Video klip di atas ada " seluruh nafas ini" milik Last Child. Salah satu lagu Indonesia yang banyak di cover. Seluruh nafas ini sama artinya dengan hidup ini. Apa salahnya di awal bulan Muharam ini kita sedikit merenungkan kembali, apa c sebenarnya tujuan hidup ini. Sedikit ilustrasi.
Seorang anak yang rajin sembahyang tiba-tiba mogok karena melihat hal-hal di tempat sembahyang yang menurutnya membuat orang ndak bisa lagi fokus dalam bersembahyang. Hati mereka menyeru Allah ﷻ, tapi tangan-tangan mereka asyik dengan gawai. Mulut-mulut yang mengagungkan nama Allah ﷻ sekaligus bergosip. Sang Ayah yang tahu hal itu hanya meminta satu syarat sebelum Si anak mengambil keputusan.
“Isislah gelas penuh dengan air dan bawalah berkeliling di tempat sembahyang. Ingat, jangan sampai ada air yang tumpah”.
Si anak pun membawa segelas air berkeliling tempat sembahyang dengan hati-hati hingga ndak setetes air pun jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,
“Bagaimana, sudah kamu bawa air itu keliling tempat sembahyang?”
“sudah Ayah”
“Apakah ada yang tumpah”
“Ndak”
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang yang sibuk dengan gawainya”
“Wah, saya ndak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini,” jawab si anak
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang-orang yang membicarakan kejelekan orang lain?” tanya sang Ayah lagi.
“Wah, saya ndak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas”
Sang Ayah pun tersenyum lalu berkata:
“Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu ndak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain.
Jangan sampai kesibukan Anda menilai kualitas orang lain membuat Anda lupa akan kualitas diri Anda.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, “Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?” atau “Apa makna hidup ini sebenarnya?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, yang seringkali memicu perenungan mendalam, adalah inti dari apa yang kita sebut filsafat manusia. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, dianugerahi akal yang sehat sehingga pada saat-saat tertentu, kita mulai memikirkan dan mempertanyakan keberadaan diri kita sendiri.
Pencarian tujuan hidup manusia adalah bagian dari pencarian kebahagiaan sejati yang seringkali kita rasakan hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Namun, dalam Islam, manusia ndak diciptakan tanpa tujuan dalam hidup. Islam memberikan jawaban yang jelas dan tegas mengenai hal ini. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ bukan tanpa maksud. Justru, Allah ﷻ telah menetapkan dua tujuan hidup manusia yang utama dan saling berkaitan: yaitu untuk beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Kedua pilar ini menjadi landasan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Seringkali, di dunia modern ini, kita mengartikan mencari tujuan hidup sebagai pencarian kesuksesan material. Kita berpikir bahwa menemukan tujuan berarti mendapatkan karir yang gemilang, memiliki kekayaan melimpah, atau mencapai ketenaran di media sosial. Namun, tujuan hidup Anda menurut Islam jauh melampaui hal-hal yang bersifat duniawi dan fana. Kesuksesan dan kekayaan hanya menjadi alat, bukan tujuan akhir. Tujuan hidup adalah sesuatu yang bernilai dan dianggap penting. Oleh karena itu, hidup akan bermakna jika kita berhasil melaksanakan suatu tujuan hidup. Namun, Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, pernah berpendapat bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, atau kebahagiaan.
Pendapat ini sejalan dengan pandangan Islam bahwa kebahagiaan sejati adalah tujuan, tetapi Islam menawarkan jalan yang lebih jelas untuk menemukan kebahagiaan itu.
Setiap individu memiliki tujuan hidupnya yang unik, namun semua bermuara pada satu esensi: kembali kepada Allah ﷻ. Manusia di dunia ini sedang berproses untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Allah ﷻ ndak menciptakan kita dengan sia-sia, dan keberadaan kita memiliki makna yang mendalam. Tujuannya adalah agar kita, sebagai makhluk yang memiliki akal dan hawa nafsu, dapat memilih jalan yang benar untuk tunduk dan beribadah kepada-Nya. Allah ﷻ ingin melihat apakah kita memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun kita memiliki kebebasan untuk bertindak.
Pencarian akan makna hidup seringkali dipenuhi dengan tantangan. Anda mungkin merasa terombang-ambing oleh ekspektasi masyarakat, perbandingan di media sosial, atau bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan hidup yang Anda inginkan. Banyak orang yang bingung mencari tujuan hidup karena menganggapnya hanya sebatas hal-hal duniawi. Terkadang, kita begitu fokus menentukan tujuan hidup yang salah, sehingga ketika kita gagal, kita merasa putus asa. Namun, Islam mengajarkan pentingnya konsisten dalam mencari makna hidup sejati. Menemukan makna hidup ndak terjadi dalam semalam. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, refleksi, dan keyakinan yang kuat.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.
(Pernikahan yang sukses ndak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama.)
SettiaBlog, kamu ngomong kayak gitu sadar? He...he....
Seorang anak yang rajin sembahyang tiba-tiba mogok karena melihat hal-hal di tempat sembahyang yang menurutnya membuat orang ndak bisa lagi fokus dalam bersembahyang. Hati mereka menyeru Allah ﷻ, tapi tangan-tangan mereka asyik dengan gawai. Mulut-mulut yang mengagungkan nama Allah ﷻ sekaligus bergosip. Sang Ayah yang tahu hal itu hanya meminta satu syarat sebelum Si anak mengambil keputusan.
“Isislah gelas penuh dengan air dan bawalah berkeliling di tempat sembahyang. Ingat, jangan sampai ada air yang tumpah”.
Si anak pun membawa segelas air berkeliling tempat sembahyang dengan hati-hati hingga ndak setetes air pun jatuh. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,
“Bagaimana, sudah kamu bawa air itu keliling tempat sembahyang?”
“sudah Ayah”
“Apakah ada yang tumpah”
“Ndak”
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang yang sibuk dengan gawainya”
“Wah, saya ndak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini,” jawab si anak
“Apakah di tempat sembahyang tadi ada orang-orang yang membicarakan kejelekan orang lain?” tanya sang Ayah lagi.
“Wah, saya ndak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas”
Sang Ayah pun tersenyum lalu berkata:
“Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu ndak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain.
Jangan sampai kesibukan Anda menilai kualitas orang lain membuat Anda lupa akan kualitas diri Anda.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, “Apa tujuan hidup manusia di dunia ini?” atau “Apa makna hidup ini sebenarnya?” Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, yang seringkali memicu perenungan mendalam, adalah inti dari apa yang kita sebut filsafat manusia. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, dianugerahi akal yang sehat sehingga pada saat-saat tertentu, kita mulai memikirkan dan mempertanyakan keberadaan diri kita sendiri.
Pencarian tujuan hidup manusia adalah bagian dari pencarian kebahagiaan sejati yang seringkali kita rasakan hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Namun, dalam Islam, manusia ndak diciptakan tanpa tujuan dalam hidup. Islam memberikan jawaban yang jelas dan tegas mengenai hal ini. Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ bukan tanpa maksud. Justru, Allah ﷻ telah menetapkan dua tujuan hidup manusia yang utama dan saling berkaitan: yaitu untuk beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Kedua pilar ini menjadi landasan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Seringkali, di dunia modern ini, kita mengartikan mencari tujuan hidup sebagai pencarian kesuksesan material. Kita berpikir bahwa menemukan tujuan berarti mendapatkan karir yang gemilang, memiliki kekayaan melimpah, atau mencapai ketenaran di media sosial. Namun, tujuan hidup Anda menurut Islam jauh melampaui hal-hal yang bersifat duniawi dan fana. Kesuksesan dan kekayaan hanya menjadi alat, bukan tujuan akhir. Tujuan hidup adalah sesuatu yang bernilai dan dianggap penting. Oleh karena itu, hidup akan bermakna jika kita berhasil melaksanakan suatu tujuan hidup. Namun, Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, pernah berpendapat bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, atau kebahagiaan.
Pendapat ini sejalan dengan pandangan Islam bahwa kebahagiaan sejati adalah tujuan, tetapi Islam menawarkan jalan yang lebih jelas untuk menemukan kebahagiaan itu.
Setiap individu memiliki tujuan hidupnya yang unik, namun semua bermuara pada satu esensi: kembali kepada Allah ﷻ. Manusia di dunia ini sedang berproses untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Allah ﷻ ndak menciptakan kita dengan sia-sia, dan keberadaan kita memiliki makna yang mendalam. Tujuannya adalah agar kita, sebagai makhluk yang memiliki akal dan hawa nafsu, dapat memilih jalan yang benar untuk tunduk dan beribadah kepada-Nya. Allah ﷻ ingin melihat apakah kita memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun kita memiliki kebebasan untuk bertindak.
Pencarian akan makna hidup seringkali dipenuhi dengan tantangan. Anda mungkin merasa terombang-ambing oleh ekspektasi masyarakat, perbandingan di media sosial, atau bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan hidup yang Anda inginkan. Banyak orang yang bingung mencari tujuan hidup karena menganggapnya hanya sebatas hal-hal duniawi. Terkadang, kita begitu fokus menentukan tujuan hidup yang salah, sehingga ketika kita gagal, kita merasa putus asa. Namun, Islam mengajarkan pentingnya konsisten dalam mencari makna hidup sejati. Menemukan makna hidup ndak terjadi dalam semalam. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, refleksi, dan keyakinan yang kuat.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.
(Pernikahan yang sukses ndak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama.)
SettiaBlog, kamu ngomong kayak gitu sadar? He...he....
Video klip kedua ini ada "seperti air mengalir". Maaf ya, ini SettiaBlog ndak membuat lagu lho ya. SettiaBlog hanya mengenalkan sedikit sastra lama, yang ini milik Kahlil Gibran. Kalau yang bahasan sebelumnya itu potongan dialog Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Walaupun ndak merasa membuat lagu tapi tetap masih memperhatikan musiknya kok. Di situ SettiaBlog kasih sedikit sentuhan nuansa Jawa. Untuk vokalnya SettiaBlog terinspirasi lengkingan vokalisnya Within Temptation, Sharon den Adel. Jika Anda melihat secara utuh Anda akan ngerti.
Let it flow. Biarkan mengalir. Ungkapan ini pasti sering kita dengar. Ya, sebuah ungkapan singkat namun sarat makna. Flow yang dalam arti harfiahnya bermakna ‘mengalir’, ‘melimpah’, mengandaikan sebuah keadaan yang bebas, ndak dibatasi dan ndak terikat dengan sesuatu. Flow adalah sebuah keadaan yang menunjukkan ketenangan, kenyamanan, bahkan dalam kondisi tertentu “kebebasan”. Layaknya air yang mengalir bebas ke mana pun ia suka. Filosofi air yang mengalir bebas sering menjadi acuan seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Hidup ini akan terasa nikmat kalau kita menjalaninya dengan perasaan lepas, jiwa yang bebas, pikiran yang merdeka, ndak dikungkung atau dibelenggu oleh apa pun dan siapa pun. Hidup ini akan terasa damai kalau kita menjalaninya dengan tenang, mengalir seperti air. Makna lain dari filosofi air mengalir adalah bahwa segala sesuatu yang terus mengalir, bergerak akan selalu menghadirkan kebaruan dan kejernihan. Hidup pun demikian adanya.
Hidup adalah bergerak dan mengalir. Jika diam dan tetap maka hanya kebekuan dan kejumudan pikiran dan perasaan yang akan kita rasakan. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikian juga hendaknya dengan kehidupan kita. Meski kita tengah berada di posisi yang tinggi, memiliki kelimpahan materi, ilmu pengetahuan yang mumpuni, kedudukan yang bergengsi, tetaplah rendah hati. Lihatlah bagaimana kehidupan orang di sekeliling kita. Banyak di antara mereka yang masih kesulitan ekonomi, pendidikan tinggi ndak mampu dijangkau karena mahalnya biaya yang harus dibayar, pekerjaan ndak menentu sekadar untuk dapat menyambung hidup, dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuat kehidupan mereka terasa ndak nyaman. Sapalah mereka, dekati mereka, bantulah mereka. Inilah makna air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Jadilah seperti air yang tenang tetapi menghanyutkan, bukan seperti air yang beriak tanda tak dalam. Ya, dalam menjalani hidup ini jadilah pribadi yang tenang. Tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang. Tenang karena kita memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup. Tenang karena kita memiliki Allah yang Maha segala-galanya. Janganlah menjadi air yang beriak. Karena itu pasti tanda tak dalam. Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ndak perlu banyak tingkah dan gaya, yang hanya akan menunjukkan kepongahan di balik kekosongan jiwa. Ndak usah banyak sesumbar apalagi berkoar-koar sembari membusungkan dada, yang hanya akan membuat orang lain jengah dan akhirnya tahu kualitas dan kapasitas diri kita sesungguhnya.
Let it flow. Biarkan mengalir. Ungkapan ini pasti sering kita dengar. Ya, sebuah ungkapan singkat namun sarat makna. Flow yang dalam arti harfiahnya bermakna ‘mengalir’, ‘melimpah’, mengandaikan sebuah keadaan yang bebas, ndak dibatasi dan ndak terikat dengan sesuatu. Flow adalah sebuah keadaan yang menunjukkan ketenangan, kenyamanan, bahkan dalam kondisi tertentu “kebebasan”. Layaknya air yang mengalir bebas ke mana pun ia suka. Filosofi air yang mengalir bebas sering menjadi acuan seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Hidup ini akan terasa nikmat kalau kita menjalaninya dengan perasaan lepas, jiwa yang bebas, pikiran yang merdeka, ndak dikungkung atau dibelenggu oleh apa pun dan siapa pun. Hidup ini akan terasa damai kalau kita menjalaninya dengan tenang, mengalir seperti air. Makna lain dari filosofi air mengalir adalah bahwa segala sesuatu yang terus mengalir, bergerak akan selalu menghadirkan kebaruan dan kejernihan. Hidup pun demikian adanya.
Hidup adalah bergerak dan mengalir. Jika diam dan tetap maka hanya kebekuan dan kejumudan pikiran dan perasaan yang akan kita rasakan. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikian juga hendaknya dengan kehidupan kita. Meski kita tengah berada di posisi yang tinggi, memiliki kelimpahan materi, ilmu pengetahuan yang mumpuni, kedudukan yang bergengsi, tetaplah rendah hati. Lihatlah bagaimana kehidupan orang di sekeliling kita. Banyak di antara mereka yang masih kesulitan ekonomi, pendidikan tinggi ndak mampu dijangkau karena mahalnya biaya yang harus dibayar, pekerjaan ndak menentu sekadar untuk dapat menyambung hidup, dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuat kehidupan mereka terasa ndak nyaman. Sapalah mereka, dekati mereka, bantulah mereka. Inilah makna air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Jadilah seperti air yang tenang tetapi menghanyutkan, bukan seperti air yang beriak tanda tak dalam. Ya, dalam menjalani hidup ini jadilah pribadi yang tenang. Tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang datang. Tenang karena kita memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup. Tenang karena kita memiliki Allah yang Maha segala-galanya. Janganlah menjadi air yang beriak. Karena itu pasti tanda tak dalam. Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, ndak perlu banyak tingkah dan gaya, yang hanya akan menunjukkan kepongahan di balik kekosongan jiwa. Ndak usah banyak sesumbar apalagi berkoar-koar sembari membusungkan dada, yang hanya akan membuat orang lain jengah dan akhirnya tahu kualitas dan kapasitas diri kita sesungguhnya.

No comments:
Post a Comment