Video klip di atas ada "i will always love you" miliknya Aria.
"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
﷽
Mulai ke bahasan ya. Orang yang peka secara sederhana bisa dijelaskan sebagai seseorang yang dapat merasakan situasi di sekitarnya. Ia juga adalah seseorang yang bisa membaca kondisi lawan bicaranya. Kami percaya setiap orang dianugerahkan kepekaan terhadap sesuatu atau seseorang. Hanya setiap orang memiliki kadarnya masing-masing dalam mengasah kepekaan dirinya. Ada orang yang memilih untuk menyadari kepekaan dan mengimplementasikan di keseharian. Ada pula orang yang mungkin kurang peka tapi bukan karena ndak mau atau ndak peduli melainkan memilih untuk ndak mencampuri urusan orang lain. Dan itu adalah pilihan setiap orang untuk menggunakan kepekaannya atau ndak. Pada dasarnya, menjadi peka memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya tentu saja kita bisa menumbuhkan empati yang lebih pada orang lain. Kita bisa menjadi seseorang yang mudah membaca emosi atau sifat orang lain atau situasi yang sedang terjadi. Tapi di saat yang sama, terlalu peka bisa merugikan diri sendiri. Kita bisa menjadi seseorang yang terlalu mengurusi, memerhatikan siapapun yang ada di hadapan hingga akhirnya mengorbankan diri sendiri. Maka, kepekaan pun harus berada dalam keseimbangan sebab sesuatu yang berlebihan ndak pernah baik.
Dalam hidup, kepekaan memang dibutuhkan. Meski kita harus tahu bahwa kita ndak harus selalu menjadi seseorang yang peka dan berempati pada semua orang. Sesekali, kita boleh untuk menjadi orang yang antipati. Jika kita memiliki kepekaan yang eksesif, mencoba untuk merasakan yang semua orang rasakan bahkan sampai harus merespon setiap orang yang meminta perhatian, kita hanya akan membuat diri ndak bahagia.
Peka bisa jadi sangat baik untuk kita belajar memahami orang lain. Namun, kita ndak bisa menuntut orang lain peka ke kita. Jika begitu, sama saja artinya bahwa kita menaruh ekspektasi terhadap orang lain. Akhirnya kita mengukur perasaan orang lain dengan perasaan sendiri. Padahal tingkat kepekaan orang berbeda-beda dan ada batasnya. Adalah tanggung jawab kita untuk memberitahu apa yang kita rasakan atau pikirkan. Meskipun begitu, jika kita mau menyadari lebih dalam, kepekaan kita terhadap orang-orang yang dekat bisa menjadi tolak ukur atas seberapa jauh kita mengenal dan memahami orang tersebut. Contohnya terhadap pasangan. Jika kita mengenal dan memahami betul pasangan, kita akan peka terhadap perubahan yang terjadi pada diri pasangan. Kita bisa membaca suasana hatinya atau bahkan terkadang apa yang dipikirkannya. Walaupun bukan pikiran yang spesifik seperti tahu setiap kata yang hendak diucapkan.
Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kepekaan pasangan harus belajar bersama-sama untuk memahami satu sama lain. Tapi juga ndak lupa untuk selalu berupaya menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Apabila pasangan ndak peka terhadap apa yang kita rasakan, ada baiknya kita membuka pintu toleransi selebar-lebarnya karena bukan tanggung jawab mereka untuk peka terhadap perasaan kita. Ini pun ndak hanya berlaku pada pasangan untuk hubungan asmara saja melainkan segala hubungan dekat dengan keluarga, teman, atau bahkan teman kerja.
Untuk meningkatkan kepekaan pasangan harus belajar bersama-sama untuk memahami satu sama lain.
Jika seseorang menuntut orang lain untuk mengerti perasaan atau pikiran kita, mungkin yang jadi masalah adalah komunikasi di antara keduanya. Sebab kita ndak bisa meminta orang lain untuk selalu mengerti apa yang kita maksud. Kepekaan bisa jadi masalah yang rumit karena banyak orang sesungguhnya masih kebingungan atas hak dan kewajibannya. Di realita kita sehari-hari, kepekaan seringkali jadi pemicu berbagai konflik baik di hubungan asmara, pertemanan, pekerjaan, hingga masyarakat. Kenapa? Karena adanya tuntutan kepekaan terhadap orang lain yang mana disebabkan oleh buruknya pola komunikasi. Ketika komunikasi antar manusia baik, ndak mungkin kita menyuruh orang lain untuk peka terhadap apa yang mungkin ndak diketahui karena kita ndak menyampaikannya.
Kondisi sensian merujuk pada kepekaan tinggi seseorang terhadap berbagai rangsangan, baik emosional, fisik, maupun sosial. Individu dengan sifat ini cenderung merasakan emosi seperti bahagia, sedih, atau marah secara lebih mendalam. Mereka juga lebih mudah berempati dan responsif terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini sering dikaitkan dengan Highly Sensitive Person (HSP), sebuah sifat bawaan yang bukan merupakan gangguan psikologis. Kepekaan tinggi ini dapat menjadi kelebihan, misalnya dalam kreativitas dan rasa kasih sayang, namun juga bisa menjadi tantangan jika berlebihan, seperti mudah stres atau tersinggung.
Apa itu sensian lebih dalam?
Sensian adalah istilah populer untuk menggambarkan kondisi sensitivitas yang meningkat. Ini adalah spektrum kepribadian yang membuat seseorang memiliki sistem saraf yang lebih responsif. Akibatnya, mereka memproses informasi dan stimuli lingkungan dengan lebih intens. Pemahaman mengenai sensian membantu menjelaskan mengapa beberapa orang tampak lebih cepat bereaksi atau merasa kewalahan dalam situasi tertentu. Sifat ini mempengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan dunia luar dan merespons pengalaman hidup.
Beberapa ciri khas sering terlihat pada individu yang memiliki kepekaan tinggi atau sensian. Mengenali ciri-ciri ini dapat membantu memahami diri sendiri atau orang lain yang memiliki sifat serupa.
Empati Tinggi: Individu sensian sangat mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, seolah-olah mengalaminya sendiri. Mereka seringkali menjadi pendengar yang baik dan mudah memahami perspektif orang lain.
Respons Kuat terhadap Rangsangan: Mereka merespons rangsangan sensorik (seperti cahaya terang, suara keras, bau menyengat) dan emosi lebih kuat dari rata-rata orang. Lingkungan yang ramai atau berantakan dapat terasa sangat membebani.
Perhatian dan Lembut: Orang sensian cenderung lebih teliti terhadap detail dan memiliki hati yang lembut. Mereka seringkali lebih peduli terhadap kebutuhan orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Membutuhkan Waktu Sendiri: Setelah mengalami interaksi sosial atau rangsangan berlebihan, mereka sering membutuhkan waktu untuk menyendiri guna memulihkan energi dan menenangkan diri.
Cenderung Mudah Kewalahan: Informasi atau tuntutan yang terlalu banyak dapat membuat mereka merasa kewalahan atau stres. Hal ini bisa terjadi dalam situasi kerja, sosial, atau pribadi.
Menghargai Keindahan dan Seni: Banyak individu sensian memiliki apresiasi mendalam terhadap seni, musik, alam, dan keindahan lainnya. Mereka dapat merasakan emosi yang kuat dari hal-hal estetika.
Sifat sensian, khususnya Highly Sensitive Person (HSP), bukanlah pilihan atau sesuatu yang dapat diubah. Ini adalah ciri kepribadian yang sebagian besar dipercaya bersifat bawaan. Penelitian menunjukkan bahwa ada dasar genetik dan neurologis untuk kepekaan tinggi. Otak individu sensian mungkin memproses informasi lebih dalam dan memiliki aktivasi yang lebih besar di area yang terkait dengan empati dan kesadaran emosional. Faktor lingkungan dan pengalaman hidup di masa kanak-kanak juga dapat memengaruhi bagaimana sifat sensian ini bermanifestasi. Meskipun memiliki kepekaan tinggi dapat menjadi tantangan, ada banyak cara untuk mengelolanya agar menjadi kekuatan.
Mengenali Batasan Diri: Pahami apa yang memicu rasa kewalahan dan belajar untuk mengatakan ndak pada situasi yang terlalu membebani. Prioritaskan waktu istirahat dan pemulihan.
Menciptakan Lingkungan yang Tenang: Pastikan memiliki ruang pribadi yang tenang di mana bisa bersantai dan jauh dari rangsangan berlebihan. Ini bisa menjadi tempat untuk mengisi ulang energi.
Praktikkan Perawatan Diri:
Aktivitas seperti meditasi, yoga, membaca, atau hobi yang menenangkan dapat sangat membantu. Perawatan diri sangat penting untuk menjaga keseimbangan emosional.
Mengembangkan Batasan yang Sehat:
Belajar menetapkan batasan dalam hubungan dan interaksi sosial. Ini penting untuk melindungi energi emosional dan mencegah kelelahan.
Mencari Dukungan:
Berbicara dengan teman, keluarga, atau kelompok dukungan yang memahami kepekaan tinggi dapat memberikan validasi dan strategi coping yang bermanfaat.
Fokus pada Kelebihan:
Ingatlah bahwa empati, kreativitas, dan perhatian terhadap detail adalah kekuatan besar. Gunakan sifat-sifat ini dalam pekerjaan, hobi, atau hubungan.
Memahami bahwa sensian adalah ciri kepribadian yang valid dan bukan kelemahan adalah langkah pertama dalam mengelolanya. Dengan strategi yang tepat, kepekaan tinggi dapat menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog mengkombinasikan radial gradient dan linear gradient dengan campuran beberapa warna, mulai warna teal, aquamarine, forest green dan banyak lainnya. Untuk yang bahasan kedua SettiaBlog gunakan background cinnamon.
"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
﷽
Mulai ke bahasan ya. Orang yang peka secara sederhana bisa dijelaskan sebagai seseorang yang dapat merasakan situasi di sekitarnya. Ia juga adalah seseorang yang bisa membaca kondisi lawan bicaranya. Kami percaya setiap orang dianugerahkan kepekaan terhadap sesuatu atau seseorang. Hanya setiap orang memiliki kadarnya masing-masing dalam mengasah kepekaan dirinya. Ada orang yang memilih untuk menyadari kepekaan dan mengimplementasikan di keseharian. Ada pula orang yang mungkin kurang peka tapi bukan karena ndak mau atau ndak peduli melainkan memilih untuk ndak mencampuri urusan orang lain. Dan itu adalah pilihan setiap orang untuk menggunakan kepekaannya atau ndak. Pada dasarnya, menjadi peka memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya tentu saja kita bisa menumbuhkan empati yang lebih pada orang lain. Kita bisa menjadi seseorang yang mudah membaca emosi atau sifat orang lain atau situasi yang sedang terjadi. Tapi di saat yang sama, terlalu peka bisa merugikan diri sendiri. Kita bisa menjadi seseorang yang terlalu mengurusi, memerhatikan siapapun yang ada di hadapan hingga akhirnya mengorbankan diri sendiri. Maka, kepekaan pun harus berada dalam keseimbangan sebab sesuatu yang berlebihan ndak pernah baik.
Dalam hidup, kepekaan memang dibutuhkan. Meski kita harus tahu bahwa kita ndak harus selalu menjadi seseorang yang peka dan berempati pada semua orang. Sesekali, kita boleh untuk menjadi orang yang antipati. Jika kita memiliki kepekaan yang eksesif, mencoba untuk merasakan yang semua orang rasakan bahkan sampai harus merespon setiap orang yang meminta perhatian, kita hanya akan membuat diri ndak bahagia.
Peka bisa jadi sangat baik untuk kita belajar memahami orang lain. Namun, kita ndak bisa menuntut orang lain peka ke kita. Jika begitu, sama saja artinya bahwa kita menaruh ekspektasi terhadap orang lain. Akhirnya kita mengukur perasaan orang lain dengan perasaan sendiri. Padahal tingkat kepekaan orang berbeda-beda dan ada batasnya. Adalah tanggung jawab kita untuk memberitahu apa yang kita rasakan atau pikirkan. Meskipun begitu, jika kita mau menyadari lebih dalam, kepekaan kita terhadap orang-orang yang dekat bisa menjadi tolak ukur atas seberapa jauh kita mengenal dan memahami orang tersebut. Contohnya terhadap pasangan. Jika kita mengenal dan memahami betul pasangan, kita akan peka terhadap perubahan yang terjadi pada diri pasangan. Kita bisa membaca suasana hatinya atau bahkan terkadang apa yang dipikirkannya. Walaupun bukan pikiran yang spesifik seperti tahu setiap kata yang hendak diucapkan.
Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kepekaan pasangan harus belajar bersama-sama untuk memahami satu sama lain. Tapi juga ndak lupa untuk selalu berupaya menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Apabila pasangan ndak peka terhadap apa yang kita rasakan, ada baiknya kita membuka pintu toleransi selebar-lebarnya karena bukan tanggung jawab mereka untuk peka terhadap perasaan kita. Ini pun ndak hanya berlaku pada pasangan untuk hubungan asmara saja melainkan segala hubungan dekat dengan keluarga, teman, atau bahkan teman kerja.
Untuk meningkatkan kepekaan pasangan harus belajar bersama-sama untuk memahami satu sama lain.
Jika seseorang menuntut orang lain untuk mengerti perasaan atau pikiran kita, mungkin yang jadi masalah adalah komunikasi di antara keduanya. Sebab kita ndak bisa meminta orang lain untuk selalu mengerti apa yang kita maksud. Kepekaan bisa jadi masalah yang rumit karena banyak orang sesungguhnya masih kebingungan atas hak dan kewajibannya. Di realita kita sehari-hari, kepekaan seringkali jadi pemicu berbagai konflik baik di hubungan asmara, pertemanan, pekerjaan, hingga masyarakat. Kenapa? Karena adanya tuntutan kepekaan terhadap orang lain yang mana disebabkan oleh buruknya pola komunikasi. Ketika komunikasi antar manusia baik, ndak mungkin kita menyuruh orang lain untuk peka terhadap apa yang mungkin ndak diketahui karena kita ndak menyampaikannya.
Kondisi sensian merujuk pada kepekaan tinggi seseorang terhadap berbagai rangsangan, baik emosional, fisik, maupun sosial. Individu dengan sifat ini cenderung merasakan emosi seperti bahagia, sedih, atau marah secara lebih mendalam. Mereka juga lebih mudah berempati dan responsif terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini sering dikaitkan dengan Highly Sensitive Person (HSP), sebuah sifat bawaan yang bukan merupakan gangguan psikologis. Kepekaan tinggi ini dapat menjadi kelebihan, misalnya dalam kreativitas dan rasa kasih sayang, namun juga bisa menjadi tantangan jika berlebihan, seperti mudah stres atau tersinggung.
Apa itu sensian lebih dalam?
Sensian adalah istilah populer untuk menggambarkan kondisi sensitivitas yang meningkat. Ini adalah spektrum kepribadian yang membuat seseorang memiliki sistem saraf yang lebih responsif. Akibatnya, mereka memproses informasi dan stimuli lingkungan dengan lebih intens. Pemahaman mengenai sensian membantu menjelaskan mengapa beberapa orang tampak lebih cepat bereaksi atau merasa kewalahan dalam situasi tertentu. Sifat ini mempengaruhi bagaimana individu berinteraksi dengan dunia luar dan merespons pengalaman hidup.
Beberapa ciri khas sering terlihat pada individu yang memiliki kepekaan tinggi atau sensian. Mengenali ciri-ciri ini dapat membantu memahami diri sendiri atau orang lain yang memiliki sifat serupa.
Empati Tinggi: Individu sensian sangat mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, seolah-olah mengalaminya sendiri. Mereka seringkali menjadi pendengar yang baik dan mudah memahami perspektif orang lain.
Respons Kuat terhadap Rangsangan: Mereka merespons rangsangan sensorik (seperti cahaya terang, suara keras, bau menyengat) dan emosi lebih kuat dari rata-rata orang. Lingkungan yang ramai atau berantakan dapat terasa sangat membebani.
Perhatian dan Lembut: Orang sensian cenderung lebih teliti terhadap detail dan memiliki hati yang lembut. Mereka seringkali lebih peduli terhadap kebutuhan orang lain dan makhluk hidup lainnya.
Membutuhkan Waktu Sendiri: Setelah mengalami interaksi sosial atau rangsangan berlebihan, mereka sering membutuhkan waktu untuk menyendiri guna memulihkan energi dan menenangkan diri.
Cenderung Mudah Kewalahan: Informasi atau tuntutan yang terlalu banyak dapat membuat mereka merasa kewalahan atau stres. Hal ini bisa terjadi dalam situasi kerja, sosial, atau pribadi.
Menghargai Keindahan dan Seni: Banyak individu sensian memiliki apresiasi mendalam terhadap seni, musik, alam, dan keindahan lainnya. Mereka dapat merasakan emosi yang kuat dari hal-hal estetika.
Sifat sensian, khususnya Highly Sensitive Person (HSP), bukanlah pilihan atau sesuatu yang dapat diubah. Ini adalah ciri kepribadian yang sebagian besar dipercaya bersifat bawaan. Penelitian menunjukkan bahwa ada dasar genetik dan neurologis untuk kepekaan tinggi. Otak individu sensian mungkin memproses informasi lebih dalam dan memiliki aktivasi yang lebih besar di area yang terkait dengan empati dan kesadaran emosional. Faktor lingkungan dan pengalaman hidup di masa kanak-kanak juga dapat memengaruhi bagaimana sifat sensian ini bermanifestasi. Meskipun memiliki kepekaan tinggi dapat menjadi tantangan, ada banyak cara untuk mengelolanya agar menjadi kekuatan.
Mengenali Batasan Diri: Pahami apa yang memicu rasa kewalahan dan belajar untuk mengatakan ndak pada situasi yang terlalu membebani. Prioritaskan waktu istirahat dan pemulihan.
Menciptakan Lingkungan yang Tenang: Pastikan memiliki ruang pribadi yang tenang di mana bisa bersantai dan jauh dari rangsangan berlebihan. Ini bisa menjadi tempat untuk mengisi ulang energi.
Praktikkan Perawatan Diri:
Aktivitas seperti meditasi, yoga, membaca, atau hobi yang menenangkan dapat sangat membantu. Perawatan diri sangat penting untuk menjaga keseimbangan emosional.
Mengembangkan Batasan yang Sehat:
Belajar menetapkan batasan dalam hubungan dan interaksi sosial. Ini penting untuk melindungi energi emosional dan mencegah kelelahan.
Mencari Dukungan:
Berbicara dengan teman, keluarga, atau kelompok dukungan yang memahami kepekaan tinggi dapat memberikan validasi dan strategi coping yang bermanfaat.
Fokus pada Kelebihan:
Ingatlah bahwa empati, kreativitas, dan perhatian terhadap detail adalah kekuatan besar. Gunakan sifat-sifat ini dalam pekerjaan, hobi, atau hubungan.
Memahami bahwa sensian adalah ciri kepribadian yang valid dan bukan kelemahan adalah langkah pertama dalam mengelolanya. Dengan strategi yang tepat, kepekaan tinggi dapat menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog mengkombinasikan radial gradient dan linear gradient dengan campuran beberapa warna, mulai warna teal, aquamarine, forest green dan banyak lainnya. Untuk yang bahasan kedua SettiaBlog gunakan background cinnamon.
Video klip kedua SettiaBlog kasih judul "menanti pelangi".
Menangis ndak seharusnya dipandang sebagai simbol kelemahan, melainkan dengan mengeluarkan air mata bisa menjadi bagian penting dari proses seseorang untuk kembali menemukan kekuatan batin. Kadang, untuk bisa kuat kembali, kita perlu membiarkan diri menangis. Tangisan bukan sekadar luapan emosi, tetapi cara tubuh dan jiwa kita menyeimbangkan diri. Banyak orang masih memiliki stigma bahwa menangis berarti rapuh, ndak mampu menghadapi masalah, atau ndak cukup dewasa. Padahal, tangisan adalah reaksi alami manusia ketika perasaan ndak lagi dapat ditahan.
Lebih dari itu, air mata sering kali menjadi “bahasa tersembunyi” yang menyampaikan kesedihan atau luka emosional yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Menangis adalah bahasa hati. Dari situ, kita bisa melewati fase berat menuju penerimaan dan pemulihan. Orang yang berani menangis, justru sedang berani menerima dirinya apa adanya, termasuk kesedihan yang sedang ia bawa. Setelah menangis, banyak orang merasakan hatinya lebih lega, pikirannya lebih tenang, dan beban yang sebelumnya terasa berat menjadi sedikit lebih ringan. Proses ini, adalah tanda bahwa tangisan dapat menjadi jembatan menuju kekuatan baru.
Ada orang yang menahan diri agar terlihat kuat, padahal kekuatan sejati sering kali lahir setelah kita memberi ruang bagi emosi untuk keluar. Air mata ndak bisa mengubah keadaan, tetapi ia membantu hati beradaptasi dengan kenyataan baru. Selain itu, kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian sama seperti kesehatan fisik. Menangis adalah salah satu bentuk mekanisme alami tubuh untuk mengurangi stres, dimana air mata emosional terbukti mengandung hormon stres, sehingga setelah menangis seseorang bisa merasa lebih tenang.
Menangis bukanlah kelemahan, melainkan tanda manusiawi bahwa kita memiliki hati yang peka. Dengan menangis, kita sedang membersihkan batin dari beban yang ndak terlihat. Setelahnya, kita bisa lebih siap untuk menghadapi kehidupan dengan pikiran dan hati yang lebih jernih.
Crying is not a sign of weakness, it's a sign that you have been strong for too long.
Sometimes you laugh because you don't have room to cry anymore.
Menangis ndak seharusnya dipandang sebagai simbol kelemahan, melainkan dengan mengeluarkan air mata bisa menjadi bagian penting dari proses seseorang untuk kembali menemukan kekuatan batin. Kadang, untuk bisa kuat kembali, kita perlu membiarkan diri menangis. Tangisan bukan sekadar luapan emosi, tetapi cara tubuh dan jiwa kita menyeimbangkan diri. Banyak orang masih memiliki stigma bahwa menangis berarti rapuh, ndak mampu menghadapi masalah, atau ndak cukup dewasa. Padahal, tangisan adalah reaksi alami manusia ketika perasaan ndak lagi dapat ditahan.
Lebih dari itu, air mata sering kali menjadi “bahasa tersembunyi” yang menyampaikan kesedihan atau luka emosional yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Menangis adalah bahasa hati. Dari situ, kita bisa melewati fase berat menuju penerimaan dan pemulihan. Orang yang berani menangis, justru sedang berani menerima dirinya apa adanya, termasuk kesedihan yang sedang ia bawa. Setelah menangis, banyak orang merasakan hatinya lebih lega, pikirannya lebih tenang, dan beban yang sebelumnya terasa berat menjadi sedikit lebih ringan. Proses ini, adalah tanda bahwa tangisan dapat menjadi jembatan menuju kekuatan baru.
Ada orang yang menahan diri agar terlihat kuat, padahal kekuatan sejati sering kali lahir setelah kita memberi ruang bagi emosi untuk keluar. Air mata ndak bisa mengubah keadaan, tetapi ia membantu hati beradaptasi dengan kenyataan baru. Selain itu, kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian sama seperti kesehatan fisik. Menangis adalah salah satu bentuk mekanisme alami tubuh untuk mengurangi stres, dimana air mata emosional terbukti mengandung hormon stres, sehingga setelah menangis seseorang bisa merasa lebih tenang.
Menangis bukanlah kelemahan, melainkan tanda manusiawi bahwa kita memiliki hati yang peka. Dengan menangis, kita sedang membersihkan batin dari beban yang ndak terlihat. Setelahnya, kita bisa lebih siap untuk menghadapi kehidupan dengan pikiran dan hati yang lebih jernih.
Crying is not a sign of weakness, it's a sign that you have been strong for too long.
Sometimes you laugh because you don't have room to cry anymore.
