Oct 23, 2026

Allah ﷻ Menyintai Keindahan

 


Video klip di atas ada "Fields of Gold" miliknya Sting yang di cover Eva Cassidy. Fields of gold merupakan simbol dari tempat yang tenang, hangat, dan penuh kenangan indah di pedesaan. Ladang gandum (barley) yang menguning saat tertiup angin digambarkan seperti "lautan emas". Lanjut ke bahasan ya.


﷽


Allah ﷻ sendiri menciptakan Alam semesta ini dihiasi dengan bermacam keindahan flora dan fauna. Keindahan alam ini hendaknya menjadi sebuah iktibar dan renungan dalam kehidupan sehari-hari. Di balik renungan tentang keindahan alam ini semakin menunjukkan kebesaran sang pencipta Allah ﷻ.

Namun keindahan juga bagian dari kebahagiaan hidup kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Keindahan dan kebahagiaan yang sejati dalam hidup sang khalifah adalah dengan mengamalkan amalan shaleh dan beramar makruf serta nahi mungkar yang dicintai oleh Allah ﷻ dan mengutamakannya di atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Esensi keindahan dan kebahagiaan itu telah direkomendasikan oleh Allah ﷻ dalam Al-Quranul Karim berbunyi: “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang berilmu) bergembira (berbangga), kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kesenangan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)” (QS Yunus:58).
Dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mereka merasa bangga (gembira dan bahagia) dengan anugerah yang Allah ﷻ berikan kepada mereka, dan Dia juga menyatakan bahwa anugerah dari-Nya itu lebih indah dan mulia dari semua kesenangan dunia yang berlomba-lomba dikejar oleh kebanyakan manusia ”Karunia Allah” dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan “keimanan”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dengan “Al Qur-an”, yang keduanya (keimanan dan Al Qur-an) adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh, sekaligus keduanya merupakan petunjuk dan agama yang benar yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. ( Syekh Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftahu Daaris Sa’aadah” 1: 51)

Keindahan itu sangat akrab dan identik dengan kebaikan. Allah ﷻ sendiri sangat mencintai sebuah keindahan. Hal ini sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadist berbunyi: "Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha indah dan mencintai keindahan". (HR. Thabrani dan Al Hakim). Makna Allah ﷻ adalah dzat yang maha indah bukan berarti indah dalam bentuk dan rupa. Tetapi yang dimaksud ialah indah dalam sifat. Juga bermakna Allah ﷻ adalah dzat yang berbuat baik. Makna indah dalam sifat ialah Allah ﷻ mempunyai sifat-sifat yang sempurna. Sedangkan makna Allah ﷻ adalah dzat yang berbuat baik ialah bahwa Allah ﷻ berbuat baik kepada hambanya dan bersifat dermawan kepada mereka dengan nikmat-nikmatNya. Adapun pengertian Allah ﷻ mencintai keindahan ialah bahwa Allah ﷻ senang perbuatan yang bersifat memperbaiki (ihsan). Maka kita sebagai manusia sosok khalifah di muka bumi ini ndak dinilai dari bentuk lahir yang diciptakan Allah ﷻ, tetapi dia dinilai berdasarkan niat dan amalnya.

Keindahan alam semesta akan memancar sempurna ketika disandingkan dengan keindahan akhlak manusia yang menjaganya, termasuk para pelaku bisnis. Ketika manusia memiliki akhlak yang mulia, mereka ndak hanya hidup demi diri sendiri, melainkan menjadi pelindung dan pembawa rahmat bagi seluruh isi bumi. Di bawah ini ada beberapa akhlak indah yang seharusnya dimiliki pengusaha muslim.

Pertama: Niat yang Benar

Dengan niat yang benar perbuatan mubah semisal jual beli bisa berubah menjadi bernilai pahala. Sehingga seluruh sisi kehidupan seorang muslim bernilai ibadah dan ketaatan. Niat yang benar dalam hal ini adalah menginginkan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Niat baik untuk diri sendiri berupa menjaga diri dari kengkomsumsi harta yang haram, menjaga kehormatan sehingga ndak meminta-minta, menguatkan diri sehingga bisa melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ, menjaga jalinan silaturahmi, berbuat baik dengan kerabat dan niat-niat baik yang lain. Niat baik untuk orang lain berupa ikut berperan serta memenuhi hajat hidup orang banyak yang merupakan suatu hal yang bernilai fardu kifayah, membuka lapangan kerja untuk orang lain, berperan serta untuk membebaskan umat dari sikap bergantung kepada orang lain dan lain-lain. Niat adalah perdagangan orang-orang yang berilmu. Artinya nilai sebuah amal bisa berlipat ganda disebabkan pelakunya menyatukan beberapa niat baik dalam waktu yang bersamaan. Sungguh itu adalah suatu yang mudah bagi orang yang Allah ﷻ mudahkan.

Kedua: Akhlak yang luhur

Di antara akhlak luhur yang sangat diperlukan dalam dunia bisnis adalah jujur, amanah, qana’ah, memenuhi janji, menagih hutang dengan bijak, memberi tempo untuk orang yang kesulitan melunasi hutangnya, memaafkan kesalahan orang lain, menunaikan kewajiban, ndak menipu dan ndak menunda-nunda pelunasan hutang. Akhlak luhur adalah tiang penegak urusan agama dan dunia. Nabi Muhammad ﷺ diutus dengan misi menyempurnakan akhlak mulia. Orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling Nabi cintai dan tempat duduk paling dekat dengan Nabi. Ringkasnya akhlak yang luhur itu memborong semua kebaikan baik dunia maupun akherat. Akhlak luhur yang dimiliki oleh para pedagang memiliki pengaruh yang besar untuk menyebarkan Islam di berbagai daerah di Asia dan Afrika. Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada seorang yang memiliki sikap mudah ketika menjual, membeli dan menagih hutang” (HR Bukhari no 1970).

Ketiga: Bisnis dalam Hal-Hal yang Baik Saja

Allah ﷻ telah menghalalkan yang baik-baik saja dan mengharamkan yang buruk-buruk bagi hamba-hambaNya. Seorang businessman muslim ndak akan keluar dari bingkai ini meski ada tawaran yang menggiurkan dalam bisnis yang haram. Bisnis dalam hal-hal yang haram seperti khamr, bangkai, daging babi dan transaksi ribawi ndak akan terlintas dalam benak seorang muslim. Ndaklah diragukan bahwa ini adalah ciri khas businessman muslim, seorang yang seluruh aktivitasnya berangkat dari kaedah halal dan haram serta semua usahanya diniatkan untuk meraih ridha Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman, “Katakanlah: “tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 100).

Keempat: Menunaikan kewajiban

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa Allah ﷻ berfirman, “Ada tiga golongan manusia yang aku adalah musuhnya pada hari Kiamat nanti: (1) seorang berjanji dengan menyebut namaKu lalu dia melanggar janji, (2) seorang yang menjual orang yang merdeka lalu dia menikmati hasil penjualannya tersebut (3) seorang yang mempekerjakan orang lain setelah orang tersebut bekerja dengan baik upahnya tidak dibayarkan” (HR Bukhari no 2150). Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah ﷺ bersabda, “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al Albani).
Kewajiban yang paling penting adalah kewajiban terhadap Allah ﷻ dalam harta para orang kaya. Itulah zakat, setelah itu adalah sedekah dan berbagai sumbangan sosial.

Kelima: Menjauhi riba dan berbagai transaksi terlarang yang mengantarkan kepada riba



Keenam: Ndak memakan harta orang lain dengan cara yang ndak benar

Allah ﷻ berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS An Nisa’: 29).
Dalam ayat ini Allah ﷻ melarang hamba-hambaNya yaitu orang-orang yang beriman untuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar yaitu berbagai cara mendapatkan harta yang terlarang semisal riba, judi, suap dan berbagai perbuatan yang menimbulkan permusuhan dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar.

Ketujuh: Komitmen dengan berbagai peraturan yang ada

Meski ada beberapa peraturan yang ndak sejalan dengan syariat Islam, businessman muslim akan semaksimal mungkin menghindari berbagai tindakan yang akan menyebabkannya mendapatkan hukuman, bukan karena meyakini bahwa makhluk memiliki kewenangan untuk menetapkan aturan. Akan tetapi bertitik tolak dari kewajiban yang Allah ﷻ tetapkan yaitu mencegah mafsadah (kerusakan) dan ndak mencampakkan diri ke dalam kebinasaan.

Kedelapan: Ndak merugikan pihak lain

Bisnisman muslim adalah seorang yang ksatria dalam persaingan bisnis. Dia memiliki prinsip ndak merugikan pihak lain. Dia ndak akan mempermainkan harta untuk merugikan pihak-pihak lain. Dia ndak akan mematok harga yang tinggi karena memanfaatkan kebutuhan orang lain terhadap barang yang dia jual atau karena mengingat dia adalah produsen satu-satunya. Dari Ma’mar bin Abdullah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada orang yang menimbun barang dagangan melainkan seorang pendosa” (HR Muslim no 4207).

Kesembilan: Loyal dengan orang-orang yang beriman

Oleh karena itu, businessman muslim ndak akan mengadakan hubungan dagang dengan pihak-pihak yang secara terang-terangan menyatakan permusuhan dengan Islam dan kaum muslimin.

Kesepuluh: Mempelajari hukum-hukum syar’i seputar muamalah.

Di antara keyakinan setiap muslim adalah hukum-hukum syar’i itu mencakup semua aspek kehidupan. Oleh karena itu, khalifah Umar mengusir pedagang yang ndak menguasai hukum jual beli dari pasar kaum muslimin.


Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya.

Video klip kedua ini SettiaBlog kasih judul "pelukan bumi". Bumi sering melambangkan kerendahan hati. Manusia sendiri sebagai khalifah di bumi yang mengemban amanah dari Allah ﷻ untuk mengelola, memakmurkan, dan menjaga keadilan serta kelestarian alam, sehingga sikap rendah hati (tawadhu) menjadi kewajiban utama agar ndak terjebak dalam kesombongan dan tentu harus memiliki budi pekerti yang luhur.

Istilah budi pekerti seringkali dipersamakan dengan istilah sopan santun, susila, moral, etika, adab atau akhlak. Kesemuanya istilah itu memiliki makna yang sama, yaitu sikap, perilaku, dan tindakan individu yang mengacu pada norma baik buruk dalam hubungannya dengan sesama individu, anggota keluarga, masyarakat, hidup berbangsa, bernegara bahkan sebagai umat beragama, yang bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Budi pekerti dalam Islam memiliki tiga dimensi yaitu; dimensi ketuhanan (Habluminallah), dimensi kemanusiaan (Habluminannas), dimensi alam (Hablum minal alam). Budi pekerti luhur atau al-akhlaq al-karimah dalam perspektif Islam adalah salah satu misi pokok Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ ditugaskan Allah ﷻ memperbaiki atau menyempurnakan akhlak mulia atau budi pekerti luhur.
“Tidaklah ayah dan ibu meninggalkan warisan yang lebih baik daripada budi pekerti yang luhur.” (HR Tirmizi)
Ndak ada agama ataupun sistem kehidupan yang memberikan perhatian terhadap budi pekerti sebesar Islam . Memiliki budi pekerti yang luhur adalah cara terbaik mengejawantahkan identitas kita sebagai seorang muslim. Ada banyak sabda Nabi Muhammad ﷺ yang memotivasi kita untuk memiliki budi pekerti luhur. Misalnya:

1. Di antara kaum mukminin yang paling mantap imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

2. Di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat adalah kalian yang budi pekertinya paling luhur.

Akhlak bagi manusia bagaikan hiasan. Siapapun yang ‘mengenakan’nya pasti akan disenangi dan disegani oleh orang lain. Untuk menjadi pribadi yang terhormat dan bermartabat, sejatinya ndak membutuhkan modal besar. Dengan berperilaku luhur, berbuat baik pada orang lain, maka orang lain pun akan berbuat demikian. Dalam pribahasa Arab dikatakan “Laisa al-jamaalu bi atswaabin tuzaiyunaa inna al-jamaala jamaalu al-ilmi wa al-adabi”. Artinya, bukanlah kebaikkan atau ketampanan itu terletak pada baju-baju yang menghiasi kita. akan tetapi kebaikkan itu terletak pada ilmu dan budi pekerti. Berakhlak yang baik harus meliputi berbagai aspek kehidupan seorang Muslim baik dalam perkataan, perbuatan dan ibadahnya kepada Tuhannya dan muamalahnya dengan sesama makhluk.
Firman Allah ﷻ :
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوّاً مُّبِين
“Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS: al-Isra’:53)

Hadits dan ayat ini menunjukkan, bahwa masalah akhlak adalah masalah ushul atau pokok yang memang harus diindahkan oleh setiap orang yang mengaku sebagai Muslim. Di mana pun kita berada, dan dengan siapa pun kita bergaul, Islam telah mengajarkan kita untuk senantiasa bermu’amalah dan mengedepankan sikap yang baik. Berikut adalah alasan mengapa kita harus berbudi pekerti luhur:

• Karena agama kita selain memberi perhatian besar kepada ibadah ia juga memberi perhatian besar kepada hubungan antar manusia. Mereka yang ndak memiliki budi pekerti yang luhur ndak mungkin dapat dikatakan telah menjalankan agama dengan sempurna.

Karena Nabi kita juga menjadi representasi dari budi pekerti yang luhur. Untuk bisa menjadi seorang calon penghuni surga, diharuskan memiliki budi pekerti yang luhur.

Karena seorang mukmin yang dapat meraih kedalaman dalam ibadahnya dengan budi pekerti yang luhur. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: ”Seseorang berkat budi pekertinya yang luhur dapat meraih derajatnya mereka yang melakukan ibadah malam serta kemuliaannya mereka yang menahan haus di siang yang terik.” Hadis ini hendaknya dipahami dengan tepat, yaitu dengan budi pekerti yang luhur maka segala ibadah yang dilakukan oleh seseorang dapat meraih maknanya yang sempurna Karena budi pekerti yang luhur adalah tanda cinta kita kepada Allah ﷻ dan kekasihnya, yaitu rasulullah ﷺ.

Karena di belahan bumi dimana kita ndak memahami bahasa dan kultur setempat, satu-satunya bahasa yang dapat kita andalkan untuk bisa bertahan dan diterima di masyarakat tersebut adalah budi pekerti yang luhur. Yakinlah, dengan berakhlakul-karimah wa al-islamiyah, kita akan menjadi pribadi-pribadi yang mulia, yang dihormati, dimuliakan kedudukannya oleh orang-orang lain. Kenapa demikian? Jawabnya adalah karena “Al-Adabu asaasun al-najaahi” (Adab adalah pondasi kesuksesan).

No comments:

Post a Comment