Jul 1, 2026

Pencapaian Tertinggi Dalam Hidup

 


Video klip di atas ada "Moonlight" milik Ariana Grande yang udah di cover. Ariana, SettiaBlog pinjam lagunya dulu ya. SettiaBlog terinspirasi oleh strawberry moon yang terjadi kemaren lusa. Strawberry Moon itu, sebutan bulan purnama yang muncul pada bulan Juni. Secara filosofis, bulan purnama melambangkan puncak pencapaian, kesempurnaan, dan pencerahan. Fase ini merepresentasikan titik balik di mana sebuah siklus mencapai keutuhan penuh setelah melalui proses pertumbuhan.

Berbicara tentang pencapaian tertinggi dalam hidup, semua akan kembali kepada individu masing-masing tentunya. Sudut pandang , latar belakang , kemampuan intelektual dan spiritual bersatu dalam pemahaman seseorang ketika berpikir dengan cara sederhana, “Sebenarnya mau apa yang dicapai dalam hidup ini?”

Secara harfiah pencapaian tertinggi dalam hidup sudah pasti mencapai apa yang diinginkan, apa yang sudah direncanakan. Bisa rencana jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang untuk masa depan. Lebih luas dan mulia lagi, jika menyertakan kepentingan orang banyak didalamnya. Terlalu tinggikah seperti itu? Namanya juga pencapaian tertinggi untuk diri sendiri tentu berbicara tentang keinginan diri sendiri yang masih banyak belum terpenuhi dan ingin terealisasi dengan sempurna, ngapain mikirin orang lain! Huuss...sebaiknya jangan ngomong kayak gitu kan ya.

Manusiawi sekali anggapan seperti itu, mengingat kita adalah makhluk social. Karena, bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau diri sendiri belum bisa kita “tolong”. Tapi seiring bertambahnya usia, SettiaBlog yakin, setiap manusia pelan-pelan ingin menemukan sisi humanisnya. Sisi dimana dia akan merasa tentram, damai jika sudah berbuat sesuatu untuk orang lain, untuk lingkungan – dengan begitu dia harus memposisikan dirinya sebagai orang yang bijaksana terlebih dulu.

Menjalani hidup dengan merenungi perjalanan hidup, adalah hal yang berbeda. Menjalaninya berarti menerima dengan lapang hati, apa yang sekarang diberikan Allah ﷻ kepada kita. Masalah yang didepan mata beserta jalan keluar yang bersembunyi di dalamnya, adalah suatu yang harus kita terima dengan ikhlas-tanpa pertanyaan balik kepadaNya. Kita perlu merenung, sudah sejauh mana pencapaian saya dalam hidup ini. Berhasilkah saya memanfaatkan kesempatan “kontrak hidup” yang diberikanNYA, menikmati jatah umur yang sudah ditetapkan ?

Seperti halnya, pertanyaan lumrah yang ditanyakan kepada setiap orang, “apa cita-citamu?”. Ketika ketika malu untuk mengungkapkan hal yang bersifat impian dan keinginan maka jawaban terbaiknya adalah, “sukses dunia dan akhirat”. Apakah salah dengan jawaban ini? Tentu ndak, tapi masih bersifat umum yang perlu dijabarkan secara rinci, agar perjalanan menuju pencapaian tersebut memang bukan sekedar menutup obrolan seputar pertanyaan tentang cita-cita atau pencapaian hidup.

Disini, persepsi tentang makna pencapaian dalam hidup, ada baiknya ditanya lagi ke dalam hati nurani. Dulu mungkin, ketika masih usia sekolah, yang terpikir hanya sebatas mendapatkan ijazah dan melanjutkan ke jenjang sekolah terbaik dan terfavorit, dengan cara belajar yang rajin. Ketika sudah dicapai, ada lagi tingkatan yang ingin ditembus, menjadi strata menengah atas, yang mapan hingga anak cucu. Ketika anak sudah berkeluarga, ada lagi keinginan memapankan yang sudah mapan, begitulah roda selanjutnya dalam kehidupan yang terus dijalani. Tentu diiringi dengan pengakuan lingkungan yang bersifat aktualisasi diri juga berarti sebagai pengakuan atas pencapaian yang kita dapatkan.

Jika kita terus berpatokan bahwa, penuhi diri sendiri dulu, baru orang lain, sampai kapanpun, kita ndak pernah bisa merasakan level atas pencapaian tertinggi dalam hidup. SettiaBlog menyadarinya lumayan terlambat, lha terus, gimana ? Ada baiknya semuanya berjalan di usahan beriringan. Artinya, sembari kita memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, sejalan dengan kita meniti rencana-rencana kita, disitu pula kita selipkan kebutuhan akan eksistensi diri, kebutuhan diakui oleh lingkungan. Tentu saja dengan maksud positif, berbuat sesuatu untuk sesama, bagaimanapun caranya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sesuai dengan status kita saat ini. Contoh paling sederhana yang sering pada saat momen motivasi, pengembangan diri atau acara sejenisnya, kita selalu diajak untuk membuat 100 daftar keinginan.

Setiap orang memiliki impian. Sesuatu yang diimpikan masing-masing orang pun berbeda. Impian merupakan langkah menuju sukses yang terpenting, karena dengan adanya impian, berarti kita memiliki tujuan. Setiap kita melakukan suatu hal, pasti ada tujuannya. Dengan adanya mimpi tersebut, kita dapat termotivasi untuk melakukan hal yang dapat membawa kita meraih impian tersebut. Tujuan terbaiknya bisa dikatakan sebagai bentuk pencapaian tertinggi dalam hidup. Berbicara secara pengalaman, untuk 100 daftar keinginan ini bisa di buat buat dalam bentuk dua hal. Maksudnya gimana? Buat 100 daftar keinginan yang ingin dicapai dalam jangka waktu panjang dan 100 daftar keinginan yang ingin dicapai setiap tahun. Karena berbicara 100 daftar keinginan jangka panjang tentulah harus dibarengi dengan pencapaian kecil pendukung dari pencapaian terbesarnya. Ibaratnya seperti yang dipaparkan diatas, Anda ingin sukses dunia dan akhirat tapi ndak merencanakan secara rinci bentuk sukses dunianya seperti apa dan supaya bisa sukses di dimensi abadi, bentuk ibadah apa aja yang ingin Anda targetkan.

Jadi segera ambil kertas atau buku dan tentu pulpen bila perlu warna-warni agar menyegarkan mata saat mengulas dan evaluasi daftar keinginan Anda. Kenapa ndak ditulis dalam bentuk digital? Boleh-boleh aja bila merasa nyaman menuliskan secara digital. Tapi buat SettiaBlog, rasanya jauh lebih berbeda bila ditulis dengan tangan (rasanya lebih mengena kalau di tulis pakai tangan, ya itu yang SettiaBlog rasakan lho ya)

Bagi yang yang baca blog Settia saat ini, kalau masih muda, bersyukurlah bahwa kalian masih punya banyak waktu untuk berbuat yang terbaik bagi diri dan lingkungan sekitar, ndak perlu nunggu dewasa. Ndak perlu nunggu pas udah bekerja. Jadilah yang terbaik yang Anda bisa, raih impian Anda setinggi mungkin, langit adalah batasnya!

Dan untuk yang usianya senasib seperti SettiaBlog, he he he, lebih baik terlambat daripada telat banget apalagi ndak sama sekali. Mestinya dengan pengalaman yang sudah lebih banyak, kita bisa menentukan langkah lebih matang, lebih sedikit salahnya.

Dalam meraih pencapaian tertinggi dalam hidup, kadang kita dibenturkan oleh beberapa halangan yang sifatnya takdir atau sesuatu yang ndak kita duga. Boleh keras dalam mencapainya tapi terkadang perlu untuk realistis dan mundur sejenak bila dirasa ndak mungkin untuk diraih. Inilah mengapa menggunakan dua cara dalam membuat 100 daftar keinginan, agar goal akhirnya semua bisa tercapai walau bertahap dan perlahan.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Bahasan ini sama sekali ndak mau menasehati, mengingatkan apalagi menggurui. Bahasan ini, sepenuhnya sebagai ajang untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa SettiaBlog harus merenungi lagi tentang makna pencapaian dalam hidup SettiaBlog.


Video klip di atas ada "pagi setelah malam". Sebentar SettiaBlog, di mana - mana pagi itu setelah malam. Masak tho....he...he.... Kalau membuat judul lagu mbok yang menarik gitu lho SettiaBlog. Ya..ya .., Sekarang SettiaBlog tak cerita aja ya. Duduk yang manis..!

Dahulu kala di sebuah desa kecil yang tenang di tepi hutan lebat hiduplah tiga bersaudara Rosan, Hogan dan Sami mereka tinggal di sebuah pondok sederhana yang diwariskan oleh orang tua mereka yang telah tiada. Mereka hidup rukun, ketiganya dikenal sebagai pemuda yang jujur bekerja keras dan selalu membantu sesama. Setiap hari mereka pergi ke hutan untuk menebang kayu dengan bahu yang kokoh dan tangan yang kuat mereka memotong pohon-pohon tua dan membawa kayu gelondongan itu ke pasar untuk di jual. Penghasilan mereka cukup untuk makan sehari - hari.

Tetapi kehidupan sederhana itu ndak memberikan kebahagiaan kepada mereka, ada kekosongan yang selalu menghantui hati mereka. "Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?" tanya Rosan suatu malam ketika mereka duduk di depan perapian. Wajahnya terlihat murung seperti bayang-bayang api yang menari ndak beraturan. "Aku ingin memiliki rumah besar dan megah mungkin saat itu aku akan bahagia." jawab Rosan dengan mata berbinar . Hogan mengangguk pelan. "Aku ingin ladang yang luas dengan hasil panen yang melimpah dengan begitu kita ndak perlu lagi bekerja keras di hutan." Sedangkan Sami yang paling muda tersenyum kecil "aku hanya ingin seorang istri yang cantik yang membuatku merasa istimewa setiap kali aku pulang ke rumah."

Keinginan mereka begitu berbeda namun kesedihan yang mereka rasakan sama, hidup yang mereka jalani tampak hampa. Meskipun mereka memiliki segalanya untuk bertahan. Pada suatu sore saat mereka berjalan pulang dari hutan dengan membawa tumpukan kayu. Mereka melihat seorang pria tua yang membungkuk di pinggir jalan wajahnya sayu dan ia membawa keranjang berat di punggungnya. Hati ketiga bersaudara itu tergerak tanpa pikir panjang mereka segera menurunkan kayu yang mereka bawa dan segera menghampiri pria tua itu. "Kek, biarkan kami membantu Anda membawa keranjang itu." kata Hogan dengan sopan. Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum lemah. "Terima kasih anak-anakku keranjang ini berisi apel yang aku kumpulkan dari hutan, rumahku ndak jauh dari sini."

Rosan , Hogan dan Sami bergantian memikul keranjang itu sebab keranjang yang terisi penuh apel yang ternyata lebih berat dari kelihatannya, meskipun terasa berat dan perjalanan cukup jauh mereka ndak mengeluh. Ketika akhirnya tiba di rumah pria tua itu, mereka merasa sangat lelah tetapi juga puas telah membantu seseorang. Pria tua itu tersenyum lembut "kebaikan kalian ndak akan aku lupakan, aku sebenarnya bukanlah orang biasa dan aku ingin memberikan hadiah atas ketulusan kalian. Katakanlah apa yang paling kalian inginkan dalam hidup ini." Ketiga bersaudara itu terkejut meski diliputi keraguan namun mereka tetap menjawab dengan jujur Rosan menginginkan rumah besar, Hogan mendambahkan ladang luas dan Sami bermimpi memiliki istri yang cantik. Mendengar permintaan ketiga bersaudara itu pria tua itu mengangguk. "Baiklah pulanglah ke rumah kalian, apa yang kalian inginkan akan menunggu di sana." katanya.

Ketiga bersaudara itu kebingungan, ketika ketiga bersaudara itu tiba di rumah mereka mereka tercengang sebuah rumah besar dengan pilar-pilar megah berdiri di samping pondok lama mereka. Pelayan-pelayan berbaris di depan pintu siap melayani Rosan. Di kejauhan ladang luas yang subur terbentang lengkap dengan para pekerja yang sibuk di sana. Hogan merasa seperti bermimpi. Dan Sami, ia melihat wanita yang cantik berdiri di depan rumah, tersenyum padanya malu - malu. "Aku adalah istrimu." katanya lembut. Mata Sami berbinar penuh kebahagiaan.

Mulai hari itu kehidupan mereka berubah seketika. Rosan menikmati kenyamanan rumah megahnya. Hogan mengawasi ladangnya yang luas. Dan Sami menghabiskan waktu bersama istrinya yang cantik. Awalnya semua terasa sempurna, hari-hari mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Ndak ada lagi rasa lelah atau keluhan yang mereka rasakan sebelumnya namun kebahagiaan itu ndak bertahan lama.

Setelah satu tahun Rosan mulai bosan dengan rumahnya. Dia merasa malas dan biarkan pelayan-pelayannya bekerja tanpa pengawasan. Rumah yang megah itu perlahan menjadi suram, pelayan-pelayan mulai kehilangan semangat dan suasana di rumah itu terasa hampa. Di sisi lain Hogan merasa terbebani dengan ladangnya ia ndak lagi menikmati pekerjaan yang sebelumnya ia dambakan. Hasil panen yang melimpah justru membuatnya khawatir akan serangan hama atau cuaca buruk. Setiap malam ia terjaga memikirkan, bagaimana melindungi ladangnya dari ancaman yang ndak kunjung datang. Sedangkan Sami yang awalnya terpesona dengan kecantikan istrinya mulai menganggap keberadaannya biasa aja. Bahkan ia seringkali pusing mendengar keluhan dan omelan dari sang istri. ia merasa hubungan mereka kehilangan kehangatan, percakapan mereka menjadi singkat dan momen-momen kebersamaan yang dulu membahagiakan kini terasa hambar.

Ketiganya kembali merasakan kekosongan yang sama seperti sebelumnya. Mereka sadar bahwa meskipun keinginan mereka telah terwujud kebahagiaan sejati tetap ndak mereka temukan. Kebahagiaan yang dulu mereka pikir akan datang dengan harta, tanah atau cinta ternyata hanya sementara.

Suatu hari saat udara terasa cukup dingin mereka memutuskan untuk menemui pria tua itu lagi. Setelah mencari di hutan mereka akhirnya menemukan rumahnya. Pria tua itu sedang duduk di depan perapian menghangatkan badannya yang ndak lagi prima. Kehangatan di dalam rumah itu memberikan rasa tenang, di tengah kekecewaan mereka. "Kek kami membutuhkan bantuanmu lagi." kata Rosan. "Kami ndak lagi bahagia meskipun keinginan kami telah terpenuhi." Pria tua itu tersenyum bijak. "Anak-anakku kebahagiaan sejati ndak terletak pada apa yang kalian miliki tetapi pada bagaimana kalian mensyukuri dan menghargainya. Kalian memiliki segalanya tetapi ndak memiliki kepuasan, tanpa kepuasan kebahagiaan akan selalu memudar." Ketiga bersaudara itu termenung mereka menyadari kesalahan mereka. Pri tua itu melanjutkan, "kepuasan adalah kunci kebahagiaan, syukurilah apa yang kalian miliki dan belajarlah untuk menikmatinya dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya."

Pria tua itu mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan adalah perjalanan bukan tujuan. Setelah pertemuan itu Rosan, Hogan dan Sami pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan. Mereka mulai memperhatikan segala yang mereka miliki. Rosan mulai mensyukuri rumah besarnya dan ndak lagi fokus pada lelahnya mengurus rumah. Hogan mulai menghargai setiap hasil panennya dan ndak lagi resah dengan hama yang kadang datang. Dan Sami mulai merasakan kembali kehangatan dari senyum manis istrinya dan ndak lagi suntuk dengan istrinya yang kadang merepotkan. Kehidupan mereka berubah, mereka ndak lagi fokus pada apa yang kurang dalam kehidupan mereka. Tetapi lebih fokus pada apa yang mereka miliki. Mereka akhirnya menyadari bahwa rahasia kebahagiaan ndak terletak pada apa yang dimiliki tetapi pada bagaimana menikmati setiap momen dengan hati yang tulus dan penuh syukur.

Ingatlah untuk menikmati apa yang telah dianugerahkan kepada kita dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur agar kebahagiaan senantiasa menyertai kehidupan kita, jangan lupa ya. He...he....