Video klip di atas ada "wonder" milik Katy Perry, lagu juga di bawakan Katy Perry di acara Opening Ceremony of the FIFA World Cup 2026 di Los Angeles. Lagu ini dibuka dengan pertanyaan, apakah hati kita akan tetap bersemangat dan apakah kita masih akan melihat dunia dengan penuh kekaguman saat kita semakin tua nanti? Terus ada potongan lirik can somebody promise me / Our innocence doesn't get lost in a cynical world?
. Ini sebuah permohonan agar seseorang ndak kehilangan kemurnian hati dan kepolosannya di tengah-tengah dunia yang seringkali membuat kita menjadi pesimis dan sinis. Lha sinis itu apa? Sinis itu sikap atau pandangan yang meremehkan, memandang rendah, atau mengejek orang lain. Dan sikap ini tentu kurang baik kan ya.
Tahukah Anda, bahwa emosi itu sifatnya menular? Apa yang Anda rasakan terefleksi dari sikap dan pembawaan Anda sehari-hari. Bila diri Anda adalah pribadi yang ceria dan periang, Anda akan membawa sukacita di lingkungan Anda. Begitu pula dengan sebaliknya, bila diri Anda adalah orang negatif, tanpa disadari Anda pun akan membawa sikap pesimis dan sinisme di circle Anda.
Meski sinisme adalah salah satu ekspresi untuk mengungkapkan rasa ndak suka Anda pada sesuatu, tapi ini bukan cara komunikasi yang sehat. Bahkan, sinisme dapat memicu relasi toksik karena memicu ketegangan tanpa berterus terang.
1.Sinisme membentangkan jarak antara Anda dengan dia
Sadarkah Anda, dengan bersikap sinis, itu sama saja ndak berterus terang ke orang lain yang berhadapan dengan Anda? Marah dan kesal dengan sikapnya, merasa dikhianati serta dirusak kepercayaan Anda, tapi giliran bertemu langsung Anda hanya menyindir dengan kata-kata yang menyakiti hati. Anda berharap dia akan segera tahu dan sadar kesalahannya, tapi ternyata ndak. Hal itulah yang membuat Anda makin dongkol dan berakhir mendiamkannya. Kenapa ndak langsung Anda komunikasikan saja akar masalahnya? Bersikap sinis malah ndak menyelesaikan apa-apa. Kesalahpahaman kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi malah berekor panjang, karena sikap kekanak-kanakan Anda.
2.Bikin teman Anda merasa down
Banyak orang berpikir, sinisme adalah salah satu cara menegur. Padahal, belum tentu ini bekerja pada semua orang. Justru beberapa tipe orang akan merasa down bila dibalas dengan sikap yang sama. Ia merasa ndak berguna, ndak berharga, dan tertekan. Awalnya, mungkin ia mau berubah menjadi lebih baik. Namun, hal itu gagal dilakukan, karena sikap dan ucapan negatif Anda. Memang awalnya Anda ndak merasa bersalah akan hal itu. Sebab, Anda merasa jika niat Anda sebenarnya baik, yakni untuk mengingatkan supaya dia ndak melakukan hal yang sama. Namun, kesinisan Anda bisa ditangkap orang sebagai penghinaan. Oleh karena itu, penting untuk kita berhati-hati dalam mengolah kata.
3.Sinisme bikin orang sulit percaya pada Anda
Ketika Anda mengatakan pujian atau kalimat positif lainnya, alih-alih diterima dengan tangan terbuka, hal itu malah menambah tanda tanya dalam benak teman Anda. Mereka ndak yakin, apakah pujian yang Anda lontarkan serius atau lagi-lagi hanya sekedar wujud kesinisan saja? Orang lain jadi ndak nyaman bicara dengan Anda, takut digosipkan, dan takut mendapat sikap sinis saat ndak sengaja melakukan kesalahan. Pembawaan diri Anda bisa sangat berpengaruh dengan bagaimana orang akan memandang Anda, lho.
4.Sinisme bikin orang ndak nyaman
Apalagi, saat Anda bertemu orang baru. Ia pasti akan langsung merasa risi bila tahu karakter Anda yang suka berbicara sinis. Vibes yang Anda bawa negatif dan membuat mereka ndak nyaman. Bahkan orang-orang terdekat Anda pun perlahan akan merasa lelah. Sekali dua kali, mereka memaklumi akan hal itu. Namun, terus-menerus menerima kesinisan Anda sama saja dengan menyerap energi negatif Anda masuk ke dalam tubuhnya. Saat berinteraksi dengan orang lain, Anda pasti ingin mendapat energi positif sebanyak-banyaknya. Begitu pula dengan teman Anda. Jangan demi suasana hati atau kepentingan Anda pribadi, Anda seenaknya bersikap sinis pada orang lain. Coba posisikan diri sendiri, bila Anda yang mendapat sikap sinis tadi. Anda pasti dongkol juga, kan?
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan hubungan antara sikap sinis dan kesuksesan ekonomi. Orang dengan sikap sinis yang tinggi cenderung memiliki pendapatan lebih rendah dibanding orang-orang positif. Mengapa demikian? Ternyata, orang sinis enggan percaya pada orang lain yang menyebabkan mereka sulit untuk bekerja sama. Kecurigaan mereka secara konstan menghalangi mereka untuk meminta bantuan dan malah berdampak buruk pada karier. Tentu saja, ada banyak akibat buruk lainnya jika Anda sering bersikap sinis. Kabar baiknya, sikap buruk ini dapat dikurangi lewat tindakan dari dalam diri kita sendiri, kok.
1. Berdamai dengan diri sendiri
Tanpa disadari, sikap sinis yang terbentuk sekarang adalah buah dari pengalaman buruk di masa lalu. Entah perundungan atau pengkhianatan, pengalaman pahit tersebut membuat Anda terlalu takut untuk percaya pada orang lain. Namun, perlu diketahui bahwa ndak semua orang sama. Menetap dalam kenangan buruk hanya menghambat langkah Anda. Ambil keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri dan perlahan kembali jalin relasi yang sehat dengan orang lain. Ini adalah langkah paling awal untuk mengubah sikap sinis Anda.
2. Lepaskan victim mentality
Adakah yang sampai sekarang masih menyalahkan orang lain karena telah menahan Anda maju? Memang terkadang, hidup terasa ndak adil. Orang yang dulu menjahati Anda seolah tampak baik-baik saja. Bahkan, bagi Anda hidupnya terkesan lebih mapan dari keadaan Anda saat ini. Tetapi, ndak akan ada yang berubah bila Anda terus melihat diri sendiri sebagai korban. Sudah saatnya untuk Anda bangkit, melangkah maju, dan meninggalkan kepedihan masa lalu. Izinkan diri Anda untuk melakukan banyak hal serta membuat pilihan baru terlepas dari seberapa pahit masa lalu Anda.
3. Praktikan bersyukur
Latih diri Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Cara paling sederhana, setiap pagi cari satu hal untuk Anda syukuri. Begitu pula sebelum tidur. Ingat-ingat hal baik apa yang bisa Anda syukuri selama sehari penuh. Ini adalah salah satu cara untuk mengikis sikap sinis dan menggantinya dengan aura positif. Bukan berarti toxic positivity, ya. Saat sesuatu berjalan ndak baik, Anda masih bisa mengakui perasaan negatif Anda. Tapi, di banyak kesempatan, cobalah untuk selalu melihat sisi baik dan mensyukurinya.
4. Latih diri Anda untuk melihat kualitas baik pada diri orang lain
Strategi lain untuk mengurangi rasa sinis ialah menggantinya dengan mencari kualitas baik dalam diri orang di sekitar Anda. Jangan selalu menempatkan kecurigaan dan keraguan Anda pada mereka. Pasti teman atau rekan kerja Anda sekarang memiliki setidaknya satu karakter positif. Sesekali, ndak apa-apa untuk mengakui, bahkan memuji kelebihan mereka. Walau awalnya sulit, kebiasaan ini bagus agar Anda bisa belajar untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda serta mengajarimu untuk kembali terbuka terhadap orang lain.
5. Bergaul dengan orang positif
Barangkali, sikap sinis Anda sekarang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman Anda. Jangan salah, lho! Pergaulan juga merpakan salah satu faktor terbesar yang membentuk jati diri kita. Mulai sekarang, cari lingkaran pertemanan yang positif dan saling mendukung. Hindari berkawan dengan orang skeptis dan negatif. Besar kemungkinan hidup Anda pun akan tertular aura negatif yang berkelindan di sekitar lingkungan tersebut.
Nnak sulit, kok, untuk mengubah sikap sinis. Mudah curiga, skeptis, sering negative thinking, tentu berpotensi meminimalisir tingkat relasi yang kita miliki dengan orang lain. Jauh lebih enak kalau jadi orang yang ramah dan positif, bukan?
. Ini sebuah permohonan agar seseorang ndak kehilangan kemurnian hati dan kepolosannya di tengah-tengah dunia yang seringkali membuat kita menjadi pesimis dan sinis. Lha sinis itu apa? Sinis itu sikap atau pandangan yang meremehkan, memandang rendah, atau mengejek orang lain. Dan sikap ini tentu kurang baik kan ya.
Tahukah Anda, bahwa emosi itu sifatnya menular? Apa yang Anda rasakan terefleksi dari sikap dan pembawaan Anda sehari-hari. Bila diri Anda adalah pribadi yang ceria dan periang, Anda akan membawa sukacita di lingkungan Anda. Begitu pula dengan sebaliknya, bila diri Anda adalah orang negatif, tanpa disadari Anda pun akan membawa sikap pesimis dan sinisme di circle Anda.
Meski sinisme adalah salah satu ekspresi untuk mengungkapkan rasa ndak suka Anda pada sesuatu, tapi ini bukan cara komunikasi yang sehat. Bahkan, sinisme dapat memicu relasi toksik karena memicu ketegangan tanpa berterus terang.
1.Sinisme membentangkan jarak antara Anda dengan dia
Sadarkah Anda, dengan bersikap sinis, itu sama saja ndak berterus terang ke orang lain yang berhadapan dengan Anda? Marah dan kesal dengan sikapnya, merasa dikhianati serta dirusak kepercayaan Anda, tapi giliran bertemu langsung Anda hanya menyindir dengan kata-kata yang menyakiti hati. Anda berharap dia akan segera tahu dan sadar kesalahannya, tapi ternyata ndak. Hal itulah yang membuat Anda makin dongkol dan berakhir mendiamkannya. Kenapa ndak langsung Anda komunikasikan saja akar masalahnya? Bersikap sinis malah ndak menyelesaikan apa-apa. Kesalahpahaman kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi malah berekor panjang, karena sikap kekanak-kanakan Anda.
2.Bikin teman Anda merasa down
Banyak orang berpikir, sinisme adalah salah satu cara menegur. Padahal, belum tentu ini bekerja pada semua orang. Justru beberapa tipe orang akan merasa down bila dibalas dengan sikap yang sama. Ia merasa ndak berguna, ndak berharga, dan tertekan. Awalnya, mungkin ia mau berubah menjadi lebih baik. Namun, hal itu gagal dilakukan, karena sikap dan ucapan negatif Anda. Memang awalnya Anda ndak merasa bersalah akan hal itu. Sebab, Anda merasa jika niat Anda sebenarnya baik, yakni untuk mengingatkan supaya dia ndak melakukan hal yang sama. Namun, kesinisan Anda bisa ditangkap orang sebagai penghinaan. Oleh karena itu, penting untuk kita berhati-hati dalam mengolah kata.
3.Sinisme bikin orang sulit percaya pada Anda
Ketika Anda mengatakan pujian atau kalimat positif lainnya, alih-alih diterima dengan tangan terbuka, hal itu malah menambah tanda tanya dalam benak teman Anda. Mereka ndak yakin, apakah pujian yang Anda lontarkan serius atau lagi-lagi hanya sekedar wujud kesinisan saja? Orang lain jadi ndak nyaman bicara dengan Anda, takut digosipkan, dan takut mendapat sikap sinis saat ndak sengaja melakukan kesalahan. Pembawaan diri Anda bisa sangat berpengaruh dengan bagaimana orang akan memandang Anda, lho.
4.Sinisme bikin orang ndak nyaman
Apalagi, saat Anda bertemu orang baru. Ia pasti akan langsung merasa risi bila tahu karakter Anda yang suka berbicara sinis. Vibes yang Anda bawa negatif dan membuat mereka ndak nyaman. Bahkan orang-orang terdekat Anda pun perlahan akan merasa lelah. Sekali dua kali, mereka memaklumi akan hal itu. Namun, terus-menerus menerima kesinisan Anda sama saja dengan menyerap energi negatif Anda masuk ke dalam tubuhnya. Saat berinteraksi dengan orang lain, Anda pasti ingin mendapat energi positif sebanyak-banyaknya. Begitu pula dengan teman Anda. Jangan demi suasana hati atau kepentingan Anda pribadi, Anda seenaknya bersikap sinis pada orang lain. Coba posisikan diri sendiri, bila Anda yang mendapat sikap sinis tadi. Anda pasti dongkol juga, kan?
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan hubungan antara sikap sinis dan kesuksesan ekonomi. Orang dengan sikap sinis yang tinggi cenderung memiliki pendapatan lebih rendah dibanding orang-orang positif. Mengapa demikian? Ternyata, orang sinis enggan percaya pada orang lain yang menyebabkan mereka sulit untuk bekerja sama. Kecurigaan mereka secara konstan menghalangi mereka untuk meminta bantuan dan malah berdampak buruk pada karier. Tentu saja, ada banyak akibat buruk lainnya jika Anda sering bersikap sinis. Kabar baiknya, sikap buruk ini dapat dikurangi lewat tindakan dari dalam diri kita sendiri, kok.
1. Berdamai dengan diri sendiri
Tanpa disadari, sikap sinis yang terbentuk sekarang adalah buah dari pengalaman buruk di masa lalu. Entah perundungan atau pengkhianatan, pengalaman pahit tersebut membuat Anda terlalu takut untuk percaya pada orang lain. Namun, perlu diketahui bahwa ndak semua orang sama. Menetap dalam kenangan buruk hanya menghambat langkah Anda. Ambil keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri dan perlahan kembali jalin relasi yang sehat dengan orang lain. Ini adalah langkah paling awal untuk mengubah sikap sinis Anda.
2. Lepaskan victim mentality
Adakah yang sampai sekarang masih menyalahkan orang lain karena telah menahan Anda maju? Memang terkadang, hidup terasa ndak adil. Orang yang dulu menjahati Anda seolah tampak baik-baik saja. Bahkan, bagi Anda hidupnya terkesan lebih mapan dari keadaan Anda saat ini. Tetapi, ndak akan ada yang berubah bila Anda terus melihat diri sendiri sebagai korban. Sudah saatnya untuk Anda bangkit, melangkah maju, dan meninggalkan kepedihan masa lalu. Izinkan diri Anda untuk melakukan banyak hal serta membuat pilihan baru terlepas dari seberapa pahit masa lalu Anda.
3. Praktikan bersyukur
Latih diri Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Cara paling sederhana, setiap pagi cari satu hal untuk Anda syukuri. Begitu pula sebelum tidur. Ingat-ingat hal baik apa yang bisa Anda syukuri selama sehari penuh. Ini adalah salah satu cara untuk mengikis sikap sinis dan menggantinya dengan aura positif. Bukan berarti toxic positivity, ya. Saat sesuatu berjalan ndak baik, Anda masih bisa mengakui perasaan negatif Anda. Tapi, di banyak kesempatan, cobalah untuk selalu melihat sisi baik dan mensyukurinya.
4. Latih diri Anda untuk melihat kualitas baik pada diri orang lain
Strategi lain untuk mengurangi rasa sinis ialah menggantinya dengan mencari kualitas baik dalam diri orang di sekitar Anda. Jangan selalu menempatkan kecurigaan dan keraguan Anda pada mereka. Pasti teman atau rekan kerja Anda sekarang memiliki setidaknya satu karakter positif. Sesekali, ndak apa-apa untuk mengakui, bahkan memuji kelebihan mereka. Walau awalnya sulit, kebiasaan ini bagus agar Anda bisa belajar untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda serta mengajarimu untuk kembali terbuka terhadap orang lain.
5. Bergaul dengan orang positif
Barangkali, sikap sinis Anda sekarang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman Anda. Jangan salah, lho! Pergaulan juga merpakan salah satu faktor terbesar yang membentuk jati diri kita. Mulai sekarang, cari lingkaran pertemanan yang positif dan saling mendukung. Hindari berkawan dengan orang skeptis dan negatif. Besar kemungkinan hidup Anda pun akan tertular aura negatif yang berkelindan di sekitar lingkungan tersebut.
Nnak sulit, kok, untuk mengubah sikap sinis. Mudah curiga, skeptis, sering negative thinking, tentu berpotensi meminimalisir tingkat relasi yang kita miliki dengan orang lain. Jauh lebih enak kalau jadi orang yang ramah dan positif, bukan?
Video klip kedua ini musiknya SettiaBlog buat jenis "blues". Musik blues sendiri mengekspresikan penderitaan, harapan, dan perjuangan hidup. Emang waktu itu masih banyak penindasan. Ya, seperti saat Indonesia masih di jajah dulu. Kalau sekarang udah ndak ada c, paling adanya diri kita yang di tindas oleh hawa nafsu.
Salah satu hal yang sangat berat dalam kehidupan seorang muslim memang berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, serta mendorong jiwanya senantiasa taat kepada Allah ﷻ. Seorang muslim harus senantiasa memaksa jiwanya untuk teguh di atas kebenaran. Dia pun senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ﷻ agar mampu istikamah dalam menundukkan hawa nafsunya. Rasulullah ﷺ bersabda ketika haji Wada’,
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang beriman itu? Orang yang beriman adalah orang yang memberi rasa aman bagi jiwa dan harta orang lain. Seorang muslim adalah orang yang ucapan dan tindakannya tidak menyakiti (mengganggu) orang lain. Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Terdapat dua jenis manusia ketika berinteraksi bersama hawa nafsu:
Pertama, ia berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, dia menundukkannya agar segera melakukan kebaikan dan ketaatan.
Kedua, ia membiarkan (mengumbar) hawa nafsunya, sehingga membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa. Allah ﷻ telah menyebutkan dua jenis manusia ini dalam firman-Nya,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
“Menyucikan jiwa” adalah dengan berupaya sungguh-sungguh membersihkan dan memurnikan jiwa tersebut dari kekufuran, kemaksiatan, dan dosa. Dia senantiasa memperbaiki dirinya dengan melakukan ketaatan dan aktivitas kebaikan. Sebaliknya, “mengotori jiwa” adalah dengan ndak melakukan aktivitas kebaikan dan melakukan kemaksiatan. Dia pun menuruti bisikan dan dorongan jiwa untuk melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan dan siksa Allah ﷻ. Allah ﷻ telah membentuk dua potensi jiwa pada diri manusia, yaitu nafsun ammaratun bis-suu (jiwa yang selalu memerintahkan untuk melakukan keburukan) dan nafsun muthmainnah (jiwa yang damai dan tenang). Keduanya saling berkebalikan dan bertolak belakang. Hal yang paling berat bagi seseorang yang memiliki nafsun ammaratun bis-suu adalah melakukan ibadah, ketaatan, dan berbagai aktivitas yang diridai oleh Allah ﷻ. Sedangkan sebaliknya, perkara terberat bagi seseorang yang memiliki nafsun muthmainnah adalah melakukan maksiat dan dosa.
Kedua jenis jiwa (nafsu) ini disebutkan dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan perihal istri al-Aziz, pembesar Mesir,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
Makna ayat di atas adalah hawa nafsu itu senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengerjakan segala keburukan. Inilah karakter dan tabiat dasar dari hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan pertolongan Allah ﷻ sehingga ia mampu berlari menyelamatkan diri dari dorongan nafsu tersebut. Itulah mengapa lanjutan ayat tersebut adalah, “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” Artinya, seseorang bisa selamat dari keburukan nafsunya itu semata-mata berkat rahmat dan karunia dari Allah ﷻ. Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan edukasi kepada para sahabat dalam khutbah hajat yang disampaikan beliau. Beliau Rasulullah ﷺ membimbing mereka agar mengucapkan doa,
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon pengampunan-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan perbuatan kami.” (HR. Abu Dawud no. 2118, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 1404, dan Ibnu Majah no. 1892, dinilai sahih oleh Al-Albani) Pada hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan terlebih dahulu keburukan jiwa, sebelum menyebutkan kejelekan perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa kejelekan perbuatan (tindakan) itu berasal dari keburukan jiwa. Apabila jiwanya buruk, ia akan mengajak pemiliknya untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang jelek. Ia tidak akan selamat, kecuali apabila Allah ﷻ menyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu tersebut.
Apabila setiap muslim menyadari karakter nafsun ammaratun bis-suu yang selalu mengajak untuk melakukan kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan, maka tentu ia akan berusaha konsisten untuk bersungguh-sungguh mengobati dan menyembuhkannya. Sampai nafsu tersebut berada dalam kendali kita, bukan nafsu itu yang justru mengendalikan kita. Apabila nafsu telah mengendalikan dirinya, seseorang akan menuruti syahwat tanpa mempedulikan apakah Allah ﷻ rida ataukah murka. Intinya, setiap muslim harus senantiasa berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsunya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) Malik bin Dinar rahimahullah menuturkan,
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ النَّفِيسَةِ: أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ ثُمَّ ذَمَّهَا ثُمَّ خَطَمَهَا، ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ؛ فَكَانَ لَهَا قَائِدًا
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata pada hawa nafsunya, “Bukankah engkau telah melakukan dosa ini dan dosa itu? Kemudian dia mencela dan mengekangnya. Lalu, dia pun memaksanya untuk tunduk pada aturan (kitab) Allah, sehingga dia pun mengendalikan nafsunya.” (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dalam I’lam al-Qulub no. 38)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat Kufah. Beliau radhiyallahu ‘anhu menyampaikan,
يا أَيُّهَا النَّاسُ! إن أخوف ما أخاف عليكم طول الأمل واتباع الهوى، فأما طول الأمل فينسي الآخرة، وأما اتباع الهوى فيصد عن الحق ألا وإن الدنيا قد تولت مدبرة والآخرة قد أقبلت مقبلة ولكل واحدة منهما بنون فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا فان اليوم عمل ولا حساب والآخرة حساب ولا عمل
“Sungguh, perkara yang paling saya takutkan dari kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan adalah melupakan dari akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah berpaling dari kebenaran. Ketahuilah, sungguh dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih di depan. Dan setiap mereka memiliki anak. Jadilah anak-anak yang berorientasi pada akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak yang berorientasi pada dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah waktu beramal tanpa adanya hisab. Sedangkan hari kiamat besok adalah waktu dihisab tanpa bisa beramal lagi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 10614)
Oleh karena itu, hendaknya setiap kita berjuang melawan dan mengevaluasi jiwa kita sebelum dihisab oleh Allah ﷻ pada hari kiamat. Kita mengevaluasi segala aktivitas dan tindakan yang telah dilakukan, sebelum kita berdiri di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat. Karena orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri dan melakukan aktivitas kebaikan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.
Salah satu hal yang sangat berat dalam kehidupan seorang muslim memang berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, serta mendorong jiwanya senantiasa taat kepada Allah ﷻ. Seorang muslim harus senantiasa memaksa jiwanya untuk teguh di atas kebenaran. Dia pun senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ﷻ agar mampu istikamah dalam menundukkan hawa nafsunya. Rasulullah ﷺ bersabda ketika haji Wada’,
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang beriman itu? Orang yang beriman adalah orang yang memberi rasa aman bagi jiwa dan harta orang lain. Seorang muslim adalah orang yang ucapan dan tindakannya tidak menyakiti (mengganggu) orang lain. Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Terdapat dua jenis manusia ketika berinteraksi bersama hawa nafsu:
Pertama, ia berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsu, dia menundukkannya agar segera melakukan kebaikan dan ketaatan.
Kedua, ia membiarkan (mengumbar) hawa nafsunya, sehingga membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa. Allah ﷻ telah menyebutkan dua jenis manusia ini dalam firman-Nya,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
“Menyucikan jiwa” adalah dengan berupaya sungguh-sungguh membersihkan dan memurnikan jiwa tersebut dari kekufuran, kemaksiatan, dan dosa. Dia senantiasa memperbaiki dirinya dengan melakukan ketaatan dan aktivitas kebaikan. Sebaliknya, “mengotori jiwa” adalah dengan ndak melakukan aktivitas kebaikan dan melakukan kemaksiatan. Dia pun menuruti bisikan dan dorongan jiwa untuk melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan dan siksa Allah ﷻ. Allah ﷻ telah membentuk dua potensi jiwa pada diri manusia, yaitu nafsun ammaratun bis-suu (jiwa yang selalu memerintahkan untuk melakukan keburukan) dan nafsun muthmainnah (jiwa yang damai dan tenang). Keduanya saling berkebalikan dan bertolak belakang. Hal yang paling berat bagi seseorang yang memiliki nafsun ammaratun bis-suu adalah melakukan ibadah, ketaatan, dan berbagai aktivitas yang diridai oleh Allah ﷻ. Sedangkan sebaliknya, perkara terberat bagi seseorang yang memiliki nafsun muthmainnah adalah melakukan maksiat dan dosa.
Kedua jenis jiwa (nafsu) ini disebutkan dalam firman Allah ﷻ ketika menceritakan perihal istri al-Aziz, pembesar Mesir,
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
Makna ayat di atas adalah hawa nafsu itu senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengerjakan segala keburukan. Inilah karakter dan tabiat dasar dari hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan pertolongan Allah ﷻ sehingga ia mampu berlari menyelamatkan diri dari dorongan nafsu tersebut. Itulah mengapa lanjutan ayat tersebut adalah, “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” Artinya, seseorang bisa selamat dari keburukan nafsunya itu semata-mata berkat rahmat dan karunia dari Allah ﷻ. Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam firman-Nya,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan edukasi kepada para sahabat dalam khutbah hajat yang disampaikan beliau. Beliau Rasulullah ﷺ membimbing mereka agar mengucapkan doa,
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon pengampunan-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan perbuatan kami.” (HR. Abu Dawud no. 2118, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 1404, dan Ibnu Majah no. 1892, dinilai sahih oleh Al-Albani) Pada hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan terlebih dahulu keburukan jiwa, sebelum menyebutkan kejelekan perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa kejelekan perbuatan (tindakan) itu berasal dari keburukan jiwa. Apabila jiwanya buruk, ia akan mengajak pemiliknya untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang jelek. Ia tidak akan selamat, kecuali apabila Allah ﷻ menyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu tersebut.
Apabila setiap muslim menyadari karakter nafsun ammaratun bis-suu yang selalu mengajak untuk melakukan kemaksiatan dan menjauhkan dari ketaatan, maka tentu ia akan berusaha konsisten untuk bersungguh-sungguh mengobati dan menyembuhkannya. Sampai nafsu tersebut berada dalam kendali kita, bukan nafsu itu yang justru mengendalikan kita. Apabila nafsu telah mengendalikan dirinya, seseorang akan menuruti syahwat tanpa mempedulikan apakah Allah ﷻ rida ataukah murka. Intinya, setiap muslim harus senantiasa berjuang melawan dan menundukkan hawa nafsunya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Orang yang berjihad (berjuang) adalah orang yang bersungguh-sungguh mendorong jiwanya menaati Allah.” (HR. Ahmad no. 23958 dan Ibnu Majah no. 3934, dinilai sahih oleh Al-Albani) Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) Malik bin Dinar rahimahullah menuturkan,
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا قَالَ لِنَفْسِهِ النَّفِيسَةِ: أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ أَلَسْتِ صَاحِبَةَ كَذَا؟ ثُمَّ ذَمَّهَا ثُمَّ خَطَمَهَا، ثُمَّ أَلْزَمَهَا كِتَابَ اللَّهِ؛ فَكَانَ لَهَا قَائِدًا
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata pada hawa nafsunya, “Bukankah engkau telah melakukan dosa ini dan dosa itu? Kemudian dia mencela dan mengekangnya. Lalu, dia pun memaksanya untuk tunduk pada aturan (kitab) Allah, sehingga dia pun mengendalikan nafsunya.” (Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dalam I’lam al-Qulub no. 38)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat Kufah. Beliau radhiyallahu ‘anhu menyampaikan,
يا أَيُّهَا النَّاسُ! إن أخوف ما أخاف عليكم طول الأمل واتباع الهوى، فأما طول الأمل فينسي الآخرة، وأما اتباع الهوى فيصد عن الحق ألا وإن الدنيا قد تولت مدبرة والآخرة قد أقبلت مقبلة ولكل واحدة منهما بنون فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا فان اليوم عمل ولا حساب والآخرة حساب ولا عمل
“Sungguh, perkara yang paling saya takutkan dari kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan adalah melupakan dari akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah berpaling dari kebenaran. Ketahuilah, sungguh dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih di depan. Dan setiap mereka memiliki anak. Jadilah anak-anak yang berorientasi pada akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak yang berorientasi pada dunia. Sesungguhnya, hari ini adalah waktu beramal tanpa adanya hisab. Sedangkan hari kiamat besok adalah waktu dihisab tanpa bisa beramal lagi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 10614)
Oleh karena itu, hendaknya setiap kita berjuang melawan dan mengevaluasi jiwa kita sebelum dihisab oleh Allah ﷻ pada hari kiamat. Kita mengevaluasi segala aktivitas dan tindakan yang telah dilakukan, sebelum kita berdiri di hadapan Allah ﷻ pada hari kiamat. Karena orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri dan melakukan aktivitas kebaikan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

No comments:
Post a Comment