Video klip di atas ada "August" yang di bawakan Taylor Swift saat menghadiri acara Grammy Museum “The Icons Session” pada 24 Agustus 2026. Taylor Swift memilih gaun hijau transparan yang memberikan kesan elegan, kemudian memadukannya dengan perhiasan berlian bernilai fantastis. SettiaBlog ambil sedikit potongan lirik August slipped away into a moment in time, menggambarkan bagaimana kenangan indah musim panas itu pergi dengan cepat dan hanya meninggalkan kekosongan. Seperti yang kita sering rasakan, kok ujuk - ujuk udah melewati bulan Agustus lagi. Rasanya baru kemarin kita menghitung mundur detik-detik pergantian tahun, rasanya baru kemarin kita menyusun resolusi, merencanakan ini-itu. Hari-hari kini 2026 hampir usai, dan 2027 sudah menunggu di depan pintu. Ndak ada peristiwa besar yang fenomenal, hanya hari-hari yang berjalan seperti biasa. Namun justru di sanalah kegelisahan itu muncul, waktu berlalu, tetapi kita ndak sepenuhnya merasa hidup di dalamnya berlalu begitu saja, seolah ndak sempat kita genggam. Bukan karena hari-hari terlalu singkat, melainkan karena kita terlalu jarang benar-benar hadir di dalamnya.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan sentimental akhir tahun. Ia berkaitan dengan cara manusia mempersepsi waktu, bagaimana otak, ingatan, emosi, dan kesadaran kita membentuk pengalaman tentang cepat atau lambatnya hidup berjalan. Dalam Islam, kegelisahan semacam ini bukan sekadar soal umur atau rutinitas. Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia tentang waktu sebagai sesuatu yang serius.
وَالۡعَصۡرِۙ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr).
Kerugian itu ndak selalu berbentuk kegagalan besar. Ia sering hadir diam-diam dalam bentuk hari-hari yang dijalani tanpa kesadaran dan makna.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia waktu adalah seluruh rangkaian yang berproses dengan keadaan dalam kehidupan. Waktu sering hanya dipandang sebagai entitas atau objek abstrak yang dibentuk ulang dari bagaimana kita menjalani kehidupan. ada tiga lapisan waktu dalam kehidupan kita, waktu fisika adalah struktur objektif yang berlaku secara konsisten dalam alam. Waktu persepsi adalah bagaimana otak mengukur waktu berdasarkan pengalaman senssorik dan kognitif. Waktu subjekktif adalah bagaimana kita merasakan keberadaan waktu dalam kesadaran kita. Waktu yang berulang dalam tiga lapisan ini menjelaskan mengapa satu jam terasa sangat panjang beberapa kali, dan sangat pendek dilain waktu, karena apa yang dirasakan otak dan kesadaran berubah, meskipun waktu fisik tetap sama.
Secara sederhana, waktu dalam pengertian fisika berjalan konstan. Satu menit tetap enam puluh detik, satu tahun tetap tiga ratus enam puluh lima hari. Sejarah waktu adalah perjalanan manusia memahami dan mengukur waktu, dari perputaran matahari dan bulan, pergantian siang dan malam digunakan oleh masyarakat peradaban kuno. Penciptaan alat ukur jam matahari, jam air, jam bandul, hingga penemuan jam atom yang sangat presisi, serta konsep waktu dalam fisika yang menghubungkan ruangwaktu dan relativitas menjadi awal mula yang penting bagi peradaban dan kehidupan sehari-hari.
Dalam teori relativitas Albert Einstein, waktu memang ndak mutlak, ia dapat melambat atau mempercepat tergantung kecepatan dan gravitasi tetapi dalam kehidupan sehari-hari, jam di dinding tetap berdetak dengan ritme yang sama bagi semua orang. Yang berbeda adalah cara kita merasakan waktu. Neurosains menunjukkan bahwa otak manusia ndak memiliki “jam internal” yang objektif. Persepsi waktu dibentuk oleh perhatian, emosi, intensitas pengalaman, dan jumlah memori yang tercipta. Otak menilai panjang-pendeknya waktu bukan dari jarum jam, melainkan dari seberapa banyak pengalaman yang tercatat di dalamnya. Karena itulah satu jam menunggu bisa terasa sangat lama, sementara satu hari yang sibuk berlalu tanpa bekas. Waktu fisik sama, tetapi waktu batin kita berbeda.
Islam ndak memandang waktu hanya sebagai angka di kalender atau jarum jam. Ada konsep waqt, yaitu waktu yang dihidupi dengan kesadaran, kesempatan yang Allah ﷻ titipkan kepada manusia untuk bertumbuh, berbuat, dan mendekat. Waktu ndak pernah netral. Ia bisa menjadi jejak kebaikan atau penanda kelalaian.
Waqt bersifat batiniah, ketika hati benar-benar hadir. Berbeda dengan waktu konstan. Dua orang bisa menjalani satu hari yang sama panjang, tetapi kualitas waktunya sangat berbeda. Yang satu penuh makna dan kehadiran, yang lain berlalu begitu saja tanpa amal kebaikan. Waqt mengajarkan bahwa waktu adalah amanah. Ia bukan milik kita, melainkan titipan. Maka yang dipertanyakan bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi setiap kesempatan yang diberikan.
Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat?
Ilmu pengetahuan modern membantu menjelaskan mengapa waktu sering terasa “melaju”. Otak manusia ndak memiliki jam internal yang objektif. Ia mengukur waktu lewat pengalaman, emosi, dan ingatan. Ketika hidup dipenuhi rutinitas dan distraksi, sedikit hal yang benar-benar terekam dalam memori. Akibatnya, waktu terasa meluncur cepat. Saat hidup dijalani seperti oautopilot, sibuk, bergerak, dan produktif, tetapi ndak sepenuhnya hadir. Waktu tetap berjalan, namun kesadaran kita tertinggal di belakang.
Ada analogi sederhana untuk memahami mengapa waktu terasa makin cepat seiring bertambahnya usia. Bayangkan hidup seperti gelas air. Di masa kecil, gelas masih kosong. Satu sendok pengalaman terasa berarti, ia mengisi bagian besar dari ruang yang ada. Saat gelas hampir penuh, satu sendok tambahan nyaris ndak terasa. Begitulah usia bekerja. Saat kecil, hampir setiap hari dipenuhi pengalaman baru seperti belajar berjalan, sekolah pertama, pertemanan baru. Otak merekam banyak “cap memori”, sehingga waktu terasa panjang dan penuh. Saat dewasa, hidup cenderung repetitif, rutinitas kerja, layar gawai, target demi target. Karena sedikit hal baru yang benar-benar disadari, otak mencatat lebih sedikit penanda waktu. Akibatnya, tahun-tahun terasa meluncur cepat. Sedikit hal yang benar-benar kita sadari. Bukan karena Allah ﷻ mempercepat waktu bagi orang dewasa, melainkan karena kita berhenti menaruh perhatian.
Islam ndak menjanjikan hidup yang panjang, tetapi hidup yang berkah. Barakah bukan soal jumlah waktu, melainkan dampaknya. Sedikit waktu yang diisi dengan niat baik dan kesadaran bisa melahirkan ketenangan dan kebaikan yang panjang umurnya. Banyak ulama besar menghasilkan karya luar biasa dalam usia yang ndak selalu panjang. Rahasianya bukan jam yang lebih banyak, melainkan waktu yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Barakah waktu lahir ketika waktu diperlakukan sebagai amanah, bukan sekadar ruang untuk mengejar target. Sebaliknya, waktu yang penuh kecemasan, distraksi, dan kejaran tanpa henti seringkali terasa kosong saat dikenang.
Di era kecepatan dan distraksi, banyak dari kita hidup dalam mode automatic. Perhatian terbagi antara notifikasi, pekerjaan, dan kecemasan akan hal berikutnya. Kita selalu bertanya “setelah ini apa, besok apa, target berikutnya apa?”. Saat perhatian terfragmentasi seperti ini, otak ndak sempat merekam momen secara utuh. Tanpa sadar, saat ini ndak pernah benar-benar kita miliki. Hari-hari berlalu tanpa meninggalkan jejak emosi dan makna. Dalam keadaan semacam ini waktu pun terasa seperti sesuatu yang dilewati, bukan dijalani. Inilah kerugian yang sunyi. Akhir tahun sering memunculkan perasaan hampa, banyak waktu telah dilewati, tetapi sedikit yang benar-benar dialami.
Ketika seseorang ndak mampu memaknai perjalanan waktunya, muncul kegelisahan eksistensial. Hidup terasa berjalan tanpa arah. Masa depan tampak kabur, masa lalu ndak memberi pegangan. Waktu berubah menjadi arus yang menyeret, bukan jalan yang kita pilih dengan sadar. Padahal, kesadaran akan keterbatasan hidup seharusnya melahirkan kebijaksanaan. Waktu yang disadari mengarahkan manusia pada apa yang disebut ihsan menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap momen memiliki nilai dan berada dalam pengawasan Allah.
Kita memang ndak bisa memperlambat jam, tetapi kita bisa memperkaya waktu. Bukan dengan berhenti dari kesibukan, melainkan dengan menghadirkan hati. Otak manusia mengenal dua mode utama: mode otomatis dan mode atensi penuh. Dalam mode otomatis, pengalaman berlalu tanpa detail. Dalam mode atensi penuh, otak merekam suara, rasa, tekstur, emosi dan membentuk memori yang lebih dalam. Hal-hal sederhana seperti mencoba rute baru, belajar keterampilan baru, benar-benar mendengarkan orang lain, atau jeda sejenak untuk menarik napas dengan sadar, atau meluruskan niat sebelum bekerja sebelum berpindah aktivitas dapat menciptakan “ruang kesadaran”. Ruang inilah yang membuat waktu terasa lebih hidup.
Dalam istilah modern, ini disebut perhatian penuh atau mindfullness. Dalam tradisi Islam, hal ini seperti konsep hudhur al-qalb, kehadiran hati. mengembalikan kesadaran dan fokus hati sepenuhnya kepada Allah ﷻ dalam setiap tindakan, menjadikan ibadah lebih hidup dan bermakna. Seperti sungai yang terus mengalir, waktu ndak bisa dihentikan. Namun kita bisa memilih untuk masuk ke dalamnya dan merasakan arusnya, bukan sekadar terbawa.
Waktu juga, bersifat emosional. Ketika kita berani menamai apa yang kita rasakan, seperti perasaan cemas, syukur, lelah, tenang, hal itu seperti kita sedang menambatkan diri pada momen kini. Psikolog Viktor Frankl menyebut bahwa manusia menemukan makna melalui kesadaran atas pengalamannya sendiri. Dengan menyadari emosi, kita membangun narasi waktu batin jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan. Inilah inti muhasabah, berhenti, menoleh ke dalam, dan menyadari posisi diri. Muhasabah bukan tentang menghitung pencapaian, tetapi menanyakan kualitas kehadiran: berapa banyak waktu yang benar-benar kita hidupi, bukan sekadar kita lewati. Dengan cara ini, waktu ndak lagi terasa kosong. Ia menjadi rangkaian pengalaman yang saling terhubung.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apa saja yang telah kita capai, tetapi seberapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri. Waktu ndak hanya diukur oleh kalender dan jam, tetapi oleh kesadaran, emosi, dan makna yang kita tanamkan di dalamnya. Waktu bukan musuh yang harus dikejar, melainkan amanah yang harus dijaga. Jika waktu terasa berlalu begitu saja, barangkali bukan karena hidup terlalu cepat, melainkan karena kita terlalu jarang berhenti untuk benar-benar hadir. Dan mungkin, itulah resolusi paling manusiawi, bukan mengejar waktu, tetapi belajar tinggal di dalamnya. Semoga di masa yang akan datang, kita belajar kembali menghormati waktu dengan kesadaran, niat yang lurus, dan harapan akan barakah di setiap detiknya.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan sentimental akhir tahun. Ia berkaitan dengan cara manusia mempersepsi waktu, bagaimana otak, ingatan, emosi, dan kesadaran kita membentuk pengalaman tentang cepat atau lambatnya hidup berjalan. Dalam Islam, kegelisahan semacam ini bukan sekadar soal umur atau rutinitas. Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia tentang waktu sebagai sesuatu yang serius.
وَالۡعَصۡرِۙ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr).
Kerugian itu ndak selalu berbentuk kegagalan besar. Ia sering hadir diam-diam dalam bentuk hari-hari yang dijalani tanpa kesadaran dan makna.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia waktu adalah seluruh rangkaian yang berproses dengan keadaan dalam kehidupan. Waktu sering hanya dipandang sebagai entitas atau objek abstrak yang dibentuk ulang dari bagaimana kita menjalani kehidupan. ada tiga lapisan waktu dalam kehidupan kita, waktu fisika adalah struktur objektif yang berlaku secara konsisten dalam alam. Waktu persepsi adalah bagaimana otak mengukur waktu berdasarkan pengalaman senssorik dan kognitif. Waktu subjekktif adalah bagaimana kita merasakan keberadaan waktu dalam kesadaran kita. Waktu yang berulang dalam tiga lapisan ini menjelaskan mengapa satu jam terasa sangat panjang beberapa kali, dan sangat pendek dilain waktu, karena apa yang dirasakan otak dan kesadaran berubah, meskipun waktu fisik tetap sama.
Secara sederhana, waktu dalam pengertian fisika berjalan konstan. Satu menit tetap enam puluh detik, satu tahun tetap tiga ratus enam puluh lima hari. Sejarah waktu adalah perjalanan manusia memahami dan mengukur waktu, dari perputaran matahari dan bulan, pergantian siang dan malam digunakan oleh masyarakat peradaban kuno. Penciptaan alat ukur jam matahari, jam air, jam bandul, hingga penemuan jam atom yang sangat presisi, serta konsep waktu dalam fisika yang menghubungkan ruangwaktu dan relativitas menjadi awal mula yang penting bagi peradaban dan kehidupan sehari-hari.
Dalam teori relativitas Albert Einstein, waktu memang ndak mutlak, ia dapat melambat atau mempercepat tergantung kecepatan dan gravitasi tetapi dalam kehidupan sehari-hari, jam di dinding tetap berdetak dengan ritme yang sama bagi semua orang. Yang berbeda adalah cara kita merasakan waktu. Neurosains menunjukkan bahwa otak manusia ndak memiliki “jam internal” yang objektif. Persepsi waktu dibentuk oleh perhatian, emosi, intensitas pengalaman, dan jumlah memori yang tercipta. Otak menilai panjang-pendeknya waktu bukan dari jarum jam, melainkan dari seberapa banyak pengalaman yang tercatat di dalamnya. Karena itulah satu jam menunggu bisa terasa sangat lama, sementara satu hari yang sibuk berlalu tanpa bekas. Waktu fisik sama, tetapi waktu batin kita berbeda.
Islam ndak memandang waktu hanya sebagai angka di kalender atau jarum jam. Ada konsep waqt, yaitu waktu yang dihidupi dengan kesadaran, kesempatan yang Allah ﷻ titipkan kepada manusia untuk bertumbuh, berbuat, dan mendekat. Waktu ndak pernah netral. Ia bisa menjadi jejak kebaikan atau penanda kelalaian.
Waqt bersifat batiniah, ketika hati benar-benar hadir. Berbeda dengan waktu konstan. Dua orang bisa menjalani satu hari yang sama panjang, tetapi kualitas waktunya sangat berbeda. Yang satu penuh makna dan kehadiran, yang lain berlalu begitu saja tanpa amal kebaikan. Waqt mengajarkan bahwa waktu adalah amanah. Ia bukan milik kita, melainkan titipan. Maka yang dipertanyakan bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi setiap kesempatan yang diberikan.
Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat?
Ilmu pengetahuan modern membantu menjelaskan mengapa waktu sering terasa “melaju”. Otak manusia ndak memiliki jam internal yang objektif. Ia mengukur waktu lewat pengalaman, emosi, dan ingatan. Ketika hidup dipenuhi rutinitas dan distraksi, sedikit hal yang benar-benar terekam dalam memori. Akibatnya, waktu terasa meluncur cepat. Saat hidup dijalani seperti oautopilot, sibuk, bergerak, dan produktif, tetapi ndak sepenuhnya hadir. Waktu tetap berjalan, namun kesadaran kita tertinggal di belakang.
Ada analogi sederhana untuk memahami mengapa waktu terasa makin cepat seiring bertambahnya usia. Bayangkan hidup seperti gelas air. Di masa kecil, gelas masih kosong. Satu sendok pengalaman terasa berarti, ia mengisi bagian besar dari ruang yang ada. Saat gelas hampir penuh, satu sendok tambahan nyaris ndak terasa. Begitulah usia bekerja. Saat kecil, hampir setiap hari dipenuhi pengalaman baru seperti belajar berjalan, sekolah pertama, pertemanan baru. Otak merekam banyak “cap memori”, sehingga waktu terasa panjang dan penuh. Saat dewasa, hidup cenderung repetitif, rutinitas kerja, layar gawai, target demi target. Karena sedikit hal baru yang benar-benar disadari, otak mencatat lebih sedikit penanda waktu. Akibatnya, tahun-tahun terasa meluncur cepat. Sedikit hal yang benar-benar kita sadari. Bukan karena Allah ﷻ mempercepat waktu bagi orang dewasa, melainkan karena kita berhenti menaruh perhatian.
Islam ndak menjanjikan hidup yang panjang, tetapi hidup yang berkah. Barakah bukan soal jumlah waktu, melainkan dampaknya. Sedikit waktu yang diisi dengan niat baik dan kesadaran bisa melahirkan ketenangan dan kebaikan yang panjang umurnya. Banyak ulama besar menghasilkan karya luar biasa dalam usia yang ndak selalu panjang. Rahasianya bukan jam yang lebih banyak, melainkan waktu yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Barakah waktu lahir ketika waktu diperlakukan sebagai amanah, bukan sekadar ruang untuk mengejar target. Sebaliknya, waktu yang penuh kecemasan, distraksi, dan kejaran tanpa henti seringkali terasa kosong saat dikenang.
Di era kecepatan dan distraksi, banyak dari kita hidup dalam mode automatic. Perhatian terbagi antara notifikasi, pekerjaan, dan kecemasan akan hal berikutnya. Kita selalu bertanya “setelah ini apa, besok apa, target berikutnya apa?”. Saat perhatian terfragmentasi seperti ini, otak ndak sempat merekam momen secara utuh. Tanpa sadar, saat ini ndak pernah benar-benar kita miliki. Hari-hari berlalu tanpa meninggalkan jejak emosi dan makna. Dalam keadaan semacam ini waktu pun terasa seperti sesuatu yang dilewati, bukan dijalani. Inilah kerugian yang sunyi. Akhir tahun sering memunculkan perasaan hampa, banyak waktu telah dilewati, tetapi sedikit yang benar-benar dialami.
Ketika seseorang ndak mampu memaknai perjalanan waktunya, muncul kegelisahan eksistensial. Hidup terasa berjalan tanpa arah. Masa depan tampak kabur, masa lalu ndak memberi pegangan. Waktu berubah menjadi arus yang menyeret, bukan jalan yang kita pilih dengan sadar. Padahal, kesadaran akan keterbatasan hidup seharusnya melahirkan kebijaksanaan. Waktu yang disadari mengarahkan manusia pada apa yang disebut ihsan menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap momen memiliki nilai dan berada dalam pengawasan Allah.
Kita memang ndak bisa memperlambat jam, tetapi kita bisa memperkaya waktu. Bukan dengan berhenti dari kesibukan, melainkan dengan menghadirkan hati. Otak manusia mengenal dua mode utama: mode otomatis dan mode atensi penuh. Dalam mode otomatis, pengalaman berlalu tanpa detail. Dalam mode atensi penuh, otak merekam suara, rasa, tekstur, emosi dan membentuk memori yang lebih dalam. Hal-hal sederhana seperti mencoba rute baru, belajar keterampilan baru, benar-benar mendengarkan orang lain, atau jeda sejenak untuk menarik napas dengan sadar, atau meluruskan niat sebelum bekerja sebelum berpindah aktivitas dapat menciptakan “ruang kesadaran”. Ruang inilah yang membuat waktu terasa lebih hidup.
Dalam istilah modern, ini disebut perhatian penuh atau mindfullness. Dalam tradisi Islam, hal ini seperti konsep hudhur al-qalb, kehadiran hati. mengembalikan kesadaran dan fokus hati sepenuhnya kepada Allah ﷻ dalam setiap tindakan, menjadikan ibadah lebih hidup dan bermakna. Seperti sungai yang terus mengalir, waktu ndak bisa dihentikan. Namun kita bisa memilih untuk masuk ke dalamnya dan merasakan arusnya, bukan sekadar terbawa.
Waktu juga, bersifat emosional. Ketika kita berani menamai apa yang kita rasakan, seperti perasaan cemas, syukur, lelah, tenang, hal itu seperti kita sedang menambatkan diri pada momen kini. Psikolog Viktor Frankl menyebut bahwa manusia menemukan makna melalui kesadaran atas pengalamannya sendiri. Dengan menyadari emosi, kita membangun narasi waktu batin jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan. Inilah inti muhasabah, berhenti, menoleh ke dalam, dan menyadari posisi diri. Muhasabah bukan tentang menghitung pencapaian, tetapi menanyakan kualitas kehadiran: berapa banyak waktu yang benar-benar kita hidupi, bukan sekadar kita lewati. Dengan cara ini, waktu ndak lagi terasa kosong. Ia menjadi rangkaian pengalaman yang saling terhubung.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apa saja yang telah kita capai, tetapi seberapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri. Waktu ndak hanya diukur oleh kalender dan jam, tetapi oleh kesadaran, emosi, dan makna yang kita tanamkan di dalamnya. Waktu bukan musuh yang harus dikejar, melainkan amanah yang harus dijaga. Jika waktu terasa berlalu begitu saja, barangkali bukan karena hidup terlalu cepat, melainkan karena kita terlalu jarang berhenti untuk benar-benar hadir. Dan mungkin, itulah resolusi paling manusiawi, bukan mengejar waktu, tetapi belajar tinggal di dalamnya. Semoga di masa yang akan datang, kita belajar kembali menghormati waktu dengan kesadaran, niat yang lurus, dan harapan akan barakah di setiap detiknya.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Video klip kedua SettiaBlog kasih judul "sepertiga malam". Seorang hamba Allah ﷻ, adalah pribadi yang sadar akan waktunya, akan potensinya, dan mencurahkan semua itu untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ. Dia akan selalu bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat sehat dengan terus mencari ridha Allah ﷻ. Apalagi jika Allah ﷻ memberikan kepadanya karunia berupa kekayaan, maka akan digunakan kekayaan itu untuk membela agama Allah ﷻ, sebagai upaya untuk memperkokoh aqidahnya dan terus menyebarkan risalah Allah ﷻ di muka bumi sekaligus menjaga keutuhan agama.
Waktu adalah sesuatu yang paling berharga dari apa yang dimiliki manusia. Para ulama membagi waktu menjadi lima macam;
Yang pertama adalah yaumun mafquud (waktu yang sudah lewat). Hari-hari yang sudah lewat, ia akan menjadi catatan amal baik, atau menjadi catatan amal buruk, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah ﷻ. Maka bila dirasa, apa yang telah berlalu adalah suatu bentuk kebaikan yang telah ditanam, semoga Allah ﷻ menjadikannya sebagai amal shaleh dan diterima oleh Allah ﷻ. Adapun jika yang telah berlalu adalah keburukan, berupa kemaksiatan atau pun dosa-dosa lainnya yang melanggar syari’at Allah ﷻ, maka segera bertaubat kepada Allah ﷻ, memperbanyak istighfar, dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang lain. Inilah waktu yang telah lalu dan ndak mungkin akan kembali lagi. Karenanya, masa lalu adalah sesuatu yang harus selalu menjadi bahan introspeksi diri. Dan jangan merasa bahwa kita telah berhasil melalui seluruhnya. Karena di antara tanda celakanya seseorang adalah mereka yang suka melupakan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahannya yang telah lalu dan hanya mengingat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan.
Yang kedua adalah, yaumun masyhud (hari ini), hari yang sedang kita hadapi saat ini. Jika kemudian kita berada dalam ketaatan kepada Allah ﷻ, maka kita bersyukur. Namun jika kita berada di posisi yang keliru, berada dalam kemaksiatan, maka segera berubah, untuk kemudian kita kendalikan diri kita, kita bawa diri kita menuju ketaatan pada Allah ﷻ.
Kemudian yang ketiga, yaumun maurud (hari esok), apa yang akan kita lakukan? Merencanakan planning yang bagus, jangan pernah merencanakan sesuatu yang buruk karena kita ndak tahu apa yang akan terjadi besok,
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا () إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ…()
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi.’() Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah.’” (Al-Kahfi: 23-24)
Inilah waktu yang harus kita rancang, untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Bukan sebatas urusan duniawi, tetapi yang lebih dari itu, adalah masa depan yang hakiki, yaitu untuk kepentingan akhirat kita.
Kemudian yang keempat adalah, yaumun mau’uud (hari yang telah dijanjikan), yaitu hari dimana kita akan meninggalkan dunia dan mempertanggung jawabkan amal kita. Utsman bin Affan berkata, “Bahwa dimana saat seseorang meninggalkan dunia ini, maka saat itulah awal perjalanan menuju akhirat yang tidak berkesudahan.”
Adapun waktu yang kelima adalah, yaumun mahduud (hari kebangkitan), dimana kita akan dibangkitkan ke hadapan Allah ﷻ. Dan disanalah kita dimintai pertanggung jawaban, ndak ada alasan lagi untuk kembali ke dunia. Imam Syafi’I Rahimahullah menyebutkan bahwa, “Seandainya Allah tidak menurunkan al-Qur’an kecuali wal ‘ashr, maka hal itu cukup bagi manusia.” Karena ia adalah sumpah Allah ﷻ terhadap waktu, yang menjadi peringatan bagi kita agar selalu berhati-hati terhadap waktu tersebut.
Kenikmatan menjadi seorang mukmin adalah ketika ia menggunakan seluruh waktunya untuk mencari keridhaan Allah ﷻ. Karenanya, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa ketika kita berada di waktu pagi atau di waktu sore. Semoga dengan doa ini, menjadi salah satu bentuk rasa syukur kita atas karunia yang Allah ﷻ berikan pada hari itu. Hadits ini hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud,
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ ، لا شَرِيكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ ، وَلَكَ الشُّكْرُ
“Yaa Allah tidak ada satu nikmat yang aku dapatkan pada pagi/sore ini atau yang diperoleh oleh salah satu makhluk-Mu, maka seluruhnya berasal dari-Mu. Tidak ada tandingan bagi-Mu, kepada-Mu lah segala pujian dan rasa syukur.” Barangsiapa yang membaca doa tersebut pada waktu pagi maka ia telah menunaikan rasa syukurnya pada pagi itu sampai sore hari, dan barangsiapa yang membaca doa tersebut pada sore hari, maka ia telah menunaikan rasa syukurnya pada malam itu sampai pagi hari.”
Hal ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah ﷻ, karena banyaknya nikmat yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita. Allah ﷻ berfirman,
“Apabila kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak dapat menghitungnya.” (An-Nahl: 18) Nikmat-nikmat itu salah satunya adalah nikmat Islam, dimana ia adalah nikmat yang luar biasa. Karena Allah ﷻ telah memilih kita menjadi seorang muslim. Islam adalah pedoman bagi setiap hamba untuk menuju pada kebenaran. Kemudian nikmat sehat, yang baru terasa jika kita sedang sakit. Sehingga karenanya, jika Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita nikmat sehat. Maka selalu pergunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengingatkan,
“Dua nikmat yang banyak manusia lalai terhadap keduanya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhari). Nikmat waktu luang, ia akan terasa jika seseorang sudah berada dalam kesibukan yang luar biasa. Waktu luang adalah sesuatu yang sangat berharga. Hasan al-Bashri mengatakan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan daripada hari, setiap harimu berlalu maka umurmu berkurang.” Hakikat hidup ini adalah menit dan detik.
Karenanya jangan ada waktu yang tersisa untuk melakukan yang sia-sia, gunakan ia untuk meningkat kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. Dan jangan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang sekali ini, hanya untuk melakukan sesuatu yang ndak berarti. Sehingga bagaimana kita usahakan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya Karena ia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Waktu adalah sesuatu yang paling berharga dari apa yang dimiliki manusia. Para ulama membagi waktu menjadi lima macam;
Yang pertama adalah yaumun mafquud (waktu yang sudah lewat). Hari-hari yang sudah lewat, ia akan menjadi catatan amal baik, atau menjadi catatan amal buruk, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah ﷻ. Maka bila dirasa, apa yang telah berlalu adalah suatu bentuk kebaikan yang telah ditanam, semoga Allah ﷻ menjadikannya sebagai amal shaleh dan diterima oleh Allah ﷻ. Adapun jika yang telah berlalu adalah keburukan, berupa kemaksiatan atau pun dosa-dosa lainnya yang melanggar syari’at Allah ﷻ, maka segera bertaubat kepada Allah ﷻ, memperbanyak istighfar, dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan yang lain. Inilah waktu yang telah lalu dan ndak mungkin akan kembali lagi. Karenanya, masa lalu adalah sesuatu yang harus selalu menjadi bahan introspeksi diri. Dan jangan merasa bahwa kita telah berhasil melalui seluruhnya. Karena di antara tanda celakanya seseorang adalah mereka yang suka melupakan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahannya yang telah lalu dan hanya mengingat kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan.
Yang kedua adalah, yaumun masyhud (hari ini), hari yang sedang kita hadapi saat ini. Jika kemudian kita berada dalam ketaatan kepada Allah ﷻ, maka kita bersyukur. Namun jika kita berada di posisi yang keliru, berada dalam kemaksiatan, maka segera berubah, untuk kemudian kita kendalikan diri kita, kita bawa diri kita menuju ketaatan pada Allah ﷻ.
Kemudian yang ketiga, yaumun maurud (hari esok), apa yang akan kita lakukan? Merencanakan planning yang bagus, jangan pernah merencanakan sesuatu yang buruk karena kita ndak tahu apa yang akan terjadi besok,
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا () إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ…()
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi.’() Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah.’” (Al-Kahfi: 23-24)
Inilah waktu yang harus kita rancang, untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Bukan sebatas urusan duniawi, tetapi yang lebih dari itu, adalah masa depan yang hakiki, yaitu untuk kepentingan akhirat kita.
Kemudian yang keempat adalah, yaumun mau’uud (hari yang telah dijanjikan), yaitu hari dimana kita akan meninggalkan dunia dan mempertanggung jawabkan amal kita. Utsman bin Affan berkata, “Bahwa dimana saat seseorang meninggalkan dunia ini, maka saat itulah awal perjalanan menuju akhirat yang tidak berkesudahan.”
Adapun waktu yang kelima adalah, yaumun mahduud (hari kebangkitan), dimana kita akan dibangkitkan ke hadapan Allah ﷻ. Dan disanalah kita dimintai pertanggung jawaban, ndak ada alasan lagi untuk kembali ke dunia. Imam Syafi’I Rahimahullah menyebutkan bahwa, “Seandainya Allah tidak menurunkan al-Qur’an kecuali wal ‘ashr, maka hal itu cukup bagi manusia.” Karena ia adalah sumpah Allah ﷻ terhadap waktu, yang menjadi peringatan bagi kita agar selalu berhati-hati terhadap waktu tersebut.
Kenikmatan menjadi seorang mukmin adalah ketika ia menggunakan seluruh waktunya untuk mencari keridhaan Allah ﷻ. Karenanya, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa ketika kita berada di waktu pagi atau di waktu sore. Semoga dengan doa ini, menjadi salah satu bentuk rasa syukur kita atas karunia yang Allah ﷻ berikan pada hari itu. Hadits ini hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud,
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ ، لا شَرِيكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ ، وَلَكَ الشُّكْرُ
“Yaa Allah tidak ada satu nikmat yang aku dapatkan pada pagi/sore ini atau yang diperoleh oleh salah satu makhluk-Mu, maka seluruhnya berasal dari-Mu. Tidak ada tandingan bagi-Mu, kepada-Mu lah segala pujian dan rasa syukur.” Barangsiapa yang membaca doa tersebut pada waktu pagi maka ia telah menunaikan rasa syukurnya pada pagi itu sampai sore hari, dan barangsiapa yang membaca doa tersebut pada sore hari, maka ia telah menunaikan rasa syukurnya pada malam itu sampai pagi hari.”
Hal ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah ﷻ, karena banyaknya nikmat yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita. Allah ﷻ berfirman,
“Apabila kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak dapat menghitungnya.” (An-Nahl: 18) Nikmat-nikmat itu salah satunya adalah nikmat Islam, dimana ia adalah nikmat yang luar biasa. Karena Allah ﷻ telah memilih kita menjadi seorang muslim. Islam adalah pedoman bagi setiap hamba untuk menuju pada kebenaran. Kemudian nikmat sehat, yang baru terasa jika kita sedang sakit. Sehingga karenanya, jika Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita nikmat sehat. Maka selalu pergunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengingatkan,
“Dua nikmat yang banyak manusia lalai terhadap keduanya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhari). Nikmat waktu luang, ia akan terasa jika seseorang sudah berada dalam kesibukan yang luar biasa. Waktu luang adalah sesuatu yang sangat berharga. Hasan al-Bashri mengatakan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan daripada hari, setiap harimu berlalu maka umurmu berkurang.” Hakikat hidup ini adalah menit dan detik.
Karenanya jangan ada waktu yang tersisa untuk melakukan yang sia-sia, gunakan ia untuk meningkat kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. Dan jangan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang sekali ini, hanya untuk melakukan sesuatu yang ndak berarti. Sehingga bagaimana kita usahakan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya Karena ia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah ﷻ.
