Video klip di atas ada "The Heart Wants What It Wants" milik Selena Gomez. SettiaBlog kasih ilustrasi daun di sekitar yang berbentuk hati, itu juga asal ambil. Ada yang bersih mengkilat, ada robek - robek, ada yang sedikit terkoyak, ada yang rusak terpapar panas. Itu sengaja SettiaBlog buat gaya lo-fi. Di depannya SettiaBlog kasih siluet Selena Gomez. Lo-fi (low-fidelity) atau fidelitas rendah, yang mengacu pada teknik fotografi atau video dengan kualitas rendah, ndak konvensional, dan estetika retro/nostalgik. Ini adalah gaya yang menonjolkan ketidaksempurnaan, seperti gambar buram, light leaks, warna faded, atau efek vignetting yang dihasilkan oleh kamera lawas. Makanya sekarang banyak yang memburu handphone lama, kaya iPhone 4, salah satu tujuannya untuk membuat foto atau video dengan efek lo-fi. Backgroundnya di postingan sendiri juga SettiaBlog gunakan warna yang ringan.
Hidup ini seringkali kita rasakan sulit, berat, penuh keluh-kesah, bahkan terasa sesak oleh berbagai urusan dunia yang tiada habisnya. Namun pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, dari mana semua ini bermula? Mengapa hidup terasa gelisah, rezeki sempit, pikiran kusut, dan ibadah ndak lagi menghadirkan ketenangan? Jawabannya seringkali bukan terletak pada keadaan sekitar kita, tetapi pada hati kita sendiri. Ya, semua bermula dari hati. Hati adalah pusat kehidupan. Dari hatilah lahir niat, muncul perkataan, dan bergerak perbuatan. Apa yang ada dalam hati akan memancar keluar melalui sikap dan ucapan. Jika hati bersih, maka hidup akan terasa ringan. Jika hati kotor, maka hidup akan selalu terasa sempit meski harta melimpah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hati manusia bagaikan cermin. Jika ia bersih, ia memantulkan cahaya hidayah, memantulkan keikhlasan, ketenangan, dan kebaikan. Namun jika ia kotor, maka yang terlihat hanyalah kegelapan, prasangka, amarah, iri, dengki, dan berbagai penyakit batin lainnya. Hati yang bersih akan memudahkan pemiliknya untuk berbuat baik, menerima nasihat, bersabar dalam ujian, dan selalu merasa cukup. Sebaliknya, hati yang kotor akan menolak kebenaran, mudah marah, susah bersyukur, bahkan ringan melakukan maksiat.
Allah ﷻ berfirman:
“Pada hari harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Dari sini kita pahami, keberhasilan hidup bukanlah sekedar soal kekayaan, kedudukan, atau gelar duniawi. Tapi bagaimana kita menjaga hati agar tetap bersih, karena hati yang bersih akan memantaskan seseorang meraih kebaikan dunia dan keselamatan akhirat.
Hati yang kotor bukan hanya soal dosa besar. Kadang ia muncul dalam hal-hal kecil yang kita remehkan:
Jika kita merasakan gejala-gejala ini, jangan buru-buru menyalahkan dunia. Mungkin bukan dunia yang salah, tapi hati kita yang sedang butuh dibersihkan.
Membersihkan hati bukan perkara sehari dua hari. Ia adalah perjuangan sepanjang hayat. Sebab hati manusia mudah sekali terkotori, mudah berbolak-balik. Maka dibutuhkan kesungguhan dan konsistensi dalam merawatnya. Berikut beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
1. Perbanyak Istighfar
Istighfar ibarat air yang membersihkan kotoran hati. Semakin sering kita memohon ampun, semakin ringan hati menjalani hidup.
2. Rajin Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah obat hati yang paling mujarab. Bacalah, renungkan, hayati isinya. Niscaya hati akan tenang, jiwa akan terarah.
3. Jaga Lisan, Jaga Pandangan, Jaga Pikiran
Banyak kotoran hati berasal dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita bicarakan. Maka jaga semuanya, karena itu pintu masuk ke dalam hati.
4. Bersihkan Niat
Setiap amal baik tanpa niat yang benar akan sia-sia. Periksa niat sebelum berbuat. Luruskan karena Allah ﷻ semata.
5. Perbanyak Dzikir
Hati yang banyak mengingat Allah ﷻ akan dijaga dari kerusakan. Dzikir menenangkan, menyejukkan, menguatkan.
6. Berkawan dengan Orang Shalih
Lingkungan sangat memengaruhi hati. Dekatkan diri pada orang-orang yang mengajak kebaikan, bukan yang menjerumuskan.
7. Berdoa Agar Diberi Hati yang Bersih
Banyak-banyaklah berdoa sebagaimana Nabi ﷺ berdoa:
“Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.)
Hati yang bersih akan membuat hidup terasa lebih ringan, lebih damai. Ndak mudah iri, ndak gampang tersinggung, ndak mudah marah, ndak sibuk mencari kesalahan orang. Hati yang bersih akan memudahkan kita memaafkan, bersyukur, dan menikmati hidup apa adanya. Dengan hati yang bersih, ibadah terasa nikmat, amal baik terasa ringan, sabar dalam ujian terasa indah. Maka jangan heran jika orang-orang yang hatinya bersih lebih tenang, lebih bahagia, meski hidupnya sederhana. Sebaliknya, hati yang kotor akan membuat orang selalu gelisah, penuh prasangka, dan ndak pernah puas.
Mulailah dari hati. Bersihkan hati Anda, niscaya Allah ﷻ akan memudahkan hidup Anda. Hati yang bersih adalah kunci kebahagiaan, sumber kekuatan, dan bekal menuju surga. Semua bermula dari sini. Dari hati yang bersih, hidup kita akan terarah, amal kita diterima, dan akhir kita, insya Allah, dalam keadaan husnul khatimah.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Semoga Allah ﷻ selalu membersihkan hati kita, menjaganya dari penyakit, dan menetapkannya di atas iman hingga akhir hayat.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Hidup ini seringkali kita rasakan sulit, berat, penuh keluh-kesah, bahkan terasa sesak oleh berbagai urusan dunia yang tiada habisnya. Namun pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, dari mana semua ini bermula? Mengapa hidup terasa gelisah, rezeki sempit, pikiran kusut, dan ibadah ndak lagi menghadirkan ketenangan? Jawabannya seringkali bukan terletak pada keadaan sekitar kita, tetapi pada hati kita sendiri. Ya, semua bermula dari hati. Hati adalah pusat kehidupan. Dari hatilah lahir niat, muncul perkataan, dan bergerak perbuatan. Apa yang ada dalam hati akan memancar keluar melalui sikap dan ucapan. Jika hati bersih, maka hidup akan terasa ringan. Jika hati kotor, maka hidup akan selalu terasa sempit meski harta melimpah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hati manusia bagaikan cermin. Jika ia bersih, ia memantulkan cahaya hidayah, memantulkan keikhlasan, ketenangan, dan kebaikan. Namun jika ia kotor, maka yang terlihat hanyalah kegelapan, prasangka, amarah, iri, dengki, dan berbagai penyakit batin lainnya. Hati yang bersih akan memudahkan pemiliknya untuk berbuat baik, menerima nasihat, bersabar dalam ujian, dan selalu merasa cukup. Sebaliknya, hati yang kotor akan menolak kebenaran, mudah marah, susah bersyukur, bahkan ringan melakukan maksiat.
Allah ﷻ berfirman:
“Pada hari harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Dari sini kita pahami, keberhasilan hidup bukanlah sekedar soal kekayaan, kedudukan, atau gelar duniawi. Tapi bagaimana kita menjaga hati agar tetap bersih, karena hati yang bersih akan memantaskan seseorang meraih kebaikan dunia dan keselamatan akhirat.
Hati yang kotor bukan hanya soal dosa besar. Kadang ia muncul dalam hal-hal kecil yang kita remehkan:
- Sulit menerima nasihat.
- Gampang iri melihat nikmat orang lain.
- Mudah marah, suka menyimpan dendam.
- Malas beribadah, berat bangun malam, berat membaca Al-Qur’an.
- Merasa paling benar, suka meremehkan orang lain.
- Sibuk mencari aib orang, lupa bercermin pada diri sendiri.
Jika kita merasakan gejala-gejala ini, jangan buru-buru menyalahkan dunia. Mungkin bukan dunia yang salah, tapi hati kita yang sedang butuh dibersihkan.
Membersihkan hati bukan perkara sehari dua hari. Ia adalah perjuangan sepanjang hayat. Sebab hati manusia mudah sekali terkotori, mudah berbolak-balik. Maka dibutuhkan kesungguhan dan konsistensi dalam merawatnya. Berikut beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
1. Perbanyak Istighfar
Istighfar ibarat air yang membersihkan kotoran hati. Semakin sering kita memohon ampun, semakin ringan hati menjalani hidup.
2. Rajin Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah obat hati yang paling mujarab. Bacalah, renungkan, hayati isinya. Niscaya hati akan tenang, jiwa akan terarah.
3. Jaga Lisan, Jaga Pandangan, Jaga Pikiran
Banyak kotoran hati berasal dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita bicarakan. Maka jaga semuanya, karena itu pintu masuk ke dalam hati.
4. Bersihkan Niat
Setiap amal baik tanpa niat yang benar akan sia-sia. Periksa niat sebelum berbuat. Luruskan karena Allah ﷻ semata.
5. Perbanyak Dzikir
Hati yang banyak mengingat Allah ﷻ akan dijaga dari kerusakan. Dzikir menenangkan, menyejukkan, menguatkan.
6. Berkawan dengan Orang Shalih
Lingkungan sangat memengaruhi hati. Dekatkan diri pada orang-orang yang mengajak kebaikan, bukan yang menjerumuskan.
7. Berdoa Agar Diberi Hati yang Bersih
Banyak-banyaklah berdoa sebagaimana Nabi ﷺ berdoa:
“Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.)
Hati yang bersih akan membuat hidup terasa lebih ringan, lebih damai. Ndak mudah iri, ndak gampang tersinggung, ndak mudah marah, ndak sibuk mencari kesalahan orang. Hati yang bersih akan memudahkan kita memaafkan, bersyukur, dan menikmati hidup apa adanya. Dengan hati yang bersih, ibadah terasa nikmat, amal baik terasa ringan, sabar dalam ujian terasa indah. Maka jangan heran jika orang-orang yang hatinya bersih lebih tenang, lebih bahagia, meski hidupnya sederhana. Sebaliknya, hati yang kotor akan membuat orang selalu gelisah, penuh prasangka, dan ndak pernah puas.
Mulailah dari hati. Bersihkan hati Anda, niscaya Allah ﷻ akan memudahkan hidup Anda. Hati yang bersih adalah kunci kebahagiaan, sumber kekuatan, dan bekal menuju surga. Semua bermula dari sini. Dari hati yang bersih, hidup kita akan terarah, amal kita diterima, dan akhir kita, insya Allah, dalam keadaan husnul khatimah.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Semoga Allah ﷻ selalu membersihkan hati kita, menjaganya dari penyakit, dan menetapkannya di atas iman hingga akhir hayat.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.
Video klip kedua ini ada ujung pohon Pule yang tertiup angin di ambil dari atas. Sengaja SettiaBlog bikin slow biar tahu gerak angin. Terus SettiaBlog kasih lagunya Padi yang "begitu indah".
O ya hampir lupa, terima kasih Mas Yong yang ingatkan SettiaBlog. SettiaBlog senyum - senyum sendiri saat liat temen - temen yang lagi kumpul penuh tawa. Mudah kan ya sebenarnya bahagia itu. Saat ditanya apakah memilih bahagia atau menderita, sebagian besar orang akan menjawab bahagia. Ketika diminta menjawab berapa lama perasaan bahagia itu ingin dimiliki, orang juga akan memilih bahagia terus-menerus dan selamanya. Ya, selamanya. Itulah keinginan hampir setiap orang, selalu ingin bahagia.
Mengapa?
Perasaan bahagia yang muncul ternyata memiliki pengaruh yang amat baik bagi keadaan psikis setiap orang. Menurut para ahli, secara alamiah, tubuh akan memproduksi hormon serotonin dengan kadar yang sesuai saat perasaan bahagia itu hadir. Hormon ini bertugas menjaga suasana hati selalu nyaman dan terhindar dari rasa cemas.
Lalu bagaimana cara mempertahankan agar perasaan bahagia itu terus muncul? Banyak ahli menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut, bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya. Hati yang dipenuhi rasa ikhlas akan menunjukkan jalur energi Ilahi yang terbuka. Sedangkan, hati yang dipenuhi kecemasan dan ketakutan akan menunjukkan jalur energi Ilahi yang tertutup. Banyak pendapat yang berbeda tentang apa itu bahagia. Namun berbagai perbedaan itu merujuk kepada satu hal yang sama, yaitu kepuasan hidup.
Martin Seligman, dikenal sebagai Bapak positive psychology. Ia menyebutkan ada 3 jenis kebahagiaan, berupa; pemberian dan rasa nyaman, perwujudan kekuatan dan kebajikan, dan makna dan tujuan hidup. Bahagia, memang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Karena menurut fitrahnya, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus diciptakan dan diusahakan secara sadar. Hadirnya kebahagiaan di setiap detik kehidupan manusia menjadi amat penting. Karena begitu banyak dampak positif dan perubahan yang ditimbulkan.
Salah satu yang sering dibahas adalah produksi hormon serotonin dalam tubuh ketika perasaan bahagia itu muncul. Hormon ini membuat tubuh menjadi terasa sangat rileks, nyaman, pikiran terasa begitu terbuka, dan kecemasan seolah hilang. Memang, beberapa makanan dan minuman tertentu ditengarai mampu mendorong produksi serotonin dalam tubuh. Namun, pengaruhnya terhadap tubuh bersifat sementara. Pengaruhnya akan hilang jika ndak mengonsumsi makanan dan minuman itu. Tubuh dengan kondisi psikis seperti itu tentu akan memiliki keuntungan yang begitu banyak. Secara alamiah tubuh akan semakin sehat dan ndak mudah terjangkit penyakit. Dampak seperti ini sebenarnya yang harus menjadi perhatian untuk meraih kesuksesan tanpa harus diliputi perasaan stress yang berlebihan. Seperti yang dikemukakan Erbe Sentanu, Ukuran sukses sejati terletak pada kemampuan Anda merasakan pikiran bahagia. Jika demikian bagaimana cara menemukan sumber kebahagiaan itu?
Ternyata, sumber kebahagiaan sejati itu amat dekat dan bersemayam dalam diri setiap orang. Ia memiliki navigasi tersendiri untuk memandu setiap orang menjadi baik atau buruk . Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung) (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Di era manusia mengutamakan pikiran sebagai navigasi andalan dalam mengatasi solusi hidup, hati menjadi terabaikan untuk digunakan. Hati hanya dipandang sebagai ungkapan perasaan semata yang amat subjektif untuk mengatasi masalah kehidupan. Padahal sejatinya Ia akan menjadi penentu baik atau buruk jasad dan jiwa seseorang. Hati yang baik akan menghadirkan kebahagiaan yang berlimpah. Sementara hati yang buruk tentu menghadirkan perasaan cemas, galau dan takut, Menjadikan hati selalu dalam keadaan baik tentu harus dilatih secara sadar dan terus menerus. Tahapan tahapan pelatihan hati harus menjadi agenda utama untuk dilakukan jika seseorang ingin menghadirkan perasaan bahagia setiap saat.
Saat seseorang selalu berada dalam zona nafsu, maka hatinya selalu dipenuhi berbagai keinginan namun terasa menyesakkan dada. Hatinya selalu diselimuti oleh energi rendah. Hatinya selalu diselimuti perasaan negatif; cemas, takut, keluh kesah, dan amarah. Sebaliknya, hati yang selalu berada dalam zona ikhlas akan terasa lapang dan bebas hambatan. Energi yang menyelimuti adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia. Zona Ikhlas inilah yang akan menempatkan perasaan kita selalu merasa enak (positive feeling). Kita harus selalu mengakses zona ini karena hidup kita tergantung pada perasaan kita. Perasaan kita inilah yang akan menjadi navigator untuk memberitahu kita selalu berada di jalan yang benar.
Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, mulailah melatih hati dengan selalu mengakses zona ikhlas. Lakukan setiap saat dan dalam keadaan seperti apapun setidaknya dalam 21 hari pertama untuk merasakan suasana ikhlas.
Mengapa?
Perasaan bahagia yang muncul ternyata memiliki pengaruh yang amat baik bagi keadaan psikis setiap orang. Menurut para ahli, secara alamiah, tubuh akan memproduksi hormon serotonin dengan kadar yang sesuai saat perasaan bahagia itu hadir. Hormon ini bertugas menjaga suasana hati selalu nyaman dan terhindar dari rasa cemas.
Lalu bagaimana cara mempertahankan agar perasaan bahagia itu terus muncul? Banyak ahli menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut, bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya. Hati yang dipenuhi rasa ikhlas akan menunjukkan jalur energi Ilahi yang terbuka. Sedangkan, hati yang dipenuhi kecemasan dan ketakutan akan menunjukkan jalur energi Ilahi yang tertutup. Banyak pendapat yang berbeda tentang apa itu bahagia. Namun berbagai perbedaan itu merujuk kepada satu hal yang sama, yaitu kepuasan hidup.
Martin Seligman, dikenal sebagai Bapak positive psychology. Ia menyebutkan ada 3 jenis kebahagiaan, berupa; pemberian dan rasa nyaman, perwujudan kekuatan dan kebajikan, dan makna dan tujuan hidup. Bahagia, memang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Karena menurut fitrahnya, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus diciptakan dan diusahakan secara sadar. Hadirnya kebahagiaan di setiap detik kehidupan manusia menjadi amat penting. Karena begitu banyak dampak positif dan perubahan yang ditimbulkan.
Salah satu yang sering dibahas adalah produksi hormon serotonin dalam tubuh ketika perasaan bahagia itu muncul. Hormon ini membuat tubuh menjadi terasa sangat rileks, nyaman, pikiran terasa begitu terbuka, dan kecemasan seolah hilang. Memang, beberapa makanan dan minuman tertentu ditengarai mampu mendorong produksi serotonin dalam tubuh. Namun, pengaruhnya terhadap tubuh bersifat sementara. Pengaruhnya akan hilang jika ndak mengonsumsi makanan dan minuman itu. Tubuh dengan kondisi psikis seperti itu tentu akan memiliki keuntungan yang begitu banyak. Secara alamiah tubuh akan semakin sehat dan ndak mudah terjangkit penyakit. Dampak seperti ini sebenarnya yang harus menjadi perhatian untuk meraih kesuksesan tanpa harus diliputi perasaan stress yang berlebihan. Seperti yang dikemukakan Erbe Sentanu, Ukuran sukses sejati terletak pada kemampuan Anda merasakan pikiran bahagia. Jika demikian bagaimana cara menemukan sumber kebahagiaan itu?
Ternyata, sumber kebahagiaan sejati itu amat dekat dan bersemayam dalam diri setiap orang. Ia memiliki navigasi tersendiri untuk memandu setiap orang menjadi baik atau buruk . Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung) (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Di era manusia mengutamakan pikiran sebagai navigasi andalan dalam mengatasi solusi hidup, hati menjadi terabaikan untuk digunakan. Hati hanya dipandang sebagai ungkapan perasaan semata yang amat subjektif untuk mengatasi masalah kehidupan. Padahal sejatinya Ia akan menjadi penentu baik atau buruk jasad dan jiwa seseorang. Hati yang baik akan menghadirkan kebahagiaan yang berlimpah. Sementara hati yang buruk tentu menghadirkan perasaan cemas, galau dan takut, Menjadikan hati selalu dalam keadaan baik tentu harus dilatih secara sadar dan terus menerus. Tahapan tahapan pelatihan hati harus menjadi agenda utama untuk dilakukan jika seseorang ingin menghadirkan perasaan bahagia setiap saat.
Saat seseorang selalu berada dalam zona nafsu, maka hatinya selalu dipenuhi berbagai keinginan namun terasa menyesakkan dada. Hatinya selalu diselimuti oleh energi rendah. Hatinya selalu diselimuti perasaan negatif; cemas, takut, keluh kesah, dan amarah. Sebaliknya, hati yang selalu berada dalam zona ikhlas akan terasa lapang dan bebas hambatan. Energi yang menyelimuti adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia. Zona Ikhlas inilah yang akan menempatkan perasaan kita selalu merasa enak (positive feeling). Kita harus selalu mengakses zona ini karena hidup kita tergantung pada perasaan kita. Perasaan kita inilah yang akan menjadi navigator untuk memberitahu kita selalu berada di jalan yang benar.
Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, mulailah melatih hati dengan selalu mengakses zona ikhlas. Lakukan setiap saat dan dalam keadaan seperti apapun setidaknya dalam 21 hari pertama untuk merasakan suasana ikhlas.

No comments:
Post a Comment