Jun 16, 2026

Hakikat Tujuan Hidup Manusia dalam Perspektif Islam

 


Video klip di atas ada " seluruh nafas ini" milik Last Child. Salah satu lagu Indonesia yang banyak di cover. Seluruh nafas ini sama artinya dengan hidup ini. Apa salahnya di awal bulan Muharam ini kita sedikit merenungkan kembali, apa c sebenarnya tujuan hidup ini. Sedikit ilustrasi.
Seorang anak yang rajin sembahyang tiba-tiba mogok karena melihat hal-hal di tempat sembahyang yang menurutnya membuat orang ndak bisa lagi fokus dalam bersembahyang. Hati mereka menyeru Allah ﷻ, tapi tangan-tangan mereka asyik dengan gawai. Mulut-mulut yang mengagungkan nama Allah ﷻ sekaligus bergosip. Sang Ayah yang tahu hal itu hanya meminta satu syarat sebelum Si anak mengambil keputusan.
“Isislah gelas penuh dengan air dan bawalah berkeliling di tempat sembahyang. Ingat, jangan sampai ada air yang tumpah”.
Si anak pun membawa segelas air berkeliling tempat sembahyang dengan hati-hati hingga ndak setetes air pun jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,
“Bagaimana, sudah kamu bawa air itu keliling tempat sembahyang?”
“sudah Ayah”
“Apakah ada yang tumpah”
“Ndak”
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang yang sibuk dengan gawainya”
“Wah, saya ndak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini,”
jawab si anak
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang-orang yang membicarakan kejelekan orang lain?” tanya sang Ayah lagi.
“Wah, saya ndak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas”
Sang Ayah pun tersenyum lalu berkata:
“Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu ndak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain.
Jangan sampai kesibukan Anda menilai kualitas orang lain membuat Anda lupa akan kualitas diri Anda.


Pernahkah Anda bertanya-tanya, “Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?” atau “Apa makna hidup ini sebenarnya?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, yang seringkali memicu perenungan mendalam, adalah inti dari apa yang kita sebut filsafat manusia. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, dianugerahi akal yang sehat sehingga pada saat-saat tertentu, kita mulai memikirkan dan mempertanyakan keberadaan diri kita sendiri.

Pencarian tujuan hidup manusia adalah bagian dari pencarian kebahagiaan sejati yang seringkali kita rasakan hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Namun, dalam Islam, manusia ndak diciptakan tanpa tujuan dalam hidup. Islam memberikan jawaban yang jelas dan tegas mengenai hal ini. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ bukan tanpa maksud. Justru, Allah ﷻ telah menetapkan dua tujuan hidup manusia yang utama dan saling berkaitan: yaitu untuk beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Kedua pilar ini menjadi landasan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Seringkali, di dunia modern ini, kita mengartikan mencari tujuan hidup sebagai pencarian kesuksesan material. Kita berpikir bahwa menemukan tujuan berarti mendapatkan karir yang gemilang, memiliki kekayaan melimpah, atau mencapai ketenaran di media sosial. Namun, tujuan hidup Anda menurut Islam jauh melampaui hal-hal yang bersifat duniawi dan fana. Kesuksesan dan kekayaan hanya menjadi alat, bukan tujuan akhir. Tujuan hidup adalah sesuatu yang bernilai dan dianggap penting. Oleh karena itu, hidup akan bermakna jika kita berhasil melaksanakan suatu tujuan hidup. Namun, Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, pernah berpendapat bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, atau kebahagiaan.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Islam bahwa kebahagiaan sejati adalah tujuan, tetapi Islam menawarkan jalan yang lebih jelas untuk menemukan kebahagiaan itu.

Setiap individu memiliki tujuan hidupnya yang unik, namun semua bermuara pada satu esensi: kembali kepada Allah ﷻ. Manusia di dunia ini sedang berproses untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Allah ﷻ ndak menciptakan kita dengan sia-sia, dan keberadaan kita memiliki makna yang mendalam. Tujuannya adalah agar kita, sebagai makhluk yang memiliki akal dan hawa nafsu, dapat memilih jalan yang benar untuk tunduk dan beribadah kepada-Nya. Allah ﷻ ingin melihat apakah kita memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun kita memiliki kebebasan untuk bertindak.

Pencarian akan makna hidup seringkali dipenuhi dengan tantangan. Anda mungkin merasa terombang-ambing oleh ekspektasi masyarakat, perbandingan di media sosial, atau bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan hidup yang Anda inginkan. Banyak orang yang bingung mencari tujuan hidup karena menganggapnya hanya sebatas hal-hal duniawi. Terkadang, kita begitu fokus menentukan tujuan hidup yang salah, sehingga ketika kita gagal, kita merasa putus asa. Namun, Islam mengajarkan pentingnya konsisten dalam mencari makna hidup sejati. Menemukan makna hidup ndak terjadi dalam semalam. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, refleksi, dan keyakinan yang kuat.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.
(Pernikahan yang sukses ndak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama.)

SettiaBlog, kamu ngomong kayak gitu sadar? He...he....


Video klip kedua ini ada "seperti air mengalir". Maaf ya, ini SettiaBlog ndak membuat lagu lho ya. SettiaBlog hanya mengenalkan sedikit sastra lama, yang ini milik Kahlil Gibran. Kalau yang bahasan sebelumnya itu potongan dialog Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Walaupun ndak merasa membuat lagu tapi tetap masih memperhatikan musiknya kok. Di situ SettiaBlog kasih sedikit sentuhan nuansa Jawa. Untuk vokalnya SettiaBlog terinspirasi lengkingan vokalisnya Within Temptation, Sharon den Adel. Jika Anda melihat secara utuh Anda akan ngerti.

Let it flow. Biarkan mengalir. Ungkapan ini pasti sering kita dengar. Ya, sebuah ungkapan singkat namun sarat makna. Flow yang dalam arti harfiahnya bermakna ‘mengalir’, ‘melimpah’, mengandaikan sebuah keadaan yang bebas, ndak dibatasi dan ndak terikat dengan sesuatu. Flow adalah sebuah keadaan yang menunjukkan ketenangan, kenyamanan, bahkan dalam kondisi tertentu “kebebasan”. Layaknya air yang mengalir bebas ke mana pun ia suka. Filosofi air yang mengalir bebas sering menjadi acuan seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Hidup ini akan terasa nikmat kalau kita menjalaninya dengan perasaan lepas, jiwa yang bebas, pikiran yang merdeka, ndak dikungkung atau dibelenggu oleh apa pun dan siapa pun. Hidup ini akan terasa damai kalau kita menjalaninya dengan tenang, mengalir seperti air. Makna lain dari filosofi air mengalir adalah bahwa segala sesuatu yang terus mengalir, bergerak akan selalu menghadirkan kebaruan dan kejernihan. Hidup pun demikian adanya.

Hidup adalah bergerak dan mengalir. Jika diam dan tetap maka hanya kebekuan dan kejumudan pikiran dan perasaan yang akan kita rasakan. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikian juga hendaknya dengan kehidupan kita. Meski kita tengah berada di posisi yang tinggi, memiliki kelimpahan materi, ilmu pengetahuan yang mumpuni, kedudukan yang bergengsi, tetaplah rendah hati. Lihatlah bagaimana kehidupan orang di sekeliling kita. Banyak di antara mereka yang masih kesulitan ekonomi, pendidikan tinggi ndak mampu dijangkau karena mahalnya biaya yang harus dibayar, pekerjaan ndak menentu sekadar untuk dapat menyambung hidup, dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuat kehidupan mereka terasa ndak nyaman. Sapalah mereka, dekati mereka, bantulah mereka. Inilah makna air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

Jadilah seperti air yang tenang tetapi menghanyutkan, bukan seperti air yang beriak tanda tak dalam. Ya, dalam menjalani hidup ini jadilah pribadi yang tenang. Tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang. Tenang karena kita memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup. Tenang karena kita memiliki Allah yang Maha segala-galanya. Janganlah menjadi air yang beriak. Karena itu pasti tanda tak dalam. Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ndak perlu banyak tingkah dan gaya, yang hanya akan menunjukkan kepongahan di balik kekosongan jiwa. Ndak usah banyak sesumbar apalagi berkoar-koar sembari membusungkan dada, yang hanya akan membuat orang lain jengah dan akhirnya tahu kualitas dan kapasitas diri kita sesungguhnya.

Jun 12, 2026

Imajinasi dan Ilmu Pengetahuan

 


Video klip di atas ada "I Knew It, I Knew You" milik Taylor Swift. Lagu ini merupakan soundtrack utama film animasi Toy Story 5. Masih ada yang ingat film animasi Toy Story? Tema Toy Story 5 sendiri berpusat pada perjuangan mainan fisik bertahan di era digital. Film ini membandingkan ikatan emosional antara manusia dan mainan klasik dengan pesona teknologi modern seperti tablet. Ini adalah metafora tentang pentingnya kehadiran alam nyata dan imajinasi di dunia yang serba instan ini.

Dalam perspektif awam, imajinasi masih sering diposisikan dalam arti peyoratifnya. Imajinasi dianggap serupa dengan ilusi, khayalan, dan fantasi. Salah persepsi ini berakibat pada masih kurang dipertimbangkannya imajinasi sebagai sumber pengetahuan yang sahih. Orang sering mengajak kita untuk berpikir realistis ketika kita mengajukan gagasan yang muluk-muluk. Mereka ndak menyadari bahwa anjuran mereka –sebagaimana dikemukakan Allan Loy McGinnis dalam buku best seller-nya, The Power of Optimism sebenarnya bentuk kekhawatiran-kekhawatiran yang disembunyikan. “Worry is misuse of imagination” (kekhawatiran adalah imajinasi yang disalahgunakan). Kekhawatiran itu, oleh Kierkegaard dianggap sebagai sikap yang berlebihan dalam merespon bahaya, atau semacam sikap memandang rendah kemampuan kita.

Mengganggap imajinasi sejenis dengan khayalan, fantasi, atau ilusi, merupakan sikap yang gegabah. Istilah fantasi itu sendiri lebih berkaitan dengan daya membayangkan sesuatu hal yang ndak real atau yang ndak mungkin terjadi. Dengan demikian, fantasi sepadan dengan khayalan atau ilusi, terjemahan dari bahasa Inggris, illusion. Secara terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu yang jelas-jelas keliru. Jika fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) berhubungan dengan gambaran objek yang ndak mungkin dan memang ndak ada dalam kenyataan, maka imajinasi merupakan daya yang menghasilkan gambaran objek yang bersifat mungkin atau logis. Imajinasi ndak terkait dengan penggambaran yang membabi buta tentang suatu objek atau konsep tertentu. Dalam bahasa inggris, ada beberapa variasi kata untuk imajinasi, yaitu imagery, imaginary, dan imagine. Imagery merupakan bahasa figuratif untuk merujuk sebuah gambaran, objek, ide, dalam pikiran seseorang (pembaca atau pendengar), sehingga istilah ini sering digunakan oleh para penyair dalam karya-karyanya.

Imagery sering diartikan sebagai perumpamaan atau tamsil, meskipun ia memiliki arti yang lebih luas dari sekedar perumpamaan. Selanjutnya, imaginary dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai yang imajiner atau khayal; contohnya bilangan imajiner sebagai bilangan khayal. Sementara kata imagine (kata kerja) berarti membentuk suatu gambaran mental tentang sesuatu, atau memikirkan sesuatu sebagai bisa terjadi atau mungkin. Imagine adalah tindakan membayangkan, meskipun pada prakteknya terdapat perbedaan antara “membayangkan” dan “mengimajinasikan”. “Membayangkan” mempunyai konotasi sebagai sesuatu yang lebih mudah dilakukan karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan “mengimajinasikan” itu merambah wilayah yang lebih luas sehingga ndak dapat direduksi sebagai sekedar membayangkan. Maka dari itu, imajinasi lebih tepat diartikan sebagai kekuatan potensial yang telah memberikan kontribusi berharga bagi lahirnya pengetahuan.

Perlu diketahui perbedaan antara berimajinasi dan berpikir (logis), lebih khusus terkait dengan proses lahirnya pengetahuan. Berpikir merupakan aktivitas mental untuk melahirkan atau memformulasikan pengetahuan dengan merujuk pada aturan berpikir atau konsep tertentu yang cenderung bersifat membatasi, bahkan mengikat. Misalnya anjuran berpikir lurus menurut logika identitas Aristotelian –di mana cara berpikir yang ndak mematuhi hukum logika tersebut dapat terjatuh dalam “sesat pikir” (the fallacy). Sementara dalam berimajinasi proses mental kita ndak lagi diikat oleh hukum berpikir atau konsep kebenaran tertentu, sehingga pikiran menjadi bebas untuk mencari wawasan pengetahuan baru. Disadari atau ndak, peran imajinasi begitu besar dalam melahirkan teori-teori agung di bidang ilmu pengetahuan. Ketika para ilmuwan sudah kehabisan ide untuk memecahkan suatu permasalahan—karena logika telah menunjukkan keterbatasan-keterbatasannya, terkadang imajinasi bebas mereka justru yang mempunyai peranan besar dalam pemecahan problem-problem keilmuan. Bahkan ilmuwan sekaliber Einstein mengatakan, ”imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”.

Peran imajinasi dalam proses penelusuran pengetahuan membawa banyak hal yang sering ndak terduga. Meski berimajinasi ndak dibatasi oleh hukum berpikir dan konsep tertentu, namun proses mental tetap terarah pada citra atau imaji-imaji tertentu sebagai representasi dari persoalan yang sedang dibayangkan. Ketika Einstein menemukan rumus E=mc2 , dia tentu meng-imaji-kan variabel-variabel itu dalam pikirannya. Ketika Newton tiba-tiba menyadari teori gravitasinya karena melihat buah apel jatuh ke tanah, dia juga men-citra-kan sesuatu dalam benaknya. Dengan demikian, mengimajinasikan “imaji” merupakan proses yang melahirkan kedua teori tersebut. Tentang kemampun melahirkan konsep dari imaji-imaji yang dicecap, ada sebuah konsep menarik yang diperkenalkan Sartre dalam bukunya L’imaginaire: Psychologie phenomenogique de l’imagination , yaitu tentang “imajinasi kreatif”. Imajinasi kreatif ini terkait dengan kemampuan pikiran seseorang untuk merasakan apa yang disebut Kant “pengalaman estetik”. Ketika seseorang mampu menangkap makna dan menemukan seepisode cerita dalam sebuah lukisan, atau merasakan emosi dalam selantun lagu yang ndak bisa dirasakan oleh orang lain, maka orang itu memiliki imajinasi kreatif. Dengan kata lain, ndaklah disebut imajinatif jika melihat makna dan cerita dalam sebuah lukisan yang juga bisa dilihat orang lain. Imajinasi kreatif ini disebut Sartre sebagai “tindakan menciptakan sebuah objek dalam ketiadaannya”.

Hans George Gadamer, dalam Philosophical Hermeneutics mengatakan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang tumbuh dalam ruang sosial dan masa historis tertentu. Citra tentang manusia dan lingkungannya selalu dibentuk dan direkayasa dalam lembaran sejarah. Sehingga, ndaklah berlebihan jika Simone Weil menganggap bahwa imajinasi dan fiksi telah membentuk lebih dari tiga perempat kehidupan nyata manusia. Pernyataan di atas hendak menegaskan bahwa pengetahuan yang kita peroleh sebenarnya lahir dari imaji-imaji tentang segala hal yang telah kita cecap, entah ia merujuk pada objek yang real ataupun yang imajiner. Imaji-imaji yang memenuhi ruang mental kita itu menjadi semacam penyedia bahan baku bagi kegiatan merumuskan pengetahuan. Dalam konteks ini, antara imajinasi dan rasio sebenarnya saling mendukung. Sebagai salah satu potensi intelek, imajinasi berfungsi sebagai pemecah kebuntuan ketika rasio ndak lagi mampu menyelesaikan persoalan pengetahuan yang membekap kita. Dengan dayanya, imajinasi mampu membuat tautologi-tautologi baru atas imaji-imaji yang memenuhi benak kita yang tidak dapat dikerjakan oleh rasio. Ketika pola-pola tautologi itu telah eksis dalam pikiran kita, rasio kemudian memerankan dirinya kembali, yaitu sebagai evaluator dan perumus bagi tautologi-tautologi itu agar polanya semakin matang dan presisi.

Imajinasi membuat dunia hadir dalam banyak kemungkinan, dan rasio membuat kemungkinan-kemungkinan itu menjadi pengetahuan yang masuk akal. Imajinasi juga memampukan kita menghayati dunia dan kenyataan sebagai momen puitis (ingat imajinasi kreatifnya Sartre). Jika di ranah saintifik antara imajinasi dan rasio masih bisa didamaikan, maka di ranah estetis keduanya cenderung saling menegasikan. Sebagai modus representasi dunia dan kenyataan, imajinasi adalah sumber bagi bahasa konotatif-puitis, sementara rasio adalah sumber bagi bahasa denotatif-logis. Kedua modus representasi ini akan melahirkan corak dunia yang sangat berbeda. Jika kita hanya mengandalkan bahasa denotatif-logis sebagai basis representasi, maka dunia akan mewujud sebagai objek formulatif semata. Di ranah estetis, dengan mengacu Heidegger, bahasa konotatif-puitis sebenarnya lebih berpotensi memunculkan “ketidaktersembunyian” (aletheia) karena lebih membuka pengalaman, bukan menciutkannya. Oleh karena bahasa puisi hendak meng-imaji-kan sesuatu, maka hanya imajinasilah yang mampu memberikan konteks imajinatif pada pikiran kita.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. SettiaBlog. Jujur aja, kamu itu Ndak pantes buat bahasan yang sifatnya serius seperti bahasan di atas. Masak tho....he.....he.....
Penasaran dengan kepribadian sesungguhnya yang Anda miliki? Tes kepribadian adalah salah satu jawaban dari rasa penasaran Anda tersebut. Tes kepribadian di bawah ini dapat mengungkapkan imajinasi seperti apa yang Anda miliki. Jika penasaran, caranya mudah, cukup dengan melihat gambar di bawah ini dan katakan gambar apa yang pertama Anda lihat. Jika sudah, cocokkan dengan jawaban di bawahnya!




Jika gambar pertama yang Anda lihat adalah wajah seorang wanita maka tandanya Anda memiliki imajinasi yang sangat kuat dan juga hidup. Walaupun demikian, Anda bisa menyeimbangkan imajinasi Anda itu dengan sifat pragmatis yang Anda miliki.

Anda ndak hanya dipenuhi oleh ide-ide luar biasa, tetapi Anda juga mampu mempraktikkan ide-ide Anda tersebut. Imajinasi Anda itulah yang membawa diri Anda ke tempat-tempat menarik. Namun Anda perlu memastikan bahwa imajinasi Anda itu ndak membuat Anda jadi melamun sepanjang hari, karena Anda tetap harus menyeimbangkannya dengan kehidupan nyata.

Jika gambar pertama dalam tes kepribadian ini yang Anda lihat adalah cangkir kopi maka tandanya Anda memiliki imajinasi yang abstrak. Anda bisa menemukan ide-ide original yang out of the box. Anda sering memikirkan ide-ide dan skenario yang fantastis, yang seringkali membuat orang lain tercengang.

Berbeda dari orang-orang yang melihat gambar wajah wanita, orang yang melihat cangkir kopi dalam tes kepribadian ini cenderung memiliki imajinasi yang lebih liar, namun tetap dalam konteks yang positif. Teruslah mengembangkan imajinasi Anda tersebut dan pergunakan untuk hal-hal yang bisa bermanfaat bagi diri Anda dan juga orang lain.


Video klip kedua ada "cukup". SettiaBlog pengen lagu yang ringan dan ceria. Dan SettiaBlog terinspirasi dari lagu lagu folk country yang ada di album "Foreverly " miliknya Norah Jones dan Billie Joe. Taylor, itu liriknya SettiaBlog pakai dialognya Romeo dan Juliet terus SettiaBlog tambahin monolog. Agak kacau c, ngepaskan kata katanya cukup susah. Ilustrasinya SettiaBlog ambil 3 pantai Bali, Aceh dan KalTim. Yang penting yang lihat bisa tersenyum, ya itu udah cukup. SettiaBlog emangnya ada tho cinta tanpa menuntut di balas. Kalau soal itu SettiaBlog kurang tahu....he....he.....Yang penting yang lihat bisa tersenyum. Kalau yang SettiaBlog tahu Allah ﷻ Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya.

Bukti bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang untuk semua hamba-Nya begitu banyak dan dapat dirasakan setiap waktu.
Allah Maha Pengasih menjadi salah satu sifat wajib-Nya yang harus dipercaya oleh semua umat Islam sedunia. Maha Pengasih dapat diartikan Allah ﷻ akan selalu memberikan rasa kasihnya untuk semua makhluk-Nya. Bukan hanya manusia saja, tetapi juga makhluk lainnya, seperti hewan serta tumbuhan. Kedua sifat Allah ﷻ tersebut juga sudah sering diucapkan dalam setiap kesempatan dalam bacaan Basmallah, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Bacaan tersebut sering diucapkan dan menjadi bukti bahwa Sang Kholiq memang benar-benar mengasihi dan menyayangi semua hamba-Nya tanpa terkecuali. ‍

Sebenarnya ada banyak buktinya dan mungkin Anda sekalian belum menyadarinya, baik secara langsung atau ndak. Sepertinya hal tersebut sudah sesuai dengan sifat manusia yang seharusnya selalu bersyukur. Terutama umat Islam yang sudah diberikan berbagai rezeki dan kenikmatan dalam kehidupannya sehari-hari. Lalu, apakah Anda sudah bersyukur hari ini? Jika sudah, minimal ucapkan hamdallah untuk memuji kebesaran-Nya. Begitu juga saat mengagumi bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang bisa mengucapkan basmallah terutama saat ingin memulai aktifitas baik sehari-hari. Lalu, apa saja bukti nyata bahwa Allah ﷻ benar-benar Maha Pengasih?

Berikut beberapa diantaranya yang seharusnya Anda ketahui.
1. Selalu Menerima Taubat Hamba-Nya

Allah ﷻ akan selalu menerima taubat setiap hambanya dengan penuh kasih sayang. Meskipun dosanya sudah banyak dan diibaratkan setinggi gunung, tetapi orang tersebut mau bertaubat. Allah ﷻ akan menerima taubatnya asalkan ndak mengulangi dosa dan kesalahannya. Jadi, taubatnya diterima dengan syarat ndak akan melakukannya lagi perilaku buruk atau maksiatnya. Selain itu, benar-benar bertaqwa kepada Sang Khaliq dengan menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

2. Memberi Rezeki pada Semua Makhluk-Nya

Bukti lainnya bahwa Allah Maha Pengasih, yaitu menjamin rezeki pada semua makhluk-Nya tanpa terkecuali. Mulai dari manusia, hewan, hingga tumbuhan sudah dijamin rezekinya. Khususnya untuk manusia bukan hanya umat Islam saja, tetapi seluruhnya yang hidup di dunia ini. Oleh karenanya, Anda sekalian harus selalu bersyukur setiap saat karena pemberian reseki dari Allah ﷻ tersebut.

3. Menambah Nikmat bagi Hamba-Nya yang Mau Bersyukur

Allah ﷻ sudah menjanjikan akan menambah nikmat rezeki diberikan kepada setiap hamba-Nya yang mau bersyukur. Salah satu bukti Allah Maha Pengasih yang ndak bisa terbantah lagi. Syaratnya hanya disuruh bersyukur setiap saat dari pemberian yang diterimanya. Entah rezeki yang Anda terima besar atau kecil, harus tetap bersyukur. Dengan begitu, rasanya akan selalu tercukupi dan terasa aman serta nyaman di hati.

Dengan mengucapkan basmallah saat ingin memulai aktifitas tertentu, Anda sudah memuji Allah ﷻ sebagai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selain mendapatkan pahala karena mengucapkannya, juga akan diberikan kemudahan, keberkahan, dan solusi tanpa diduga. Oleh karenanya, Anda jangan malu, ragu, atau pelit saat mengucapkannya dengan janji-janji seperti itu. Sudah banyak orang yang membuktikannya sendiri bahwa kehidupannya lebih baik saat bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Caranya cukup mudah dan ndak perlu dipersulit karena hanya melakukan hal-hal ringan saja sebagai bukti Allah Maha Pengasih. Misalnya, mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, hamdallah, basmallah, dan tahlil setiap saat.

Bukan hanya waktu sholat atau ibadah-ibadah khusus saja, tetapi dalam setiap kesempatan. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga akan beranjak tidur pada malam hari bisa mengucapkannya setiap saat. Jadi, silahkan untuk membiasakan diri setiap hari mulai dari sekarang khususnya Anda yang belum melakukannya. Mulai dari diri sendiri, lalu dapat ditularkan kebiasaan baik tersebut kepada anggota keluarga lainnya atau orang-orang terdekat. Dengan begitu, keberkahan akan selalu hadir bersama Anda setiap waktu dan dimana saja. Mulai di rumah, di jalan, tempat kerja, dan pastinya di masjid saat melakukan sholat jamaah lima waktu. Banyak buktinya dan Anda bisa merasakannya sendiri setiap waktu. Setelah membaca uraian diatas, Anda sebagai umat Islam harus lebih memahami bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang benar-benar ndak dapat terbantahkan.

Jun 8, 2026

Qiyamul Lail sebagai Jalan Keluar dari Keresahan Hidup

 


Video klip di atas ada "melodia de uma noite" karya komponis Portugal, Silvestre Fonseca. Lagu ini di mainkan Ilona Guitar dengan cantiknya. Melodia de uma noite bisa di artikan melodi di malam hari. Maaf ya kalau SettiaBlog salah mengartikan, SettiaBlog ndak begitu bisa bahasa Portugal, yang jelas lagu ini menggambarkan suasana syahdu pada waktu malam hari. Bagi orang muslim waktu tengah malam yang syahdu kayak gitu sangat cocok untuk qiyamul lail.

Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi? Mulai dari tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang ndak ada habisnya. Di titik itu, rasanya kapasitas diri sudah ndak mampu lagi menampung semuanya. Respons paling manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar: masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting. Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ.

Dalam surah Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi Muhammad ﷺ. Di awal-awal masa kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat, jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy. Ada momen di mana tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah ﷺ memilih untuk menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya. Tentu saja, sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut ndak akan pernah menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah ﷻ ndak menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”

Lalu dilanjutkan di surah Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah ﷻ langsung memberikan sebuah “resep” yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari separuh itu.” Allah ﷻ bmemerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Ndak lain karena ketika dunia sedang terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering. Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.

Mengapa Shalat Malam Pernah Menjadi Kewajiban?
Banyak yang mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah ﷻ memberikan satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam). Di hadapan tugas kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif, Rasulullah ﷺ dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya. Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.

Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah ﷻ bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah ﷻ ndak serta-merta menyuruh Rasulullah ﷺ untuk membalas perlakuan mereka, ndak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.bSebaliknya, Allah ﷻ justru memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga malam melalui qiyamul lail. Allah ﷻbhendak mengokohkan fondasi jiwa kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang hari.

Shalat malam diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat dirinya yang bermula dari “al-‘alaq”, segumpal darah yang lemah, terbatas, dan ndak memiliki daya apa-apa. Lewat untaian berdiri, rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan kesombongan manusiawi dikikis habis. Di atas sajadah, seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah, pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah ﷻ justru akan turun. Menariknya, ketika Allah ﷻ sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali ndak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.

Pada akhirnya, harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah ﷺ, juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau pewaris estafet risalah Islam. Ketika terjun ke masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya problematika umat dan beratnya tantangan dakwah. Di titik itulah akan sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah ﷻ.

Secara fitrah sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi setiap tekanan eksternal. Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, ndak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.

Malam hari adalah waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi transendental langsung dari pusat ketenangan universal. Jadi, jika hari ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam. Jangan paksakan logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu, bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah ﷻ. Karena dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah dunia di siang hari dilahirkan.

Seorang pakar tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surah Al-Muzzammil itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk perintah langsung yang tegas. Lebih dari itu, sebuah ibadah sunnah (anjuran) ndak mungkin membatasi durasi waktu secara detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah tersebut berstatus sangat penting dan wajib. Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah ﷺ, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”
Aisyah kemudian menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi ﷺ dan para sahabat melakukannya selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”

Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib ini. Baru setelah satu tahun berlalu, Allah ﷻ menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Meski status hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail ndak pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6) Bagi Rasulullah ﷺ sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.

Saat ditanya mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)” Pertanyaan retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita. Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir. Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah ﷻ untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.


Video klip kedua ada "ya sudahlah" milik Bondan yang udah di cover. Untuk ilustrasinya itu, ide awalnya dari pernyataan Ilona yang ingin membuat klip di alam terbuka. Kenapa kok di buat naik Kerbau SettiaBlog? Jalan untuk menuju tempat itu cukup susah, paling mudah naik Kerbau ...he...he... Bercanda ...bercanda. Ini ada sedikit cerita sejarah saat kerajaan Majapahit berniat melakukan ekspansi. Untuk menghindari perang besar dan pertumpahan darah, Raja Pagaruyung dan panglima Majapahit sepakat menyelesaikan sengketa melalui adu kerbau. Cerita ini tercatat di Serat Pararaton. Majapahit waktu itu membawa kerbau yang sangat besar dan kuat. Sementara kerajaan Pagaruyung menggunakan seekor anak kerbau (dikenal sebagai gudel) yang lapar dan sengaja ndak diberi makan berhari-hari. Di ujung tanduk anak kerbau tersebut, dipasang pisau besi yang tajam. Saat diadu di arena, anak kerbau yang sangat lapar itu berlari ke arah kerbau besar Majapahit. Anak kerbau itu mengira kerbau besar tersebut adalah induknya dan bermaksud untuk menyusu. Anak kerbau itu terus menyeruduk dan melukai perut kerbau Majapahit menggunakan pisau di tanduknya.

Sebenarnya cerita kayak gini unsurnya bahasa sanepan. Sebenarnya Majapahit kala itu kalah karena strategi gerilya yang di gunakan pasukan Pagaruyung. Terutama, kerajaan Pagaruyung memiliki bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup susah untuk di lalui. Kondisi alam ini yang di manfaatkan oleh pasukan Kerajaan Pagaruyung. Kok malah ngomongin sejarah...he...he...maaf ...maaf. Yang jelas di sinilah pentingnya sebuah strategi dalam bertindak.

Berpikir strategis adalah cara berpikir untuk menyikapi persoalan dengan membuat rencana setelah melakukan analisis terlebih dahulu pada tantangan atau rintangan. Cara berpikir yang satu ini tentu dibutuhkan dalam dunia kerja karena dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi diri untuk menyelesaikan pekerjaan. Ndak hanya para pemimpin, tapi karyawan juga perlu memiliki kemampuan ini agar dapat memahami instruksi yang diberikan.

Berpikir secara strategis diartikan sebagai proses pikir yang intensional dan rasional. Dengan berpikir secara strategis, Anda berfokus terhadap analisis, faktor kritis, serta variabel-variabel yang akan memengaruhi suatu hal dalam jangka panjang. Ini bisa berlaku untuk sebuah proyek, bisnis, atau juga untuk keputusan pribadi yang kamu buat.

Sebagai seorang strategic thinker, Anda akan selalu berhati-hati dalam membuat keputusan dan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan pertimbangan yang terukur. Cara inilah yang bisa mewujudkan rencana dan tujuan yang jelas, serta keputusan yang tepat. Untuk bisa berpikir secara strategis, Anda butuh mengasah research skill, analytical thinking, kemampuan berinovasi, menyelesaikan masalah, komunikasi, kepemimpinan, dan membuat keputusan.

Bisnis berkembang dengan begitu cepat dengan adanya teknologi dan sumber daya lainnya yang memadai. Oleh karena itu, kita harus cepat beradaptasi dan menyusun rencana untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Jika ndak, perusahaan akan tertinggal dan kalah dalam persaingan. Nah, berpikir strategis adalah salah satu cara untuk menghasilkan rencana-rencana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, Anda bisa selalu mengantisipasi, memperkirakan, dan mengambil kesempatan dengan sigap.

Ini bukan hanya tanggung jawab pemimpin perusahaan, tetapi juga semua stakeholder yang terlibat. Semakin besa Anda bisa berkontribusi dalam pekerjaan Anda, tentu perusahaan pun akan semakin menghargai posisi Anda.

Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Strategis

1. Berorientasi pada masa depan

Berpikir strategis kerap kali dikaitkan dengan membuat rencana. Oleh karena itu, Anda perlu memiliki orientasi terhadap masa depan agar terbiasa berpikir strategis. Ketika dihadapkan dengan sebuah proyek atau pekerjaan, mulailah dengan memprediksi apa yang akan menjadi rintangan-rintangan di masa depan serta bagaimana solusinya. Buat beberapa rencana untuk menyelesaikan masalahmu, lalu coba satu persatu untuk mengetahui mana yang berhasil. Hal ini akan membuat Anda terlatih untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dengan memiliki orientasi terhadap masa depan. Selain itu, waktu pun akan lebih banyak terhemat.

2. Coba berbagai hal baru

Kemampuan berpikir strategis akan menuntut Anda untuk memiliki wawasan yang luas. Oleh karena itu, cobalah untuk melakukan hal-hal baru dan menambah wawasan Anda. Pengalaman baru dapat menjadi pelajaran dan akan membantu Anda mendapatkan insight atau sudut pandang baru dalam menyikapi suatu hal. Selain itu, Anda juga akan terlatih untuk memperhitungkan berbagai risiko dan tantangan yang dihadapi.

3. Latih manajemen waktu dan prioritas

Kemampuan berpikir strategis pun memerlukan keahlian manajemen waktu dan skala prioritas. Rencana bagus sekali pun kemungkinan ndak dapat berjalan dengan baik tanpa manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas yang baik. Oleh karena itu, skill satu ini selain dibutuhkan untuk mengembangkan pola pikir strategis, juga berguna untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan. Anda dapat memulai melatih manajemen waktu dan penyusunan skala prioritas dari kegiatan sehari-hari, seperti mengatur waktu kapan Anda harus tidur dan bangun.

4. Melibatkan berbagai faktor saat membuat rencana

Seseorang dengan kemampuan berpikir strategis mengetahui bahwa faktor seperti ide, kesempatan, dan sumber daya berkaitan satu sama lain. Sehingga, dia akan mempertimbangkan semuanya ketika membuat rencana. Untuk menemukan ide, Anda dapat mencoba dengan meluangkan waktu untuk mendapat pengalaman baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini akan memberikan Anda inspirasi, lho. Sedangkan untuk melihat kesempatan, perhatikan apa yang kompetitor lakukan lalu buatlah sebuah riset persaingan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui besarnya kesempatan yang dimiliki. Lalu untuk sumber daya, Anda dapat melakukan riset langsung untuk mencari bahan baku atau jika berupa sumber daya manusia, Anda dapat menggunakan diskusi. Dengan melibatkan banyak faktor, maka risiko-risiko yang akan dihadapi pun akan dapat terlihat dan mudah untuk diperhitungkan.

5. Menanyakan pertanyaan strategis

Menurut Harvard Business School, menanyakan pertanyaan strategis pun dapat mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Hal ini dapat membantu Anda dalam melatih kemampuan perencanaan, melihat kesempatan dan juga mindset strategis untuk mengembangkan karier. Contoh pertanyaan strategis adalah sebagai berikut;
Bagaimana kita dapat menempatkan produk dalam pasar yang baru?
Ke mana arah perkembangan dari produk atau brand ini?
Apa langkah-langkah yang bisa diambil untuk menjaga konsumen dalam memakai produk ini?

6. Observasi dan refleksi

Selain menanyakan pertanyaan strategis, coba juga untuk mencari jawabannya. Anda bisa menemukannya dengan melakukan observasi dan refleksi. Melakukan kedua hal tersebut adalah salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam berpikir strategis. Anda bisa mengobservasi dengan mencari informasi sebanyak mungkin untuk menjadi dasar dalam membuat strategi baru. Setelah itu, cari juga apa yang salah dan harus diperbaiki dalam strategi atau prosedur yang telah berlaku.

7. Berhati-hati terhadap bias

Setiap orang memiliki bias terhadap sebuah hal atau topik. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati terhadap hal tersebut. Cobalah untuk menilai pemikiran yang sudah Anda buat. Apakah Anda membuat pemikiran ini berdasarkan fakta yang ada atau karena Anda memang memiliki preferensi lain yang mendukung pemikiran tersebut? Dengan mengakui bahwa pemikiran sendiri ndak sempurna, hal ini memungkinkan Anda untuk berpikir lebih strategis ketika akan membuat keputusan.

8. Mempertimbangkan ide yang berlawanan

Ketika Anda sudah menemukan ide, cobalah untuk mengkritisi ide tersebut. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Dengan mengkritisi pemikiran sendiri, Anda bisa melihat kekurangan dari pemikiran yang telah dibuat. Anda juga bisa menajamkan kemampuan berpikir logis untuk mengomunikasikan dan menjalankan strategi Anda. Cobalah untuk mempertanyakan diri Anda sendiri ketika membuat keputusan. Haruskah Anda mengambil dari perspektif lain? Adakah detail yang terlewat?

Itulah beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan berpikir strategis. Jangan ragu untuk berdiskusi dan terbuka terhadap saran juga kritik melalui diskusi agar pola pikir strategis Anda terus dapat terasah dan berkembang.

Jun 3, 2026

Sikap yang Ndak Realistis untuk Mewujudkan Impian

 


Video klip di atas ada "Boulevard of Broken Dreams" milik Green Day yang udah di cover. Temanya c tentang orang yang gagal mengejar impian dan harapan. Dia merasa sepi walaupun di keramaian. Ilustrasinya itu ada seorang wanita lagi jalan - jalan di pematang sawah. Sebentar SettiaBlog, kalau buat itu ya harus yang masuk akal, logis dan realistis gitu lho. Kalau ke sawah mestinya naik kerbau, sapi atau apa gitu. O...gitu tha. Ndak cocok ya kalau naik BMW 430i ? He...he....ya....ya, nanti kalau buat lagi akan SettiaBlog bikin lebih realistis dan logis. Kalau SettiaBlog c, yang penting yang liat bisa tersenyum ya itu udah cukup.

Setiap orang pasti punya impian, baik yang skalanya kecil, mau pun yang luar biasa besar. Mimpi ini penting karena bisa membangkitkan semangat seseorang untuk terus berjuang dan memperbaiki kehidupannya hingga menjadi semakin baik dari waktu ke waktu. Namun, tentu cita-cita itu ndak bisa diraih secara gratis. Harga sebuah mimpi berbanding lurus dengan “ukurannya”. Semakin besar impian, semakin besar usaha yang harus dilakukan untuk membayarnya, dan semakin besar pula risiko kegagalan yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu, semua ini perlu disikapi dengan bijaksana agar bisa berjalan sesuai dengan harapan. Jangan malah menunjukkan sikap-sikap yang ndak realistis sebagai berikut.

1.Terlalu bergantung pada keberuntungan

Memiliki keinginan untuk mewujudkan sebuah mimpi, terlebih bila itu merupakan mimpi yang besar, tentu wajib diimbangi dengan usaha yang sepadan. Anda harus rela bersusah payah, menggunakan sebagian besar waktu Anda untuk bekerja keras demi bisa melangkah maju. Harapannya, setiap kemajuan yang didapatkan dapat membawa Anda menuju cita-cita tersebut. Inilah mengapa Anda ndak boleh hanya sekadar bergantung pada keberuntungan belaka. Mengharapkan hasil besar tanpa melakukan usaha berarti bukanlah sebuah pilihan yang bagus. Memang terkadang hal ini bisa terjadi, tetapi kemungkinan itu ndak akan selalu ada. Oleh sebab itu, hapus pola pikir yang kekanak-kanakan tersebut. Mulailah melakukan aksi nyata dengan menyusun strategi yang tepat dan bekerja keras. Tindakan ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan, sehingga semakin dekat untuk meraih mimpi.

2. Menuntut hasil yang cepat

Menggapai suatu impian, apa lagi yang dimulai dari nol, merupakan sebuah perjalanan panjang. Dibutuhkan waktu yang lama, bisa sampai bertahun-tahun, sebelum Anda benar-benar mampu menjadikan cita-cita itu nyata. Oleh karena itu, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam menjalani setiap proses yang ada. Jika Anda menuntut hasil yang cepat, maka tentu hal ini akan sangat sulit untuk diwujudkan. Ketidaksabaran ini hanya akan membuat Anda tertekan karena merasa ndak kunjung ada kabar gembira. Akibatnya, rasa putus asa terus membayangi dan menjadikan Anda semakin frustrasi. Jadi, ndak ada pilihan selain menjalani segala sesuatunya dengan sabar karena ndak ada hal besar yang lahir dalam waktu sekejap aja.

3. Takut akan mengalami kegagalan

Banyak orang ingin dirinya berhasil meraih sebuah pencapaian besar dalam hidupnya agar bisa dijadikan sebagai kebanggaan. Anehnya, mereka juga takut untuk menghadapi kegagalan karena dianggap sangat menyakitkan. Sayangnya, bila hendak memiliki sesuatu yang hebat, maka harus ada konsekuensi besar yang juga harus diterima, termasuk gagal dalam menjalani prosesnya. Perlu dipahami bahwa mengalami kegagalan saat melakukan sebuah usaha itu merupakan hal yang wajar. Anda hanya perlu untuk menerima kenyataan itu sambil terus melakukan evaluasi terhadap kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Ambil waktu secukupnya untuk menata kembali kehidupan yang berantakan, lalu bangkit dan berusaha lagi. Ingat, hanya dengan cara inilah Anda bisa menggenggam impian Anda suatu saat nanti.

Jika sudah memutuskan untuk melabuhkan diri pada sebuah mimpi, jangan ragu untuk berusaha. Kerahkan seluruh kemampuan terbaik Anda, pastikan selalu all out. Jika hanya berani bermimpi tanpa ada aksi, maka sama aja bohong. Ini ndak akan membawa Anda pergi ke mana-mana. Jadi, yakinlah bahwa Anda bisa dan mulailah untuk berjuang sekarang juga.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk ilustrasi klip di atas emang SettiaBlog sengaja karena temanya "kontradiksi" ( pertentangan antara dua hal yang sangat berlawanan).
Kalau dalam kajian Islam. Menurut Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Al-Hikam, keinginan dan harapan seorang hamba yang ndak menjadi kenyataan sesungguhnya adalah kebaikan bagi hamba tersebut. Bila seorang hamba merasa kecewa dengan hal tersebut, artinya ia belum mengerti hikmah dan rahmat Allah ﷻ.
"Sesungguhnya sebab kamu merasa kecewa (sedih) atas penolakan Allah kepada kamu, karena kamu tidak mengerti hikmah dan rahmat Allah dalam penolakan itu." (Syekh Atha'illah, Al-Hikam)

Penjelasan lebih lanjut dari perkataan Syekh Atha'illah. Ndak sempurna iman seorang hamba terhadap Allah ﷻ sebelum ia memiliki dua sifat.
Pertama, percaya penuh kepada Allah ﷻ, yakni bersandar dan berharap hanya kepada Allah ﷻ.
Kedua, bersyukur atau berterimakasih kepada Allah ﷻ karena sudah dihindarkan dari ujian-ujian serupa yang ditimpakan kepada orang lain. Salah satu contohnya ujian berupa harta kekayaan.

Dan ndak sempurna iman seorang hamba kepada Allah ﷻ sebelum ia mengerti bahwa pemberian dari Allah ﷻ adalah sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Belum sempurna iman seorang hamba jika ndak mengerti bahwa penolakan Allah ﷻ atas keinginan dan harapannya adalah untuk menyelamatkan ia dari kemudharatan atau bahaya.


Video klip kedua ada "dream" miliknya Aria.
Perfeksionisme kerap dikaitkan dengan upaya mencapai standar tertinggi dalam segala aspek kehidupan, namun tanpa toleransi terhadap kesalahan dan kegagalan yang bersifat manusiawi, hal ini justru dapat menghambat kemajuan dan pencapaian tujuan pribadi maupun profesional. Dorongan untuk selalu sempurna ini sering mengakibatkan tekanan psikologis yang berkepanjangan dan stres berlebih, yang pada akhirnya menunda proses pembelajaran dari pengalaman serta menghambat inovasi dan perkembangan diri. Kesadaran ini penting sebagai refleksi pribadi dalam menghadapi ekspektasi yang ndak realistis, di mana penerimaan terhadap kekurangan menjadi kunci untuk membuka jalan menuju kesuksesan yang lebih berkelanjutan.

Penelitian telah mengungkapkan bahwa dampak perfeksionisme ndak terbatas pada aspek perilaku aja, melainkan juga mempengaruhi kondisi mental individu secara signifikan. Studi menunjukkan bahwa kecenderungan perfeksionis dapat meningkatkan pola pikir ruminatif yang pada gilirannya berkontribusi terhadap depresi serta gejala burnout, terutama dalam lingkungan akademik dan profesional. Penelitian menunjukkan bahwa penerimaan terhadap ketidaksempurnaan serta pengurangan tekanan internal merupakan langkah esensial untuk mencapai kemajuan secara menyeluruh.

ࠎ. Paralisis Analisis dan Perencanaan Berlebihan

Kebiasaan perfeksionis seperti paralisis analisis dan perencanaan berlebihan merupakan hambatan signifikan dalam mencapai kemajuan. Terlalu banyak berpikir dan merinci setiap langkah secara mendalam dapat menimbulkan ketidakmampuan untuk segera bertindak, sehingga menghambat momentum dan penyelesaian tugas. Fenomena ini sering kali muncul dari kecenderungan berpikir berlebihan yang mengakibatkan keengganan untuk mengambil tindakan demi menghindari potensi kesalahan, seperti yang diuraikan dalam model pengaruh perfeksionisme terhadap inovasi. Oleh karena itu, menetapkan tenggat waktu yang realistis dan berkomitmen untuk bertindak meskipun hasil belum sempurna merupakan solusi strategis untuk meruntuhkan hambatan ini.

ࠎ. Terlalu Fokus pada Detail Kecil

Fokus berlebihan pada detail kecil merupakan kebiasaan perfeksionis yang menguras energi dan mengalihkan perhatian dari pencapaian tujuan yang lebih besar. Kebiasaan ini muncul ketika individu terlalu terpaku pada aspek-aspek minor sehingga kehilangan perspektif terhadap gambaran besar dan pencapaian penting. Penelitian telah menunjukkan bahwa kecenderungan ini berkaitan dengan bentuk negatif perfeksionisme yang cenderung menekankan kesempurnaan kontrol atas setiap aspek, yang pada akhirnya mengurangi kreativitas dan inovasi dalam memecahkan masalah. Dengan memprioritaskan tujuan utama dan mengabaikan detail yang ndak signifikan, individu dapat mengoptimalkan sumber daya kognitif dan emosional mereka untuk pencapaian yang lebih bermakna.

ࠎ. Kritik Diri yang Berlebihan

Kritik diri yang berlebihan merupakan salah satu manifestasi perfeksionisme yang berbahaya, karena kebiasaan ini kerap mengikis kepercayaan diri dan harga diri individu. Sikap internal yang terlalu kritis ini ndak hanya menekan potensi inovasi, tetapi juga meningkatkan risiko masalah psikologis seperti kecemasan sosial dan depresi. Data meta-analisis menunjukkan bahwa dimensi perfeksionisme semacam ini mempunyai hubungan erat dengan perasaan ketidakmampuan dan keputusan negatif atas diri sendiri. Oleh karena itu, mengadopsi pola pikir yang lebih berfokus pada belas kasih terhadap diri sendiri serta prinsip-prinsip pertumbuhan pribadi merupakan solusi efektif untuk mengatasi dampak destruktif dari kritik diri yang berlebihan.

ࠎ. Menunda-nunda karena Takut Ketidaksempurnaan

Menunda-nunda pengerjaan tugas karena ketakutan akan ketidaksempurnaan merupakan kebiasaan yang juga sering muncul pada individu perfeksionis. Ketakutan untuk menghasilkan sesuatu yang ndak sempurna sering kali mengakibatkan procrastinasi, sehingga tindakan yang seharusnya cepat dan efektif malah tertunda. Fenomena ini berakar dari kekhawatiran akan kesalahan dan kegagalan yang terlalu intens, sehingga individu lebih memilih untuk ndak bertindak sama sekali daripada mengambil risiko melakukan kesalahan. Strategi mengatasi procrastinasi ini melibatkan pengambilan inisiatif untuk mulai bekerja dengan asumsi bahwa perbaikan dapat dilakukan seiring waktu, menggeser fokus dari ketakutan akan kesempurnaan ke penghargaan atas kemajuan yang dicapai.

ࠎ. Menghindari Risiko dan Inovasi

Menghindari risiko dan inovasi adalah strategi defensif yang kerap diterapkan oleh perfeksionis sebagai upaya menghindari kegagalan. Sikap risk-averse ini menghambat proses inovatif dan mendorong kecenderungan untuk tetap berada dalam zona nyaman yang sudah dikenal. Penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme negatif cenderung mengutamakan penghindaran kesalahan, sehingga mengurangi kemampuan untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan mengambil langkah berani menuju kemajuan. Dengan mengadopsi pendekatan yang mendorong pengambilan risiko secara bertahap serta memberi penghargaan pada setiap langkah maju, individu dapat memperoleh keseimbangan antara aspirasi kesempurnaan dan kebutuhan untuk berkembang secara inovatif.

ࠎ. Ndak Pernah Merasa Puas dengan Kesuksesan

Perfeksionisme sering kali menimbulkan perasaan ketidakpuasan meskipun pencapaian yang diraih sebenarnya sudah signifikan. Individu yang terus mengejar kesempurnaan sering gagal merasakan kebahagiaan dari kemajuan yang telah diraih karena selalu merasa bahwa pencapaian tersebut belum cukup sempurna. Dalam konteks ini, pendekatan yang menekankan pentingnya mengakui setiap kemajuan, sekecil apa pun, serta merayakan pencapaian tersebut secara konsisten dapat membantu mengurangi beban psikologis yang muncul akibat tuntutan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, seperti yang dinyatakan dalam penelitian mengenai perfeksionisme akademik.

ࠎ. Mikromanajemen dan Takut Delegasi

Dalam ranah manajerial, kecenderungan perfeksionis tampak pada perilaku mikromanajemen dan ketakutan untuk mendelegasikan tugas, yang dapat menghancurkan kepercayaan dalam tim serta menyebabkan pemborosan waktu dan sumber daya. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa individu dengan karakteristik perfeksionis cenderung mengandalkan kontrol yang berlebihan ketika menghadapi tugas, sehingga sulit untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan. Solusi yang diusulkan adalah untuk mendelegasikan tugas secara bijaksana, dengan mempercayai kemampuan rekan satu tim dan memberdayakan mereka agar mampu berkontribusi secara optimal.

ࠎ. Menetapkan Harapan yang Ndak Realistis

Salah satu kesalahan kognitif yang kerap dilakukan oleh para perfeksionis adalah menetapkan harapan yang ndak realistis terhadap diri sendiri maupun orang lain. Harapan yang berlebihan ini biasanya mengundang kekecewaan ketika realitas ndak sesuai dengan impian atau ekspektasi yang dibentuk secara ideal. Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi individu untuk menetapkan tujuan yang dapat dicapai dengan seimbang, yakni menggabungkan ambisi tinggi dengan evaluasi realistis terhadap kondisi dan sumber daya yang tersedia. Dengan cara ini, frustrasi dan kekecewaan dapat diminimalisir sehingga peningkatan kesejahteraan psikologis dapat terwujud.

ࠎ. Terus Mencari Validasi

Tekanan untuk selalu mendapatkan validasi eksternal merupakan ciri khas dari perfeksionisme yang berpotensi melemahkan kepercayaan diri internal. Ketergantungan terhadap pengakuan dan persetujuan dari orang lain membuat individu kehilangan arah pada nilai-nilai pribadi yang seharusnya menjadi pedoman dalam meraih kesuksesan. Penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi yang efektif dapat membantu mengatasi kecenderungan mencari validasi, sehingga individu lebih mampu menginternalisasi nilai diri dan menyesuaikan tekanan eksternal. Dengan demikian, pergeseran fokus dari kebutuhan akan validasi eksternal menuju penanaman kepercayaan diri yang bersumber dari dalam diri sangat penting untuk pertumbuhan pribadi maupun profesional.

Kebiasaan perfeksionis yang mencakup perasaan ndak pernah puas, kecenderungan mikromanajemen, penetapan harapan yang ndak realistis, dan pencarian validasi eksternal berdampak signifikan terhadap kesejahteraan dan produktivitas individu. Fenomena ini ndak hanya mengganggu kenikmatan atas setiap pencapaian, tetapi juga menimbulkan hambatan dalam pengembangan diri dan interaksi tim, sehingga mengakibatkan stress, kecemasan, serta penurunan kinerja. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengadopsi pendekatan yang memungkinkan perayaan pencapaian meskipun kecil, mendelegasikan tugas secara bijaksana, serta menetapkan tujuan yang realistis guna mengurangi tekanan perfeksionisme dan mendorong pertumbuhan pribadi serta profesional.

Jun 1, 2026

Memahami Rasa di Balik Perasaan Benci

 


Video klip di atas ada "Hate That I Made You Love Me" milik Ariana Grande dari album terbarunya Petal. Enak kok lagunya. Di sini SettiaBlog tertarik dengan kata hate, bisa di artikan membeci, rasa benci atau dendam.
“Aku ndak suka sama dia. Orangnya sok hebat, suka tebar pesona sana-sini. Gitu aja aku juga bisa”
Perkataan semacam itu ndak asing dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalimat itu juga banyak terdengar dari teman satu sekolah, teman kerja atau teman satu organisasi. Sebenarnya, kebencian itu bisa beragam bentuknya. Bisa sekadar dalam pikiran, terucap oleh lisan, hingga sampai pada tindakan.

Salah satu alasan ndak menyukai seseorang adalah ada bagian dari dirinya sendiri yang belum diterima. Rasa khawatir akan kekurangan-kekurangannya, ketakutan akan masa depan, iri, rendah diri, dan sebagainya. Membenci orang akan membuat dirinya merasa aman karena ia merasa ada orang yang lebih rendah darinya. Membandingkan diri dengan orang lain secara kontras memang bisa meningkatkan harga diri, tapi itu ndak selamanya baik. Jika dibiarkan terus-menerus bisa menimbulkan berbagai emosi buruk yang lain. Secara emosi, membenci orang menimbulkan berbagai gejolak dalam diri seseorang. Misalnya, emosi-emosi negatif yang dapat mengikis diri sendiri. Marah ndak berkesudahan, lelah secara emosi karena terus memikirkannya, sensitif dan ndak tenang. Membenci itu sangat melelahkan hati dan membuat sebagian orang merasa ndak tenang (insecure). Membenci juga bisa jadi mengacaukan emosi dan mood seseorang sehari-hari dalam setiap aktivitas.

Memang, menghalau perasaan ndak suka terhadap seseorang itu ndak mudah. Saat membenci orang, kita akan risih ketika mendengar suaranya atau muak untuk sekadar melihat wajahnya. Selain itu, membenci seseorang juga ndak menyehatkan bagi otak manusia. Kebencian itu menimbulkan kelelahan hati dan pikiran dan berdampak negatif bagi emosi. Dari membenci, seseorang akan selalu berpikir negatif kepada orang lain. Berawal dari kebencian tersebut, seseorang akan lebih sering berpasangka buruk.

જ Kebencian Menimbulkan Prasangka Buruk

Seseorang semakin mudah berprasangka buruk saat membenci orang lain. Ndak peduli apapun yang dilakukan orang yang dibenci, seolah-olah itu salah di mata orang yang membenci. Ndak ada yang tahu isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri. Seringkali manusia terlalu yakin menilai orang lain dari apa yang dia lakukan, padahal baru sekali menyaksikannya. Belum tentu seseorang tahu bagaimana keseharian dan kebiasaannya sebelum itu. Mulailah sikapi pikiran-pikiran negatif itu dengan baik. Coba sadari situasi tertentu saat mulai muncul banyak pikiran negatif. Saat sudah sadar mulai banyak pikiran negatif yang muncul, kita bisa lebih mengontrol pemikiran kita. Mencegah diri untuk terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri.

જ Membenci Hanya Akan Menambah Luka

Jika kita membenci, sebenarnya itu hanya akan menambah luka setiap harinya. Sebab, setiap orang akan menyimpan beragam kejengkelan yang membuat hatinya ndak lepas dari emosi negatif. Seperti prasangka, perasaan dongkol, iri hati, nyinyir, dan semacamnya. Hal tersebut ndak baik untuk kondisi psikologis. Menolaknya juga hanya akan membuat kita terluka. Bukankah lebih baik jika berdamai dengan orang atau sesuatu yang kita benci?

જ Bukankah Lebih Baik Kita Berdamai dengan Orang yang Kita Benci?

Kita harus selesai dengan diri sendiri sebelum mengembangkan potensi yang kita dimiliki. Saat membenci orang lain, itu menunjukkan bahwa seseorang hanya bisa melihat kesalahan-kesalahannya ketimbang kebaikan-kebaikannya. Sebaiknya, cobalah melihat kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri kita sendiri dahulu. Agar kita juga sadar bahwa sebagai manusia biasa ndak bisa luput dari kesalahan. Oleh karena itu, berdamailah dengan orang yang kita benci. Jika seseorang meyakiti Anda, membuat hati Anda sakit, kesal, marah, cobalah melihat alasan di balik perlakuan mereka dan berlatih untuk berpikir positif. Lebih baik menengok ke dalam diri sendiri terlebih dahulu. Berbuat baik kepada orang yang kita benci dan berusaha sekuat tenaga untuk memaafkan, lalu mendoakan dia agar berubah. Memang, itu ndak mudah. Tapi, yakinlah itu bisa dilakukan.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Kalau dari sudut pandang orang Islam, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Muslim)
Misalnya seseorang kalau melihat saudaranya, diberikan pundak atau punggungnya, dia ndak mau menghadapkan wajahnya kepada saudaranya. Demikian pula saudaranya muslim yang lain, juga demikian. Ini termasuk hal-hal yang dilarang dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang berupaya untuk menjadikan kaum muslimin sebagai orang-orang yang benar-benar bersaudara, mereka saling mencintai karena Allah ﷻ, dan mereka juga saling membenci karena Allah ﷻ. Dalam arti kalaupun ada kebencian, maka kebencian itu karena Allah ﷻ. Kemudian kita melihat bagaimana komunitas para sahabat dahulu Radhiyallahu ‘Anhum dalam sebuah masyarakat kaum muslimin di Kota Madinah, bagaimana mereka memupuk dan membangun persaudaraan yang demikian kokoh dan indahnya di antara mereka. Ini satu hal yang memang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan RasulNya.

Dalil yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam bab ini adalah:
إنَّمَا المُؤْمِنُونَ إخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)
Dan persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan yang dibangun di atas iman kepada Allah ﷻ dan kepada RasulNya. Jadi kata إنَّمَا di sini untuk membatasi, artinya bahwa yang benar-benar bersaudara hanyalah orang-orang yang beriman. Iman telah mengikat mereka sehingga menjadi ikatan persaudaraan lebih dari ikatan rahim. Seorang bersaudara dengan saudara kandungnya, satu ayah, satu ibu, lahir dari rahim yang sama, ikatan ini ndak sama dengan ikatan rahim keimanan. Maka dari itu orang-orang yang beriman itu bersaudara tanpa mengenal tempat dan waktu. Tentu konsekuensi dari orang yang bersaudara adalah saling menghubungi, menyambung, mencintai, dan menziarahi satu dengan yang lainnya. Ini hakikat dari persaudaraan. Jika hal ini bisa kita wujudkan, apalagi yang menisbahkan aqidah dan manhaj mereka kepada para Salafush Shalih, maka sudah seyogyanya mereka yang pertama melaksanakan ayat ini. Namun, sangat disayangkan bahwa justru yang mengaku beraqidah Salaf itu ndak sedikit di antara mereka saling menjauhi, saling melupakan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Tapi memang setan berupaya untuk demikian. Semua itu dari setan dan mengikuti hawa, sehingga terkadang seorang ndak mau mengalah kepada saudaranya, ndak tahu akan dirinya dan statusnya. Ini yang semoga Allah ﷻ memperbaiki keadaan kita lahir dan batin.

Kemudian ayat kedua yang dibawakan oleh An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam bab ini adalah firman Allah ﷻ dalam Surah al-Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ…
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang keluar dari agamanya, maka pasti Allah akan datangkan suatu kaum yang mereka dicintai Allah dan mencintai Allah, mereka saling rendah hati di antara kaum mukminin, mereka mempunyai kehormatan di kalangan orang-orang kafir, mereka senantiasa berjuang di jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang-orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54)

Allah ﷻ sebutkan di sini, “Mereka rendah hati sesama kaum mukminin,” mereka ndak menyombongkan diri kepada sesama kaum mukminin, ndak merasa diri mereka lebih dari yang lainnya di antara kaum mukminin. Ini sifat mulia yang harus dimiliki oleh setiap muslim.


Video klip kedua ini ada "yang terdalam" milik Noah yang udah di cover. Untuk ilustrasinya itu ada eyang Ken Dedes melakukan rutinitas pagi, sebelum beraktifitas dia akan meditasi untuk menenangkan diri, menghirup udara pagi sebanyak - banyaknya. SettiaBlog....kamu jangan mulai ngacau! He...he.... ndak kok. Kalau Anda liat klipnya sampai akhir nanti Anda akan sedikit tersenyum. Lagunya sendiri c tentang ketulusan. Tulus itu tindakan atau perasaan benar-benar murni keluar dari hati yang suci tanpa kepura-puraan. Tindakan yang di dasari perasaan tulus tentu akan berdampak baik, kepada diri sendiri atau orang di sekitarnya. Ketegaran dan kebahagiaan lahir dari besarnya sebuah ketulusan.

Kebaikan menjadi pelipur segala kecemasan. Kebijaksanaan menjadi simbol ketegasan. Maka sungguh ketegaran dan kebahagiaan pun lahir dari besarnya sebuah ketulusan. Telah menceritakan Abu at-Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh, telah menceritakan Ibnu Wahab dari Usamah bahwa dia mendengar Abu Sa'id dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada ketulusan hati kalian” (HR Muslim).
Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya sikap tulus. Ketulusan adalah perangai indah yang hendaknya dimiliki oleh setiap insan. Dengan ketulusan itulah ia akan mendapatkan balasan menawan berupa kasih sayang Tuhan. Allah ﷻ berfirman, “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang tulus memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya” (QS an Nisa: 125).
Sedikitnya ada tiga hal bermakna yang dapat kita petik dari besarnya sebuah ketulusan.

Pertama, ketenangan. Hati menjadi pusat kendali pada diri. Dengan ketulusan yang ndak henti terpahat pada diri, hal tersebut akan senantiasa menjadi jembatan untuk selalu mengingat Sang Ilahi. Allah ﷻ berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28).

Kedua, jaminan diterimanya amal. Capaian terbesar ndak selalu tentang kedudukan yang tinggi dan banyaknya pujian. Capaian terbesar terletak pada beribu-ribu buih cinta yang disimbolkan pada setiap ketulusan dan pada saat itu pula Allah ﷻ ndak segan-segan untuk memberikan cinta-Nya secara kontan. Semua itu tersaji atas dasar kekuatan iman dan takwa yang senantiasa menjadi pelengkap perjalanan kehidupan. Dari Abu Umamah al-Bahili RA ia berkata bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah ﷺ menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa," lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Ia tidak mendapatkan apa-apa." Kemudian Beliau bersabda, "Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya (keridhaan-Nya)" (HR an Nasa’i).

Ketiga, pahala yang melimpah. Ketulusan menjadi pintu utama dalam menggapai limpahan pahala. Dengan ketulusan, kita akan senantiasa mendapatkan anugerah kebaikan dari-Nya. Dari Sa'ad bin Abu Waqash RA mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah (tulus mengharap ridha Allah) kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu" (HR Bukhari).
Ibarat lantunan melodi indah yang diperdengarkan. Ketulusan menjadi sumber ketenangan. Jalan istimewa untuk menggapai kebahagiaan. Tanpanya, kehidupan tampak ndak elegan. Lewat ketulusan, keridhaan-Nya pun didapatkan.

May 25, 2026

Jangan Menunggu Hebat Untuk Memulai, Mulailah Untuk Menjadi Hebat

 


Video klip di atas ada "Wish You Were Here" milik Avril Lavigne, kebetulan beberapa waktu lalu SettiaBlog denger ada yang memutarnya. Ya, ini di buat versi gitar. Ilustrasinya itu lirik lagunya yang SettiaBlog ambil dari Ytmusic. Terus di kasih hiasan bunga Peace Lily. Kalau di perhatikan saat sampai di tengah lagu, banyak petikan gitarnya kurang tepat temponya dengan lirik. He...he...., biasa kan itu. SettiaBlog setuju dengan ungkapan Ilona di klip terbarunya "not every piece has to be completed to be moving". Ketidaksempurnaan itu manusiawi kan ya. Proses itu sama indahnya dengan hasil kok. Makanya ndak usah takut untuk berkarya. Dan semua orang bisa jadi hebat. Ya, begitulah potensi yang Allah ﷻ tanamkan dalam diri manusia. Namun, ndak semua orang mampu menggali potensinya untuk menjadi hebat. Sebab, usaha untuk menjadi hebat itu ndak ringan. Butuh usaha dan kerja keras. Hebat ndak muncul tiba-tiba. Bangun tidur langsung jadi hebat, ndak mungkin. Kecuali di film-film, bisa aja seseorang diceritakan bangun dari tidurnya, tiba-tiba memiliki kekuatan super, lalu menjadi orang paling hebat ndak terkalahkan. Iya, semua orang tahu kalau itu hanya fiksi. Mustahil ada dalam dunia nyata.

Ndak ada yang namanya manusia super atau manusia lemah. Karena yang membedakan tingkat status di antara manusia adalah kerja keras. Jika ingin hebat, ya harus berusaha lebih banyak. Bekerja lebih keras. Berdoa lebih serius. Dan jangan pernah menunda untuk memulai. Kalau ada peluang untuk beramal maka segera lakukan. Jangan pernah beralasan dengan kata-kata, “Ah nanti ajalah.” Berbuatlah apa saja yang bisa kita cicil saat ini.

Buanglah segala pikiran negatif yang ada pada diri. Jangan banyak perhitungan untuk memulai. Jangan biarkan hasutan-hasutan pesimis yang dihembuskan setan: Jika aku lakukan ini bagaimana ya? Aku bisa ga ya? Sanggup ga ya nanti? Apa aku bisa berhasil? Ah, aku tidak cocok di pekerjaan ini. Ini bukan pekerjaanku, dan lain sebagainya. Nah, ketika pikiran-pikiran seperti ini muncul dalam benak kita dan kita mengikuti semua bisikan itu, maka kita selamanya ndak akan jadi hebat. Sebab, kita ndak pernah memulai. Jangan katakan ndak bisa sebelum memulai. Tapi, mulailah untuk menjadi bisa dan berhasil. Banyak orang yang sering ketakutan untuk mencoba hal baru. Setiap ada kesempatan, pikirannya selalu berkata-kata ndak bisa. Padahal belum pernah mencoba sekalipun. Akibatnya, banyak orang gagal duluan sebelum memulai. Terjatuh duluan sebelum mendaki. Bagaimana ndak? Mencoba saja belum, tapi sudah memikirkan resikonya yang enggak-enggak. Ndak ada orang yang bisa meramal masa depannya sendiri atau orang lain. Jadi, ndak perlu khawatir dengan sesuatu yang belum terjadi. Untuk menjadi hebat, yang diperlukan adalah mencoba dan berusaha sekuat tenaga, sepenuh hati dan jiwa. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa segala sesuatu ndak dapat dicapai dengan instan. Tokoh-tokoh hebat yang kita kenal saat ini adalah mereka yang ditempa dengan usaha keras, jatuh bangun berulang kali, gagal bertubi-tubi. Meski demikian mereka tetap bangkit, ndak pernah berputus asa untuk mencoba lagi. Sikap seperti inilah yang harus kita jiwai kalau memang kita ingin jadi hebat.

Mulailah sejak saat ini juga, pasti nanti kita akan bisa. Intinya, siap memulai untuk menjadi hebat. Siapapun itu, jika ada yang ingin menjadi penulis tapi belum bisa, maka mulailah untuk menulis, berlatihlah setiap hari, lakukan faktor-faktor pendukung bagaimana seseorang bisa menjadi penulis hebat. Demikian juga jika ada yang suka dengan publik speaking (pidato atau ceramah) maka mulailah mengasah kecakapan berpidato saat ini juga. Begitu pula dengan aktivitas-aktivitas lainnya, jika belum bisa memasak maka mulailah untuk memasak, jika belum bisa mengajar maka mulailah untuk mengajar. Dengan berjalannya waktu dan proses, semua harapan itu, insyaAllah pasti akan terwujud. Seorang murud pun juga demikian, pada saat awal menginjakkan kakinya di lingkungan sekolah, ia ndak serta merta langsung memahami semua bidang ilmu. Namun, butuh waktu dan proses belajar. Dan ia juga harus memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal baru. Ndak ada yang langsung pintar. Ndak ada yang tiba-tiba langsung hebat. Jadi, mulailah untuk menjadi hebat maka Anda akan hebat.

Banyak orang menunda langkah pertama karena merasa belum cukup siap, belum cukup ahli, atau belum memiliki kondisi ideal. Padahal, menunggu menjadi sempurna justru membuat kesempatan berlalu begitu saja.

Kesempurnaan adalah ilusi

Ndak ada momen yang benar-benar “tepat” untuk memulai. Selalu ada kekurangan, keraguan, dan hal yang belum kita ketahui. Jika menunggu hingga semuanya sempurna, kita mungkin ndak akan pernah bergerak. Justru dengan memulai, kita menemukan apa yang perlu diperbaiki dan belajar sepanjang jalan.

Progres kecil lebih penting daripada rencana besar

Orang sering sibuk merancang rencana sempurna hingga lupa mengambil tindakan. Padahal, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten lebih efektif daripada rencana besar yang ndak pernah dijalankan. Setiap aksi, sekecil apa pun, membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar

Takut gagal adalah alasan umum orang menunda. Namun, kesalahan bukanlah kegagalan. Ndak ada orang hebat yang sukses tanpa belajar dari kekeliruan. Semakin cepat memulai, semakin cepat pula kita menemukan apa yang perlu diperbaiki.

Mulai dengan apa yang ada

Anda ndak perlu alat terbaik, kemampuan paling tinggi, atau kondisi paling ideal. Gunakan apa yang ada sekarang—waktu, pengetahuan, dan energi yang Anda punya. Kemampuan berkembang seiring perjalanan, bukan sebelum perjalanan dimulai. Menunggu menjadi sempurna hanya akan membuat impian terhenti di kepala. Keberanian untuk mengambil langkah awal, meski kecil dan ndak sempurna, jauh lebih bernilai. Mulailah hari ini, karena kemajuan hanya datang pada mereka yang berani bergerak.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog mengkombinasikan warna Almond, Raspberry, Ivory, Apricot, Nude dan Army green dengan pemanis kelopak bunga atau petals.


Video klip kedua ada "Supergirl". Ilustrasinya itu terinspirasi dari wajah Ken Dedes. SettiaBlog kamu jangan ngawur! Beneran kok. Kan Ken Dedes lahir di Jawa, jadi wajahnya memiliki keanggunan dan kecantikan khas orang Jawa. Kalau gambar di bahasan sebelumnya itu kan gambarnya Bella Hadid, itu lho super model yang berdarah Palestina dan Belanda ya wajar kalau hidungnya mancung dan tubuhnya tinggi. Sedikit cerita Ken Dedes ya. Kalau di daerah asalnya, Kelurahan Polowijen dan sekitar banyak cerita mengenai Ken Dedes dan Ken Arok. Karena perbedaan kasta, Ken Dedes kan memiliki kasta tinggi keturunan brahmana. Sementara Ken Arok dari rakyat biasa tentu memiliki kasta yang lebih rendah. Awalnya mereka ndak boleh bersama karena beda kasta. Ya kayak di drama - drama China, Korea itu lho. He...he.... Tapi takdir berkata lain, setelah banyak tragedi dan intrik mereka malah jadi suami istri. Bahkan Ken Arok yang dulunya rakyat biasa dari kasta rendah malah bisa naik jadi Raja. Bahkan sampai menurunkan Raja - Raja besar. Ya emang takdir seseorang itu ndak bisa di tebak.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul pertanyaan yang menggugah pemikiran: Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah ﷻ, lalu mengapa kita masih perlu berdoa? Apakah doa dapat mengubah takdir, ataukah manusia hanya pasrah menerima ketetapan-Nya? Pertanyaan ini bukan hanya sebatas renungan teologis, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana manusia memahami peran dirinya dalam skema besar kehidupan. Islam mengajarkan bahwa takdir (qada dan qadar) adalah ketetapan Allah ﷻ yang mencakup segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Pembagian takdir menjadi Takdir Mubram dan Takdir Mu’allaq merupakan konsep yang berasal dari pemahaman ulama berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis.

Takdir Mubram adalah ketetapan Allah ﷻ yang pasti terjadi dan ndak bisa diubah oleh manusia, seperti kelahiran, kematian, serta peristiwa besar yang telah ditentukan sejak awal penciptaan.
“Setiap umat mempunyai ajal; apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama, lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama, kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh ke dalamnya, dan diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (HR. Bukhari, no. 3208; Muslim, no. 2643)

Takdir Mu’allaq adalah ketetapan Allah ﷻ yang masih dapat berubah berdasarkan usaha dan doa manusia.
“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada yang bisa menolak takdir selain doa, dan tidak ada yang bisa memperpanjang umur kecuali kebaikan (silaturahmi).” (HR. Tirmidzi, no. 2139; dinilai hasan oleh Al-Albani).
Hadis ini menunjukkan bahwa doa dapat mengubah takdir yang sebelumnya mungkin akan terjadi, sesuai dengan kehendak Allah ﷻ.

Doa merupakan bagian integral dalam kehidupan seorang Muslim. Allah ﷻ sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa:
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60)
Hadis Rasulullah ﷺ juga me­negaskan bahwa doa dapat me­ngubah takdir:
“Tidak ada yang bisa menolak takdir selain doa.” (HR. Tirmidzi, no. 2139)

Dari sini, terlihat bahwa takdir bukanlah sesuatu yang kaku dan absolut dalam setiap aspek kehidupan. Sebaliknya, ada bagian dari takdir yang masih bisa berubah dengan izin Allah ﷻ melalui doa dan usaha. Namun ndak semua doa dikabulkan dalam bentuk yang kita inginkan, tetapi doa ndak pernah sia-sia. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) dikabulkan sesuai permintaan, (2) ditunda sebagai simpanan pahala di akhirat, atau (3) diganti dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad, no. 11133)

Secara logis, jika takdir bersifat mutlak tanpa peluang perubahan, maka usaha manusia ndak memiliki arti. Namun, realitas menunjukkan bahwa kerja keras, keputusan yang bijak, dan ketekunan bisa mengubah hidup seseorang. Jika manusia hanya pasrah tanpa doa dan usaha, maka itu bertentangan dengan konsep keadilan Allah ﷻ yang memberikan kebebasan bagi manusia untuk berusaha. Takdir bukan alasan untuk menyerah, tetapi sebagai pengingat bahwa manusia memiliki ruang untuk berusaha. Salah satu hikmah terbesar dari doa adalah mempererat hubungan antara manusia dan Allah ﷻ. Allah ﷻ ingin hamba-Nya senantiasa bergantung kepada-Nya, bukan hanya dalam kondisi sulit, tetapi juga dalam kesejahteraan. Doa juga merupakan ujian keimanan. Allah ﷻ mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, tetapi Allah ﷻ ingin melihat bagaimana manusia bersikap dalam menghadapi ujian hidup. Dalam banyak kasus, doa ndak hanya mengubah keadaan, tetapi juga mengubah diri kita. Ketika seseorang berdoa dengan tulus, hatinya menjadi lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan Allah ﷻ. Ini adalah dampak spiritual yang ndak bisa diukur hanya dengan logika duniawi.

Kehidupan manusia berada dalam ketetapan Allah ﷻ, tetapi manusia diberikan ruang untuk berusaha dan berdoa. Takdir ndak berarti keterpaksaan, tetapi sebuah skenario yang memungkinkan perubahan melalui ikhtiar dan permohonan kepada-Nya. Oleh karena itu, doa bukan hanya alat untuk mengubah keadaan, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dan menunjukkan ketergantungan manusia kepada-Nya. Sebagai refleksi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita telah menjalankan peran kita dalam kehidupan ini dengan berdoa dan berusaha secara maksimal? Jika belum, mungkin saatnya kita memperkuat keyakinan bahwa doa bukan sekadar ritual, tetapi jalan menuju perubahan dan keberkahan dalam hidup. Takdir memang di tangan Allah ﷻ, tetapi doa dan usaha adalah bagian dari perjalanan hidup kita sebagai seorang hamba -Nya.