Video klip di atas ada "Hate That I Made You Love Me" milik Ariana Grande dari album terbarunya Petal. Enak kok lagunya. Di sini SettiaBlog tertarik dengan kata hate, bisa di artikan membeci, rasa benci atau dendam.
“Aku ndak suka sama dia. Orangnya sok hebat, suka tebar pesona sana-sini. Gitu aja aku juga bisa”
Perkataan semacam itu ndak asing dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalimat itu juga banyak terdengar dari teman satu sekolah, teman kerja atau teman satu organisasi. Sebenarnya, kebencian itu bisa beragam bentuknya. Bisa sekadar dalam pikiran, terucap oleh lisan, hingga sampai pada tindakan.
Salah satu alasan ndak menyukai seseorang adalah ada bagian dari dirinya sendiri yang belum diterima. Rasa khawatir akan kekurangan-kekurangannya, ketakutan akan masa depan, iri, rendah diri, dan sebagainya. Membenci orang akan membuat dirinya merasa aman karena ia merasa ada orang yang lebih rendah darinya. Membandingkan diri dengan orang lain secara kontras memang bisa meningkatkan harga diri, tapi itu ndak selamanya baik. Jika dibiarkan terus-menerus bisa menimbulkan berbagai emosi buruk yang lain. Secara emosi, membenci orang menimbulkan berbagai gejolak dalam diri seseorang. Misalnya, emosi-emosi negatif yang dapat mengikis diri sendiri. Marah ndak berkesudahan, lelah secara emosi karena terus memikirkannya, sensitif dan ndak tenang. Membenci itu sangat melelahkan hati dan membuat sebagian orang merasa ndak tenang (insecure). Membenci juga bisa jadi mengacaukan emosi dan mood seseorang sehari-hari dalam setiap aktivitas.
Memang, menghalau perasaan ndak suka terhadap seseorang itu ndak mudah. Saat membenci orang, kita akan risih ketika mendengar suaranya atau muak untuk sekadar melihat wajahnya. Selain itu, membenci seseorang juga ndak menyehatkan bagi otak manusia. Kebencian itu menimbulkan kelelahan hati dan pikiran dan berdampak negatif bagi emosi. Dari membenci, seseorang akan selalu berpikir negatif kepada orang lain. Berawal dari kebencian tersebut, seseorang akan lebih sering berpasangka buruk.
જ Kebencian Menimbulkan Prasangka Buruk
Seseorang semakin mudah berprasangka buruk saat membenci orang lain. Ndak peduli apapun yang dilakukan orang yang dibenci, seolah-olah itu salah di mata orang yang membenci. Ndak ada yang tahu isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri. Seringkali manusia terlalu yakin menilai orang lain dari apa yang dia lakukan, padahal baru sekali menyaksikannya. Belum tentu seseorang tahu bagaimana keseharian dan kebiasaannya sebelum itu. Mulailah sikapi pikiran-pikiran negatif itu dengan baik. Coba sadari situasi tertentu saat mulai muncul banyak pikiran negatif. Saat sudah sadar mulai banyak pikiran negatif yang muncul, kita bisa lebih mengontrol pemikiran kita. Mencegah diri untuk terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri.
જ Membenci Hanya Akan Menambah Luka
Jika kita membenci, sebenarnya itu hanya akan menambah luka setiap harinya. Sebab, setiap orang akan menyimpan beragam kejengkelan yang membuat hatinya ndak lepas dari emosi negatif. Seperti prasangka, perasaan dongkol, iri hati, nyinyir, dan semacamnya. Hal tersebut ndak baik untuk kondisi psikologis. Menolaknya juga hanya akan membuat kita terluka. Bukankah lebih baik jika berdamai dengan orang atau sesuatu yang kita benci?
જ Bukankah Lebih Baik Kita Berdamai dengan Orang yang Kita Benci?
Kita harus selesai dengan diri sendiri sebelum mengembangkan potensi yang kita dimiliki. Saat membenci orang lain, itu menunjukkan bahwa seseorang hanya bisa melihat kesalahan-kesalahannya ketimbang kebaikan-kebaikannya. Sebaiknya, cobalah melihat kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri kita sendiri dahulu. Agar kita juga sadar bahwa sebagai manusia biasa ndak bisa luput dari kesalahan. Oleh karena itu, berdamailah dengan orang yang kita benci. Jika seseorang meyakiti Anda, membuat hati Anda sakit, kesal, marah, cobalah melihat alasan di balik perlakuan mereka dan berlatih untuk berpikir positif. Lebih baik menengok ke dalam diri sendiri terlebih dahulu. Berbuat baik kepada orang yang kita benci dan berusaha sekuat tenaga untuk memaafkan, lalu mendoakan dia agar berubah. Memang, itu ndak mudah. Tapi, yakinlah itu bisa dilakukan.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Kalau dari sudut pandang orang Islam, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Muslim)
Misalnya seseorang kalau melihat saudaranya, diberikan pundak atau punggungnya, dia ndak mau menghadapkan wajahnya kepada saudaranya. Demikian pula saudaranya muslim yang lain, juga demikian. Ini termasuk hal-hal yang dilarang dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang berupaya untuk menjadikan kaum muslimin sebagai orang-orang yang benar-benar bersaudara, mereka saling mencintai karena Allah ﷻ, dan mereka juga saling membenci karena Allah ﷻ. Dalam arti kalaupun ada kebencian, maka kebencian itu karena Allah ﷻ. Kemudian kita melihat bagaimana komunitas para sahabat dahulu Radhiyallahu ‘Anhum dalam sebuah masyarakat kaum muslimin di Kota Madinah, bagaimana mereka memupuk dan membangun persaudaraan yang demikian kokoh dan indahnya di antara mereka. Ini satu hal yang memang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan RasulNya.
Dalil yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam bab ini adalah:
إنَّمَا المُؤْمِنُونَ إخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)
Dan persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan yang dibangun di atas iman kepada Allah ﷻ dan kepada RasulNya. Jadi kata إنَّمَا di sini untuk membatasi, artinya bahwa yang benar-benar bersaudara hanyalah orang-orang yang beriman. Iman telah mengikat mereka sehingga menjadi ikatan persaudaraan lebih dari ikatan rahim. Seorang bersaudara dengan saudara kandungnya, satu ayah, satu ibu, lahir dari rahim yang sama, ikatan ini ndak sama dengan ikatan rahim keimanan. Maka dari itu orang-orang yang beriman itu bersaudara tanpa mengenal tempat dan waktu. Tentu konsekuensi dari orang yang bersaudara adalah saling menghubungi, menyambung, mencintai, dan menziarahi satu dengan yang lainnya. Ini hakikat dari persaudaraan. Jika hal ini bisa kita wujudkan, apalagi yang menisbahkan aqidah dan manhaj mereka kepada para Salafush Shalih, maka sudah seyogyanya mereka yang pertama melaksanakan ayat ini. Namun, sangat disayangkan bahwa justru yang mengaku beraqidah Salaf itu ndak sedikit di antara mereka saling menjauhi, saling melupakan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Tapi memang setan berupaya untuk demikian. Semua itu dari setan dan mengikuti hawa, sehingga terkadang seorang ndak mau mengalah kepada saudaranya, ndak tahu akan dirinya dan statusnya. Ini yang semoga Allah ﷻ memperbaiki keadaan kita lahir dan batin.
Kemudian ayat kedua yang dibawakan oleh An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam bab ini adalah firman Allah ﷻ dalam Surah al-Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ…
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang keluar dari agamanya, maka pasti Allah akan datangkan suatu kaum yang mereka dicintai Allah dan mencintai Allah, mereka saling rendah hati di antara kaum mukminin, mereka mempunyai kehormatan di kalangan orang-orang kafir, mereka senantiasa berjuang di jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang-orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54)
Allah ﷻ sebutkan di sini, “Mereka rendah hati sesama kaum mukminin,” mereka ndak menyombongkan diri kepada sesama kaum mukminin, ndak merasa diri mereka lebih dari yang lainnya di antara kaum mukminin. Ini sifat mulia yang harus dimiliki oleh setiap muslim.
“Aku ndak suka sama dia. Orangnya sok hebat, suka tebar pesona sana-sini. Gitu aja aku juga bisa”
Perkataan semacam itu ndak asing dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalimat itu juga banyak terdengar dari teman satu sekolah, teman kerja atau teman satu organisasi. Sebenarnya, kebencian itu bisa beragam bentuknya. Bisa sekadar dalam pikiran, terucap oleh lisan, hingga sampai pada tindakan.
Salah satu alasan ndak menyukai seseorang adalah ada bagian dari dirinya sendiri yang belum diterima. Rasa khawatir akan kekurangan-kekurangannya, ketakutan akan masa depan, iri, rendah diri, dan sebagainya. Membenci orang akan membuat dirinya merasa aman karena ia merasa ada orang yang lebih rendah darinya. Membandingkan diri dengan orang lain secara kontras memang bisa meningkatkan harga diri, tapi itu ndak selamanya baik. Jika dibiarkan terus-menerus bisa menimbulkan berbagai emosi buruk yang lain. Secara emosi, membenci orang menimbulkan berbagai gejolak dalam diri seseorang. Misalnya, emosi-emosi negatif yang dapat mengikis diri sendiri. Marah ndak berkesudahan, lelah secara emosi karena terus memikirkannya, sensitif dan ndak tenang. Membenci itu sangat melelahkan hati dan membuat sebagian orang merasa ndak tenang (insecure). Membenci juga bisa jadi mengacaukan emosi dan mood seseorang sehari-hari dalam setiap aktivitas.
Memang, menghalau perasaan ndak suka terhadap seseorang itu ndak mudah. Saat membenci orang, kita akan risih ketika mendengar suaranya atau muak untuk sekadar melihat wajahnya. Selain itu, membenci seseorang juga ndak menyehatkan bagi otak manusia. Kebencian itu menimbulkan kelelahan hati dan pikiran dan berdampak negatif bagi emosi. Dari membenci, seseorang akan selalu berpikir negatif kepada orang lain. Berawal dari kebencian tersebut, seseorang akan lebih sering berpasangka buruk.
જ Kebencian Menimbulkan Prasangka Buruk
Seseorang semakin mudah berprasangka buruk saat membenci orang lain. Ndak peduli apapun yang dilakukan orang yang dibenci, seolah-olah itu salah di mata orang yang membenci. Ndak ada yang tahu isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri. Seringkali manusia terlalu yakin menilai orang lain dari apa yang dia lakukan, padahal baru sekali menyaksikannya. Belum tentu seseorang tahu bagaimana keseharian dan kebiasaannya sebelum itu. Mulailah sikapi pikiran-pikiran negatif itu dengan baik. Coba sadari situasi tertentu saat mulai muncul banyak pikiran negatif. Saat sudah sadar mulai banyak pikiran negatif yang muncul, kita bisa lebih mengontrol pemikiran kita. Mencegah diri untuk terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri.
જ Membenci Hanya Akan Menambah Luka
Jika kita membenci, sebenarnya itu hanya akan menambah luka setiap harinya. Sebab, setiap orang akan menyimpan beragam kejengkelan yang membuat hatinya ndak lepas dari emosi negatif. Seperti prasangka, perasaan dongkol, iri hati, nyinyir, dan semacamnya. Hal tersebut ndak baik untuk kondisi psikologis. Menolaknya juga hanya akan membuat kita terluka. Bukankah lebih baik jika berdamai dengan orang atau sesuatu yang kita benci?
જ Bukankah Lebih Baik Kita Berdamai dengan Orang yang Kita Benci?
Kita harus selesai dengan diri sendiri sebelum mengembangkan potensi yang kita dimiliki. Saat membenci orang lain, itu menunjukkan bahwa seseorang hanya bisa melihat kesalahan-kesalahannya ketimbang kebaikan-kebaikannya. Sebaiknya, cobalah melihat kesalahan-kesalahan yang ada dalam diri kita sendiri dahulu. Agar kita juga sadar bahwa sebagai manusia biasa ndak bisa luput dari kesalahan. Oleh karena itu, berdamailah dengan orang yang kita benci. Jika seseorang meyakiti Anda, membuat hati Anda sakit, kesal, marah, cobalah melihat alasan di balik perlakuan mereka dan berlatih untuk berpikir positif. Lebih baik menengok ke dalam diri sendiri terlebih dahulu. Berbuat baik kepada orang yang kita benci dan berusaha sekuat tenaga untuk memaafkan, lalu mendoakan dia agar berubah. Memang, itu ndak mudah. Tapi, yakinlah itu bisa dilakukan.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya.
Kalau dari sudut pandang orang Islam, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Muslim)
Misalnya seseorang kalau melihat saudaranya, diberikan pundak atau punggungnya, dia ndak mau menghadapkan wajahnya kepada saudaranya. Demikian pula saudaranya muslim yang lain, juga demikian. Ini termasuk hal-hal yang dilarang dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang berupaya untuk menjadikan kaum muslimin sebagai orang-orang yang benar-benar bersaudara, mereka saling mencintai karena Allah ﷻ, dan mereka juga saling membenci karena Allah ﷻ. Dalam arti kalaupun ada kebencian, maka kebencian itu karena Allah ﷻ. Kemudian kita melihat bagaimana komunitas para sahabat dahulu Radhiyallahu ‘Anhum dalam sebuah masyarakat kaum muslimin di Kota Madinah, bagaimana mereka memupuk dan membangun persaudaraan yang demikian kokoh dan indahnya di antara mereka. Ini satu hal yang memang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan RasulNya.
Dalil yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam bab ini adalah:
إنَّمَا المُؤْمِنُونَ إخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)
Dan persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan yang dibangun di atas iman kepada Allah ﷻ dan kepada RasulNya. Jadi kata إنَّمَا di sini untuk membatasi, artinya bahwa yang benar-benar bersaudara hanyalah orang-orang yang beriman. Iman telah mengikat mereka sehingga menjadi ikatan persaudaraan lebih dari ikatan rahim. Seorang bersaudara dengan saudara kandungnya, satu ayah, satu ibu, lahir dari rahim yang sama, ikatan ini ndak sama dengan ikatan rahim keimanan. Maka dari itu orang-orang yang beriman itu bersaudara tanpa mengenal tempat dan waktu. Tentu konsekuensi dari orang yang bersaudara adalah saling menghubungi, menyambung, mencintai, dan menziarahi satu dengan yang lainnya. Ini hakikat dari persaudaraan. Jika hal ini bisa kita wujudkan, apalagi yang menisbahkan aqidah dan manhaj mereka kepada para Salafush Shalih, maka sudah seyogyanya mereka yang pertama melaksanakan ayat ini. Namun, sangat disayangkan bahwa justru yang mengaku beraqidah Salaf itu ndak sedikit di antara mereka saling menjauhi, saling melupakan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Tapi memang setan berupaya untuk demikian. Semua itu dari setan dan mengikuti hawa, sehingga terkadang seorang ndak mau mengalah kepada saudaranya, ndak tahu akan dirinya dan statusnya. Ini yang semoga Allah ﷻ memperbaiki keadaan kita lahir dan batin.
Kemudian ayat kedua yang dibawakan oleh An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala dalam bab ini adalah firman Allah ﷻ dalam Surah al-Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ…
“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang keluar dari agamanya, maka pasti Allah akan datangkan suatu kaum yang mereka dicintai Allah dan mencintai Allah, mereka saling rendah hati di antara kaum mukminin, mereka mempunyai kehormatan di kalangan orang-orang kafir, mereka senantiasa berjuang di jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang-orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54)
Allah ﷻ sebutkan di sini, “Mereka rendah hati sesama kaum mukminin,” mereka ndak menyombongkan diri kepada sesama kaum mukminin, ndak merasa diri mereka lebih dari yang lainnya di antara kaum mukminin. Ini sifat mulia yang harus dimiliki oleh setiap muslim.
Video klip kedua ini ada "yang terdalam" milik Noah yang udah di cover. Untuk ilustrasinya itu ada eyang Ken Dedes melakukan rutinitas pagi, sebelum beraktifitas dia akan meditasi untuk menenangkan diri, menghirup udara pagi sebanyak - banyaknya. SettiaBlog....kamu jangan mulai ngacau! He...he.... ndak kok. Kalau Anda liat klipnya sampai akhir nanti Anda akan sedikit tersenyum. Lagunya sendiri c tentang ketulusan. Tulus itu tindakan atau perasaan benar-benar murni keluar dari hati yang suci tanpa kepura-puraan. Tindakan yang di dasari perasaan tulus tentu akan berdampak baik, kepada diri sendiri atau orang di sekitarnya. Ketegaran dan kebahagiaan lahir dari besarnya sebuah ketulusan.
Kebaikan menjadi pelipur segala kecemasan. Kebijaksanaan menjadi simbol ketegasan. Maka sungguh ketegaran dan kebahagiaan pun lahir dari besarnya sebuah ketulusan. Telah menceritakan Abu at-Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh, telah menceritakan Ibnu Wahab dari Usamah bahwa dia mendengar Abu Sa'id dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada ketulusan hati kalian” (HR Muslim).
Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya sikap tulus. Ketulusan adalah perangai indah yang hendaknya dimiliki oleh setiap insan. Dengan ketulusan itulah ia akan mendapatkan balasan menawan berupa kasih sayang Tuhan. Allah ﷻ berfirman, “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang tulus memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya” (QS an Nisa: 125).
Sedikitnya ada tiga hal bermakna yang dapat kita petik dari besarnya sebuah ketulusan.
Pertama, ketenangan. Hati menjadi pusat kendali pada diri. Dengan ketulusan yang ndak henti terpahat pada diri, hal tersebut akan senantiasa menjadi jembatan untuk selalu mengingat Sang Ilahi. Allah ﷻ berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28).
Kedua, jaminan diterimanya amal. Capaian terbesar ndak selalu tentang kedudukan yang tinggi dan banyaknya pujian. Capaian terbesar terletak pada beribu-ribu buih cinta yang disimbolkan pada setiap ketulusan dan pada saat itu pula Allah ﷻ ndak segan-segan untuk memberikan cinta-Nya secara kontan. Semua itu tersaji atas dasar kekuatan iman dan takwa yang senantiasa menjadi pelengkap perjalanan kehidupan. Dari Abu Umamah al-Bahili RA ia berkata bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah ﷺ menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa," lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Ia tidak mendapatkan apa-apa." Kemudian Beliau bersabda, "Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya (keridhaan-Nya)" (HR an Nasa’i).
Ketiga, pahala yang melimpah. Ketulusan menjadi pintu utama dalam menggapai limpahan pahala. Dengan ketulusan, kita akan senantiasa mendapatkan anugerah kebaikan dari-Nya. Dari Sa'ad bin Abu Waqash RA mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah (tulus mengharap ridha Allah) kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu" (HR Bukhari).
Ibarat lantunan melodi indah yang diperdengarkan. Ketulusan menjadi sumber ketenangan. Jalan istimewa untuk menggapai kebahagiaan. Tanpanya, kehidupan tampak ndak elegan. Lewat ketulusan, keridhaan-Nya pun didapatkan.
Kebaikan menjadi pelipur segala kecemasan. Kebijaksanaan menjadi simbol ketegasan. Maka sungguh ketegaran dan kebahagiaan pun lahir dari besarnya sebuah ketulusan. Telah menceritakan Abu at-Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh, telah menceritakan Ibnu Wahab dari Usamah bahwa dia mendengar Abu Sa'id dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada ketulusan hati kalian” (HR Muslim).
Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya sikap tulus. Ketulusan adalah perangai indah yang hendaknya dimiliki oleh setiap insan. Dengan ketulusan itulah ia akan mendapatkan balasan menawan berupa kasih sayang Tuhan. Allah ﷻ berfirman, “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang tulus memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya” (QS an Nisa: 125).
Sedikitnya ada tiga hal bermakna yang dapat kita petik dari besarnya sebuah ketulusan.
Pertama, ketenangan. Hati menjadi pusat kendali pada diri. Dengan ketulusan yang ndak henti terpahat pada diri, hal tersebut akan senantiasa menjadi jembatan untuk selalu mengingat Sang Ilahi. Allah ﷻ berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28).
Kedua, jaminan diterimanya amal. Capaian terbesar ndak selalu tentang kedudukan yang tinggi dan banyaknya pujian. Capaian terbesar terletak pada beribu-ribu buih cinta yang disimbolkan pada setiap ketulusan dan pada saat itu pula Allah ﷻ ndak segan-segan untuk memberikan cinta-Nya secara kontan. Semua itu tersaji atas dasar kekuatan iman dan takwa yang senantiasa menjadi pelengkap perjalanan kehidupan. Dari Abu Umamah al-Bahili RA ia berkata bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah ﷺ menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa," lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Ia tidak mendapatkan apa-apa." Kemudian Beliau bersabda, "Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya (keridhaan-Nya)" (HR an Nasa’i).
Ketiga, pahala yang melimpah. Ketulusan menjadi pintu utama dalam menggapai limpahan pahala. Dengan ketulusan, kita akan senantiasa mendapatkan anugerah kebaikan dari-Nya. Dari Sa'ad bin Abu Waqash RA mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah (tulus mengharap ridha Allah) kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu" (HR Bukhari).
Ibarat lantunan melodi indah yang diperdengarkan. Ketulusan menjadi sumber ketenangan. Jalan istimewa untuk menggapai kebahagiaan. Tanpanya, kehidupan tampak ndak elegan. Lewat ketulusan, keridhaan-Nya pun didapatkan.

No comments:
Post a Comment