Video klip di atas ada "Perfect" miliknya Simple Plan. Liriknya c menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang merasa selalu gagal memenuhi ekspektasi atau harapan tinggi dari sang ayah. Lagu ini adalah luapan rasa kecewa dan permintaan maaf karena sang anak merasa dirinya ndak pernah dianggap sempurna. Terkadang tuntutan orang tua yang berlebihan justru memicu beban emosional yang berat bagi anak. Kalau dalam pepatah bijak "manusia hanya mampu berikhtiar dan membuat rencana, namun pada akhirnya Tuhan yang menentukan hasil akhirnya."
Ketika kehidupan berjalan ndak sesuai dengan ekspektasi, hal ini bisa memicu perasaan kecewa hingga patah semangat. Ekspektasi sendiri biasa di maknai suatu kepercayaan atau keyakinan dari seseorang tentang berbagai hal yang semestinya terjadi pada sebuah situasi tertentu. Pikiran ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, informasi yang didapatkan hingga perkiraan pribadi.
Namun ada kalanya realita berjalan ndak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, kita sering diimbau untuk belajar mengelola harapan agar ndak mudah kecewa. Seperti apa caranya?
Mengapa kenyataan bisa berjalan ndak sesuai ekspektasi?
Seringkali ketidaksesuaian hasil membuat seseorang terlalu larut pada kegagalan yang terjadi. Padahal ada banyak faktor yang dapat menyebabkan situasi ndak berjalan sesuai dengan harapan.
1. Ketidakpastian dan perubahan
Dalam hidup, ndak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Apa yang menjadi tren hari ini, belum tentu akan relevan beberapa waktu mendatang. Situasi ndak terduga seperti masalah kesehatan, perubahan ekonomi, hingga bencana alam dapat mengubah rencana yang sudah kita buat.
2. Harapan yang ndak realistis
Kekecewaan sering terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan kurangnya fleksibilitas untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan. Misalnya, ketika memulai bisnis dan berharap cepat sukses tanpa mempertimbangkan potensi dan risiko, membuat semangat seseorang akan naik turun saat menjalankan usahanya.
3. Faktor eksternal dan lingkungan
Faktor di luar kendali kita seperti keputusan dan tindakan orang lain, keterbatasan dan kesalahan yang dilakukan manusia serta musibah, dapat menyebabkan hasil yang kita harapkan ndak terjadi.
Karena adanya beberapa faktor di atas kita perlu belajar mengendalikan ekspektasi, sehingga bisa mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan.
Bagaimana cara mengendalikan pikiran ketika hidup tidak sesuai ekspektasi?
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.”
Sehingga kunci utama dalam mengelola ekspektasi adalah latihan mengontrol pikiran. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan.
1. Melatih diri menjadi fleksibel dan adaptif
Kita di tuntut untuk menjadi fleksibel dan adaptif, sebab perubahan situasi akan terus terjadi. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri mengendalikan respon ketika situasi ndak berjalan sesuai rencana. Selanjutnya, fokus untuk menemukan antisipasi atau jalan keluar yang baik ketika menghadapi situasi tersebut.
2. Melatih diri untuk realistis
Latih diri untuk berpikir realistis dengan memahami keterbatasan dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Sadari bahwa ada hal-hal di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil dari segala rencana.
3. Fokus pada proses
Biasakan diri untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, kita ndak hanya terpaku pada kegagalan atau keberhasilan, tetapi melihat proses tersebut sebagai usaha terbaik yang bisa kita lakukan.
4. Jangan membandingkan diri dengan orang lain
Coba tetap fokus pada progres diri sendiri supaya ndak membandingkan diri kita dengan progres orang lain. Sebab setiap individu mengalami pengalaman keberhasilan maupun kegagalan dengan pelajaran yang berbeda-beda. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan mengurangi intensitas bermedia sosial, membangun ketahanan mental dengan membaca buku atau melatih mindfulness, menemukan support system yang tepat serta menjaga kesehatan diri.
5. Belajar dari pengalaman
Pandang situasi yang ndak sesuai rencana sebagai pelajaran dan kesempatan untuk mengembangkan diri agar lebih baik lagi. Melatih pikiran dan perasaan kita dengan menerapkan mindset tersebut, dapat menguatkan kemampuan untuk agile memandang keberhasilan maupun kegagalan sebagai proses hidup yang saling melengkapi. Meskipun hidup terkadang tidak sesuai ekspektasi, hal tersebut tidak membatasi kita untuk bisa meraih kebahagiaan.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Terkadang emang sulit buat kita menerima realita yang ada. Apalagi saat segala sesuatu ndak berjalan sesuai rencana. Ada pemikiran namanya stoikisme, ya itu bisa jadi salah satu cara buat bantu kita ngehadapinnya. Apa c stoikisme itu? Stoikisme itu filosofi yang lahir dari zaman Yunani dan Romawi. Intinya c ngajarin kita buat nerima aja hal-hal yang di luar kendali kita, dan fokus ke apa yang bisa kita kontrol. Prinsip ini cocok banget buat ngebantu kita jaga keseimbangan hidup, apalagi pas lagi ngerasa tertekan atau hidup ndak sesuai harapan.
Sebenernya, stoikisme ngajarin apa aja c?
Kenali Perbedaan Antara yang Bisa dan ndak Bisa Dikendalikan
Salah satu ajaran utama dalam stoikisme adalah pemisahan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang ndak bisa kita kendalikan. Dalam hidup, banyak hal yang berada di luar kendali kita—cuaca, perilaku orang lain, atau bahkan beberapa aspek dari karier kita.
Filosofi ini mengajarkan kita untuk hanya fokus pada aspek yang ada dalam jangkauan kita, seperti sikap, reaksi, dan keputusan kita sendiri.
Misalnya, Anda udah dateng ke kampus buat kuliah. Terus tiba-tiba dosen mendadak ngebatalin kuliah. Nah, daripada kesel dan badmood, mending Anda manfaatin waktu itu buat ngerjain tugas lain atau nongkrong sama temen. Daripada fokus ke emosi “marah” mending langsung switch plan lain yang bisa dikendalikan.
Menjaga Ketenangan Mental dengan Kontrol Diri
Stoikisme mengajarkan pentingnya kontrol diri, yaitu kemampuan untuk ndak terguncang oleh emosi eksternal atau situasi yang menantang. Kita bisa mengelola emosi dengan bijak. Misalnya dengan mengambil napas dalam-dalam atau memberi diri kita waktu untuk berpikir. Pikirkan Jalan keluar yang tepat dan efektif dari masalah yang kita hadapi. Dalam situasi stres, misalkan ada deadline tugas mepet. Bukannya panik atau menyerah pada rasa takut, kita bisa memilih untuk tenang, membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil, dan menyelesaikannya satu per satu.
Berlatih Bersyukur dan Fokus pada Hal-Hal Positif
Salah satu cara stoikisme mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan hidup adalah dengan menghargai apa yang kita miliki. Bukan berfokus pada apa yang kita ndak miliki. Setiap hari, kita bisa berlatih untuk bersyukur atas hal-hal yang baik dalam hidup. Entah itu hubungan yang sehat, tempat tinggal yang nyaman, atau bahkan hal-hal kecil lain yang sering kita abaikan. Misalnya, pas lagi capek atau frustrasi, coba deh ingetin diri buat bersyukur atas apa yang kita punya, kayak pekerjaan yang masih jalan atau tubuh yang masih sehat. Itu bisa bantu ngebalance pikiran dan bikin kita lebih positif lagi.
Mengubah Pandangan Terhadap Tantangan
Menurut filsuf Stoik, seperti Seneca dan Epictetus, tantangan dalam hidup bukanlah hambatan, melainkan kesempatan untuk mengasah karakter kita. Setiap kegagalan atau kesulitan yang kita hadapi adalah cara untuk belajar dan tumbuh. Jadi daripada melihatnya sebagai beban, kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk menjadi lebih kuat.
Menerima Ketidakpastian dengan Kedamaian
Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari hidup. Alih-alih coba buat mengontrol semuanya, kita perlu belajar untuk menerima. Ada banyak hal yang ndak kita ketahui atau yang bisa berubah kapan saja. Dengan menerima ketidakpastian, kita bisa mengurangi kecemasan dan stres yang berlebihan. Misalnya, pas lagi dihadapin sama masa depan yang ndak pasti, kayak pas milih karier atau ambil keputusan besar lainnya. Asal udah melakukan usaha terbaik, kita bisa coba santai dan ndak overthinking sama apapun hasilnya nanti.
Nerapin prinsip stoik dalam hidup sehari-hari bisa bantu kita jaga keseimbangan dan ketenangan mental. Meskipun dihadapkan tekanan atau situasi yang nggak sesuai harapan. Filosofi ini ngingetin kita. Meskipun ndak bisa ngontrol semuanya, kita tetap punya kontrol penuh atas sikap dan reaksi kita.
Ketika kehidupan berjalan ndak sesuai dengan ekspektasi, hal ini bisa memicu perasaan kecewa hingga patah semangat. Ekspektasi sendiri biasa di maknai suatu kepercayaan atau keyakinan dari seseorang tentang berbagai hal yang semestinya terjadi pada sebuah situasi tertentu. Pikiran ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, informasi yang didapatkan hingga perkiraan pribadi.
Namun ada kalanya realita berjalan ndak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, kita sering diimbau untuk belajar mengelola harapan agar ndak mudah kecewa. Seperti apa caranya?
Mengapa kenyataan bisa berjalan ndak sesuai ekspektasi?
Seringkali ketidaksesuaian hasil membuat seseorang terlalu larut pada kegagalan yang terjadi. Padahal ada banyak faktor yang dapat menyebabkan situasi ndak berjalan sesuai dengan harapan.
1. Ketidakpastian dan perubahan
Dalam hidup, ndak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Apa yang menjadi tren hari ini, belum tentu akan relevan beberapa waktu mendatang. Situasi ndak terduga seperti masalah kesehatan, perubahan ekonomi, hingga bencana alam dapat mengubah rencana yang sudah kita buat.
2. Harapan yang ndak realistis
Kekecewaan sering terjadi karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan kurangnya fleksibilitas untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan. Misalnya, ketika memulai bisnis dan berharap cepat sukses tanpa mempertimbangkan potensi dan risiko, membuat semangat seseorang akan naik turun saat menjalankan usahanya.
3. Faktor eksternal dan lingkungan
Faktor di luar kendali kita seperti keputusan dan tindakan orang lain, keterbatasan dan kesalahan yang dilakukan manusia serta musibah, dapat menyebabkan hasil yang kita harapkan ndak terjadi.
Karena adanya beberapa faktor di atas kita perlu belajar mengendalikan ekspektasi, sehingga bisa mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan.
Bagaimana cara mengendalikan pikiran ketika hidup tidak sesuai ekspektasi?
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.”
Sehingga kunci utama dalam mengelola ekspektasi adalah latihan mengontrol pikiran. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan.
1. Melatih diri menjadi fleksibel dan adaptif
Kita di tuntut untuk menjadi fleksibel dan adaptif, sebab perubahan situasi akan terus terjadi. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri mengendalikan respon ketika situasi ndak berjalan sesuai rencana. Selanjutnya, fokus untuk menemukan antisipasi atau jalan keluar yang baik ketika menghadapi situasi tersebut.
2. Melatih diri untuk realistis
Latih diri untuk berpikir realistis dengan memahami keterbatasan dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Sadari bahwa ada hal-hal di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil dari segala rencana.
3. Fokus pada proses
Biasakan diri untuk menghargai proses, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, kita ndak hanya terpaku pada kegagalan atau keberhasilan, tetapi melihat proses tersebut sebagai usaha terbaik yang bisa kita lakukan.
4. Jangan membandingkan diri dengan orang lain
Coba tetap fokus pada progres diri sendiri supaya ndak membandingkan diri kita dengan progres orang lain. Sebab setiap individu mengalami pengalaman keberhasilan maupun kegagalan dengan pelajaran yang berbeda-beda. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan mengurangi intensitas bermedia sosial, membangun ketahanan mental dengan membaca buku atau melatih mindfulness, menemukan support system yang tepat serta menjaga kesehatan diri.
5. Belajar dari pengalaman
Pandang situasi yang ndak sesuai rencana sebagai pelajaran dan kesempatan untuk mengembangkan diri agar lebih baik lagi. Melatih pikiran dan perasaan kita dengan menerapkan mindset tersebut, dapat menguatkan kemampuan untuk agile memandang keberhasilan maupun kegagalan sebagai proses hidup yang saling melengkapi. Meskipun hidup terkadang tidak sesuai ekspektasi, hal tersebut tidak membatasi kita untuk bisa meraih kebahagiaan.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Terkadang emang sulit buat kita menerima realita yang ada. Apalagi saat segala sesuatu ndak berjalan sesuai rencana. Ada pemikiran namanya stoikisme, ya itu bisa jadi salah satu cara buat bantu kita ngehadapinnya. Apa c stoikisme itu? Stoikisme itu filosofi yang lahir dari zaman Yunani dan Romawi. Intinya c ngajarin kita buat nerima aja hal-hal yang di luar kendali kita, dan fokus ke apa yang bisa kita kontrol. Prinsip ini cocok banget buat ngebantu kita jaga keseimbangan hidup, apalagi pas lagi ngerasa tertekan atau hidup ndak sesuai harapan.
Sebenernya, stoikisme ngajarin apa aja c?
Kenali Perbedaan Antara yang Bisa dan ndak Bisa Dikendalikan
Salah satu ajaran utama dalam stoikisme adalah pemisahan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang ndak bisa kita kendalikan. Dalam hidup, banyak hal yang berada di luar kendali kita—cuaca, perilaku orang lain, atau bahkan beberapa aspek dari karier kita.
Filosofi ini mengajarkan kita untuk hanya fokus pada aspek yang ada dalam jangkauan kita, seperti sikap, reaksi, dan keputusan kita sendiri.
Misalnya, Anda udah dateng ke kampus buat kuliah. Terus tiba-tiba dosen mendadak ngebatalin kuliah. Nah, daripada kesel dan badmood, mending Anda manfaatin waktu itu buat ngerjain tugas lain atau nongkrong sama temen. Daripada fokus ke emosi “marah” mending langsung switch plan lain yang bisa dikendalikan.
Menjaga Ketenangan Mental dengan Kontrol Diri
Stoikisme mengajarkan pentingnya kontrol diri, yaitu kemampuan untuk ndak terguncang oleh emosi eksternal atau situasi yang menantang. Kita bisa mengelola emosi dengan bijak. Misalnya dengan mengambil napas dalam-dalam atau memberi diri kita waktu untuk berpikir. Pikirkan Jalan keluar yang tepat dan efektif dari masalah yang kita hadapi. Dalam situasi stres, misalkan ada deadline tugas mepet. Bukannya panik atau menyerah pada rasa takut, kita bisa memilih untuk tenang, membagi tugas menjadi langkah-langkah kecil, dan menyelesaikannya satu per satu.
Berlatih Bersyukur dan Fokus pada Hal-Hal Positif
Salah satu cara stoikisme mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan hidup adalah dengan menghargai apa yang kita miliki. Bukan berfokus pada apa yang kita ndak miliki. Setiap hari, kita bisa berlatih untuk bersyukur atas hal-hal yang baik dalam hidup. Entah itu hubungan yang sehat, tempat tinggal yang nyaman, atau bahkan hal-hal kecil lain yang sering kita abaikan. Misalnya, pas lagi capek atau frustrasi, coba deh ingetin diri buat bersyukur atas apa yang kita punya, kayak pekerjaan yang masih jalan atau tubuh yang masih sehat. Itu bisa bantu ngebalance pikiran dan bikin kita lebih positif lagi.
Mengubah Pandangan Terhadap Tantangan
Menurut filsuf Stoik, seperti Seneca dan Epictetus, tantangan dalam hidup bukanlah hambatan, melainkan kesempatan untuk mengasah karakter kita. Setiap kegagalan atau kesulitan yang kita hadapi adalah cara untuk belajar dan tumbuh. Jadi daripada melihatnya sebagai beban, kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk menjadi lebih kuat.
Menerima Ketidakpastian dengan Kedamaian
Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari hidup. Alih-alih coba buat mengontrol semuanya, kita perlu belajar untuk menerima. Ada banyak hal yang ndak kita ketahui atau yang bisa berubah kapan saja. Dengan menerima ketidakpastian, kita bisa mengurangi kecemasan dan stres yang berlebihan. Misalnya, pas lagi dihadapin sama masa depan yang ndak pasti, kayak pas milih karier atau ambil keputusan besar lainnya. Asal udah melakukan usaha terbaik, kita bisa coba santai dan ndak overthinking sama apapun hasilnya nanti.
Nerapin prinsip stoik dalam hidup sehari-hari bisa bantu kita jaga keseimbangan dan ketenangan mental. Meskipun dihadapkan tekanan atau situasi yang nggak sesuai harapan. Filosofi ini ngingetin kita. Meskipun ndak bisa ngontrol semuanya, kita tetap punya kontrol penuh atas sikap dan reaksi kita.
Video klip kedua ada "bayangan hujan", lagu ini untuk yang lagi ngebet pengen nikah tapi jodohnya belum ada. Huuu...s, SettiaBlog kamu jangan nyindir - nyindir orang gitu tha! Ndak kok, SettiaBlog ndak menyindir siapapun. Maaf...maaf, itu hanya candaan. He...he....jangan ada yang marah ya. Di ilustrasinya itu, ada yang tahu ndak itu lagi baca buku apa? Itu lagi baca buku Arjuna Wiwaha. Buku apa itu SettiaBlog ? Arjuna Wiwaha dibuat pada abad ke-11, tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Airlangga yang memimpin Kerajaan Medang atau Kahuripan di Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh pujangga besar bernama Mpu Kanwa. Inti ceritanya itu untuk menguji keteguhan hati Arjuna, Batara Indra mengutus tujuh bidadari cantik (termasuk Dewi Supraba dan Tilottama) untuk menggodanya. Arjuna berhasil menolaknya karena ia telah menguasai pengendalian diri. Sebagai hadiah atas jasanya menyelamatkan kahyangan dan bumi, Arjuna dinobatkan menjadi raja di kahyangan dan dikawinkan dengan tujuh bidadari cantik itu.
Setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh proses berpikir yang pada akhirnya menciptakan suatu keputusan. Namun untuk bisa mengambil keputusan yang tepat, kita harus mengendalikan keserakahan dalam diri untuk ndak sembrono mengutamakan keputusan yang dapat berujung bencana — meski kadang menggoda untuk melakukannya. Memiliki keteguhan hati akan memberikan banyak pengaruh positif pada karakter diri. Keteguhan hati bahkan dianggap sebagai faktor penting dalam keberhasilan hidup demi tercapainya suatu tujuan.
Sederhananya, keteguhan hati bisa didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri untuk sejenak meninggalkan keinginan semu demi mencapai tujuan jangka panjang yang tentunya lebih besar. Keteguhan hati bukan hanya terkait dengan memiliki motivasi atau tekad untuk mencapai sesuatu, tetapi juga melibatkan pengendalian pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Dan untuk dapat mengendalikan diri, segala tindak-tanduk dan perilaku harus Anda lakukan secara sadar, dengan melibatkan kemampuan berpikir logis dan mengatur emosi, serta melibatkan kemampuan menahan godaan. Banyak yang percaya bahwa keteguhan hati merupakan faktor penting dalam membuat perubahan gaya hidup. Dengan pengendalian diri yang baik, kita dapat menerapkan pola makan sehat dan olahraga yang konsisten atau berhenti menunda-nunda pekerjaan.
Kegagalan dalam mencapai tujuan dapat dipengaruhi oleh banyak hal — bukan hanya disebabkan kurangnya pengendalian diri atau keteguhan hati. Namun para ahli yakin bahwa keteguhan hati merupakam hal yang penting dalam mencapai tujuan tersebut. Suatu studi pada tahun 1960 mengujicobakan pengendalian diri pada masa anak-anak. Setiap anak diberi sebuah marshmallow. Jika mereka mau menunggu 15 menit maka akan diberikan dua buah marshmallow. Peneliti melakukan pengamatan tindak lanjut hingga mereka dewasa, dan menemukan kelompok anak yang memilih untuk menunggu demi mendapatkan dua buah marshmallow memiliki tingkat kesuksesan akademik, kualitas kesehatan fisik dan sosial yang lebih baik. Dari sini peneliti berkesimpulan bahwa kekuatan pengendalian diri yang sudah tertanam sejak masa kecil dapat menjadi suatu perlindungan dari gaya hidup sembrono saat mereka tumbuh dewasa. Penelitian ini dikenal dengan nama “eksperimen marshmallow”. Temuan dari studi tersebut tetap konsisten dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukan seseorang yang memiliki keteguhan hati mampu menunda kenikmatan sesaat dan ndak memiliki sifat impulsif. Peneliti lain juga menemukan kemampuan pengendalian diri pada usia dewasa diperlukan untuk menjaga hubungan sosial, menjaga kesehatan mental dan fisik.
Banyak ahli psikologi yang juga yakin bahwa kekuatan pengendalian diri tetap ada batasnya, sehingga keteguhan hati seseorang bisa tandas habis. Pada kenyataannya, menahan diri atau bersabar untuk memperoleh suatu hal yang diinginkan atau bahkan yang dibutuhkan juga berdampak pada kondisi mental. Keteguhan hati dapat diibaratkan seperti sebuah otot. Terlalu lama ndak dipakai akan menguras habis kekuatannya, tapi keseringan dipakai juga dapat menyebabkan otot cepat aus dan ndak efektif. Dalam suatu studi tahun 1998, peneliti menempatkan subjek penelitian pada ruangan yang semerbak dengan aroma kue. Peserta dibagi dalam dua kelompok: Satu hanya diberikan satu sampel kukis, sementara yang lain diberikan beberapa sampel dalam sebuah wadah. Kemudian mereka ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Di akhir penelitian, kelompok yang diberikan satu sampel kukis cenderung menyerah lebih cepat dibandingkan kelompok yang diberikan kukis dalam jumlah yang lebih banyak. Ini menunjukan kalau pengendalian diri bisa merosot drastis dalam kondisi tertetentu.
Meski demilkian, hasil penelitian tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik masing-masing subjek penelitian. Mereka mungkin ndak dapat fokus bekerja karena kelaparan, atau karena dorongan untuk iseng ngemil. Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan memerlukan tenaga banyak untuk tetap dapat bekerja optimal. Oleh karena itu, otak yang kekurangan bahan bakar dapat mengorbankan proses pengendalian diri. Aspek psikologis lainnya juga dapat berpengaruh dalam kemerosotan keteguhan hati yang Anda miliki, misalnya mood, serta prinsip dan sikap seseorang terhadap suatu rangsangan.
Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah keteguhan hati merosot drastis:
Kenali kondisi diri sendiri – ketika Anda mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri buatlah sedikit pengecualian dalam beberapa waktu tanpa kehilangan kendali penuh. Misalnya seperti saat Anda sedang berdiet, sediakan satu hari “curang” dalam seminggu untuk makan makanan “ndak sehat” yang Anda inginkan, kemudian kembali ke rutinitas diet seperti biasa setelahnya.
Alihkan perhatian – saat sedang menghadapi keinginan untuk melakukan suatu hal yang dapat menunda tujuan Anda, cobalah alihkan pikiran dengan melakukan kegiatan lain. Mengalihkan pikiran dari suatu keinginan sesaat adalah penting untuk bisa tetap fokus terhadap tujuan Anda.
Buatlah suatu kebiasaan baru – stress saat sedang berusaha fokus terhadap tujuan dapat membuat kita cenderung kembali kepada kebiasaan lama yang justru semakin menjauhkan kita dari gol itu sendiri. Suatu kebiasaan baru yang ndak berlawanan dengan tujuan dapat membuat kondisi pikiran lebih rileks dan menjauhkan dari perasaan jenuh.
Capai tujuan dengan perlahan – salah satu penyebab seseorang cepat menyerah adalah karena tujuan tersebut terasa sangat berat untuk digapai, dan ingin dicapai dalam waktu singkat. Salah satu cara untuk mencegah Anda putus asa di tengah jalan adalah dengan melakukan pekerjaan tersebut secara perlahan dan bertahap. Jangan terlalu terpaku pada seberapa banyak porsi yang harus dilakukan, tetapi cobalah fokus terhadap proses dan kemajuan dari apa yang sudah dikerjakan.
Jadi diri sendiri – meski klise, hal terpenting dalam menggolkan suatu tujuan adalah menyadari apa yang benar-benar ingin Anda capai. Memaksakan diri untuk memenuhi atau mengikuti tujuan yang ditetapkan orang lain akan membuat Anda sangat terbebani karena ndak sesuai dengan keinginan diri Anda sebenarnya. Ini yang membuat keteguhan hati Anda mudah goyah di tengah jalan.
Setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh proses berpikir yang pada akhirnya menciptakan suatu keputusan. Namun untuk bisa mengambil keputusan yang tepat, kita harus mengendalikan keserakahan dalam diri untuk ndak sembrono mengutamakan keputusan yang dapat berujung bencana — meski kadang menggoda untuk melakukannya. Memiliki keteguhan hati akan memberikan banyak pengaruh positif pada karakter diri. Keteguhan hati bahkan dianggap sebagai faktor penting dalam keberhasilan hidup demi tercapainya suatu tujuan.
Sederhananya, keteguhan hati bisa didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri untuk sejenak meninggalkan keinginan semu demi mencapai tujuan jangka panjang yang tentunya lebih besar. Keteguhan hati bukan hanya terkait dengan memiliki motivasi atau tekad untuk mencapai sesuatu, tetapi juga melibatkan pengendalian pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Dan untuk dapat mengendalikan diri, segala tindak-tanduk dan perilaku harus Anda lakukan secara sadar, dengan melibatkan kemampuan berpikir logis dan mengatur emosi, serta melibatkan kemampuan menahan godaan. Banyak yang percaya bahwa keteguhan hati merupakan faktor penting dalam membuat perubahan gaya hidup. Dengan pengendalian diri yang baik, kita dapat menerapkan pola makan sehat dan olahraga yang konsisten atau berhenti menunda-nunda pekerjaan.
Kegagalan dalam mencapai tujuan dapat dipengaruhi oleh banyak hal — bukan hanya disebabkan kurangnya pengendalian diri atau keteguhan hati. Namun para ahli yakin bahwa keteguhan hati merupakam hal yang penting dalam mencapai tujuan tersebut. Suatu studi pada tahun 1960 mengujicobakan pengendalian diri pada masa anak-anak. Setiap anak diberi sebuah marshmallow. Jika mereka mau menunggu 15 menit maka akan diberikan dua buah marshmallow. Peneliti melakukan pengamatan tindak lanjut hingga mereka dewasa, dan menemukan kelompok anak yang memilih untuk menunggu demi mendapatkan dua buah marshmallow memiliki tingkat kesuksesan akademik, kualitas kesehatan fisik dan sosial yang lebih baik. Dari sini peneliti berkesimpulan bahwa kekuatan pengendalian diri yang sudah tertanam sejak masa kecil dapat menjadi suatu perlindungan dari gaya hidup sembrono saat mereka tumbuh dewasa. Penelitian ini dikenal dengan nama “eksperimen marshmallow”. Temuan dari studi tersebut tetap konsisten dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukan seseorang yang memiliki keteguhan hati mampu menunda kenikmatan sesaat dan ndak memiliki sifat impulsif. Peneliti lain juga menemukan kemampuan pengendalian diri pada usia dewasa diperlukan untuk menjaga hubungan sosial, menjaga kesehatan mental dan fisik.
Banyak ahli psikologi yang juga yakin bahwa kekuatan pengendalian diri tetap ada batasnya, sehingga keteguhan hati seseorang bisa tandas habis. Pada kenyataannya, menahan diri atau bersabar untuk memperoleh suatu hal yang diinginkan atau bahkan yang dibutuhkan juga berdampak pada kondisi mental. Keteguhan hati dapat diibaratkan seperti sebuah otot. Terlalu lama ndak dipakai akan menguras habis kekuatannya, tapi keseringan dipakai juga dapat menyebabkan otot cepat aus dan ndak efektif. Dalam suatu studi tahun 1998, peneliti menempatkan subjek penelitian pada ruangan yang semerbak dengan aroma kue. Peserta dibagi dalam dua kelompok: Satu hanya diberikan satu sampel kukis, sementara yang lain diberikan beberapa sampel dalam sebuah wadah. Kemudian mereka ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Di akhir penelitian, kelompok yang diberikan satu sampel kukis cenderung menyerah lebih cepat dibandingkan kelompok yang diberikan kukis dalam jumlah yang lebih banyak. Ini menunjukan kalau pengendalian diri bisa merosot drastis dalam kondisi tertetentu.
Meski demilkian, hasil penelitian tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik masing-masing subjek penelitian. Mereka mungkin ndak dapat fokus bekerja karena kelaparan, atau karena dorongan untuk iseng ngemil. Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan memerlukan tenaga banyak untuk tetap dapat bekerja optimal. Oleh karena itu, otak yang kekurangan bahan bakar dapat mengorbankan proses pengendalian diri. Aspek psikologis lainnya juga dapat berpengaruh dalam kemerosotan keteguhan hati yang Anda miliki, misalnya mood, serta prinsip dan sikap seseorang terhadap suatu rangsangan.
Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah keteguhan hati merosot drastis:
Kenali kondisi diri sendiri – ketika Anda mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri buatlah sedikit pengecualian dalam beberapa waktu tanpa kehilangan kendali penuh. Misalnya seperti saat Anda sedang berdiet, sediakan satu hari “curang” dalam seminggu untuk makan makanan “ndak sehat” yang Anda inginkan, kemudian kembali ke rutinitas diet seperti biasa setelahnya.
Alihkan perhatian – saat sedang menghadapi keinginan untuk melakukan suatu hal yang dapat menunda tujuan Anda, cobalah alihkan pikiran dengan melakukan kegiatan lain. Mengalihkan pikiran dari suatu keinginan sesaat adalah penting untuk bisa tetap fokus terhadap tujuan Anda.
Buatlah suatu kebiasaan baru – stress saat sedang berusaha fokus terhadap tujuan dapat membuat kita cenderung kembali kepada kebiasaan lama yang justru semakin menjauhkan kita dari gol itu sendiri. Suatu kebiasaan baru yang ndak berlawanan dengan tujuan dapat membuat kondisi pikiran lebih rileks dan menjauhkan dari perasaan jenuh.
Capai tujuan dengan perlahan – salah satu penyebab seseorang cepat menyerah adalah karena tujuan tersebut terasa sangat berat untuk digapai, dan ingin dicapai dalam waktu singkat. Salah satu cara untuk mencegah Anda putus asa di tengah jalan adalah dengan melakukan pekerjaan tersebut secara perlahan dan bertahap. Jangan terlalu terpaku pada seberapa banyak porsi yang harus dilakukan, tetapi cobalah fokus terhadap proses dan kemajuan dari apa yang sudah dikerjakan.
Jadi diri sendiri – meski klise, hal terpenting dalam menggolkan suatu tujuan adalah menyadari apa yang benar-benar ingin Anda capai. Memaksakan diri untuk memenuhi atau mengikuti tujuan yang ditetapkan orang lain akan membuat Anda sangat terbebani karena ndak sesuai dengan keinginan diri Anda sebenarnya. Ini yang membuat keteguhan hati Anda mudah goyah di tengah jalan.

