Video klip di atas ada "kesepian kita" milik PAS band yang udah di cover, di buat blues. Enak kok, walaupun emosional lagunya lebih kuat lagu aslinya. Sentuhan musik bluesnya memberi nuansa lebih tenang dan santai. Dan hal kayak gini SettiaBlog anggap sebagai kreativitas yang bagus.
Bercita-cita menjadi pebisnis yang andal? Kalau begitu, ada aspek penting yang ndak boleh Anda lewatkan, yaitu kreativitas. Kreativitas merupakan aspek bisnis yang menawarkan banyak manfaat, tetapi sering dipandang sebelah mata. Dalam sebuah survei, sebanyak 58 persen responden mengatakan bahwa perusahaan mereka yang membina aspek kreativitas mampu menghasilkan pendapatan 10 persen lebih besar . Sebaliknya, hanya sekitar 20 persen perusahaan kurang kreatif yang bisa memperoleh pendapatan setara dengan perusahaan kreatif. Cukup signifikan, ya? Agar Anda lebih mengetahui pentingnya kreativitas dalam bisnis, di bawah ini di jabarkan beberapa alasan yang perlu diketahui .
1. Kreativitas membangun kemampuan pemecahan masalah
Salah satu manfaat paling berharga dari kreativitas dalam bisnis adalah membantu para karyawan dalam membangun kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan ini sangat berguna untuk setiap bisnis, apalagi jika menggunakan pendekatan kreatif. Untuk membangun kemampuan pemecahan masalah, kreativitas akan memengaruhi beberapa hal.
Pertama, membangun fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan untuk berpikir di luar kotak (out-of-the-box) sehingga bisa memperoleh solusi kreatif.
Kedua, meningkatkan pemikiran analitis untuk memecahkan masalah kompleks dan mengidentifikasi akar permasalahan.
2. Kreativitas meningkatkan kerja sama tim
Ketika sebuah perusahaan membina para karyawannya untuk membiasakan berpikir dan berperilaku kreatif sekaligus bekerja sama, mereka akan lebih mudah menyelesaikan tugas dan memecahkan permasalahan. Kebiasaan berkolaborasi dalam proses kreatif akan memberikan dampak positif jangka panjang pada kelangsungan bisnis. Misalnya, meningkatkan komunikasi positif antarkaryawan sehingga ide-ide bisa dibagikan dan didiskusikan secara terbuka. Dampak selanjutnya, kerja sama kreatif bisa meningkatkan kepuasan karyawan karena mereka merasa lebih dihargai dan diapresiasi oleh perusahaan.
3. Kreativitas dapat menghasilkan ide untuk mendapatkan solusi yang lebih baik
Saat diterapkan secara efektif, kreativitas akan menghasilkan ide-ide brilian sehingga bisnis dapat menciptakan solusi yang lebih baik. Ide-ide kreatif akan membuat bisnis tetap bertahan dalam persaingan, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan pelayanan pelanggan. Sebagai contoh, dalam persaingan pasar, bisnis dengan ide kreatif bisa menciptakan produk atau layanan yang lebih menarik pelanggan dibandingkan kompetitor yang kurang kreatif. Kemudian, dalam operasional bisnis, kreativitas akan membantu bisnis meninjau ulang proses sehingga bisa menciptakan solusi inovatif yang dapat membuat operasional lebih efektif dan efisien.
4. Kreativitas mendorong inovasi
Inovasi adalah kunci kesuksesan setiap bisnis dan kreativitas memainkan peran yang besar dalam menciptakannya. Pemikiran kreatif bisa menstimulasi inovasi dengan cara menelurkan ide-ide atau solusi baru sehingga bisnis bisa berjalan lebih lancar dan menguntungkan. Beberapa hal yang bisa didorong kreativitas untuk menstimulasi inovasi, antara lain, perspektif baru dalam suatu masalah, peningkatan proses dan alur kerja, serta pemikiran di luar kotak.
5. Kreativitas mendorong bisnis untuk berani mengambil risiko
Bisnis yang berani mengambil risiko akan berpeluang sukses ke depannya. Dengan kreativitas, bisnis bisa mencoba ide-ide baru sambil memperhitungkan risiko. Beberapa hal berisiko yang bisa terbantu dengan kreativitas, yaitu menyelami target pasar baru, membuat perubahan untuk menyaingi kompetitor, menciptakan ide dan solusi yang ndak biasa, serta mengambil kesempatan dari peluang ndak terduga.
Nah, sudah paham kan ya, kenapa kreativitas menjadi aspek yang penting dalam bisnis? Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya ini SettiaBlog gunakan gabungan warna hitam, gold, biru, putih.
Bercita-cita menjadi pebisnis yang andal? Kalau begitu, ada aspek penting yang ndak boleh Anda lewatkan, yaitu kreativitas. Kreativitas merupakan aspek bisnis yang menawarkan banyak manfaat, tetapi sering dipandang sebelah mata. Dalam sebuah survei, sebanyak 58 persen responden mengatakan bahwa perusahaan mereka yang membina aspek kreativitas mampu menghasilkan pendapatan 10 persen lebih besar . Sebaliknya, hanya sekitar 20 persen perusahaan kurang kreatif yang bisa memperoleh pendapatan setara dengan perusahaan kreatif. Cukup signifikan, ya? Agar Anda lebih mengetahui pentingnya kreativitas dalam bisnis, di bawah ini di jabarkan beberapa alasan yang perlu diketahui .
1. Kreativitas membangun kemampuan pemecahan masalah
Salah satu manfaat paling berharga dari kreativitas dalam bisnis adalah membantu para karyawan dalam membangun kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan ini sangat berguna untuk setiap bisnis, apalagi jika menggunakan pendekatan kreatif. Untuk membangun kemampuan pemecahan masalah, kreativitas akan memengaruhi beberapa hal.
Pertama, membangun fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan untuk berpikir di luar kotak (out-of-the-box) sehingga bisa memperoleh solusi kreatif.
Kedua, meningkatkan pemikiran analitis untuk memecahkan masalah kompleks dan mengidentifikasi akar permasalahan.
2. Kreativitas meningkatkan kerja sama tim
Ketika sebuah perusahaan membina para karyawannya untuk membiasakan berpikir dan berperilaku kreatif sekaligus bekerja sama, mereka akan lebih mudah menyelesaikan tugas dan memecahkan permasalahan. Kebiasaan berkolaborasi dalam proses kreatif akan memberikan dampak positif jangka panjang pada kelangsungan bisnis. Misalnya, meningkatkan komunikasi positif antarkaryawan sehingga ide-ide bisa dibagikan dan didiskusikan secara terbuka. Dampak selanjutnya, kerja sama kreatif bisa meningkatkan kepuasan karyawan karena mereka merasa lebih dihargai dan diapresiasi oleh perusahaan.
3. Kreativitas dapat menghasilkan ide untuk mendapatkan solusi yang lebih baik
Saat diterapkan secara efektif, kreativitas akan menghasilkan ide-ide brilian sehingga bisnis dapat menciptakan solusi yang lebih baik. Ide-ide kreatif akan membuat bisnis tetap bertahan dalam persaingan, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan pelayanan pelanggan. Sebagai contoh, dalam persaingan pasar, bisnis dengan ide kreatif bisa menciptakan produk atau layanan yang lebih menarik pelanggan dibandingkan kompetitor yang kurang kreatif. Kemudian, dalam operasional bisnis, kreativitas akan membantu bisnis meninjau ulang proses sehingga bisa menciptakan solusi inovatif yang dapat membuat operasional lebih efektif dan efisien.
4. Kreativitas mendorong inovasi
Inovasi adalah kunci kesuksesan setiap bisnis dan kreativitas memainkan peran yang besar dalam menciptakannya. Pemikiran kreatif bisa menstimulasi inovasi dengan cara menelurkan ide-ide atau solusi baru sehingga bisnis bisa berjalan lebih lancar dan menguntungkan. Beberapa hal yang bisa didorong kreativitas untuk menstimulasi inovasi, antara lain, perspektif baru dalam suatu masalah, peningkatan proses dan alur kerja, serta pemikiran di luar kotak.
5. Kreativitas mendorong bisnis untuk berani mengambil risiko
Bisnis yang berani mengambil risiko akan berpeluang sukses ke depannya. Dengan kreativitas, bisnis bisa mencoba ide-ide baru sambil memperhitungkan risiko. Beberapa hal berisiko yang bisa terbantu dengan kreativitas, yaitu menyelami target pasar baru, membuat perubahan untuk menyaingi kompetitor, menciptakan ide dan solusi yang ndak biasa, serta mengambil kesempatan dari peluang ndak terduga.
Nah, sudah paham kan ya, kenapa kreativitas menjadi aspek yang penting dalam bisnis? Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya ini SettiaBlog gunakan gabungan warna hitam, gold, biru, putih.
Video klip kedua ini SettiaBlog kasih judul "bias kehidupan". Ilustrasinya menggabungkan warna hitam, gold, biru dan putih. Inti lagunya c tentang waktu yang udah di berikan kepada kita, sayangnya banyak waktu yang udah kita lalui tanpa makna. SettiaBlog cerita lagi tho...! Cerita apa? Apa ajalah yang penting enak di baca. Ya wes kalau gitu, tapi ndak usah panjang - panjang ya ceritanya.
Suatu ketika hiduplah seekor kura-kura di tengah hutan yang asri dan tenang. Hutan itu dipenuhi pepohonan tinggi, suara burung yang bersahutan, serta aliran sungai yang jernih dan tidak pernah kering sepanjang musim. Setiap hari kura-kura itu menjalani hidup yang sederhana. Ia berjalan perlahan menyusuri tanah hutan, mencari apapun yang bisa dimakan, daun muda, buah jatuh, atau sisa-sisa makanan yang tersisa di pinggir sungai. Namun, semua penghuni hutan tahu satu hal tentang dirinya. Ia lambat dan ia lemah. Tak jarang hewan lain meremehkannya bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah kenyataannya. Dalam dunia hutan yang keras, kecepatan dan kekuatan seringkiali menentukan segalanya.
Meski begitu, kura-kura ndak pernah mengeluh. Ia hanya terus berjalan menjalani hari-harinya dengan tenang. Suatu hari seperti biasa, ia berjalan menuju tepi sungai untuk mencari makan. Matahari mulai naik dan udara terasa hangat. Di tengah perjalanannya, ia melihat seekor gagak sedang berdiri di atas tanah tampak gelisah. Di hadapannya terdapat beberapa buah kenari yang keras. Gagak itu mematuk, menjatuhkan, bahkan mencoba membenturkannya ke batu. Namun, cangkang kenari itu tetap ndak pecah. Kura-kura berhenti sejenak, memperhatikan dari kejauhan. Gagak itu mulai terlihat kesal. Sayapnya mengepak, paruhnya menghantam kenari berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Kura-kura sebenarnya tahu ia bisa membantu. Dengan rahangnya yang kuat dan gigitan yang stabil, ia mampu memecahkan cangkang keras seperti itu. Namun, ia memilih untuk ndak berurusan dengan gagak yang sedang kesal. Ia hanya diam sejenak lalu memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian, ia tiba di sebuah sudut hutan yang jarang ia kunjungi. Di sana ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti, sebuah pohon pisang. Dan bukan sembarang pisang. Buahnya menggantung rendah, berwarna kuning keemasan. Tampak matang sempurna. Aromanya bahkan bisa tercium dari jarak beberapa langkah. Kura-kura menelan ludah. Sudah lama ia ndak menemukan makanan sebaik itu. Dengan penuh harap, ia mendekat. Ia mencoba mendorong batang pohon itu, ndak bergerak. Ia mencoba lagi dengan kali ini lebih kuat, tetap ndak bergeming. Ia mencoba menggigit batangnya sia-sia. Langkahnya yang lambat, tubuhnya yang pendek, dan tenaganya yang terbatas membuatnya ndak punya cara untuk menjangkau buah itu. Kura-kura terdiam.
Untuk sesaat, ia hanya menatap pisang itu tanpa bergerak. Namun, ia ndak menyerah. Ia mundur perlahan lalu berbalik arah kembali ke jalan yang tadi ia lewati. kembali ke arah gagak. Saat ia tiba, gagak itu masih di sana. Dan seperti sebelumnya, satu biji kenari pun belum berhasil ia pecahkan. Kini ekspresi gagak sudah jauh lebih kesal. Ia bahkan hampir menyerah. Kura-kura mendekat dengan tenang. Kali ini ia ndak hanya melihat, ia bicara. Kura-kura berhenti beberapa langkah dari gagak. Ia ndak terburu-buru bicara. Ia memperhatikan dulu, memastikan situasinya sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Gagak itu masih sibuk dengan kenarinya, masih gagal. Baru setelah itu, kura-kura membuka suara. Dengan nada tenang, ia berkata bahwa ia mungkin bisa membantu memecahkan kenari-kenari itu. Gagak menoleh. Tatapannya penuh ragu. Bukan tanpa alasan. Di matanya kura-kura hanyalah hewan lambat yang bahkan sulit menjangkau makanan sendiri. Namun, ia juga sadar satu hal. Ia sudah mencoba berbagai cara dan semuanya gagal. Kura-kura lalu melanjutkan. Ia menawarkan sesuatu yang terdengar sederhana tapi menguntungkan. Jika gagak bersedia membantunya mengambil buah pisang di ujung jalan yang tadi ia temukan, maka ia akan membantu memecahkan semua kenari milik gagak. Gagak terdiam sejenak. Ia menimbang tawaran itu. Di satu sisi, ia belum tentu percaya pada kemampuan kura-kura. Namun, di sisi lain, ia juga ndak punya pilihan yang lebih baik. Kenari itu terlalu keras dan ia sudah kehabisan cara.
Akhirnya gagak mengangguk. Kesepakatan pun terjadi. Kura-kura segera mulai bekerja. Dengan rahangnya yang kuat, ia menggigit satu kenari lalu menekannya perlahan retak. Cangkang itu pecah. Isi kenari di dalamnya terlihat. Gagak terkejut. Ia mendekat memperhatikan dengan lebih serius. Kura-kura melanjutkan ke kenari berikutnya dan sekali lagi retak. Kini ndak ada keraguan lagi. Kura-kura memang mampu melakukan hal yang ndak bisa dilakukan oleh Gagak. Tanpa membuang waktu, Gagak pun menepati janjinya. Ia terbang menuju pohon pisang yang dimaksud. Dari atas ia dengan mudah menjangkau buah-buah yang menggantung. Satu persatu ia petik lalu dibawanya kembali. Ia harus bolak-balik karena kakinya hanya bisa membawa satu atau dua buah sekaligus. Namun baginya itu jauh lebih mudah dibandingkan memecahkan kenari yang keras. Sementara itu, di bawah kura-kura terus bekerja. Ia memecahkan kenari demi kenari dengan sabar. Ndak terburu-buru. Tapi pasti kerja sama itu berjalan dengan lancar. Ndak ada yang merasa dirugikan, ndak ada yang mencoba mengambil keuntungan lebih. Masing-masing melakukan bagiannya. Tak lama kemudian, keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Kura-kura akhirnya bisa menikmati pisang matang yang sebelumnya ndak bisa ia raih. Gagak pun bisa memakan isi kenari yang selama ini membuatnya kesal. Setelah selesai, mereka ndak banyak bicara, ndak ada perayaan, ndak ada basa-basi, hanya saling memahami bahwa kerja sama itu berhasil. Gagak kemudian bersiap untuk pergi. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan tempat itu. Namun di tengah perjalanannya, ia sempat bergumam dalam hati bahwa meskipun kura-kura terlihat lemah dan lambat, ternyata ia ndak bodoh. Ia tahu cara menggunakan apa yang ia miliki. Sementara itu, kura-kura kembali berjalan perlahan. Perutnya sudah kenyang. Langkahnya tetap lambat seperti biasa. Namun hari itu ia telah membuktikan sesuatu bahwa kekurangan bukan berarti ndak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Ia terus berjalan menyusuri hutan, ndak terburu-buru, ndak curiga. Sampai akhirnya ia memasuki area yang lebih sepi. Semak-semak mulai rapat, suara hutan menjadi lebih sunyi. Dan tanpa ia sadari ia ndak sendirian. Kura-kura terus berjalan perlahan melewati area hutan yang semakin sepi. Langkahnya tetap tenang seperti biasa. Namun tiba-tiba dari balik semak-semak sesuatu bergerak cepat. Seekor beruang besar muncul dan langsung menyergapnya. Ndak ada waktu untuk lari, ndak ada tempat untuk bersembunyi. Dalam sekejap, kura-kura itu sudah berada dalam bahaya. Namun, ia ndak panik. Tanpa ragu, ia segera menarik seluruh tubuhnya masuk ke dalam cangkang. Kepala, kaki, semuanya hilang. Yang tersisa hanyalah cangkang keras yang bulat. Beruang itu terkejut sesaat lalu mulai mencoba berbagai cara. Ia mencakar cangkang itu, ndak berhasil. Ia menggigitnya, ndak tembus. Ia bahkan mengangkat kura-kura itu lalu melemparkannya ke batu. Duk! Cangkang itu tetap utuh. Beruang mulai kesal.
Mangsa yang seharusnya mudah kini justru membuatnya frustrasi. Waktu terus berjalan. Beruang itu ndak mau menyerah. Ia terus mencoba meskipun hasilnya sama. Ndak ada celah, ndak ada cara. Di dalam cangkangnya, kura-kura berpikir. Ia tahu ia ndak akan bisa bertahan selamanya. Cepat atau lambat, beruang itu mungkin akan menemukan cara. Ia harus melakukan sesuatu bukan dengan kekuatan, tapi dengan akal. Beberapa saat kemudian dari dalam cangkang ia mulai berbicara. Suaranya terdengar pelan namun cukup jelas. Ia memberi saran jika beruang ingin melunakkan cangkangnya maka cangkang itu harus direndam di dalam air. Beruang berhenti. Ia memikirkan kata-kata itu. Air memang sering membuat sesuatu menjadi lebih lunak. Kayu bisa lapuk, tanah bisa menjadi lembek. Mungkin cangkang ini juga sama. Ia melihat ke arah sungai yang ndak jauh dari situ lalu kembali melihat kura-kura. Tanpa banyak berpikir lagi, ia mengambil keputusan. Beruang itu mengangkat kura-kura, lalu berjalan menuju sungai. Langkahnya berat tapi pasti. Sesampainya di tepi sungai, ia langsung menurunkan kura-kura ke dalam air. Lalu ia menunggu. Beberapa detik pertama, ndak terjadi apa-apa. Namun tiba-tiba kura-kura itu bergerak. Dengan cepat ia mengeluarkan kaki dan kepalanya lalu langsung berenang menjauh ke arah tengah sungai. Gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan saat ia berjalan di darat. Dalam sekejap ia sudah berada jauh dari jangkauan si beruang lalu menghilang ke bagian sungai yang lebih dalam. Beruang terdiam. Ia hanya bisa melihat ke arah air yang kembali tenang. Ndak ada lagi kura-kura di sana. Ia baru menyadari bahwa ia telah ditipu. Sementara itu, di bawah permukaan air, kura-kura terus berenang menjauh, aman, selamat, dan sekali lagi ia berhasil keluar dari masalah. Bukan karena kuat, bukan karena cepat, tapi karena ia berpikir.
Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa kecerdasan mampu menutupi banyak kekurangan. Kura-kura memang lambat dan lemah, namun ia tahu cara menggunakan pikirannya. Ia ndak memaksakan diri dengan kekuatan yang ndak ia miliki. Ia mencari cara lain dan itulah yang membantunya mendapatkan makanan dan menyelamatkannya. Begitulah juga dalam hidup kita memiliki banyak kekurangan. Banyak dari kita ndak punya tenaga yang kuat, kecepatan, atau modal yang besar. Tapi semua orang punya kesempatan untuk berpikir. Maka gunakan itu untuk menutupi kekurangan kita, asah pikiran kita. Karena seringkiali yang menentukan hasil bukanlah seberapa kuat kita, melainkan seberapa cerdas kita mencari jalan.
Suatu ketika hiduplah seekor kura-kura di tengah hutan yang asri dan tenang. Hutan itu dipenuhi pepohonan tinggi, suara burung yang bersahutan, serta aliran sungai yang jernih dan tidak pernah kering sepanjang musim. Setiap hari kura-kura itu menjalani hidup yang sederhana. Ia berjalan perlahan menyusuri tanah hutan, mencari apapun yang bisa dimakan, daun muda, buah jatuh, atau sisa-sisa makanan yang tersisa di pinggir sungai. Namun, semua penghuni hutan tahu satu hal tentang dirinya. Ia lambat dan ia lemah. Tak jarang hewan lain meremehkannya bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah kenyataannya. Dalam dunia hutan yang keras, kecepatan dan kekuatan seringkiali menentukan segalanya.
Meski begitu, kura-kura ndak pernah mengeluh. Ia hanya terus berjalan menjalani hari-harinya dengan tenang. Suatu hari seperti biasa, ia berjalan menuju tepi sungai untuk mencari makan. Matahari mulai naik dan udara terasa hangat. Di tengah perjalanannya, ia melihat seekor gagak sedang berdiri di atas tanah tampak gelisah. Di hadapannya terdapat beberapa buah kenari yang keras. Gagak itu mematuk, menjatuhkan, bahkan mencoba membenturkannya ke batu. Namun, cangkang kenari itu tetap ndak pecah. Kura-kura berhenti sejenak, memperhatikan dari kejauhan. Gagak itu mulai terlihat kesal. Sayapnya mengepak, paruhnya menghantam kenari berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Kura-kura sebenarnya tahu ia bisa membantu. Dengan rahangnya yang kuat dan gigitan yang stabil, ia mampu memecahkan cangkang keras seperti itu. Namun, ia memilih untuk ndak berurusan dengan gagak yang sedang kesal. Ia hanya diam sejenak lalu memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian, ia tiba di sebuah sudut hutan yang jarang ia kunjungi. Di sana ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti, sebuah pohon pisang. Dan bukan sembarang pisang. Buahnya menggantung rendah, berwarna kuning keemasan. Tampak matang sempurna. Aromanya bahkan bisa tercium dari jarak beberapa langkah. Kura-kura menelan ludah. Sudah lama ia ndak menemukan makanan sebaik itu. Dengan penuh harap, ia mendekat. Ia mencoba mendorong batang pohon itu, ndak bergerak. Ia mencoba lagi dengan kali ini lebih kuat, tetap ndak bergeming. Ia mencoba menggigit batangnya sia-sia. Langkahnya yang lambat, tubuhnya yang pendek, dan tenaganya yang terbatas membuatnya ndak punya cara untuk menjangkau buah itu. Kura-kura terdiam.
Untuk sesaat, ia hanya menatap pisang itu tanpa bergerak. Namun, ia ndak menyerah. Ia mundur perlahan lalu berbalik arah kembali ke jalan yang tadi ia lewati. kembali ke arah gagak. Saat ia tiba, gagak itu masih di sana. Dan seperti sebelumnya, satu biji kenari pun belum berhasil ia pecahkan. Kini ekspresi gagak sudah jauh lebih kesal. Ia bahkan hampir menyerah. Kura-kura mendekat dengan tenang. Kali ini ia ndak hanya melihat, ia bicara. Kura-kura berhenti beberapa langkah dari gagak. Ia ndak terburu-buru bicara. Ia memperhatikan dulu, memastikan situasinya sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Gagak itu masih sibuk dengan kenarinya, masih gagal. Baru setelah itu, kura-kura membuka suara. Dengan nada tenang, ia berkata bahwa ia mungkin bisa membantu memecahkan kenari-kenari itu. Gagak menoleh. Tatapannya penuh ragu. Bukan tanpa alasan. Di matanya kura-kura hanyalah hewan lambat yang bahkan sulit menjangkau makanan sendiri. Namun, ia juga sadar satu hal. Ia sudah mencoba berbagai cara dan semuanya gagal. Kura-kura lalu melanjutkan. Ia menawarkan sesuatu yang terdengar sederhana tapi menguntungkan. Jika gagak bersedia membantunya mengambil buah pisang di ujung jalan yang tadi ia temukan, maka ia akan membantu memecahkan semua kenari milik gagak. Gagak terdiam sejenak. Ia menimbang tawaran itu. Di satu sisi, ia belum tentu percaya pada kemampuan kura-kura. Namun, di sisi lain, ia juga ndak punya pilihan yang lebih baik. Kenari itu terlalu keras dan ia sudah kehabisan cara.
Akhirnya gagak mengangguk. Kesepakatan pun terjadi. Kura-kura segera mulai bekerja. Dengan rahangnya yang kuat, ia menggigit satu kenari lalu menekannya perlahan retak. Cangkang itu pecah. Isi kenari di dalamnya terlihat. Gagak terkejut. Ia mendekat memperhatikan dengan lebih serius. Kura-kura melanjutkan ke kenari berikutnya dan sekali lagi retak. Kini ndak ada keraguan lagi. Kura-kura memang mampu melakukan hal yang ndak bisa dilakukan oleh Gagak. Tanpa membuang waktu, Gagak pun menepati janjinya. Ia terbang menuju pohon pisang yang dimaksud. Dari atas ia dengan mudah menjangkau buah-buah yang menggantung. Satu persatu ia petik lalu dibawanya kembali. Ia harus bolak-balik karena kakinya hanya bisa membawa satu atau dua buah sekaligus. Namun baginya itu jauh lebih mudah dibandingkan memecahkan kenari yang keras. Sementara itu, di bawah kura-kura terus bekerja. Ia memecahkan kenari demi kenari dengan sabar. Ndak terburu-buru. Tapi pasti kerja sama itu berjalan dengan lancar. Ndak ada yang merasa dirugikan, ndak ada yang mencoba mengambil keuntungan lebih. Masing-masing melakukan bagiannya. Tak lama kemudian, keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Kura-kura akhirnya bisa menikmati pisang matang yang sebelumnya ndak bisa ia raih. Gagak pun bisa memakan isi kenari yang selama ini membuatnya kesal. Setelah selesai, mereka ndak banyak bicara, ndak ada perayaan, ndak ada basa-basi, hanya saling memahami bahwa kerja sama itu berhasil. Gagak kemudian bersiap untuk pergi. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan tempat itu. Namun di tengah perjalanannya, ia sempat bergumam dalam hati bahwa meskipun kura-kura terlihat lemah dan lambat, ternyata ia ndak bodoh. Ia tahu cara menggunakan apa yang ia miliki. Sementara itu, kura-kura kembali berjalan perlahan. Perutnya sudah kenyang. Langkahnya tetap lambat seperti biasa. Namun hari itu ia telah membuktikan sesuatu bahwa kekurangan bukan berarti ndak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Ia terus berjalan menyusuri hutan, ndak terburu-buru, ndak curiga. Sampai akhirnya ia memasuki area yang lebih sepi. Semak-semak mulai rapat, suara hutan menjadi lebih sunyi. Dan tanpa ia sadari ia ndak sendirian. Kura-kura terus berjalan perlahan melewati area hutan yang semakin sepi. Langkahnya tetap tenang seperti biasa. Namun tiba-tiba dari balik semak-semak sesuatu bergerak cepat. Seekor beruang besar muncul dan langsung menyergapnya. Ndak ada waktu untuk lari, ndak ada tempat untuk bersembunyi. Dalam sekejap, kura-kura itu sudah berada dalam bahaya. Namun, ia ndak panik. Tanpa ragu, ia segera menarik seluruh tubuhnya masuk ke dalam cangkang. Kepala, kaki, semuanya hilang. Yang tersisa hanyalah cangkang keras yang bulat. Beruang itu terkejut sesaat lalu mulai mencoba berbagai cara. Ia mencakar cangkang itu, ndak berhasil. Ia menggigitnya, ndak tembus. Ia bahkan mengangkat kura-kura itu lalu melemparkannya ke batu. Duk! Cangkang itu tetap utuh. Beruang mulai kesal.
Mangsa yang seharusnya mudah kini justru membuatnya frustrasi. Waktu terus berjalan. Beruang itu ndak mau menyerah. Ia terus mencoba meskipun hasilnya sama. Ndak ada celah, ndak ada cara. Di dalam cangkangnya, kura-kura berpikir. Ia tahu ia ndak akan bisa bertahan selamanya. Cepat atau lambat, beruang itu mungkin akan menemukan cara. Ia harus melakukan sesuatu bukan dengan kekuatan, tapi dengan akal. Beberapa saat kemudian dari dalam cangkang ia mulai berbicara. Suaranya terdengar pelan namun cukup jelas. Ia memberi saran jika beruang ingin melunakkan cangkangnya maka cangkang itu harus direndam di dalam air. Beruang berhenti. Ia memikirkan kata-kata itu. Air memang sering membuat sesuatu menjadi lebih lunak. Kayu bisa lapuk, tanah bisa menjadi lembek. Mungkin cangkang ini juga sama. Ia melihat ke arah sungai yang ndak jauh dari situ lalu kembali melihat kura-kura. Tanpa banyak berpikir lagi, ia mengambil keputusan. Beruang itu mengangkat kura-kura, lalu berjalan menuju sungai. Langkahnya berat tapi pasti. Sesampainya di tepi sungai, ia langsung menurunkan kura-kura ke dalam air. Lalu ia menunggu. Beberapa detik pertama, ndak terjadi apa-apa. Namun tiba-tiba kura-kura itu bergerak. Dengan cepat ia mengeluarkan kaki dan kepalanya lalu langsung berenang menjauh ke arah tengah sungai. Gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan saat ia berjalan di darat. Dalam sekejap ia sudah berada jauh dari jangkauan si beruang lalu menghilang ke bagian sungai yang lebih dalam. Beruang terdiam. Ia hanya bisa melihat ke arah air yang kembali tenang. Ndak ada lagi kura-kura di sana. Ia baru menyadari bahwa ia telah ditipu. Sementara itu, di bawah permukaan air, kura-kura terus berenang menjauh, aman, selamat, dan sekali lagi ia berhasil keluar dari masalah. Bukan karena kuat, bukan karena cepat, tapi karena ia berpikir.
Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa kecerdasan mampu menutupi banyak kekurangan. Kura-kura memang lambat dan lemah, namun ia tahu cara menggunakan pikirannya. Ia ndak memaksakan diri dengan kekuatan yang ndak ia miliki. Ia mencari cara lain dan itulah yang membantunya mendapatkan makanan dan menyelamatkannya. Begitulah juga dalam hidup kita memiliki banyak kekurangan. Banyak dari kita ndak punya tenaga yang kuat, kecepatan, atau modal yang besar. Tapi semua orang punya kesempatan untuk berpikir. Maka gunakan itu untuk menutupi kekurangan kita, asah pikiran kita. Karena seringkiali yang menentukan hasil bukanlah seberapa kuat kita, melainkan seberapa cerdas kita mencari jalan.
