May 4, 2026

Mengapa Hidup Terasa Begitu Rumit dan Bagaimana Cara Menyederhanakannya

 


Video klip di atas ada "reality" milik Alosa. Untuk ilustrasinya itu SettiaBlog buat tahapan perkembangan manusia usia 1 - 30 tahun an. Di mulai,
Masa Balita dan Prasekolah (1–5 Tahun) Anak mulai memperluas hubungan dengan dunia luar, namun masih fokus pada diri sendiri. Mulai belajar empati meski emosi masih sering ndak stabil. Tipe anak bisa bervariasi mulai dari santai (easygoing), pemalu, atau aktif.
Masa Kanak-kanak Tengah (6–12 Tahun) Daya pikir mulai berkembang ke arah rasional dan objektif, serta konsentrasi meningkat. Mulai mengutamakan pertemanan (geng) daripada keluarga. Biasanya anak perempuan seringkali posesif terhadap teman dan ada rasa cemburu. Khusus anak pertama, sering kali menunjukkan sifat tanggung jawab yang tinggi, perfeksionis, dan mandiri.
Masa Remaja dan Pubertas (13–19 Tahun) Masa peralihan yang penuh gejolak, labil, dan mencari jati diri. Sangat sensitif terhadap komentar teman sebaya mengenai penampilan fisik yang berubah karena pubertas. Mulai melepaskan diri dari ketergantungan orang tua dan lebih setia pada kelompok pertemanan.
Masa Dewasa Awal (20–30 Tahun) Mulai membangun otonomi, memantapkan identitas diri, dan stabilitas emosional. Masa produktif di mana sering kali menyeimbangkan karir dan hubungan romantis. Usia 27–30 tahun sering kali menjadi masa di mana seseorang lebih selektif dan dewasa dalam memilih pasangan hidup, serta mengevaluasi pengalaman masa lalu untuk pertumbuhan diri.

Proses pertumbuhan seperti ilustrasi di atas merupakan realitas yang akan di lalui setiap manusia, iya kan? Lalu kenapa Allah ﷻ melalui proses dalam menciptakan makhluknya. Allah ﷻ menciptakan makhluk-Nya melalui proses, seperti tahapan perkembangan manusia di dalam rahim, penciptaan alam semesta dalam beberapa masa, atau pertumbuhan tanaman, bukan karena Allah ﷻ lemah atau membutuhkan waktu. Proses penciptaan secara bertahap (seperti dari nutfah menjadi janin, atau benih menjadi pohon) memperlihatkan kerumitan, ketelitian, dan keindahan, yang menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah ﷻ dalam merancang segala sesuatu. Dan proses ini mengajarkan manusia tentang kesabaran, kedisiplinan, dan hakikat kehidupan yang penuh tahapan, bukan instan. Allah ﷻ menciptakan makhluk, khususnya manusia, untuk diuji siapa yang paling baik amalnya. Proses pertumbuhan dan kehidupan adalah bagian dari mekanisme ujian ini.

Dalam hiruk-pikuk kesibukan, kita hidup dalam dunia di mana perubahan dan gangguan terus-menerus terjadi. Kehidupan manusia diubah secara terbalik oleh bencana alam, wabah penyakit, dan pilihan hidup manusia itu sendiri. Selain itu, biasanya Anda mengharuskan diri Anda bertanggung jawab atas apa yang ndak sesuai dengan rencana. Alhasil, hal itu pun membuat Anda memandang hidup ini begitu rumit. Namun, kecenderungan Anda dengan mempersulit hidup, kemungkinan disebabkan oleh kecemasan yang menutup cara pandang Anda untuk berpikir lebih jelas. Sebab hal itulah, mengapa lima alasan di bawah ini membuat hidup Anda terasa begitu sulit.

1. Terlalu fokus terhadap kompleksitas kehidupan

Saat Anda dihadapkan dengan banyaknya informasi yang diterima atau bingung menghadapi sesuatu, secara alami diri Anda akan fokus terhadap kerumitan masalah daripada mencari solusinya. Anda akan menyerah pada kompleksitas, karena terlalu fokus dengan kerumitan yang mendominasi pikiran serta mengabaikan solusi yang sebetulnya mudah. Saat Anda begitu terbebani dengan situasi rumit, fokuskanlah pikiran untuk mencari solusi yang sederhana. Cobalah tanyakan pada diri sendiri, seperti apakah hasil yang akan saya terima jika mengambil pendekatan yang sederhana? Dengan mudah, Anda akan tahu solusinya.

2. Selalu menyimpan kekhawatiran

Sebagai makhluk yang memiliki perasaan, pikiran dan emosi Anda memiliki pengaruh kuat atas reaksi dan perilaku Anda, ketika mengalami stres atau frustrasi. Jika Anda terus mengkhawatirkan suatu masalah tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, maka energi Anda akan terkuras habis, hingga menimbulkan tekanan fisik dan emosional. Apabila diri Anda semakin khawatir, hidup Anda akan semakin rumit. Namun, mencari pilihan dalam situasi yang buruk memerlukan upaya besar untuk mengatasi tantangan dan rintangan, saat kehidupan melemparkan beban pada Anda.

3. Mencoba mengontrol segalanya dalam hidup

Kehidupan Anda di dunia ini memanglah sangat kompleks, sekaligus sulit mencari jawaban dari tantangan hidup diri Anda sendiri. Terlebih lagi, Anda sering takut dengan kegagalan dan kehilangan yang Anda cintai. Namun, kesadaran Anda memiliki kendali atas hidup adalah upaya untuk menghilangkan ketakutan. Jika Anda membuat keputusan yang ada di luar kendali, maka Anda harus berhenti. Anda harus membebaskan diri Anda dari ketakutan dan belajar menerima, bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali dan yang berada dalam kendali Anda. Fokuslah hanya pada hal yang ada dalam kendali Anda.

4. Menggantungkan kebahagiaan diri sendiri pada orang lain

Kebahagiaan Anda ndak datang dari orang lain, tapi diri Anda sendiri. Jika Anda selalu menggantungkan kebahagiaan Anda pada orang lain, maka hidup Anda akan selalu terasa rumit. Selain itu, kesadaran diri Anda akan terus tertindas jika kebahagiaan orang lain menjadi standar kebahagiaan Anda juga. Jadinya, Anda akan terus berusaha menyenangkan orang lain dan membuat mereka bahagia, sedangkan diri Anda sendiri menderita. Ini bisa merusak diri Anda yang sejati. Sudah saatnya Anda menjalani hidup Anda sendiri dan percaya dengan apa yang pantas Anda dapatkan.

5. Dekat dengan orang beracun dan penuh drama

Apabila Anda berada di lingkungan orang-orang beracun dan penuh dengan playing victim, secara emosional energi Anda akan terkuras habis dan hari-hari Anda selalu melelahkan. Oleh karenanya, hindarilah orang-orang seperti itu atau berhenti masuk ke dalam zona drama mereka. Jika mereka datang lagi dengan dramanya, cobalah tarik napas dan biarkan diri Anda memikirkan cara terbaik untuk mengelola situasi itu, tanpa jatuh ke dalam jurang energi negatif mereka. Dengan begitu, Anda akan mampu menghempaskan drama negatif dalam hidup Anda.

Jika Anda terus melakukan ini dengan cara sendiri, maka kerumitan dalam hidup Anda akan berkurang dan hidup akan lebih mudah Anda navigasikan. Sejatinya, hidup akan mengalami masa-masa sulit dan juga rumit meskipun ndak dapat Anda prediksi. Namun, jika hidup Anda buat semakin rumit, maka akan semakin sulit juga hidup Anda. Sering-seringlah melatih diri dengan duduk tenang sendirian dan fokus untuk menenangkan suara-suara dalam pikiran Anda. Hingga kelak Anda merasakan impact positif yang luar biasa.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog gunakan pagi yang cerah dengan gaya surealis dan mengkombinasikan warna hijau muda, cyan, silver dan grey.


Video klip kedua ada "cobalah mengerti". SettiaBlog kasih ilustrasi gradasi warna hijau dari daun Palm. Di tengah tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan budaya pamer di media sosial, masyarakat kita hidup dalam suasana batin yang kian gelisah. Banyak orang merasa ndak cukup, tertinggal, bahkan terasing dari dirinya sendiri. Pada saat seperti ini, ajaran para sufi kembali menemukan relevansinya: ikhlas (ketulusan niat) dan syukur (rasa terima kasih) sebagai dua fondasi ketenangan di tengah hiruk-pikuk zaman. Ungkapan sufistik “al-ikhlāṣu wa asy-syukru yūdi‘āni fīl-qulūbi sakīnah wa riḍā wa qanā‘ah” ikhlas dan syukur menitipkan ketenangan (sakinah), kerelaan (ridha), dan rasa cukup (qana‘ah) dalam hati menggambarkan bagaimana dua nilai ini bekerja pada lapisan terdalam diri manusia. Dengan ikhlas dan syukur, hati memperoleh ketenteraman yang ndak tergantung situasi eksternal .

Al-Junayd al-Baghdadi (w. 910 M) mendefinisikan ikhlas sebagai “melupakan pandangan makhluk dan memandang hanya kepada al-Ḥaqq (Allah)”. Artinya, orang yang ikhlas beramal tanpa mengharapkan pengakuan atau pujian dari manusia. Namun di era digital, hampir semua hal diukur dari jumlah like, komentar, hingga penonton. Kita ndak hanya ingin bekerja, tetapi ingin terlihat bekerja; ndak hanya ingin berbuat baik, tetapi ingin terlihat baik di mata orang lain. Fenomena self-branding dan kebutuhan akan validasi digital ini menjadikan niat mudah tercemari oleh motivasi eksternal.

Psikologi modern menegaskan hal ini, self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci & Richard Ryan menunjukkan bahwa motivasi eksternal, misalnya dorongan mendapatkan pengakuan, pujian, atau penghargaan dari luar, cenderung membuat seseorang lebih rentan cemas dan mudah kehilangan arah. Penelitian konsisten menemukan bahwa berfokus pada target-target ekstrinsik (seperti popularitas atau imaji diri) berhubungan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah, termasuk tingkat kecemasan dan ketidakpuasan yang lebih tinggi. Sebaliknya, tindakan yang bersumber dari motivasi intrinsik atau niat murni cenderung menghasilkan stabilitas emosi dan kesejahteraan yang lebih baik. Dengan kata lain, ketika kita beramal atau berkarya karena dorongan hati yang tulus bukan demi terlihat hebat oleh orang lain, kita lebih tahan terhadap gangguan kecemasan dan stres sosial. Para sufi telah lama memahami dinamika ini. Ibn ‘Aṭā’illah dalam Kitab al-Ḥikam menulis pepatah bijak:
“Amal yang keluar dari hati yang ingin dilihat manusia adalah hijab (penghalang); amal yang keluar dari hati yang ikhlas adalah cahaya.”
Maksudnya, perbuatan yang dilakukan demi riya’ (ingin dipuji makhluk) justru menghalangi pelakunya dari rahmat Allah ﷻ, sementara perbuatan yang ikhlas akan menerangi hati. Ikhlas menjelma “ruang teduh” bagi jiwa – tempat seseorang ndak mudah tumbang oleh tekanan sosial. Sebagaimana dikatakan Al-Fuḍail bin ‘Iyāḍ,
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, melakukan amal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Dengan ikhlas, kita terbebas dari belenggu penilaian manusia, sehingga batin lebih mantap dan tenang.

Menurut Imam Al-Ghazālī, syukur terdiri atas tiga hal pokok: ilmu, ḥal, dan ‘amal.
Pertama, ilmu yaitu mengenali nikmat dan menyadari sepenuh hati bahwa setiap karunia berasal dari Allah ﷻ semata (bukan semata hasil jerih payah diri).
Kedua, ḥal yaitu keadaan emosional berupa kegembiraan dan kepuasan atas nikmat tersebut lawan dari terus merasa kurang.
Ketiga, ‘amal yaitu menggunakan nikmat itu sesuai tujuan yang diridai Allah ﷻ, yakni untuk kebaikan dan ketaatan, bukan disalahgunakan.
Dengan kata lain, bersyukur berarti mengakui nikmat, mengakui Sang Pemberi nikmat, dan mempergunakan nikmat tersebut dengan benar dalam amal perbuatan. Definisi ini sejalan dengan ajaran agama bahwa syukur mencakup hati, lisan, dan perbuatan:
“Syukur dengan hati adalah pengakuan akan nikmat Allah, syukur dengan lisan adalah memuji-Nya (mengucap alhamdulillah), dan syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat untuk taat kepada-Nya.”.
Di tengah budaya membandingkan saat ini di mana seseorang selalu merasa hidupnya kurang sukses atau kurang beruntung dibanding orang lain di media social syukur adalah penawar paling efektif. Dengan bersyukur, fokus kita beralih dari apa yang ndak kita miliki kepada apa yang sudah kita miliki. Kita diingatkan bahwa nikmat yang ada pada diri kita mungkin adalah impian bagi orang lain. Rasa syukur membentengi hati dari penyakit iri dan dengki, serta memadamkan kegelisahan akibat terus menerus membandingkan diri dengan orang lain.
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta,” ujar sebuah hikmah, “tetapi [terletak pada] hati yang merasa cukup.”
Syukur melahirkan qana‘ah, yaitu perasaan cukup atas rezeki yang Allah ﷻ beri, sehingga seseorang ndak diperbudak oleh ambisi ndak berujung. Orang yang bersyukur dan qana‘ah hatinya tenang; ia ndak lagi gelisah oleh perbandingan sosial atau terseret perlombaan semu mengejar dunia.

Riset dalam psikologi positif mengonfirmasi keampuhan syukur bagi kesehatan mental. Misalnya, studi klasik oleh Robert Emmons dan Michael McCullough (2003) menemukan bahwa orang-orang yang rutin bersyukur mengalami penurunan tingkat stres dan kecemasan, peningkatan emosi positif (kebahagiaan), serta hubungan sosial yang lebih kuat dibanding kelompok yang tidak melatih syukur. Dalam eksperimen mereka, partisipan yang diminta menuliskan hal-hal yang disyukuri secara teratur menunjukkan kesejahteraan psikologis lebih tinggi daripada partisipan yang hanya mencatat keluhan atau peristiwa netral. Temuan ini menggarisbawahi ajaran lama para sufi bahwa
“tidak ada yang lebih menenangkan hati selain syukur; syukur menjadikan yang sedikit terasa cukup.”
Benarlah kata Ibn Qayyim al-Jawziyya (w. 1350 M) – ulama yang menulis kitab Madarij as-Salikin: syukur dan qana‘ah adalah dua kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat, karena dengan bersyukur hati menjadi tentram dan Allah pun menambah nikmat-Nya. Al-Qur’an telah menegaskan hubungan syukur dan kesejahteraan batin ini:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim/14: 7).
Para mufasir menjelaskan bahwa “tambahan” itu bukan hanya dalam hal materi, melainkan berupa kelapangan hati, keberkahan, dan ketenangan yang Allah ﷻ limpahkan kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Ikhlas dan syukur pada akhirnya melahirkan ketenangan (sakinah) dalam hati, ketenangan yang ndak tergantung pada situasi luar. Dari ketenangan itu tumbuh sikap ridha (menerima dengan lapang apa pun ketetapan Allah) dan puncaknya adalah qana‘ah (merasakan cukup yang sebenar-benarnya). Tiga keadaan batin ini menjadi “buah manis” dari ikhlas dan syukur. Sakinah membuat jiwa ndak lagi bising oleh tekanan eksternal; ridha membuat hati rela menerima suka-duka dengan tawakal; dan qana‘ah menjadi perisai ampuh menghadapi godaan konsumsi berlebihan di zaman yang materialistis.

Di tengah kenaikan biaya hidup, tekanan kerja, dan arus informasi tanpa henti, ketiga sikap batin tersebut jelas menjadi kebutuhan, bukan sekadar wacana spiritual belaka. Seseorang yang menghiasi hatinya dengan ikhlas dan syukur akan lebih tangguh menghadapi zaman yang bising. Ia memiliki “rumah tenang” di dalam jiwanya sendiri. Ia ndak mudah goyah oleh penilaian manusia atau hiruk-pikuk perbandingan hidup, karena pandangannya tertuju kepada Allah ﷻ. Pada akhirnya, seperti disimpulkan dalam nasihat bijak:
“Hidup ini adalah perjalanan antara doa yang terus dipanjatkan, syukur yang terus dijaga, dan qana‘ah yang terus dipelajari. Jika tiga hal ini dipadukan, maka hati akan menemukan rumahnya: ketenangan.”
Dengan ikhlas dan syukur, kita menempuh jalan sunyi nan teduh di tengah gemuruh dunia jalan menuju sakinah, ridha, dan qana‘ah yang menenteramkan.