Video klip di atas ada "Lihat Dengar Rasakan" milik Sheila On 7. Kalau backgroundnya SettiaBlog gunakan buah Parijoto, tanaman endemik gunung Muria. Buah ini biasa di gunakan untuk meningkatkan kesuburan pria atau wanita. Kata Parijoto di ambil dari tembang Jawa Sinom Parijoto yang di gunakan oleh Sunan Muria dan Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam, secara filosofis mengajak pada pengendalian nafsu.
Dunia bisnis seringkali digambarkan sebagai arena persaingan yang dinamis, penuh peluang sekaligus tantangan. Di tengah pusaran motif ekonomi yang ndak terbatas, terselip sebuah kekuatan laten yang dapat mengarahkan kesuksesan atau justru menjerumuskan pebisnis ke jurang kegagalan: hawa nafsu. Keserakahan, keinginan untuk meraih keuntungan instan, atau sekadar memanjakan diri tanpa batas, adalah beberapa manifestasi hawa nafsu yang kerap menghantui para pelaku usaha. Namun, bagi seorang Muslim, bisnis bukan sekadar mengejar laba, melainkan ibadah yang harus dijalankan sesuai ajaran agama. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan hawa nafsu dalam berbisnis menjadi kunci krusial untuk menjaga integritas dan merengkuh keberkahan.
Hawa nafsu, secara umum, merujuk pada dorongan atau keinginan kuat dalam diri manusia untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, atau material. Dalam konteks bisnis, hawa nafsu ini acapkali termanifestasi dalam bentuk keserakahan (greed), keinginan untuk selalu berkuasa, atau kebutuhan untuk diakui secara berlebihan. Smith dan Jones dalam penelitiannya di Harvard Business School, “The Dark Side of Entrepreneurship: How Greed Can Lead to Unethical Behavior,” menjelaskan bagaimana dorongan kuat untuk keuntungan dapat mengikis prinsip-prinsip etika dalam pengambilan keputusan bisnis. Dampak negatif dari hawa nafsu yang ndak terkendali dalam bisnis sangatlah luas. Bagi diri pebisnis, ia dapat menyebabkan stres kronis, hilangnya ketenangan jiwa, bahkan terjerumus pada praktik-praktik yang merusak moral. Bisnis yang dijalankan atas dasar hawa nafsu cenderung mengabaikan kualitas produk, melakukan kecurangan dalam transaksi, atau mengeksploitasi pekerja dan konsumen. Konsekuensinya, reputasi bisnis akan hancur, kepercayaan pelanggan hilang, dan pada akhirnya, keberkahan akan menjauh.
Dalam perspektif Etika Bisnis Islami, hawa nafsu yang berlebihan dipandang sebagai musuh utama yang harus diperangi. Islam mengajarkan pentingnya Moralitas Pebisnis Muslim yang didasarkan pada nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan amanah. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (dari) kenikmatan dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini menegaskan perlunya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, serta larangan untuk berbuat kerusakan, termasuk dalam aktivitas bisnis.
Di sinilah peran Manajemen Diri Pebisnis menjadi sangat vital. Manajemen diri bukan sekadar tentang mengatur jadwal atau tugas, melainkan tentang kemampuan mengendalikan pikiran, emosi, dan tindakan agar selaras dengan tujuan yang positif dan bernilai lurus. Ia berfungsi sebagai kompas internal yang mengarahkan motivasi agar ndak tersesat oleh godaan hawa nafsu. Kontrol diri yang kuat adalah fondasi utama dalam Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Dalam Berbisnis. Tanpa kontrol diri, pebisnis akan mudah tergelincir pada godaan untuk mengambil jalan pintas yang tidak etis demi keuntungan sesaat. Sebaliknya, dengan manajemen diri yang baik, seorang pebisnis mampu menunda kepuasan instan demi tujuan jangka panjang yang lebih mulia dan berkah.
Bisnis yang dijalankan dengan integritas, kejujuran, dan etika yang baik, meskipun mungkin ndak menghasilkan keuntungan masif dalam waktu singkat, akan tumbuh dengan kokoh dan membawa keberkahan yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat.
Integritas dalam Bisnis adalah komitmen teguh untuk selalu bertindak jujur, adil, dan konsisten dalam perkataan maupun perbuatan, meskipun dalam situasi sulit atau ketika ndak ada yang mengawasi. Konsep ini berlawanan langsung dengan dorongan hawa nafsu yang seringkali mendorong seseorang untuk berbohong demi keuntungan atau menghindari kerugian. Pentingnya kejujuran, transparansi, dan amanah dalam setiap transaksi bisnis ndak bisa ditawar. Kejujuran dalam menawarkan produk, transparansi dalam setiap detail kesepakatan, dan amanah dalam menjalankan janji adalah pilar yang membangun fondasi bisnis yang kokoh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Satu dinar yang kamu belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya ialah dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa usaha mencari nafkah untuk keluarga pun memiliki nilai ibadah jika dijalankan dengan cara yang benar dan jujur.
Bagaimana Integritas dalam Bisnis membangun kepercayaan pelanggan dan mitra? Bayangkan sebuah bisnis yang selalu memberikan informasi produk yang akurat, ndak pernah menipu dalam harga, dan selalu menepati janji pengiriman. Pelanggan akan merasa aman, nyaman, dan loyal. Mitra bisnis akan merasa yakin untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Kepercayaan ini adalah aset ndak ternilai yang sulit dibeli dengan uang, namun mudah hancur oleh tindakan yang ndak berintegritas.
Menerapkan Strategi Bisnis Jujur bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam setiap lini operasional. Dalam pemasaran, ini berarti ndak menggunakan klaim yang menyesatkan atau melebih-lebihkan manfaat produk. Dalam penjualan, kejujuran harga dan transparansi prosedur menjadi keharusan. Dalam pelayanan, empati dan solusi terbaik bagi pelanggan harus diutamakan, bukan sekadar mengejar keuntungan maksimal. Mengutamakan kualitas produk atau jasa di atas keuntungan sesaat adalah inti dari strategi ini. Memang menggoda untuk menggunakan bahan baku yang lebih murah demi menekan biaya, atau mengurangi fitur demi mempercepat produksi. Namun, tindakan ini akan menggerogoti kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang. Bisnis yang dibangun atas dasar penipuan, sekecil apapun itu, berisiko besar untuk runtuh.
Warren Buffett pernah berkata, “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.” (Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya. Jika Anda memikirkan hal itu, Anda akan melakukan hal-hal secara berbeda.)
Keberkahan dalam Usaha adalah anugerah ilahi yang membuat harta, waktu, dan usaha kita menjadi bernilai lebih, mendatangkan kebaikan yang meluas, dan membawa ketenangan hati. Keberkahan bukanlah semata-mata jumlah profit yang besar, melainkan kualitas kebaikan yang hadir dari usaha tersebut. Keberkahan bisa berupa waktu yang terasa cukup, rezeki yang mendatangkan ketenangan, atau kesuksesan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Ketika setiap aspek bisnis dijalankan sesuai dengan petunjuk Allah ﷻ dan Rasul-Nya, mulai dari mencari modal, produksi, pemasaran, hingga distribusi, maka insya Allah, usaha tersebut akan dilimpahi keberkahan. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa segala sesuatu yang dilakukan karena Allah ﷻ akan mendapatkan balasan dari-Nya.
Etika Bisnis Islami menjadi panduan utama untuk meraih Keberkahan dalam Usaha. Etika ini mencakup larangan terhadap praktik-praktik yang merugikan, seperti riba, penipuan, monopoli yang merusak, serta anjuran untuk bersikap adil, jujur, dan murah hati. Dengan mengamalkan etika ini, pebisnis ndak hanya menjalankan usaha secara profesional, tetapi juga ibadah yang mendatangkan ridha Allah ﷻ.
Salah satu bentuk Cara Menjaga Hawa Nafsu yang paling ditekankan dalam Islam adalah dengan Menghindari Riba dalam Bisnis. Riba, dalam berbagai bentuknya, adalah praktik penambahan nilai pada pinjaman atau utang yang berlandaskan waktu, bukan pada produktivitas riil. Tujuannya adalah mendapatkan keuntungan tanpa adanya usaha riil yang proporsional, yang seringkali memiskinkan pihak lain. Dampak negatif riba terhadap keberkahan usaha sangatlah besar. Al-Qur’an secara tegas menyatakan perang terhadap praktik riba: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu adalah pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya larangan riba.
Implementasi Kiat Sukses Bisnis Berkah akan semakin nyata ketika pebisnis secara konsisten mempraktikkan bisnis yang adil, menghindari riba, dan menjauhkan diri dari segala bentuk ketidakadilan. Hal ini akan membentuk mentalitas yang ndak hanya mengejar keuntungan duniawi, tetapi juga mendambakan kebaikan abadi di akhirat.
Langkah fundamental dalam mengendalikan hawa nafsu adalah dengan membangun niat yang lurus dan berorientasi akhirat. Koreksi niat berbisnis secara berkala. Apakah tujuan utama Anda hanya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, atau ada niat yang lebih luhur, seperti untuk menjalankan perintah agama, menafkahi keluarga dengan cara halal, membantu sesama, dan menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat? Niat yang murni, yang berorientasi pada pencarian ridha Allah ﷻ, adalah benteng terkuat terhadap dorongan hawa nafsu. Ketika hati dan pikiran tertuju pada tujuan akhirat, godaan duniawi yang semu akan terasa semakin kecil pengaruhnya. Seperti yang diajarkan oleh para ulama, termasuk Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab-kitabnya mengenai fiqih muamalah, niat adalah kunci utama diterimanya suatu amal.
Kekuatan mental dan spiritual menjadi jangkar penting dalam mengendalikan diri. Memperkuat akidah dan ketaatan beragama melalui ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur’an akan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya, semakin kuat imunitas spiritualnya terhadap godaan hawa nafsu. Konsep Muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah ﷻ selalu mengawasi setiap gerak-gerik kita, adalah kontrol diri yang paling efektif. Ketika kita selalu merasa diawasi oleh Sang Pencipta, kita akan lebih berhati-hati dalam setiap tindakan, termasuk dalam bisnis.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku. Oleh karena itu, penting untuk membangun lingkungan bisnis yang kondusif. Pilihlah rekan kerja dan mitra bisnis yang memiliki Moralitas Pebisnis Muslim yang baik, yang sama-sama memiliki visi untuk menjalankan bisnis secara etis dan berkah. Hindari bergaul atau bekerja sama dengan orang-orang yang gemar melakukan kecurangan atau ndak menjaga amanah. Memanfaatkan komunitas atau majelis ilmu untuk saling mengingatkan dan belajar juga sangat bermanfaat. Dalam komunitas yang positif, kita akan mendapatkan dukungan moral dan ilmu yang membantu kita tetap teguh di jalan yang benar.
Manajemen Diri Pebisnis juga mencakup kemampuan untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri secara rutin. Luangkan waktu untuk meninjau kembali setiap keputusan dan tindakan bisnis yang telah diambil. Apakah sudah sesuai dengan prinsip-prinsip agama? Apakah ada potensi pelanggaran yang terlewat? Menggunakan prinsip akuntabilitas dalam setiap keputusan bisnis juga sangat penting. Artinya, kita siap bertanggung jawab atas setiap konsekuensi dari pilihan yang kita ambil, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah bentuk disiplin diri yang kuat dalam menjaga integritas.
Salah satu wujud nyata Cara Menjaga Hawa Nafsu adalah melalui disiplin diri dalam pengeluaran dan investasi. Hindari gaya hidup mewah yang ndak sesuai dengan pendapatan riil. Tunda pembelian barang-barang yang ndak perlu. Lakukan investasi dengan hati-hati dan terukur. Belajar bersyukur dan merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki yang diberikan Allah ﷻ juga merupakan teknik ampuh. Keserakahan seringkali muncul karena rasa ndak pernah cukup. Dengan rasa syukur, kita akan lebih menghargai apa yang sudah dimiliki dan ndak terdorong untuk mengambil jalan pintas demi mendapatkan lebih banyak. Ini adalah implementasi dari Kiat Sukses Bisnis Berkah yang hakiki.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya dan ndak usah di tanggapi serius omongan SettiaBlog. Tahu sendiri kan ya SettiaBlog sering agak ngacau omongannya, mohon di maklumi ya ...he...he...
Yang pasti, mengendalikan hawa nafsu dalam berbisnis bukanlah tugas yang mudah, namun merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kesuksesan sejati. Dengan menjaga Integritas dalam Bisnis, pebisnis ndak hanya membangun reputasi yang kokoh, tetapi juga membangun hubungan yang harmonis dengan pelanggan, mitra, dan yang terpenting, dengan Sang Pencipta.
Dunia bisnis seringkali digambarkan sebagai arena persaingan yang dinamis, penuh peluang sekaligus tantangan. Di tengah pusaran motif ekonomi yang ndak terbatas, terselip sebuah kekuatan laten yang dapat mengarahkan kesuksesan atau justru menjerumuskan pebisnis ke jurang kegagalan: hawa nafsu. Keserakahan, keinginan untuk meraih keuntungan instan, atau sekadar memanjakan diri tanpa batas, adalah beberapa manifestasi hawa nafsu yang kerap menghantui para pelaku usaha. Namun, bagi seorang Muslim, bisnis bukan sekadar mengejar laba, melainkan ibadah yang harus dijalankan sesuai ajaran agama. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan hawa nafsu dalam berbisnis menjadi kunci krusial untuk menjaga integritas dan merengkuh keberkahan.
Hawa nafsu, secara umum, merujuk pada dorongan atau keinginan kuat dalam diri manusia untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, atau material. Dalam konteks bisnis, hawa nafsu ini acapkali termanifestasi dalam bentuk keserakahan (greed), keinginan untuk selalu berkuasa, atau kebutuhan untuk diakui secara berlebihan. Smith dan Jones dalam penelitiannya di Harvard Business School, “The Dark Side of Entrepreneurship: How Greed Can Lead to Unethical Behavior,” menjelaskan bagaimana dorongan kuat untuk keuntungan dapat mengikis prinsip-prinsip etika dalam pengambilan keputusan bisnis. Dampak negatif dari hawa nafsu yang ndak terkendali dalam bisnis sangatlah luas. Bagi diri pebisnis, ia dapat menyebabkan stres kronis, hilangnya ketenangan jiwa, bahkan terjerumus pada praktik-praktik yang merusak moral. Bisnis yang dijalankan atas dasar hawa nafsu cenderung mengabaikan kualitas produk, melakukan kecurangan dalam transaksi, atau mengeksploitasi pekerja dan konsumen. Konsekuensinya, reputasi bisnis akan hancur, kepercayaan pelanggan hilang, dan pada akhirnya, keberkahan akan menjauh.
Dalam perspektif Etika Bisnis Islami, hawa nafsu yang berlebihan dipandang sebagai musuh utama yang harus diperangi. Islam mengajarkan pentingnya Moralitas Pebisnis Muslim yang didasarkan pada nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan amanah. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (dari) kenikmatan dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini menegaskan perlunya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, serta larangan untuk berbuat kerusakan, termasuk dalam aktivitas bisnis.
Di sinilah peran Manajemen Diri Pebisnis menjadi sangat vital. Manajemen diri bukan sekadar tentang mengatur jadwal atau tugas, melainkan tentang kemampuan mengendalikan pikiran, emosi, dan tindakan agar selaras dengan tujuan yang positif dan bernilai lurus. Ia berfungsi sebagai kompas internal yang mengarahkan motivasi agar ndak tersesat oleh godaan hawa nafsu. Kontrol diri yang kuat adalah fondasi utama dalam Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Dalam Berbisnis. Tanpa kontrol diri, pebisnis akan mudah tergelincir pada godaan untuk mengambil jalan pintas yang tidak etis demi keuntungan sesaat. Sebaliknya, dengan manajemen diri yang baik, seorang pebisnis mampu menunda kepuasan instan demi tujuan jangka panjang yang lebih mulia dan berkah.
Bisnis yang dijalankan dengan integritas, kejujuran, dan etika yang baik, meskipun mungkin ndak menghasilkan keuntungan masif dalam waktu singkat, akan tumbuh dengan kokoh dan membawa keberkahan yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat.
Integritas dalam Bisnis adalah komitmen teguh untuk selalu bertindak jujur, adil, dan konsisten dalam perkataan maupun perbuatan, meskipun dalam situasi sulit atau ketika ndak ada yang mengawasi. Konsep ini berlawanan langsung dengan dorongan hawa nafsu yang seringkali mendorong seseorang untuk berbohong demi keuntungan atau menghindari kerugian. Pentingnya kejujuran, transparansi, dan amanah dalam setiap transaksi bisnis ndak bisa ditawar. Kejujuran dalam menawarkan produk, transparansi dalam setiap detail kesepakatan, dan amanah dalam menjalankan janji adalah pilar yang membangun fondasi bisnis yang kokoh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Satu dinar yang kamu belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya ialah dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa usaha mencari nafkah untuk keluarga pun memiliki nilai ibadah jika dijalankan dengan cara yang benar dan jujur.
Bagaimana Integritas dalam Bisnis membangun kepercayaan pelanggan dan mitra? Bayangkan sebuah bisnis yang selalu memberikan informasi produk yang akurat, ndak pernah menipu dalam harga, dan selalu menepati janji pengiriman. Pelanggan akan merasa aman, nyaman, dan loyal. Mitra bisnis akan merasa yakin untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Kepercayaan ini adalah aset ndak ternilai yang sulit dibeli dengan uang, namun mudah hancur oleh tindakan yang ndak berintegritas.
Menerapkan Strategi Bisnis Jujur bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam setiap lini operasional. Dalam pemasaran, ini berarti ndak menggunakan klaim yang menyesatkan atau melebih-lebihkan manfaat produk. Dalam penjualan, kejujuran harga dan transparansi prosedur menjadi keharusan. Dalam pelayanan, empati dan solusi terbaik bagi pelanggan harus diutamakan, bukan sekadar mengejar keuntungan maksimal. Mengutamakan kualitas produk atau jasa di atas keuntungan sesaat adalah inti dari strategi ini. Memang menggoda untuk menggunakan bahan baku yang lebih murah demi menekan biaya, atau mengurangi fitur demi mempercepat produksi. Namun, tindakan ini akan menggerogoti kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang. Bisnis yang dibangun atas dasar penipuan, sekecil apapun itu, berisiko besar untuk runtuh.
Warren Buffett pernah berkata, “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.” (Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya. Jika Anda memikirkan hal itu, Anda akan melakukan hal-hal secara berbeda.)
Keberkahan dalam Usaha adalah anugerah ilahi yang membuat harta, waktu, dan usaha kita menjadi bernilai lebih, mendatangkan kebaikan yang meluas, dan membawa ketenangan hati. Keberkahan bukanlah semata-mata jumlah profit yang besar, melainkan kualitas kebaikan yang hadir dari usaha tersebut. Keberkahan bisa berupa waktu yang terasa cukup, rezeki yang mendatangkan ketenangan, atau kesuksesan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Ketika setiap aspek bisnis dijalankan sesuai dengan petunjuk Allah ﷻ dan Rasul-Nya, mulai dari mencari modal, produksi, pemasaran, hingga distribusi, maka insya Allah, usaha tersebut akan dilimpahi keberkahan. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa segala sesuatu yang dilakukan karena Allah ﷻ akan mendapatkan balasan dari-Nya.
Etika Bisnis Islami menjadi panduan utama untuk meraih Keberkahan dalam Usaha. Etika ini mencakup larangan terhadap praktik-praktik yang merugikan, seperti riba, penipuan, monopoli yang merusak, serta anjuran untuk bersikap adil, jujur, dan murah hati. Dengan mengamalkan etika ini, pebisnis ndak hanya menjalankan usaha secara profesional, tetapi juga ibadah yang mendatangkan ridha Allah ﷻ.
Salah satu bentuk Cara Menjaga Hawa Nafsu yang paling ditekankan dalam Islam adalah dengan Menghindari Riba dalam Bisnis. Riba, dalam berbagai bentuknya, adalah praktik penambahan nilai pada pinjaman atau utang yang berlandaskan waktu, bukan pada produktivitas riil. Tujuannya adalah mendapatkan keuntungan tanpa adanya usaha riil yang proporsional, yang seringkali memiskinkan pihak lain. Dampak negatif riba terhadap keberkahan usaha sangatlah besar. Al-Qur’an secara tegas menyatakan perang terhadap praktik riba: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu adalah pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya larangan riba.
Implementasi Kiat Sukses Bisnis Berkah akan semakin nyata ketika pebisnis secara konsisten mempraktikkan bisnis yang adil, menghindari riba, dan menjauhkan diri dari segala bentuk ketidakadilan. Hal ini akan membentuk mentalitas yang ndak hanya mengejar keuntungan duniawi, tetapi juga mendambakan kebaikan abadi di akhirat.
Langkah fundamental dalam mengendalikan hawa nafsu adalah dengan membangun niat yang lurus dan berorientasi akhirat. Koreksi niat berbisnis secara berkala. Apakah tujuan utama Anda hanya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, atau ada niat yang lebih luhur, seperti untuk menjalankan perintah agama, menafkahi keluarga dengan cara halal, membantu sesama, dan menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat? Niat yang murni, yang berorientasi pada pencarian ridha Allah ﷻ, adalah benteng terkuat terhadap dorongan hawa nafsu. Ketika hati dan pikiran tertuju pada tujuan akhirat, godaan duniawi yang semu akan terasa semakin kecil pengaruhnya. Seperti yang diajarkan oleh para ulama, termasuk Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab-kitabnya mengenai fiqih muamalah, niat adalah kunci utama diterimanya suatu amal.
Kekuatan mental dan spiritual menjadi jangkar penting dalam mengendalikan diri. Memperkuat akidah dan ketaatan beragama melalui ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur’an akan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya, semakin kuat imunitas spiritualnya terhadap godaan hawa nafsu. Konsep Muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah ﷻ selalu mengawasi setiap gerak-gerik kita, adalah kontrol diri yang paling efektif. Ketika kita selalu merasa diawasi oleh Sang Pencipta, kita akan lebih berhati-hati dalam setiap tindakan, termasuk dalam bisnis.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku. Oleh karena itu, penting untuk membangun lingkungan bisnis yang kondusif. Pilihlah rekan kerja dan mitra bisnis yang memiliki Moralitas Pebisnis Muslim yang baik, yang sama-sama memiliki visi untuk menjalankan bisnis secara etis dan berkah. Hindari bergaul atau bekerja sama dengan orang-orang yang gemar melakukan kecurangan atau ndak menjaga amanah. Memanfaatkan komunitas atau majelis ilmu untuk saling mengingatkan dan belajar juga sangat bermanfaat. Dalam komunitas yang positif, kita akan mendapatkan dukungan moral dan ilmu yang membantu kita tetap teguh di jalan yang benar.
Manajemen Diri Pebisnis juga mencakup kemampuan untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri secara rutin. Luangkan waktu untuk meninjau kembali setiap keputusan dan tindakan bisnis yang telah diambil. Apakah sudah sesuai dengan prinsip-prinsip agama? Apakah ada potensi pelanggaran yang terlewat? Menggunakan prinsip akuntabilitas dalam setiap keputusan bisnis juga sangat penting. Artinya, kita siap bertanggung jawab atas setiap konsekuensi dari pilihan yang kita ambil, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah bentuk disiplin diri yang kuat dalam menjaga integritas.
Salah satu wujud nyata Cara Menjaga Hawa Nafsu adalah melalui disiplin diri dalam pengeluaran dan investasi. Hindari gaya hidup mewah yang ndak sesuai dengan pendapatan riil. Tunda pembelian barang-barang yang ndak perlu. Lakukan investasi dengan hati-hati dan terukur. Belajar bersyukur dan merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki yang diberikan Allah ﷻ juga merupakan teknik ampuh. Keserakahan seringkali muncul karena rasa ndak pernah cukup. Dengan rasa syukur, kita akan lebih menghargai apa yang sudah dimiliki dan ndak terdorong untuk mengambil jalan pintas demi mendapatkan lebih banyak. Ini adalah implementasi dari Kiat Sukses Bisnis Berkah yang hakiki.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya dan ndak usah di tanggapi serius omongan SettiaBlog. Tahu sendiri kan ya SettiaBlog sering agak ngacau omongannya, mohon di maklumi ya ...he...he...
Yang pasti, mengendalikan hawa nafsu dalam berbisnis bukanlah tugas yang mudah, namun merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kesuksesan sejati. Dengan menjaga Integritas dalam Bisnis, pebisnis ndak hanya membangun reputasi yang kokoh, tetapi juga membangun hubungan yang harmonis dengan pelanggan, mitra, dan yang terpenting, dengan Sang Pencipta.
Video klip kedua SettiaBlog kasih "sedia aku sebelum hujan". Gimana ya mengartikan makna dari lagu tersebut.
Kalau SettiaBlog pribadi c memaknainya, dalam kehidupan ini kita harus berhati - hati dan berpikir matang sebelum bertindak. Dalam khazanah pemikiran Jawa, banyak petuah lahir bukan dari ruang akademik, melainkan dari pengalaman kepemimpinan dan pengamatan mendalam terhadap perilaku manusia. Salah satu peringatan yang relevan hingga hari ini datang dari Sultan Hamengkubuwana VIII, penguasa Kesultanan Yogyakarta pada awal abad ke-20. Ia menegaskan bahwa seseorang yang terlalu lama tenggelam dalam kenikmatan hidup cenderung kehilangan kewaspadaan. Pesan ini bukan sekadar kritik terhadap kemewahan, melainkan refleksi tentang bagaimana rasa aman dan nyaman yang berlebihan dapat melemahkan daya waspada manusia.
Secara psikologis, kondisi ini dikenal sebagai comfort trap atau jebakan kenyamanan. Penelitian dalam Journal of Behavioral Decision Making menunjukkan bahwa individu yang berada dalam situasi stabil dan menyenangkan dalam jangka panjang cenderung menurunkan tingkat kehati-hatian, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam membaca risiko. Otak manusia dirancang untuk beradaptasi dengan lingkungan, sehingga ketika ancaman jarang muncul, sistem kewaspadaan ikut menurun. Hal inilah yang sering membuat seseorang lengah justru saat merasa paling aman.
Dalam konteks sosial dan kepemimpinan, fenomena ini memiliki dampak yang lebih luas. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kejatuhan besar, baik individu, organisasi, maupun peradaban, bermula dari fase kejayaan. Sejarawan Arnold J. Toynbee dalam A Study of History mencatat bahwa kemunduran peradaban sering kali diawali oleh hilangnya kepekaan terhadap perubahan karena terlena oleh keberhasilan masa lalu. Kenikmatan yang ndak diimbangi refleksi dan disiplin justru menumpulkan insting bertahan hidup.
Budaya Jawa sendiri sangat menekankan konsep eling lan waspada, yakni kesadaran diri dan kewaspadaan batin dalam setiap kondisi. Nilai ini mengajarkan bahwa kenikmatan hidup bukan untuk ditolak, tetapi harus disertai pengendalian diri. Sultan Hamengkubuwana VIII dikenal sebagai pemimpin yang hidup di persimpangan tradisi dan modernitas, sehingga peringatannya mencerminkan kegelisahan terhadap manusia yang lupa menjaga keseimbangan antara rasa syukur dan kehati-hatian. Dalam pandangan ini, nikmat tanpa kewaspadaan bukanlah anugerah, melainkan potensi bahaya.
Pada akhirnya, pesan tersebut relevan bagi kehidupan modern yang serba instan dan nyaman. Kemajuan teknologi, kemudahan akses, dan stabilitas semu sering kali membuat manusia lalai membaca tanda-tanda risiko di sekitarnya. Menikmati hidup adalah hal wajar, namun mempertahankan kewaspadaan adalah bentuk kedewasaan. Kesadaran inilah yang membedakan antara mereka yang sekadar menikmati hidup dan mereka yang mampu menjaganya tetap utuh.
Secara psikologis, kondisi ini dikenal sebagai comfort trap atau jebakan kenyamanan. Penelitian dalam Journal of Behavioral Decision Making menunjukkan bahwa individu yang berada dalam situasi stabil dan menyenangkan dalam jangka panjang cenderung menurunkan tingkat kehati-hatian, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam membaca risiko. Otak manusia dirancang untuk beradaptasi dengan lingkungan, sehingga ketika ancaman jarang muncul, sistem kewaspadaan ikut menurun. Hal inilah yang sering membuat seseorang lengah justru saat merasa paling aman.
Dalam konteks sosial dan kepemimpinan, fenomena ini memiliki dampak yang lebih luas. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kejatuhan besar, baik individu, organisasi, maupun peradaban, bermula dari fase kejayaan. Sejarawan Arnold J. Toynbee dalam A Study of History mencatat bahwa kemunduran peradaban sering kali diawali oleh hilangnya kepekaan terhadap perubahan karena terlena oleh keberhasilan masa lalu. Kenikmatan yang ndak diimbangi refleksi dan disiplin justru menumpulkan insting bertahan hidup.
Budaya Jawa sendiri sangat menekankan konsep eling lan waspada, yakni kesadaran diri dan kewaspadaan batin dalam setiap kondisi. Nilai ini mengajarkan bahwa kenikmatan hidup bukan untuk ditolak, tetapi harus disertai pengendalian diri. Sultan Hamengkubuwana VIII dikenal sebagai pemimpin yang hidup di persimpangan tradisi dan modernitas, sehingga peringatannya mencerminkan kegelisahan terhadap manusia yang lupa menjaga keseimbangan antara rasa syukur dan kehati-hatian. Dalam pandangan ini, nikmat tanpa kewaspadaan bukanlah anugerah, melainkan potensi bahaya.
Pada akhirnya, pesan tersebut relevan bagi kehidupan modern yang serba instan dan nyaman. Kemajuan teknologi, kemudahan akses, dan stabilitas semu sering kali membuat manusia lalai membaca tanda-tanda risiko di sekitarnya. Menikmati hidup adalah hal wajar, namun mempertahankan kewaspadaan adalah bentuk kedewasaan. Kesadaran inilah yang membedakan antara mereka yang sekadar menikmati hidup dan mereka yang mampu menjaganya tetap utuh.
