SettiaBlog coba lihat soundtrack list film Spider-Man terbaru brand new day yang dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia pada tanggal 29 Juli 2026. Di situ ada Brain Stew milik Green Day, Walk milik Foo Fighters, Keep Holding On milik Avril Lavigne, You're All I Have milik Snow Patrol dan beberapa lagu lainnya. Dan video klip di atas SettiaBlog ambil "keep holding on" miliknya Avril. SettiaBlog setuju banget kalau ini di masukkan soundtrack-nya Spider-Man terbaru. Tema lagunya juga bagus kok, menyampaikan pesan bahwa seseorang ndak sendirian dan akan selalu ada sahabat atau orang terkasih yang siap mendampingi melewati badai kehidupan. Sedikit potongan liriknya.
You're not alone. Together we stand. I'll be by your side, you know I'll take your hand. When it gets cold. And it feels like the end. There's no place to go. You know I won't give in. No I won't give in. Sering lho ada fenomena seseorang merasa kesepian di tengah keramaian (loneliness in a crowd)dan ini terjadi karena adanya perbedaan antara interaksi sosial dan koneksi emosional. Anda mungkin dikelilingi banyak orang, namun ndak merasa dipahami atau ndak memiliki kedekatan batin dengan mereka.
Kalau dalam istilah umum biasa di sebut feeling lonely atau "merasa kesepian". Istilah ini menggambarkan perasaan seseorang yang merasa sendirian atau terisolasi, meskipun mungkin berada di tengah keramaian. Perasaan ini dapat muncul akibat kurangnya hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain. Belakangan ini, istilah feeling lonely semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang mencari tahu feeling lonely artinya apa, karena frasa ini kerap muncul di media sosial, lirik lagu, hingga caption yang bernada reflektif. Ndak sedikit pula yang bertanya, apa itu feeling lonely dan apakah maknanya sama dengan sekadar merasa sepi. Secara sederhana, lonely artinya kesepian. Namun, arti feeling lonely ndak hanya berhenti pada terjemahan bahasa. Istilah ini memiliki dimensi emosional dan psikologis yang lebih dalam, sehingga ndak bisa disamakan dengan kondisi sedang sendirian secara fisik.
Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda, feeling lonely dalam bahasa gaul sering digunakan untuk menggambarkan suasana hati yang sedang kosong atau hampa. Biasanya istilah ini muncul saat seseorang merasa ndak punya teman berbagi cerita atau merasa kurang diperhatikan. Misalnya, saat malam minggu tanpa agenda, setelah putus cinta, atau ketika melihat unggahan teman yang tampak lebih bahagia. Di momen seperti itu, seseorang mungkin berkata, “Lagi feeling lonely banget.”
Istilah feeling lonely sering dipakai untuk mengekspresikan rasa sepi yang muncul tiba-tiba, baik karena ndak punya teman berbagi cerita, merasa diabaikan, atau sekadar ingin diperhatikan. Ungkapan ini biasanya muncul dalam percakapan santai, saat flexing status media sosial, hingga caption yang bernada curhat. Ndak jarang, feeling lonely digunakan sebagai kode halus bahwa seseorang sedang membutuhkan kehadiran orang lain. Misalnya, ketika seseorang menulis, “Lagi feeling lonely banget,” itu bisa berarti ia merasa kesepian, kurang ditemani, atau ingin ada yang menyapa dan peduli. Jadi, dalam konteks pergaulan sehari-hari, istilah ini bukan hanya soal sendirian secara fisik, tetapi juga tentang kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Walaupun isitilah feeling lonely dalam bahasa gaul memang terdengar santai, namun maknanya tetap berkaitan dengan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Jadi, meskipun sering diucapkan dengan nada bercanda, arti feeling lonely tetap merujuk pada kondisi psikologis yang nyata. Beberapa contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari antara lain:
“Teman-teman lagi pergi semua, aku di rumah sendiri. Feeling lonely banget.”
“Baru putus, terus lihat dia update story. Auto feeling lonely.”
“Timeline crush isinya couple goals semua, jadi feeling lonely deh.”
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa feeling lonely artinya bukan sekadar ndak punya teman di sekitar, tetapi merasa ndak terhubung secara emosional.
Setelah memahami apa itu feeling lonely, penting untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memicunya. Feeling lonely biasanya ndak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari kombinasi berbagai penyebab.
1. Faktor Internal
Faktor internal berkaitan dengan kondisi psikologis dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Rendahnya harga diri dan kurangnya kepercayaan diri sering kali membuat seseorang merasa ndak cukup layak untuk diterima atau dicintai. Ketika seseorang terus-menerus meragukan dirinya, ia cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Akibatnya, kesempatan untuk membangun hubungan yang bermakna menjadi semakin terbatas. Selain itu, pengalaman traumatis di masa lalu, ketakutan akan penolakan, serta kebiasaan berpikir negatif juga dapat memperbesar risiko mengalami feeling lonely. Dalam situasi ini, arti feeling lonely sangat berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal meliputi perubahan lingkungan dan situasi hidup. Pindah rumah, berganti pekerjaan, masuk ke lingkungan baru, atau kehilangan orang terdekat dapat memicu perasaan terasing. Adaptasi yang ndak mudah sering kali membuat seseorang merasa ndak memiliki tempat yang benar-benar nyaman. Dalam kondisi seperti ini, feeling lonely bisa muncul meskipun secara sosial terlihat baik-baik saja. Gaya hidup modern yang cenderung individualistis juga berperan besar. Interaksi sosial yang dangkal dan terbatas membuat kualitas hubungan menurun, sehingga meningkatkan risiko kesepian.
3. Pengaruh Media Sosial
Di era digital, media sosial menciptakan ilusi koneksi. Seseorang bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut, tetapi tetap merasa kosong secara emosional. Melihat unggahan tentang kebahagiaan, pencapaian, atau hubungan romantis orang lain sering memicu perbandingan sosial yang ndak sehat. Tanpa disadari, kondisi ini dapat memperkuat perasaan ndak cukup dan memperdalam feeling lonely. Inilah sebabnya memahami arti feeling lonely menjadi semakin relevan di tengah dunia yang serba terhubung secara digital. Gen Z Paling Kesepian: Sekitar 57% individu berusia 18–24 tahun dilaporkan merasakan kesepian, menjadikan generasi ini paling rentan, meskipun mereka termasuk yang paling aktif dan terhubung secara digital.
Feeling lonely bukanlah diagnosis gangguan mental. Namun jika berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat serius. Perasaan terisolasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi. Seseorang mungkin mulai kehilangan motivasi, merasa lelah secara emosional, dan kesulitan menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Kesepian juga dapat memicu overthinking dan kecemasan sosial. Dalam kondisi ini, individu semakin menarik diri dari lingkungan, sehingga lingkaran kesepian terus berulang. Oleh karena itu, penting dan worth it untuk mengenali dan mengelola feeling lonely sejak dini.
Perasaan feeling lonely yang terus dibiarkan dapat menjadi pemicu munculnya gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Saat seseorang merasa terisolasi secara emosional, ia cenderung mengalami stres berkepanjangan, overthinking, hingga kehilangan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kondisi, feeling lonely juga dapat memicu kecemasan sosial. Individu merasa takut atau ndak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, sehingga memilih menarik diri dari lingkungan sekitar.
Dampak feeling lonely ndak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga kesehatan fisik. Kesepian yang berlangsung lama dapat meningkatkan kadar stres dalam tubuh dan berpengaruh pada tekanan darah serta kesehatan jantung. Selain itu, feeling lonely juga dikaitkan dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit karena tubuh ndak bekerja secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa memahami lonely artinya ndak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga dengan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan. Hubungan sosial yang sehat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan mental dan fisik, termasuk lewat kegiatan produktif yang memungkinkan Anda tetap terhubung dan berkembang dari mana saja. Kesepian kronis yang dirasakan terus-menerus dan intens itu bisa berdampak pada banyak sekali risiko-risiko kesehatan mental.
Setelah memahami apa itu feeling lonely dan dampaknya, langkah berikutnya adalah mengetahui cara mengelolanya.
1. Meningkatkan Interaksi Sosial
Mulailah dengan langkah sederhana, seperti menghubungi teman lama atau meluangkan waktu untuk bertemu keluarga. Interaksi yang konsisten dapat membantu membangun kembali koneksi emosional. Bergabung dengan komunitas yang sesuai minat juga menjadi pilihan yang efektif. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi perasaan terasing secara perlahan.
2. Mengembangkan Hobi dan Aktivitas Baru
Mengisi waktu dengan aktivitas yang produktif membantu mengalihkan fokus dari rasa sepi. Hobi seperti olahraga, membaca, menulis, atau kegiatan kreatif lainnya dapat meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, aktivitas baru membuka peluang untuk bertemu orang dengan minat yang sama. Dari sana, koneksi yang lebih sehat dan bermakna bisa terbentuk, agar Anda memiliki rutinitas baru sekaligus kesempatan berinteraksi.
3. Mencari Bantuan Profesional
Jika feeling lonely terasa semakin berat dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak. Bantuan profesional dapat membantu mengidentifikasi akar permasalahan serta memberikan strategi penanganan yang sesuai. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Perasaan kesepian dapat berangsur berkurang ketika seseorang merasakan dukungan serta penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Dalam situasi ini, keluarga dan komunitas berperan penting dalam menghadirkan rasa aman, kebersamaan, serta memberikan makna dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi tempat pertama yang dapat memberikan dukungan emosional ketika seseorang mengalami feeling lonely. Banyak orang mengira lonely artinya hanya merasa sendirian, padahal perhatian dan kehadiran keluarga sering kali mampu mengurangi perasaan tersebut. Hubungan yang hangat melalui komunikasi terbuka, saling mendengarkan tanpa menghakimi, serta meluangkan waktu bersama dapat membantu meredakan feeling lonely.
Selain dukungan keluarga, keberadaan komunitas juga dapat membantu seseorang keluar dari feeling lonely. Mengikuti aktivitas bersama, seperti olahraga, pengajian, atau komunitas hobi, membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Lingkungan yang aktif dan suportif dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. Dengan adanya interaksi sosial yang positif, pandangan bahwa lonely artinya selalu merasa sendiri dapat berkurang secara bertahap. Salah satu cara yang positif untuk mengurangi feeling lonely adalah memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus membuka kesempatan untuk bertemu orang baru.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog gunakan conic gradient yang di modif dengan background-size 2% 2% dan di buat repeat, dengan sudut perputaran 60 derajat.
Kalau dalam istilah umum biasa di sebut feeling lonely atau "merasa kesepian". Istilah ini menggambarkan perasaan seseorang yang merasa sendirian atau terisolasi, meskipun mungkin berada di tengah keramaian. Perasaan ini dapat muncul akibat kurangnya hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain. Belakangan ini, istilah feeling lonely semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang mencari tahu feeling lonely artinya apa, karena frasa ini kerap muncul di media sosial, lirik lagu, hingga caption yang bernada reflektif. Ndak sedikit pula yang bertanya, apa itu feeling lonely dan apakah maknanya sama dengan sekadar merasa sepi. Secara sederhana, lonely artinya kesepian. Namun, arti feeling lonely ndak hanya berhenti pada terjemahan bahasa. Istilah ini memiliki dimensi emosional dan psikologis yang lebih dalam, sehingga ndak bisa disamakan dengan kondisi sedang sendirian secara fisik.
Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda, feeling lonely dalam bahasa gaul sering digunakan untuk menggambarkan suasana hati yang sedang kosong atau hampa. Biasanya istilah ini muncul saat seseorang merasa ndak punya teman berbagi cerita atau merasa kurang diperhatikan. Misalnya, saat malam minggu tanpa agenda, setelah putus cinta, atau ketika melihat unggahan teman yang tampak lebih bahagia. Di momen seperti itu, seseorang mungkin berkata, “Lagi feeling lonely banget.”
Istilah feeling lonely sering dipakai untuk mengekspresikan rasa sepi yang muncul tiba-tiba, baik karena ndak punya teman berbagi cerita, merasa diabaikan, atau sekadar ingin diperhatikan. Ungkapan ini biasanya muncul dalam percakapan santai, saat flexing status media sosial, hingga caption yang bernada curhat. Ndak jarang, feeling lonely digunakan sebagai kode halus bahwa seseorang sedang membutuhkan kehadiran orang lain. Misalnya, ketika seseorang menulis, “Lagi feeling lonely banget,” itu bisa berarti ia merasa kesepian, kurang ditemani, atau ingin ada yang menyapa dan peduli. Jadi, dalam konteks pergaulan sehari-hari, istilah ini bukan hanya soal sendirian secara fisik, tetapi juga tentang kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Walaupun isitilah feeling lonely dalam bahasa gaul memang terdengar santai, namun maknanya tetap berkaitan dengan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Jadi, meskipun sering diucapkan dengan nada bercanda, arti feeling lonely tetap merujuk pada kondisi psikologis yang nyata. Beberapa contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari antara lain:
“Teman-teman lagi pergi semua, aku di rumah sendiri. Feeling lonely banget.”
“Baru putus, terus lihat dia update story. Auto feeling lonely.”
“Timeline crush isinya couple goals semua, jadi feeling lonely deh.”
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa feeling lonely artinya bukan sekadar ndak punya teman di sekitar, tetapi merasa ndak terhubung secara emosional.
Setelah memahami apa itu feeling lonely, penting untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memicunya. Feeling lonely biasanya ndak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari kombinasi berbagai penyebab.
1. Faktor Internal
Faktor internal berkaitan dengan kondisi psikologis dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Rendahnya harga diri dan kurangnya kepercayaan diri sering kali membuat seseorang merasa ndak cukup layak untuk diterima atau dicintai. Ketika seseorang terus-menerus meragukan dirinya, ia cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Akibatnya, kesempatan untuk membangun hubungan yang bermakna menjadi semakin terbatas. Selain itu, pengalaman traumatis di masa lalu, ketakutan akan penolakan, serta kebiasaan berpikir negatif juga dapat memperbesar risiko mengalami feeling lonely. Dalam situasi ini, arti feeling lonely sangat berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal meliputi perubahan lingkungan dan situasi hidup. Pindah rumah, berganti pekerjaan, masuk ke lingkungan baru, atau kehilangan orang terdekat dapat memicu perasaan terasing. Adaptasi yang ndak mudah sering kali membuat seseorang merasa ndak memiliki tempat yang benar-benar nyaman. Dalam kondisi seperti ini, feeling lonely bisa muncul meskipun secara sosial terlihat baik-baik saja. Gaya hidup modern yang cenderung individualistis juga berperan besar. Interaksi sosial yang dangkal dan terbatas membuat kualitas hubungan menurun, sehingga meningkatkan risiko kesepian.
3. Pengaruh Media Sosial
Di era digital, media sosial menciptakan ilusi koneksi. Seseorang bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut, tetapi tetap merasa kosong secara emosional. Melihat unggahan tentang kebahagiaan, pencapaian, atau hubungan romantis orang lain sering memicu perbandingan sosial yang ndak sehat. Tanpa disadari, kondisi ini dapat memperkuat perasaan ndak cukup dan memperdalam feeling lonely. Inilah sebabnya memahami arti feeling lonely menjadi semakin relevan di tengah dunia yang serba terhubung secara digital. Gen Z Paling Kesepian: Sekitar 57% individu berusia 18–24 tahun dilaporkan merasakan kesepian, menjadikan generasi ini paling rentan, meskipun mereka termasuk yang paling aktif dan terhubung secara digital.
Feeling lonely bukanlah diagnosis gangguan mental. Namun jika berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat serius. Perasaan terisolasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi. Seseorang mungkin mulai kehilangan motivasi, merasa lelah secara emosional, dan kesulitan menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Kesepian juga dapat memicu overthinking dan kecemasan sosial. Dalam kondisi ini, individu semakin menarik diri dari lingkungan, sehingga lingkaran kesepian terus berulang. Oleh karena itu, penting dan worth it untuk mengenali dan mengelola feeling lonely sejak dini.
Perasaan feeling lonely yang terus dibiarkan dapat menjadi pemicu munculnya gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Saat seseorang merasa terisolasi secara emosional, ia cenderung mengalami stres berkepanjangan, overthinking, hingga kehilangan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kondisi, feeling lonely juga dapat memicu kecemasan sosial. Individu merasa takut atau ndak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, sehingga memilih menarik diri dari lingkungan sekitar.
Dampak feeling lonely ndak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga kesehatan fisik. Kesepian yang berlangsung lama dapat meningkatkan kadar stres dalam tubuh dan berpengaruh pada tekanan darah serta kesehatan jantung. Selain itu, feeling lonely juga dikaitkan dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit karena tubuh ndak bekerja secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa memahami lonely artinya ndak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga dengan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan. Hubungan sosial yang sehat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan mental dan fisik, termasuk lewat kegiatan produktif yang memungkinkan Anda tetap terhubung dan berkembang dari mana saja. Kesepian kronis yang dirasakan terus-menerus dan intens itu bisa berdampak pada banyak sekali risiko-risiko kesehatan mental.
Setelah memahami apa itu feeling lonely dan dampaknya, langkah berikutnya adalah mengetahui cara mengelolanya.
1. Meningkatkan Interaksi Sosial
Mulailah dengan langkah sederhana, seperti menghubungi teman lama atau meluangkan waktu untuk bertemu keluarga. Interaksi yang konsisten dapat membantu membangun kembali koneksi emosional. Bergabung dengan komunitas yang sesuai minat juga menjadi pilihan yang efektif. Lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi perasaan terasing secara perlahan.
2. Mengembangkan Hobi dan Aktivitas Baru
Mengisi waktu dengan aktivitas yang produktif membantu mengalihkan fokus dari rasa sepi. Hobi seperti olahraga, membaca, menulis, atau kegiatan kreatif lainnya dapat meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, aktivitas baru membuka peluang untuk bertemu orang dengan minat yang sama. Dari sana, koneksi yang lebih sehat dan bermakna bisa terbentuk, agar Anda memiliki rutinitas baru sekaligus kesempatan berinteraksi.
3. Mencari Bantuan Profesional
Jika feeling lonely terasa semakin berat dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak. Bantuan profesional dapat membantu mengidentifikasi akar permasalahan serta memberikan strategi penanganan yang sesuai. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Perasaan kesepian dapat berangsur berkurang ketika seseorang merasakan dukungan serta penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Dalam situasi ini, keluarga dan komunitas berperan penting dalam menghadirkan rasa aman, kebersamaan, serta memberikan makna dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi tempat pertama yang dapat memberikan dukungan emosional ketika seseorang mengalami feeling lonely. Banyak orang mengira lonely artinya hanya merasa sendirian, padahal perhatian dan kehadiran keluarga sering kali mampu mengurangi perasaan tersebut. Hubungan yang hangat melalui komunikasi terbuka, saling mendengarkan tanpa menghakimi, serta meluangkan waktu bersama dapat membantu meredakan feeling lonely.
Selain dukungan keluarga, keberadaan komunitas juga dapat membantu seseorang keluar dari feeling lonely. Mengikuti aktivitas bersama, seperti olahraga, pengajian, atau komunitas hobi, membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Lingkungan yang aktif dan suportif dapat menumbuhkan rasa kebersamaan. Dengan adanya interaksi sosial yang positif, pandangan bahwa lonely artinya selalu merasa sendiri dapat berkurang secara bertahap. Salah satu cara yang positif untuk mengurangi feeling lonely adalah memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus membuka kesempatan untuk bertemu orang baru.
Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya. Untuk backgroundnya SettiaBlog gunakan conic gradient yang di modif dengan background-size 2% 2% dan di buat repeat, dengan sudut perputaran 60 derajat.
<
Video klip kedua ini SettiaBlog kasih judul "on cloud nine". Ilona, lagunya ini enak lho. Untuk ilustrasinya itu ada pemandangan gunung Merapi dan gunung Merbabu di sore hari yang membentuk huruf M.
Manusia hidup ndak sendiri. Ada makhluk-makhluk Allah ﷻ lain yang juga tinggal bersama di bumi. Ada hewan, tumbuhan, jin, dan malaikat. Manusia bukan satu-satunya makhluk Allah ﷻ yang tinggal di bumi. Ada makhluk-makhluk Allah ﷻ yang lain. Karena itu, Islam juga mengajarkan bagaimana berakhlak dengan mereka. Dengan hewan, kita diajarkan untuk berakhlak dengan mereka. Seperti ada hewan yang ndak boleh dibunuh, ada yang boleh. Dan terhadap yang boleh dibunuh, harus dilakukan dengan cara yang baik. Misalnya ketika menyembelih hewan untuk dikonsumsi. Hewan disembelih dengan pisau yang tajam dan dilakukan dengan menyebut asma Allah ﷻ. Jika hewan ndak sendirian, maka penyembelihan dilakukan terpisah atau ndak dilihat ‘rekan’ hewan yang lain. Kita juga dilarang menganiaya hewan. Termasuk juga hewan peliharaan. Ada seorang wanita di masa Nabi Muhammad ﷺ masuk neraka hanya karena menganiaya kucing. Ia mengurung kucing tapi ndak diberi makan.
Nabi Sulaiman alaihissalam pernah menghentikan perjalanan bala tentaranya secara mendadak. Hal tersebut karena ada serombongan semut yang kebetulan melewati jalan yang sama. Begitu pun dengan tumbuhan. Kita dilarang merusak tumbuhan tanpa alasan yang jelas atau sekadar iseng. Kita dilarang membuang sampah yang bisa merusak tanaman seperti plastik dan lainnya. Ada lagi makhluk gaib yang juga tinggal bersama manusia di bumi. Kalau hewan dan tumbuhan terlihat, makhluk-makhluk ini ndak terlihat. Seolah ndak ada, tapi mereka hidup bersama kita, di tempat yang sama. Salah satunya jin. Seperti manusia, jin ada yang muslim dan ada pula yang kafir. Terhadap jin muslim, Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana berakhlak terhadap mereka. Suatu hari, Abu Hurairah diminta Rasulullah ﷺ untuk mencari benda-benda untuk istinja. Kata Rasulullah ﷺ, ambilkan batu dan jangan ambilkan tulang dan kotoran. Hal ini karena tulang merupakan makanan untuk jin. Dan kotoran hewan merupakan makanan untuk hewan peliharaan jin. Tulang yang dikonsumsi jin muslim adalah tulang hewan dari bekas makanan manusia muslim. Hal ini karena jin muslim hanya memakan tulang dari hewan yang disembelih dengan menyebut asma Allah. Karena itu, tulang-tulang bekas kita konsumsi, ndak dikotori dengan barang najis manusia. Karena hal itu akan menjadi makanan untuk jin muslim. Sementara untuk jin kafir, mereka akan terhalang jika kita menyebut asma Allah. Misalnya, jika kita masuk rumah dengan menyebut asma Allah, maka setan akan terhalang ikutan masuk. Jika kita menyebut asma Allah saat makan dan minum, maka setan akan terhalang ikutan makan dan minum bersama kita.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya lalu ia berzikir kepada Allah saat memasukinya dan ketika hendak makan, maka setan akan berkata (kepada teman-temannya), ‘Sungguh kalian tidak akan mendapatkan tempat bermalam dan makan malam…” (HR. Muslim)
Jadi, berhati-hatilah dalam segala hal, karena ada makhluk-makhluk Allah ﷻ lain yang tinggal di sekitar kita. Jangan zalimi mereka.
Manusia hidup ndak sendiri. Ada makhluk-makhluk Allah ﷻ lain yang juga tinggal bersama di bumi. Ada hewan, tumbuhan, jin, dan malaikat. Manusia bukan satu-satunya makhluk Allah ﷻ yang tinggal di bumi. Ada makhluk-makhluk Allah ﷻ yang lain. Karena itu, Islam juga mengajarkan bagaimana berakhlak dengan mereka. Dengan hewan, kita diajarkan untuk berakhlak dengan mereka. Seperti ada hewan yang ndak boleh dibunuh, ada yang boleh. Dan terhadap yang boleh dibunuh, harus dilakukan dengan cara yang baik. Misalnya ketika menyembelih hewan untuk dikonsumsi. Hewan disembelih dengan pisau yang tajam dan dilakukan dengan menyebut asma Allah ﷻ. Jika hewan ndak sendirian, maka penyembelihan dilakukan terpisah atau ndak dilihat ‘rekan’ hewan yang lain. Kita juga dilarang menganiaya hewan. Termasuk juga hewan peliharaan. Ada seorang wanita di masa Nabi Muhammad ﷺ masuk neraka hanya karena menganiaya kucing. Ia mengurung kucing tapi ndak diberi makan.
Nabi Sulaiman alaihissalam pernah menghentikan perjalanan bala tentaranya secara mendadak. Hal tersebut karena ada serombongan semut yang kebetulan melewati jalan yang sama. Begitu pun dengan tumbuhan. Kita dilarang merusak tumbuhan tanpa alasan yang jelas atau sekadar iseng. Kita dilarang membuang sampah yang bisa merusak tanaman seperti plastik dan lainnya. Ada lagi makhluk gaib yang juga tinggal bersama manusia di bumi. Kalau hewan dan tumbuhan terlihat, makhluk-makhluk ini ndak terlihat. Seolah ndak ada, tapi mereka hidup bersama kita, di tempat yang sama. Salah satunya jin. Seperti manusia, jin ada yang muslim dan ada pula yang kafir. Terhadap jin muslim, Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana berakhlak terhadap mereka. Suatu hari, Abu Hurairah diminta Rasulullah ﷺ untuk mencari benda-benda untuk istinja. Kata Rasulullah ﷺ, ambilkan batu dan jangan ambilkan tulang dan kotoran. Hal ini karena tulang merupakan makanan untuk jin. Dan kotoran hewan merupakan makanan untuk hewan peliharaan jin. Tulang yang dikonsumsi jin muslim adalah tulang hewan dari bekas makanan manusia muslim. Hal ini karena jin muslim hanya memakan tulang dari hewan yang disembelih dengan menyebut asma Allah. Karena itu, tulang-tulang bekas kita konsumsi, ndak dikotori dengan barang najis manusia. Karena hal itu akan menjadi makanan untuk jin muslim. Sementara untuk jin kafir, mereka akan terhalang jika kita menyebut asma Allah. Misalnya, jika kita masuk rumah dengan menyebut asma Allah, maka setan akan terhalang ikutan masuk. Jika kita menyebut asma Allah saat makan dan minum, maka setan akan terhalang ikutan makan dan minum bersama kita.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya lalu ia berzikir kepada Allah saat memasukinya dan ketika hendak makan, maka setan akan berkata (kepada teman-temannya), ‘Sungguh kalian tidak akan mendapatkan tempat bermalam dan makan malam…” (HR. Muslim)
Jadi, berhati-hatilah dalam segala hal, karena ada makhluk-makhluk Allah ﷻ lain yang tinggal di sekitar kita. Jangan zalimi mereka.

No comments:
Post a Comment