseorang lebih tahan terhadap tekanan sosial. Di era ketika opini publik bisa berubah cepat, prinsip menjadi jangkar yang mencegah seseorang kehilangan dirinya sendiri. Dalam konteks ini, prinsip hidup bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga cara seseorang memberi kontribusi pada lingkungan sosialnya.

Banyak orang mengira mental kuat berarti ndak pernah sedih atau ndak pernah gagal. Padahal yang lebih penting adalah kemampuan untuk tetap punya arah meskipun sedang rapuh. Prinsip hidup membantu seseorang bertahan dalam masa sulit karena ia punya pegangan. Saat seseorang yakin bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran, ia ndak mudah hancur oleh rasa bersalah. Saat seseorang percaya bahwa proses lebih penting daripada hasil instan, ia ndak mudah putus asa ketika langkahnya lambat. Prinsip hidup memberi makna, dan makna adalah salah satu sumber kekuatan terbesar dalam hidup manusia.

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya


Video klip kedua ada "jejak merah saga". Thu kan, SettiaBlog kalau buat judul lagu pasti ngawur lagi. Ndak jelas..... Ndak jelas gimana tho? Kalau jelas kan bukan SettiaBlog namanya, kan udah dari dulu SettiaBlog emang ndak jelas...he....he....

Prinsip hidup bekerja paling kuat justru ketika ndak ada sorotan. Ia hadir saat seseorang harus memilih tanpa kepastian, menahan diri ketika jalan pintas terlihat menggiurkan, atau tetap berjalan meski hasil belum tampak. Di situ prinsip hidup bukan lagi konsep, melainkan penopang arah. Di tengah kehidupan yang serba cepat, prinsip hidup membantu menyaring mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya bising sesaat. Ia ndak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi memberi pegangan agar seseorang ndak kehilangan dirinya sendiri saat menghadapi tekanan, perubahan, dan ketidakpastian. Prinsip hidup juga ndak harus kaku atau sempurna. Ia bisa berkembang seiring pengalaman, selama tetap berangkat dari kejujuran terhadap nilai yang diyakini. Ketika prinsip selaras dengan tindakan, hidup terasa lebih utuh, meski jalannya ndak selalu mudah.

Banyak kaum muslim yang selalu mencari ilmu kesuksesan dan kebahagiaan. Mencari ilmu dari berbagai sumber, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi modern, itu perlu dan bisa kita lakukan jika punya cukup waktu. Namun sebagai muslim, prinsip kita dalam mencari ilmu kesuksesan dan kebahagiaan harus sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Ada tiga prinsip hidup muslim yang perlu kita terapkan yaitu:

1. Semua yang dilakukan selama hidup kita atau dalam sehari semalam 24 jam itu dilandasi niat ibadah karena Allah ﷻ

2. Semua amal yang dilakukan selama 24 jam itu, amal lahiriyah dan batiniyah, sesuai petunjuk Al Quran dan hadis;

3. Semua yang dilakukan selama 24 jam itu bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah ﷻ, bahagia di dunia dan akhirat serta terhindar dari siksa neraka dunia dan akhirat.
Jika kita mampu melaksanakan tiga prinsip tersebut secara konsisten maka kita akan menjadi muslim kaffah, menjadi sebenar-benarnya muslim. Semoga mampu diwujudkan dan hidup kita selalu barokah dalam rahmat Allah ﷻ.

Jul 1, 2026

Pencapaian Tertinggi Dalam Hidup

 


Video klip di atas ada "Moonlight" milik Ariana Grande yang udah di cover. Ariana, SettiaBlog pinjam lagunya dulu ya. SettiaBlog terinspirasi oleh strawberry moon yang terjadi kemaren lusa. Strawberry Moon itu, sebutan bulan purnama yang muncul pada bulan Juni. Secara filosofis, bulan purnama melambangkan puncak pencapaian, kesempurnaan, dan pencerahan. Fase ini merepresentasikan titik balik di mana sebuah siklus mencapai keutuhan penuh setelah melalui proses pertumbuhan.

Berbicara tentang pencapaian tertinggi dalam hidup, semua akan kembali kepada individu masing-masing tentunya. Sudut pandang , latar belakang , kemampuan intelektual dan spiritual bersatu dalam pemahaman seseorang ketika berpikir dengan cara sederhana, “Sebenarnya mau apa yang dicapai dalam hidup ini?”

Secara harfiah pencapaian tertinggi dalam hidup sudah pasti mencapai apa yang diinginkan, apa yang sudah direncanakan. Bisa rencana jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang untuk masa depan. Lebih luas dan mulia lagi, jika menyertakan kepentingan orang banyak didalamnya. Terlalu tinggikah seperti itu? Namanya juga pencapaian tertinggi untuk diri sendiri tentu berbicara tentang keinginan diri sendiri yang masih banyak belum terpenuhi dan ingin terealisasi dengan sempurna, ngapain mikirin orang lain! Huuss...sebaiknya jangan ngomong kayak gitu kan ya.

Manusiawi sekali anggapan seperti itu, mengingat kita adalah makhluk social. Karena, bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau diri sendiri belum bisa kita “tolong”. Tapi seiring bertambahnya usia, SettiaBlog yakin, setiap manusia pelan-pelan ingin menemukan sisi humanisnya. Sisi dimana dia akan merasa tentram, damai jika sudah berbuat sesuatu untuk orang lain, untuk lingkungan – dengan begitu dia harus memposisikan dirinya sebagai orang yang bijaksana terlebih dulu.

Menjalani hidup dengan merenungi perjalanan hidup, adalah hal yang berbeda. Menjalaninya berarti menerima dengan lapang hati, apa yang sekarang diberikan Allah ﷻ kepada kita. Masalah yang didepan mata beserta jalan keluar yang bersembunyi di dalamnya, adalah suatu yang harus kita terima dengan ikhlas-tanpa pertanyaan balik kepadaNya. Kita perlu merenung, sudah sejauh mana pencapaian saya dalam hidup ini. Berhasilkah saya memanfaatkan kesempatan “kontrak hidup” yang diberikanNYA, menikmati jatah umur yang sudah ditetapkan ?

Seperti halnya, pertanyaan lumrah yang ditanyakan kepada setiap orang, “apa cita-citamu?”. Ketika ketika malu untuk mengungkapkan hal yang bersifat impian dan keinginan maka jawaban terbaiknya adalah, “sukses dunia dan akhirat”. Apakah salah dengan jawaban ini? Tentu ndak, tapi masih bersifat umum yang perlu dijabarkan secara rinci, agar perjalanan menuju pencapaian tersebut memang bukan sekedar menutup obrolan seputar pertanyaan tentang cita-cita atau pencapaian hidup.

Disini, persepsi tentang makna pencapaian dalam hidup, ada baiknya ditanya lagi ke dalam hati nurani. Dulu mungkin, ketika masih usia sekolah, yang terpikir hanya sebatas mendapatkan ijazah dan melanjutkan ke jenjang sekolah terbaik dan terfavorit, dengan cara belajar yang rajin. Ketika sudah dicapai, ada lagi tingkatan yang ingin ditembus, menjadi strata menengah atas, yang mapan hingga anak cucu. Ketika anak sudah berkeluarga, ada lagi keinginan memapankan yang sudah mapan, begitulah roda selanjutnya dalam kehidupan yang terus dijalani. Tentu diiringi dengan pengakuan lingkungan yang bersifat aktualisasi diri juga berarti sebagai pengakuan atas pencapaian yang kita dapatkan.

Jika kita terus berpatokan bahwa, penuhi diri sendiri dulu, baru orang lain, sampai kapanpun, kita ndak pernah bisa merasakan level atas pencapaian tertinggi dalam hidup. SettiaBlog menyadarinya lumayan terlambat, lha terus, gimana ? Ada baiknya semuanya berjalan di usahan beriringan. Artinya, sembari kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, sejalan dengan kita meniti rencana-rencana kita, disitu pula kita selipkan kebutuhan akan eksistensi diri, kebutuhan diakui oleh lingkungan. Tentu saja dengan maksud positif, berbuat sesuatu untuk sesama, bagaimanapun caranya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sesuai dengan status kita saat ini. Contoh paling sederhana yang sering pada saat momen motivasi, pengembangan diri atau acara sejenisnya, kita selalu diajak untuk membuat 100 daftar keinginan.

Setiap orang memiliki impian. Sesuatu yang diimpikan masing-masing orang pun berbeda. Impian merupakan langkah menuju sukses yang terpenting, karena dengan adanya impian, berarti kita memiliki tujuan. Setiap kita melakukan suatu hal, pasti ada tujuannya. Dengan adanya mimpi tersebut, kita dapat termotivasi untuk melakukan hal yang dapat membawa kita meraih impian tersebut. Tujuan terbaiknya bisa dikatakan sebagai bentuk pencapaian tertinggi dalam hidup. Berbicara secara pengalaman, untuk 100 daftar keinginan ini bisa di buat buat dalam bentuk dua hal. Maksudnya gimana? Buat 100 daftar keinginan yang ingin dicapai dalam jangka waktu panjang dan 100 daftar keinginan yang ingin dicapai setiap tahun. Karena berbicara 100 daftar keinginan jangka panjang tentulah harus dibarengi dengan pencapaian kecil pendukung dari pencapaian terbesarnya. Ibaratnya seperti yang dipaparkan diatas, Anda ingin sukses dunia dan akhirat tapi ndak merencanakan secara rinci bentuk sukses dunianya seperti apa dan supaya bisa sukses di dimensi abadi, bentuk ibadah apa aja yang ingin Anda targetkan.

Jadi segera ambil kertas atau buku dan tentu pulpen bila perlu warna-warni agar menyegarkan mata saat mengulas dan evaluasi daftar keinginan Anda. Kenapa ndak ditulis dalam bentuk digital? Boleh-boleh aja bila merasa nyaman menuliskan secara digital. Tapi buat SettiaBlog, rasanya jauh lebih berbeda bila ditulis dengan tangan (rasanya lebih mengena kalau di tulis pakai tangan, ya itu yang SettiaBlog rasakan lho ya)

Bagi yang yang baca blog Settia saat ini, kalau masih muda, bersyukurlah bahwa kalian masih punya banyak waktu untuk berbuat yang terbaik bagi diri dan lingkungan sekitar, ndak perlu nunggu dewasa. Ndak perlu nunggu pas udah bekerja. Jadilah yang terbaik yang Anda bisa, raih impian Anda setinggi mungkin, langit adalah batasnya!

Dan untuk yang usianya senasib seperti SettiaBlog, he he he, lebih baik terlambat daripada telat banget apalagi ndak sama sekali. Mestinya dengan pengalaman yang sudah lebih banyak, kita bisa menentukan langkah lebih matang, lebih sedikit salahnya.

Dalam meraih pencapaian tertinggi dalam hidup, kadang kita dibenturkan oleh beberapa halangan yang sifatnya takdir atau sesuatu yang ndak kita duga. Boleh keras dalam mencapainya tapi terkadang perlu untuk realistis dan mundur sejenak bila dirasa ndak mungkin untuk diraih. Inilah mengapa menggunakan dua cara dalam membuat 100 daftar keinginan, agar goal akhirnya semua bisa tercapai walau bertahap dan perlahan.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Bahasan ini sama sekali ndak mau menasehati, mengingatkan apalagi menggurui. Bahasan ini, sepenuhnya sebagai ajang untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa SettiaBlog harus merenungi lagi tentang makna pencapaian dalam hidup SettiaBlog.


Video klip di atas ada "pagi setelah malam". Sebentar SettiaBlog, di mana - mana pagi itu setelah malam. Masak tho....he...he.... Kalau membuat judul lagu mbok yang menarik gitu lho SettiaBlog. Ya..ya .., Sekarang SettiaBlog tak cerita aja ya. Duduk yang manis..!

Dahulu kala di sebuah desa kecil yang tenang di tepi hutan lebat hiduplah tiga bersaudara Rosan, Hogan dan Sami mereka tinggal di sebuah pondok sederhana yang diwariskan oleh orang tua mereka yang telah tiada. Mereka hidup rukun, ketiganya dikenal sebagai pemuda yang jujur bekerja keras dan selalu membantu sesama. Setiap hari mereka pergi ke hutan untuk menebang kayu dengan bahu yang kokoh dan tangan yang kuat mereka memotong pohon-pohon tua dan membawa kayu gelondongan itu ke pasar untuk di jual. Penghasilan mereka cukup untuk makan sehari - hari.

Tetapi kehidupan sederhana itu ndak memberikan kebahagiaan kepada mereka, ada kekosongan yang selalu menghantui hati mereka. "Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?" tanya Rosan suatu malam ketika mereka duduk di depan perapian. Wajahnya terlihat murung seperti bayang-bayang api yang menari ndak beraturan. "Aku ingin memiliki rumah besar dan megah mungkin saat itu aku akan bahagia." jawab Rosan dengan mata berbinar . Hogan mengangguk pelan. "Aku ingin ladang yang luas dengan hasil panen yang melimpah dengan begitu kita ndak perlu lagi bekerja keras di hutan." Sedangkan Sami yang paling muda tersenyum kecil "aku hanya ingin seorang istri yang cantik yang membuatku merasa istimewa setiap kali aku pulang ke rumah."

Keinginan mereka begitu berbeda namun kesedihan yang mereka rasakan sama, hidup yang mereka jalani tampak hampa. Meskipun mereka memiliki segalanya untuk bertahan. Pada suatu sore saat mereka berjalan pulang dari hutan dengan membawa tumpukan kayu. Mereka melihat seorang pria tua yang membungkuk di pinggir jalan wajahnya sayu dan ia membawa keranjang berat di punggungnya. Hati ketiga bersaudara itu tergerak tanpa pikir panjang mereka segera menurunkan kayu yang mereka bawa dan segera menghampiri pria tua itu. "Kek, biarkan kami membantu Anda membawa keranjang itu." kata Hogan dengan sopan. Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum lemah. "Terima kasih anak-anakku keranjang ini berisi apel yang aku kumpulkan dari hutan, rumahku ndak jauh dari sini."

Rosan , Hogan dan Sami bergantian memikul keranjang itu sebab keranjang yang terisi penuh apel yang ternyata lebih berat dari kelihatannya, meskipun terasa berat dan perjalanan cukup jauh mereka ndak mengeluh. Ketika akhirnya tiba di rumah pria tua itu, mereka merasa sangat lelah tetapi juga puas telah membantu seseorang. Pria tua itu tersenyum lembut "kebaikan kalian ndak akan aku lupakan, aku sebenarnya bukanlah orang biasa dan aku ingin memberikan hadiah atas ketulusan kalian. Katakanlah apa yang paling kalian inginkan dalam hidup ini." Ketiga bersaudara itu terkejut meski diliputi keraguan namun mereka tetap menjawab dengan jujur Rosan menginginkan rumah besar, Hogan mendambahkan ladang luas dan Sami bermimpi memiliki istri yang cantik. Mendengar permintaan ketiga bersaudara itu pria tua itu mengangguk. "Baiklah pulanglah ke rumah kalian, apa yang kalian inginkan akan menunggu di sana." katanya.

Ketiga bersaudara itu kebingungan, ketika ketiga bersaudara itu tiba di rumah mereka mereka tercengang sebuah rumah besar dengan pilar-pilar megah berdiri di samping pondok lama mereka. Pelayan-pelayan berbaris di depan pintu siap melayani Rosan. Di kejauhan ladang luas yang subur terbentang lengkap dengan para pekerja yang sibuk di sana. Hogan merasa seperti bermimpi. Dan Sami, ia melihat wanita yang cantik berdiri di depan rumah, tersenyum padanya malu - malu. "Aku adalah istrimu." katanya lembut. Mata Sami berbinar penuh kebahagiaan.

Mulai hari itu kehidupan mereka berubah seketika. Rosan menikmati kenyamanan rumah megahnya. Hogan mengawasi ladangnya yang luas. Dan Sami menghabiskan waktu bersama istrinya yang cantik. Awalnya semua terasa sempurna, hari-hari mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Ndak ada lagi rasa lelah atau keluhan yang mereka rasakan sebelumnya namun kebahagiaan itu ndak bertahan lama.

Setelah satu tahun Rosan mulai bosan dengan rumahnya. Dia merasa malas dan biarkan pelayan-pelayannya bekerja tanpa pengawasan. Rumah yang megah itu perlahan menjadi suram, pelayan-pelayan mulai kehilangan semangat dan suasana di rumah itu terasa hampa. Di sisi lain Hogan merasa terbebani dengan ladangnya ia ndak lagi menikmati pekerjaan yang sebelumnya ia dambakan. Hasil panen yang melimpah justru membuatnya khawatir akan serangan hama atau cuaca buruk. Setiap malam ia terjaga memikirkan, bagaimana melindungi ladangnya dari ancaman yang ndak kunjung datang. Sedangkan Sami yang awalnya terpesona dengan kecantikan istrinya mulai menganggap keberadaannya biasa aja. Bahkan ia seringkali pusing mendengar keluhan dan omelan dari sang istri. ia merasa hubungan mereka kehilangan kehangatan, percakapan mereka menjadi singkat dan momen-momen kebersamaan yang dulu membahagiakan kini terasa hambar.

Ketiganya kembali merasakan kekosongan yang sama seperti sebelumnya. Mereka sadar bahwa meskipun keinginan mereka telah terwujud kebahagiaan sejati tetap ndak mereka temukan. Kebahagiaan yang dulu mereka pikir akan datang dengan harta, tanah atau cinta ternyata hanya sementara.

Suatu hari saat udara terasa cukup dingin mereka memutuskan untuk menemui pria tua itu lagi. Setelah mencari di hutan mereka akhirnya menemukan rumahnya. Pria tua itu sedang duduk di depan perapian menghangatkan badannya yang ndak lagi prima. Kehangatan di dalam rumah itu memberikan rasa tenang, di tengah kekecewaan mereka. "Kek kami membutuhkan bantuanmu lagi." kata Rosan. "Kami ndak lagi bahagia meskipun keinginan kami telah terpenuhi." Pria tua itu tersenyum bijak. "Anak-anakku kebahagiaan sejati ndak terletak pada apa yang kalian miliki tetapi pada bagaimana kalian mensyukuri dan menghargainya. Kalian memiliki segalanya tetapi ndak memiliki kepuasan, tanpa kepuasan kebahagiaan akan selalu memudar." Ketiga bersaudara itu termenung mereka menyadari kesalahan mereka. Pri tua itu melanjutkan, "kepuasan adalah kunci kebahagiaan, syukurilah apa yang kalian miliki dan belajarlah untuk menikmatinya dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."

Pria tua itu mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan adalah perjalanan bukan tujuan. Setelah pertemuan itu Rosan, Hogan dan Sami pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan. Mereka mulai memperhatikan segala yang mereka miliki. Rosan mulai mensyukuri rumah besarnya dan ndak lagi fokus pada lelahnya mengurus rumah. Hogan mulai menghargai setiap hasil panennya dan ndak lagi resah dengan hama yang kadang datang. Dan Sami mulai merasakan kembali kehangatan dari senyum manis istrinya dan ndak lagi suntuk dengan istrinya yang kadang merepotkan. Kehidupan mereka berubah, mereka ndak lagi fokus pada apa yang kurang dalam kehidupan mereka. Tetapi lebih fokus pada apa yang mereka miliki. Mereka akhirnya menyadari bahwa rahasia kebahagiaan ndak terletak pada apa yang dimiliki tetapi pada bagaimana menikmati setiap momen dengan hati yang tulus dan penuh syukur.

Ingatlah untuk menikmati apa yang telah dianugerahkan kepada kita dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur agar kebahagiaan senantiasa menyertai kehidupan kita, jangan lupa ya. He...he....

Jun 26, 2026

Ketika Realita Ndak Sesuai Ekspektasi Ini yang Sebaiknya Dilakukan

 


Video klip di atas ada "Perfect" miliknya Simple Plan. Liriknya c menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang merasa selalu gagal memenuhi ekspektasi atau harapan tinggi dari sang ayah. Lagu ini adalah luapan rasa kecewa dan permintaan maaf karena sang anak merasa dirinya ndak pernah dianggap sempurna. Terkadang tuntutan orang tua yang berlebihan justru memicu beban emosional yang berat bagi anak. Kalau dalam pepatah bijak "manusia hanya mampu berikhtiar dan membuat rencana, namun pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasil akhirnya."

Ketika kehidupan berjalan ndak sesuai dengan ekspektasi, hal ini bisa memicu perasaan kecewa hingga patah semangat. Ekspektasi sendiri biasa di maknai suatu kepercayaan atau keyakinan dari seseorang tentang berbagai hal yang semestinya terjadi pada sebuah situasi tertentu. Pikiran ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, informasi yang didapatkan hingga perkiraan pribadi.

Namun ada kalanya realita berjalan ndak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, kita sering diimbau untuk belajar mengelola harapan agar ndak mudah kecewa. Seperti apa caranya?

Mengapa kenyataan bisa berjalan ndak sesuai ekspektasi?
Seringkali ketidaksesuaian hasil membuat seseorang terlalu larut pada kegagalan yang terjadi. Padahal ada banyak faktor yang dapat menyebabkan situasi ndak berjalan sesuai dengan harapan.

1. Ketidakpastian dan perubahan

Dalam hidup, ndak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Apa yang menjadi tren hari ini, belum tentu akan relevan beberapa waktu mendatang. Situasi ndak terduga seperti masalah kesehatan, perubahan ekonomi, hingga bencana alam dapat mengubah rencana yang sudah kita buat.

2. Harapan yang ndak realistis

Kekecewaan sering terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan kurangnya fleksibilitas untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan. Misalnya, ketika memulai bisnis dan berharap cepat sukses tanpa mempertimbangkan potensi dan risiko, membuat semangat seseorang akan naik turun saat menjalankan usahanya.

3. Faktor eksternal dan lingkungan

Faktor di luar kendali kita seperti keputusan dan tindakan orang lain, keterbatasan dan kesalahan yang dilakukan manusia serta musibah, dapat menyebabkan hasil yang kita harapkan ndak terjadi.

Karena adanya beberapa faktor di atas kita perlu belajar mengendalikan ekspektasi, sehingga bisa mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan.
Bagaimana cara mengendalikan pikiran ketika hidup tidak sesuai ekspektasi?
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.”
Sehingga kunci utama dalam mengelola ekspektasi adalah latihan mengontrol pikiran. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan.

1. Melatih diri menjadi fleksibel dan adaptif

Kita di tuntut untuk menjadi fleksibel dan adaptif, sebab perubahan situasi akan terus terjadi. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri mengendalikan respon ketika situasi ndak berjalan sesuai rencana. Selanjutnya, fokus untuk menemukan antisipasi atau jalan keluar yang baik ketika menghadapi situasi tersebut.

2. Melatih diri untuk realistis

Latih diri untuk berpikir realistis dengan memahami keterbatasan dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Sadari bahwa ada hal-hal di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil dari segala rencana.

3. Fokus pada proses

Biasakan diri untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, kita ndak hanya terpaku pada kegagalan atau keberhasilan, tetapi melihat proses tersebut sebagai usaha terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Jangan membandingkan diri dengan orang lain

Coba tetap fokus pada progres diri sendiri supaya ndak membandingkan diri kita dengan progres orang lain. Sebab setiap individu mengalami pengalaman keberhasilan maupun kegagalan dengan pelajaran yang berbeda-beda. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan mengurangi intensitas bermedia sosial, membangun ketahanan mental dengan membaca buku atau melatih mindfulness, menemukan support system yang tepat serta menjaga kesehatan diri.

5. Belajar dari pengalaman

Pandang situasi yang ndak sesuai rencana sebagai pelajaran dan kesempatan untuk mengembangkan diri agar lebih baik lagi. Melatih pikiran dan perasaan kita dengan menerapkan mindset tersebut, dapat menguatkan kemampuan untuk agile memandang keberhasilan maupun kegagalan sebagai proses hidup yang saling melengkapi. Meskipun hidup terkadang tidak sesuai ekspektasi, hal tersebut tidak membatasi kita untuk bisa meraih kebahagiaan.

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Terkadang emang sulit buat kita menerima realita yang ada. Apalagi saat segala sesuatu ndak berjalan sesuai rencana. Ada pemikiran namanya stoikisme, ya itu bisa jadi salah satu cara buat bantu kita ngehadapinnya. Apa c stoikisme itu? Stoikisme itu filosofi yang lahir dari zaman Yunani dan Romawi. Intinya c ngajarin kita buat nerima aja hal-hal yang di luar kendali kita, dan fokus ke apa yang bisa kita kontrol. Prinsip ini cocok banget buat ngebantu kita jaga keseimbangan hidup, apalagi pas lagi ngerasa tertekan atau hidup ndak sesuai harapan.

Sebenernya, stoikisme ngajarin apa aja c?
Kenali Perbedaan Antara yang Bisa dan ndak Bisa Dikendalikan
Salah satu ajaran utama dalam stoikisme adalah pemisahan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang ndak bisa kita kendalikan. Dalam hidup, banyak hal yang berada di luar kendali kita—cuaca, perilaku orang lain, atau bahkan beberapa aspek dari karier kita.

Filosofi ini mengajarkan kita untuk hanya fokus pada aspek yang ada dalam jangkauan kita, seperti sikap, reaksi, dan keputusan kita sendiri.
Misalnya, Anda udah dateng ke kampus buat kuliah. Terus tiba-tiba dosen mendadak ngebatalin kuliah. Nah, daripada kesel dan badmood, mending Anda manfaatin waktu itu buat ngerjain tugas lain atau nongkrong sama temen. Daripada fokus ke emosi “marah” mending langsung switch plan lain yang bisa dikendalikan.

Menjaga Ketenangan Mental dengan Kontrol Diri
Stoikisme mengajarkan pentingnya kontrol diri, yaitu kemampuan untuk ndak terguncang oleh emosi eksternal atau situasi yang menantang. Kita bisa mengelola emosi dengan bijak. Misalnya dengan mengambil napas dalam-dalam atau memberi diri kita waktu untuk berpikir. Pikirkan Jalan keluar yang tepat dan efektif dari masalah yang kita hadapi. Dalam situasi stres, misalkan ada deadline tugas mepet. Bukannya panik atau menyerah pada rasa takut, kita bisa memilih untuk tenang, membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil, dan menyelesaikannya satu per satu.

Berlatih Bersyukur dan Fokus pada Hal-Hal Positif
Salah satu cara stoikisme mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan hidup adalah dengan menghargai apa yang kita miliki. Bukan berfokus pada apa yang kita ndak miliki. Setiap hari, kita bisa berlatih untuk bersyukur atas hal-hal yang baik dalam hidup. Entah itu hubungan yang sehat, tempat tinggal yang nyaman, atau bahkan hal-hal kecil lain yang sering kita abaikan. Misalnya, pas lagi capek atau frustrasi, coba deh ingetin diri buat bersyukur atas apa yang kita punya, kayak pekerjaan yang masih jalan atau tubuh yang masih sehat. Itu bisa bantu ngebalance pikiran dan bikin kita lebih positif lagi.

Mengubah Pandangan Terhadap Tantangan
Menurut filsuf Stoik, seperti Seneca dan Epictetus, tantangan dalam hidup bukanlah hambatan, melainkan kesempatan untuk mengasah karakter kita. Setiap kegagalan atau kesulitan yang kita hadapi adalah cara untuk belajar dan tumbuh. Jadi daripada melihatnya sebagai beban, kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk menjadi lebih kuat.

Menerima Ketidakpastian dengan Kedamaian
Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari hidup. Alih-alih coba buat mengontrol semuanya, kita perlu belajar untuk menerima. Ada banyak hal yang ndak kita ketahui atau yang bisa berubah kapan saja. Dengan menerima ketidakpastian, kita bisa mengurangi kecemasan dan stres yang berlebihan. Misalnya, pas lagi dihadapin sama masa depan yang ndak pasti, kayak pas milih karier atau ambil keputusan besar lainnya. Asal udah melakukan usaha terbaik, kita bisa coba santai dan ndak overthinking sama apapun hasilnya nanti.

Nerapin prinsip stoik dalam hidup sehari-hari bisa bantu kita jaga keseimbangan dan ketenangan mental. Meskipun dihadapkan tekanan atau situasi yang nggak sesuai harapan. Filosofi ini ngingetin kita. Meskipun ndak bisa ngontrol semuanya, kita tetap punya kontrol penuh atas sikap dan reaksi kita.


Video klip kedua ada "bayangan hujan", lagu ini untuk yang lagi ngebet pengen nikah tapi jodohnya belum ada. Huuu...s, SettiaBlog kamu jangan nyindir - nyindir orang gitu tha! Ndak kok, SettiaBlog ndak menyindir siapapun. Maaf...maaf, itu hanya candaan. He...he....jangan ada yang marah ya. Di ilustrasinya itu, ada yang tahu ndak itu lagi baca buku apa? Itu lagi baca buku Arjuna Wiwaha. Buku apa itu SettiaBlog ? Arjuna Wiwaha dibuat pada abad ke-11, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Airlangga yang memimpin Kerajaan Medang atau Kahuripan di Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh pujangga besar bernama Mpu Kanwa. Inti ceritanya itu untuk menguji keteguhan hati Arjuna, Batara Indra mengutus tujuh bidadari cantik (termasuk Dewi Supraba dan Tilottama) untuk menggodanya. Arjuna berhasil menolaknya karena ia telah menguasai pengendalian diri. Sebagai hadiah atas jasanya menyelamatkan kahyangan dan bumi, Arjuna dinobatkan menjadi raja di kahyangan dan dikawinkan dengan tujuh bidadari cantik itu.

Setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh proses berpikir yang pada akhirnya menciptakan suatu keputusan. Namun untuk bisa mengambil keputusan yang tepat, kita harus mengendalikan keserakahan dalam diri untuk ndak sembrono mengutamakan keputusan yang dapat berujung bencana — meski kadang menggoda untuk melakukannya. Memiliki keteguhan hati akan memberikan banyak pengaruh positif pada karakter diri. Keteguhan hati bahkan dianggap sebagai faktor penting dalam keberhasilan hidup demi tercapainya suatu tujuan.

Sederhananya, keteguhan hati bisa didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri untuk sejenak meninggalkan keinginan semu demi mencapai tujuan jangka panjang yang tentunya lebih besar. Keteguhan hati bukan hanya terkait dengan memiliki motivasi atau tekad untuk mencapai sesuatu, tetapi juga melibatkan pengendalian pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Dan untuk dapat mengendalikan diri, segala tindak-tanduk dan perilaku harus Anda lakukan secara sadar, dengan melibatkan kemampuan berpikir logis dan mengatur emosi, serta melibatkan kemampuan menahan godaan. Banyak yang percaya bahwa keteguhan hati merupakan faktor penting dalam membuat perubahan gaya hidup. Dengan pengendalian diri yang baik, kita dapat menerapkan pola makan sehat dan olahraga yang konsisten atau berhenti menunda-nunda pekerjaan.

Kegagalan dalam mencapai tujuan dapat dipengaruhi oleh banyak hal — bukan hanya disebabkan kurangnya pengendalian diri atau keteguhan hati. Namun para ahli yakin bahwa keteguhan hati merupakam hal yang penting dalam mencapai tujuan tersebut. Suatu studi pada tahun 1960 mengujicobakan pengendalian diri pada masa anak-anak. Setiap anak diberi sebuah marshmallow. Jika mereka mau menunggu 15 menit maka akan diberikan dua buah marshmallow. Peneliti melakukan pengamatan tindak lanjut hingga mereka dewasa, dan menemukan kelompok anak yang memilih untuk menunggu demi mendapatkan dua buah marshmallow memiliki tingkat kesuksesan akademik, kualitas kesehatan fisik dan sosial yang lebih baik. Dari sini peneliti berkesimpulan bahwa kekuatan pengendalian diri yang sudah tertanam sejak masa kecil dapat menjadi suatu perlindungan dari gaya hidup sembrono saat mereka tumbuh dewasa. Penelitian ini dikenal dengan nama “eksperimen marshmallow”. Temuan dari studi tersebut tetap konsisten dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukan seseorang yang memiliki keteguhan hati mampu menunda kenikmatan sesaat dan ndak memiliki sifat impulsif. Peneliti lain juga menemukan kemampuan pengendalian diri pada usia dewasa diperlukan untuk menjaga hubungan sosial, menjaga kesehatan mental dan fisik.

Banyak ahli psikologi yang juga yakin bahwa kekuatan pengendalian diri tetap ada batasnya, sehingga keteguhan hati seseorang bisa tandas habis. Pada kenyataannya, menahan diri atau bersabar untuk memperoleh suatu hal yang diinginkan atau bahkan yang dibutuhkan juga berdampak pada kondisi mental. Keteguhan hati dapat diibaratkan seperti sebuah otot. Terlalu lama ndak dipakai akan menguras habis kekuatannya, tapi keseringan dipakai juga dapat menyebabkan otot cepat aus dan ndak efektif. Dalam suatu studi tahun 1998, peneliti menempatkan subjek penelitian pada ruangan yang semerbak dengan aroma kue. Peserta dibagi dalam dua kelompok: Satu hanya diberikan satu sampel kukis, sementara yang lain diberikan beberapa sampel dalam sebuah wadah. Kemudian mereka ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Di akhir penelitian, kelompok yang diberikan satu sampel kukis cenderung menyerah lebih cepat dibandingkan kelompok yang diberikan kukis dalam jumlah yang lebih banyak. Ini menunjukan kalau pengendalian diri bisa merosot drastis dalam kondisi tertetentu.

Meski demilkian, hasil penelitian tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik masing-masing subjek penelitian. Mereka mungkin ndak dapat fokus bekerja karena kelaparan, atau karena dorongan untuk iseng ngemil. Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan memerlukan tenaga banyak untuk tetap dapat bekerja optimal. Oleh karena itu, otak yang kekurangan bahan bakar dapat mengorbankan proses pengendalian diri. Aspek psikologis lainnya juga dapat berpengaruh dalam kemerosotan keteguhan hati yang Anda miliki, misalnya mood, serta prinsip dan sikap seseorang terhadap suatu rangsangan.

Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah keteguhan hati merosot drastis:

Kenali kondisi diri sendiri – ketika Anda mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri buatlah sedikit pengecualian dalam beberapa waktu tanpa kehilangan kendali penuh. Misalnya seperti saat Anda sedang berdiet, sediakan satu hari “curang” dalam seminggu untuk makan makanan “ndak sehat” yang Anda inginkan, kemudian kembali ke rutinitas diet seperti biasa setelahnya.

Alihkan perhatian – saat sedang menghadapi keinginan untuk melakukan suatu hal yang dapat menunda tujuan Anda, cobalah alihkan pikiran dengan melakukan kegiatan lain. Mengalihkan pikiran dari suatu keinginan sesaat adalah penting untuk bisa tetap fokus terhadap tujuan Anda.

Buatlah suatu kebiasaan baru – stress saat sedang berusaha fokus terhadap tujuan dapat membuat kita cenderung kembali kepada kebiasaan lama yang justru semakin menjauhkan kita dari gol itu sendiri. Suatu kebiasaan baru yang ndak berlawanan dengan tujuan dapat membuat kondisi pikiran lebih rileks dan menjauhkan dari perasaan jenuh.

Capai tujuan dengan perlahan – salah satu penyebab seseorang cepat menyerah adalah karena tujuan tersebut terasa sangat berat untuk digapai, dan ingin dicapai dalam waktu singkat. Salah satu cara untuk mencegah Anda putus asa di tengah jalan adalah dengan melakukan pekerjaan tersebut secara perlahan dan bertahap. Jangan terlalu terpaku pada seberapa banyak porsi yang harus dilakukan, tetapi cobalah fokus terhadap proses dan kemajuan dari apa yang sudah dikerjakan.

Jadi diri sendiri – meski klise, hal terpenting dalam menggolkan suatu tujuan adalah menyadari apa yang benar-benar ingin Anda capai. Memaksakan diri untuk memenuhi atau mengikuti tujuan yang ditetapkan orang lain akan membuat Anda sangat terbebani karena ndak sesuai dengan keinginan diri Anda sebenarnya. Ini yang membuat keteguhan hati Anda mudah goyah di tengah jalan.

Jun 22, 2026

Cara Menghilangkan Sinisme

 


Video klip di atas ada "wonder" milik Katy Perry, lagu juga di bawakan Katy Perry di acara Opening Ceremony of the FIFA World Cup 2026 di Los Angeles. Lagu ini dibuka dengan pertanyaan, apakah hati kita akan tetap bersemangat dan apakah kita masih akan melihat dunia dengan penuh kekaguman saat kita semakin tua nanti? Terus ada potongan lirik can somebody promise me / Our innocence doesn't get lost in a cynical world?
. Ini sebuah permohonan agar seseorang ndak kehilangan kemurnian hati dan kepolosannya di tengah-tengah dunia yang seringkali membuat kita menjadi pesimis dan sinis. Lha sinis itu apa? Sinis itu sikap atau pandangan yang meremehkan, memandang rendah, atau mengejek orang lain. Dan sikap ini tentu kurang baik kan ya.

Tahukah Anda, bahwa emosi itu sifatnya menular? Apa yang Anda rasakan terefleksi dari sikap dan pembawaan Anda sehari-hari. Bila diri Anda adalah pribadi yang ceria dan periang, Anda akan membawa sukacita di lingkungan Anda. Begitu pula dengan sebaliknya, bila diri Anda adalah orang negatif, tanpa disadari Anda pun akan membawa sikap pesimis dan sinisme di circle Anda.

Meski sinisme adalah salah satu ekspresi untuk mengungkapkan rasa ndak suka Anda pada sesuatu, tapi ini bukan cara komunikasi yang sehat. Bahkan, sinisme dapat memicu relasi toksik karena memicu ketegangan tanpa berterus terang.

1.Sinisme membentangkan jarak antara Anda dengan dia

Sadarkah Anda, dengan bersikap sinis, itu sama saja ndak berterus terang ke orang lain yang berhadapan dengan Anda? Marah dan kesal dengan sikapnya, merasa dikhianati serta dirusak kepercayaan Anda, tapi giliran bertemu langsung Anda hanya menyindir dengan kata-kata yang menyakiti hati. Anda berharap dia akan segera tahu dan sadar kesalahannya, tapi ternyata ndak. Hal itulah yang membuat Anda makin dongkol dan berakhir mendiamkannya. Kenapa ndak langsung Anda komunikasikan saja akar masalahnya? Bersikap sinis malah ndak menyelesaikan apa-apa. Kesalahpahaman kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi malah berekor panjang, karena sikap kekanak-kanakan Anda.

2.Bikin teman Anda merasa down

Banyak orang berpikir, sinisme adalah salah satu cara menegur. Padahal, belum tentu ini bekerja pada semua orang. Justru beberapa tipe orang akan merasa down bila dibalas dengan sikap yang sama. Ia merasa ndak berguna, ndak berharga, dan tertekan. Awalnya, mungkin ia mau berubah menjadi lebih baik. Namun, hal itu gagal dilakukan, karena sikap dan ucapan negatif Anda. Memang awalnya Anda ndak merasa bersalah akan hal itu. Sebab, Anda merasa jika niat Anda sebenarnya baik, yakni untuk mengingatkan supaya dia ndak melakukan hal yang sama. Namun, kesinisan Anda bisa ditangkap orang sebagai penghinaan. Oleh karena itu, penting untuk kita berhati-hati dalam mengolah kata.

3.Sinisme bikin orang sulit percaya pada Anda

Ketika Anda mengatakan pujian atau kalimat positif lainnya, alih-alih diterima dengan tangan terbuka, hal itu malah menambah tanda tanya dalam benak teman Anda. Mereka ndak yakin, apakah pujian yang Anda lontarkan serius atau lagi-lagi hanya sekedar wujud kesinisan saja? Orang lain jadi ndak nyaman bicara dengan Anda, takut digosipkan, dan takut mendapat sikap sinis saat ndak sengaja melakukan kesalahan. Pembawaan diri Anda bisa sangat berpengaruh dengan bagaimana orang akan memandang Anda, lho.

4.Sinisme bikin orang ndak nyaman

Apalagi, saat Anda bertemu orang baru. Ia pasti akan langsung merasa risi bila tahu karakter Anda yang suka berbicara sinis. Vibes yang Anda bawa negatif dan membuat mereka ndak nyaman. Bahkan orang-orang terdekat Anda pun perlahan akan merasa lelah. Sekali dua kali, mereka memaklumi akan hal itu. Namun, terus-menerus menerima kesinisan Anda sama saja dengan menyerap energi negatif Anda masuk ke dalam tubuhnya. Saat berinteraksi dengan orang lain, Anda pasti ingin mendapat energi positif sebanyak-banyaknya. Begitu pula dengan teman Anda. Jangan demi suasana hati atau kepentingan Anda pribadi, Anda seenaknya bersikap sinis pada orang lain. Coba posisikan diri sendiri, bila Anda yang mendapat sikap sinis tadi. Anda pasti dongkol juga, kan?

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan hubungan antara sikap sinis dan kesuksesan ekonomi. Orang dengan sikap sinis yang tinggi cenderung memiliki pendapatan lebih rendah dibanding orang-orang positif. Mengapa demikian? Ternyata, orang sinis enggan percaya pada orang lain yang menyebabkan mereka sulit untuk bekerja sama. Kecurigaan mereka secara konstan menghalangi mereka untuk meminta bantuan dan malah berdampak buruk pada karier. Tentu saja, ada banyak akibat buruk lainnya jika Anda sering bersikap sinis. Kabar baiknya, sikap buruk ini dapat dikurangi lewat tindakan dari dalam diri kita sendiri, kok.

1. Berdamai dengan diri sendiri

Tanpa disadari, sikap sinis yang terbentuk sekarang adalah buah dari pengalaman buruk di masa lalu. Entah perundungan atau pengkhianatan, pengalaman pahit tersebut membuat Anda terlalu takut untuk percaya pada orang lain. Namun, perlu diketahui bahwa ndak semua orang sama. Menetap dalam kenangan buruk hanya menghambat langkah Anda. Ambil keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri dan perlahan kembali jalin relasi yang sehat dengan orang lain. Ini adalah langkah paling awal untuk mengubah sikap sinis Anda.

2. Lepaskan victim mentality

Adakah yang sampai sekarang masih menyalahkan orang lain karena telah menahan Anda maju? Memang terkadang, hidup terasa ndak adil. Orang yang dulu menjahati Anda seolah tampak baik-baik saja. Bahkan, bagi Anda hidupnya terkesan lebih mapan dari keadaan Anda saat ini. Tetapi, ndak akan ada yang berubah bila Anda terus melihat diri sendiri sebagai korban. Sudah saatnya untuk Anda bangkit, melangkah maju, dan meninggalkan kepedihan masa lalu. Izinkan diri Anda untuk melakukan banyak hal serta membuat pilihan baru terlepas dari seberapa pahit masa lalu Anda.

3. Praktikan bersyukur

Latih diri Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Cara paling sederhana, setiap pagi cari satu hal untuk Anda syukuri. Begitu pula sebelum tidur. Ingat-ingat hal baik apa yang bisa Anda syukuri selama sehari penuh. Ini adalah salah satu cara untuk mengikis sikap sinis dan menggantinya dengan aura positif. Bukan berarti toxic positivity, ya. Saat sesuatu berjalan ndak baik, Anda masih bisa mengakui perasaan negatif Anda. Tapi, di banyak kesempatan, cobalah untuk selalu melihat sisi baik dan mensyukurinya.

4. Latih diri Anda untuk melihat kualitas baik pada diri orang lain

Strategi lain untuk mengurangi rasa sinis ialah menggantinya dengan mencari kualitas baik dalam diri orang di sekitar Anda. Jangan selalu menempatkan kecurigaan dan keraguan Anda pada mereka. Pasti teman atau rekan kerja Anda sekarang memiliki setidaknya satu karakter positif. Sesekali, ndak apa-apa untuk mengakui, bahkan memuji kelebihan mereka. Walau awalnya sulit, kebiasaan ini bagus agar Anda bisa belajar untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda serta mengajarimu untuk kembali terbuka terhadap orang lain.

5. Bergaul dengan orang positif

Barangkali, sikap sinis Anda sekarang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman Anda. Jangan salah, lho! Pergaulan juga merpakan salah satu faktor terbesar yang membentuk jati diri kita. Mulai sekarang, cari lingkaran pertemanan yang positif dan saling mendukung. Hindari berkawan dengan orang skeptis dan negatif. Besar kemungkinan hidup Anda pun akan tertular aura negatif yang berkelindan di sekitar lingkungan tersebut.

Nnak sulit, kok, untuk mengubah sikap sinis. Mudah curiga, skeptis, sering negative thinking, tentu berpotensi meminimalisir tingkat relasi yang kita miliki dengan orang lain. Jauh lebih enak kalau jadi orang yang ramah dan positif, bukan?


Video klip kedua ini musiknya SettiaBlog buat jenis "blues". Musik blues sendiri mengekspresikan penderitaan, harapan, dan perjuangan hidup. Emang waktu itu masih banyak penindasan. Ya, seperti saat Indonesia masih di jajah dulu. Kalau sekarang udah ndak ada c, paling adanya diri kita yang di tindas oleh hawa nafsu.

Salah satu hal yang sangat berat dalam kehidupan seorang muslim memang berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, serta mendorong jiwanya senantiasa taat kepada Allah ﷻ. Seorang muslim harus senantiasa memaksa jiwanya untuk teguh di atas kebenaran. Dia pun senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ﷻ agar mampu istikamah dalam menundukkan hawa nafsunya. Rasulullah ﷺ bersabda ketika haji Wada’,
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang beriman itu? Orang yang beriman adalah orang yang memberi rasa aman bagi jiwa dan harta orang lain. Seorang muslim adalah orang yang ucapan dan tindakannya tidak menyakiti (mengganggu) orang lain. Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Terdapat dua jenis manusia ketika berinteraksi bersama hawa nafsu:
Pertama, ia berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, dia menundukkannya agar segera melakukan kebaikan dan ketaatan.
Kedua, ia membiarkan (mengumbar) hawa nafsunya, sehingga membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa. Allah ﷻ telah menyebutkan dua jenis manusia ini dalam firman-Nya,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
“Menyucikan jiwa” adalah dengan berupaya sungguh-sungguh membersihkan dan memurnikan jiwa tersebut dari kekufuran, kemaksiatan, dan dosa. Dia senantiasa memperbaiki dirinya dengan melakukan ketaatan dan aktivitas kebaikan. Sebaliknya, “mengotori jiwa” adalah dengan ndak melakukan aktivitas kebaikan dan melakukan kemaksiatan. Dia pun menuruti bisikan dan dorongan jiwa untuk melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan dan siksa Allah ﷻ. Allah ﷻ telah membentuk dua potensi jiwa pada diri manusia, yaitu nafsun ammaratun bis-suu (jiwa yang selalu memerintahkan untuk melakukan keburukan) dan nafsun muthmainnah (jiwa yang damai dan tenang). Keduanya saling berkebalikan dan bertolak belakang. Hal yang paling berat bagi seseorang yang memiliki nafsun ammaratun bis-suu adalah melakukan ibadah, ketaatan, dan berbagai aktivitas yang diridai oleh Allah ﷻ. Sedangkan sebaliknya, perkara terberat bagi seseorang yang memiliki nafsun muthmainnah adalah melakukan maksiat dan dosa.

Kedua jenis jiwa (nafsu) ini disebutkan dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan perihal istri al-Aziz, pembesar Mesir,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
Makna ayat di atas adalah hawa nafsu itu senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengerjakan segala keburukan. Inilah karakter dan tabiat dasar dari hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan pertolongan Allah ﷻ sehingga ia mampu berlari menyelamatkan diri dari dorongan nafsu tersebut. Itulah mengapa lanjutan ayat tersebut adalah, “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” Artinya, seseorang bisa selamat dari keburukan nafsunya itu semata-mata berkat rahmat dan karunia dari Allah ﷻ. Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan edukasi kepada para sahabat dalam khutbah hajat yang disampaikan beliau. Beliau Rasulullah ﷺ membimbing mereka agar mengucapkan doa,
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon pengampunan-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan perbuatan kami.” (HR. Abu Dawud no. 2118, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 1404, dan Ibnu Majah no. 1892, dinilai sahih oleh Al-Albani) Pada hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan terlebih dahulu keburukan jiwa, sebelum menyebutkan kejelekan perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa kejelekan perbuatan (tindakan) itu berasal dari keburukan jiwa. Apabila jiwanya buruk, ia akan mengajak pemiliknya untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang jelek. Ia tidak akan selamat, kecuali apabila Allah ﷻ menyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu tersebut.

Apabila setiap muslim menyadari karakter nafsun ammaratun bis-suu yang selalu mengajak untuk melakukan kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan, maka tentu ia akan berusaha konsisten untuk bersungguh-sungguh mengobati dan menyembuhkannya. Sampai nafsu tersebut berada dalam kendali kita, bukan nafsu itu yang justru mengendalikan kita. Apabila nafsu telah mengendalikan dirinya, seseorang akan menuruti syahwat tanpa mempedulikan apakah Allah ﷻ rida ataukah murka. Intinya, setiap muslim harus senantiasa berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsunya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) Malik bin Dinar rahimahullah menuturkan,
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ النَّفِيسَةِ: أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ ثُمَّ ذَمَّهَا ثُمَّ خَطَمَهَا، ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ؛ فَكَانَ لَهَا قَائِدًا
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata pada hawa nafsunya, “Bukankah engkau telah melakukan dosa ini dan dosa itu? Kemudian dia mencela dan mengekangnya. Lalu, dia pun memaksanya untuk tunduk pada aturan (kitab) Allah, sehingga dia pun mengendalikan nafsunya.” (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dalam I’lam al-Qulub no. 38)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat Kufah. Beliau radhiyallahu ‘anhu menyampaikan,
يا أَيُّهَا النَّاسُ! إن أخوف ما أخاف عليكم طول الأمل واتباع الهوى، فأما طول الأمل فينسي الآخرة، وأما اتباع الهوى فيصد عن الحق ألا وإن الدنيا قد تولت مدبرة والآخرة قد أقبلت مقبلة ولكل واحدة منهما بنون فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا فان اليوم عمل ولا حساب والآخرة حساب ولا عمل
“Sungguh, perkara yang paling saya takutkan dari kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan adalah melupakan dari akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah berpaling dari kebenaran. Ketahuilah, sungguh dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih di depan. Dan setiap mereka memiliki anak. Jadilah anak-anak yang berorientasi pada akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak yang berorientasi pada dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah waktu beramal tanpa adanya hisab. Sedangkan hari kiamat besok adalah waktu dihisab tanpa bisa beramal lagi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 10614)

Oleh karena itu, hendaknya setiap kita berjuang melawan dan mengevaluasi jiwa kita sebelum dihisab oleh Allah ﷻ pada hari kiamat. Kita mengevaluasi segala aktivitas dan tindakan yang telah dilakukan, sebelum kita berdiri di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat. Karena orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri dan melakukan aktivitas kebaikan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.