Jul 15, 2026

Kiat Menuju Sukses Menurut Islam dengan Sembilan ‘I’

 


Video klip di atas "Only God Knows Why" milik Kid Rock. Tema lagunya bagus kok , sebuah refleksi jujur tentang perjalanan hidup, perjuangan, dan pencarian jati diri. Perasaan terasing, penyesalan, dan usaha untuk terus melangkah maju menghadapi cobaan, di mana hanya Allah ﷻ yang mengetahui alasan di balik semua lika-liku kehidupan tersebut. Ya, mungkin ada juga orang yang kurang suka dengan pandangan seperti itu. Kalau SettiaBlog yakin dan percaya bahwa perjalan hidup yang SettiaBlog jalani merupakan rencana Allah ﷻ. Dan SettiaBlog percaya setiap orang memiliki standardnya masing - masing dalam menilai keberhasilan atau kesuksesan. Sementara dalam pandangan umum dan merupakan harapan setiap orang, kesuksesan sering diukur melalui kombinasi pencapaian karier, stabilitas finansial, kesehatan mental dan fisik, serta hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.

Sementara itu dalam Islam, kesuksesan ndak hanya sekedar diukur dari keberhasilan materi, tetapi juga dari keberkahan hidup yang dicapai melalui nilai-nilai Islam. Salah satu cara menuju kesuksesan adalah dengan menerapkan konsep Sembilan ‘I’, yang terdiri dari berbagai sikap dan tindakan yang didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis.

1. Ikhtiar (Memilah dan Memilih)

Ikhtiar adalah usaha sungguh-sungguh dalam memilih dan menjalani sesuatu dengan bijak. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Hadis Nabi Muhammad ﷺ juga menyebutkan:
“Ikatlah unta kalian, lalu bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebelum berserah diri kepada Allah.

2. Ijtihad (Serius)

Ijtihad berarti bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang jika bekerja, ia menyempurnakannya.” (HR. Thabrani)
Sikap serius dalam bekerja dan berusaha akan membawa hasil yang lebih baik, serta mendapatkan keberkahan dalam hidup.

3. Ikhtiyath (Hati-hati/Teliti)

Bersikap hati-hati dan teliti dalam setiap tindakan menghindarkan kita dari kesalahan yang merugikan. Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
Ketelitian dalam berpikir dan bertindak akan membawa kita pada keputusan yang lebih bijak dan tepat.

4. Isthibar (Sabar/Ulet)

Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi ujian kehidupan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 153:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Kesuksesan ndak datang dengan instan, melainkan membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

5. Istifadah (Mengambil Pelajaran dari Suatu Peristiwa)

Selalu berpikir positif dari suatu peristiwa Mengeluh ndak apa-apa, tetapi harus segera mencari solusi Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Dari setiap kejadian, ada hikmah yang bisa diambil agar kita semakin berkembang dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah.

6. Istianah (Kerjasama)

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Maidah: 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Kerjasama yang baik akan membawa keberhasilan yang lebih besar daripada bekerja sendiri.

7. Istisyarah (Berdiskusi)

Diskusi adalah cara untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Dalam Islam, musyawarah sangat dianjurkan, sebagaimana dalam QS. Asy-Syura: 38:
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”
Diskusi membantu kita dalam membuat keputusan yang lebih bijak dan matang.

8. Istiqamah (Konsisten)

Latihan istiqamah adalah ketika kita merasa ndak nyaman jika ndak melakukannya Allah ﷻ berfirman dalam QS. Fussilat: 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…”
Konsistensi dalam beribadah dan berusaha akan membentuk kebiasaan baik yang membawa keberkahan.

9. Istighatsah (Berdoa)

Apa yang kita lakukan semuanya akan kembali ke diri kita, maka jangan pernah berdoa jelek kepada orang lain Doa ibu lebih dahsyat dari ucapan malaikat Doa dapat menenangkan hati, dan yang terpenting adalah yakin Dalam QS. Al-Baqarah: 186, Allah ﷻ berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku.”
Berdoa dengan yakin akan memberikan ketenangan hati dan membawa kita lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Udah ya, maafin SettiaBlog lho ya. Sembilan ‘I’ merupakan rumus atau langkah-langkah yang dapat melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses di dunia maupun akhirat. Dengan melatih emosi dan kebiasaan yang positif, kita akan semakin dekat dengan kesuksesan yang sejati kok. Untuk backgroundnya SettiaBlog gunakan conic gradient dengan sudut 60 derajat.


Video klip kedua ada "menjemput fajar". Lagu apa itu SettiaBlog? Ya dengerin sendiri aja biar tahu. Untuk ilustrasinya itu SettiaBlog ambil tokoh besar dari Sunda, Nyai Subang Larang. Di sekitar abad 14 dia sudah getol menyebarkan Islam di tanah Sunda. Dia juga termasuk wanita yang mempelopori pengajaran Al Quran. Jika Anda datang ke Kasepuhan Cirebon, di sana banyak sumber sejarah berkaitan dengan Nyai Subang Larang. Makanya bagi kaum muslim yang biasa ikut manaqiban dari jalur Kasepuhan Cirebon, dalam kegiatan acaranya pasti di awali kataman Al Quran. SettiaBlog kamu itu cerita apa c? Ndak paham SettiaBlog.....he....he.....maaf...maaf! Kalau gitu SettiaBlog cerita aja ya? Mmm......

Suatu ketika di sebuah desa kecil di Dataran Tiongkok hiduplah seorang pemuda bernama Suyo. Ia dikenal sebagai pemuda yang berwajah cukup tampan. Beberapa gadis diam-diam menaruh hati kepadanya. Namun di balik wajah yang rupawan itu, Suyo hanyalah seorang anak petani biasa yang menjalani hidup dengan sederhana. Hari-harinya dihabiskan membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Baginya, kehidupan desa yang tenang sudah cukup membuatnya merasa nyaman. Ia ndak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya harus menghadapi tantangan yang mampu mengubah seluruh jalan hidupnya.

Di desa yang sama ada seorang gadis yang telah lama mengisi hati Suyo. Setelah memikirkan dengan matang, ia akhirnya memberanikan diri datang ke rumah keluarga gadis itu untuk menyampaikan niat baiknya. Bukan untuk sekedar bertamu, melainkan untuk meminangnya secara terhormat sesuai adat yang berlaku pada masa itu. Namun harapan Suyo ndak berjalan semudah yang dibayangkan. Ayah gadis tersebut, seorang prajurit kerajaan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di medan perang, menatap Suyo dengan tenang. Namanya adalah Yijang, seorang veteran yang telah beberapa kali menghadapi pertempuran. Pengalaman panjang membuatnya memahami bahwa pada zaman yang penuh konflik, seorang laki-laki ndak cukup hanya memiliki wajah tampan dan hati yang baik. Ia juga harus mampu melindungi keluarganya ketika bahaya datang. Karena itulah Yijang mengajukan sebuah syarat. Jika Suyo ingin menikahi putrinya, ia harus mampu mengenai sasaran dengan busur dari jarak 100 m.

Bagi prajurit yang telah bertahun-tahun berlatih, syarat itu bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai. Namun, bagi seorang pemuda desa yang bahkan belum pernah memegang busur perang, tantangan tersebut terasa hampir mustahil dicapai. Lebih berat lagi, waktu yang diberikan hanya 1 tahun. Banyak orang mungkin akan menyerah bahkan sebelum mencoba. Belajar memanah hingga mencapai tingkat seperti itu biasanya membutuhkan latihan bertahun-tahun. Tetapi Suyo ndak melihat syarat tersebut sebagai penghinaan. Ia memahami alasan di balik permintaan Yijang. Sang ayah ndak sedang mencari alasan untuk menolak lamaran, melainkan ingin memastikan bahwa putrinya akan hidup bersama seseorang yang sanggup menjaganya di masa-masa sulit. Melihat tekad Suyo yang ndak goyah, Yijang mengambil sebuah busur perang beserta beberapa anak panah lalu menyerahkannya kepada pemuda itu. Suyo menerima busur tersebut dengan penuh hormat. Lalu pertemuan diakhiri.

Keesokan paginya, Suyo membawa busur itu menuju sebuah lahan kosong di dekat hutan kecil di belakang desa. Tempat itu cukup sepi sehingga ndak membahayakan warga yang melintas. Di sebelah kirinya terbentang pepohonan yang rapat. Sementara di sisi kanan berdiri pagar kayu panjang yang memisahkan desa dari hutan liar. Di tempat sunyi. Itulah perjalanan yang akan mengubah hidup Suyo benar-benar dimulai. Cukup jauh di hadapannya berdiri sebuah sasaran sederhana yang dibuat dari jerami. Busur pemberian Yizang kini berada di tangannya. Menunggu untuk digunakan untuk pertama kali. Namun kenyataan jauh berbeda dari bayangan Suyo. Suyo mencoba menarik tali busur sekuat tenaga. Otot lengannya menegang, wajahnya memerah, bahkan nafasnya mulai memburu. Meski seluruh tenaga telah dikerahkan, tali busur itu nyaris ndak bergerak. Busur perang itu dibuat untuk prajurit yang telah bertahun-tahun melatih kekuatan tubuhnya, bukan untuk seorang pemuda desa yang sehari-hari hanya bekerja di ladang. Ia ndak menyerah begitu saja. Berkali-kali ia mencoba menarik kembali hingga kedua lengannya mulai gemetar. Hingga setelah berusaha sampai matahari mulai naik, akhirnya ia berhasil melepaskan satu anak panah. Sayangnya, panah itu hanya meluncur sekitar 10 meter sebelum jatuh ke tanah. Jarak itu bahkan belum sepersepuluh dari syarat yang harus ia penuhi.

Suyo terdiam cukup lama. Baru hari pertama ia sudah menyadari betapa jauhnya kemampuan yang dimilikinya dibandingkan target yang harus dicapai dalam waktu 1 tahun. Dari balik pagar, melihat cucunya berlatih tanpa hasil, kakeknya menghampirinya. Meski bukan seorang pemanah hebat, kakeknya pernah mempelajari dasar-dasar memanah ketika masih muda. Sehingga ia memahami kesalahan terbesar yang dilakukan Suyo. Menurutnya, Mamanah bukan sekedar membidik sasaran. Sebelum itu, tubuh harus cukup kuat untuk menarik busur. Jika tenaga saja belum cukup, mempelajari teknik ndak akan banyak membantu. Nasihat sederhana itu mengubah cara berpikir suyo. Sejak hari itu, ia ndak lagi memaksakan diri terus memanah. Sebagian besar waktunya justru digunakan untuk membangun kekuatan tubuh. Setiap siang hingga sore, untuk memperkuat otot lengannya, ia menimba air dari sumur desa dengan ember kayu yang lebih besar. Ember demi ember diangkatnya bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tetapi juga membantu para tetangga yang membutuhkan tenaga tambahan. Ketika pekerjaan di ladang selesai, ia melanjutkan latihan fisik. Ia berlatih berbagai gerakan yang diajarkan kakeknya untuk memperkuat lengan, bahu, serta punggung. Latihan itu dilakukan tanpa pernah terlewat dan perubahan terbesar justru terjadi pada kebiasaannya.

Dulu Suyo baru bangun ketika matahari mulai meninggi. Kini sebelum ayam pertama berkokok, ia sudah terjaga dan bersiap untuk berlatih. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk rebahan berubah menjadi jam latihan. Ia ndak mau menyia-niakan waktu yang diberikan. Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Bangun sebelum fajar, berlatih fisik, membantu orang tuanya menggarap ladang, menimba air hingga sore, lalu kembali berlatih memanah sebelum matahari terbenam. Rutinitas itu terasa melelahkan. Tubuhnya sering dipenuhi pegal dan lecet. Telapak tangannya mulai mengeras akibat terus menggenggam tali busur dan mengangkat ember-ember berisi air. Namun, ndak sekalipun ia berpikir untuk menghentikan usahanya.

6 bulan berlalu tanpa terasa. Latihan yang terus diulang itu perlahan menunjukkan hasil. Lengan Suyo yang dulu kurus kini tampak jauh lebih berisi. Bahunya menjadi lebih kokoh, telapak tangannya dipenuhi kapalan dan napasnya jauh lebih teratur saat bekerja. Warga desa yang setiap hari melihatnya mulai menyadari perubahan itu. Pemuda yang dulu dikenal santai kini justru menjadi orang pertama yang sudah beraktivitas ketika sebagian besar warga masih terlelap. Suatu sore setelah menyelesaikan pekerjaan di ladang, Suyo kembali menuju tempat latihan di belakang desa. Ia mengambil busur pemberian Yizeng lalu menarik tali busur perlahan. Kali ini berbeda. Busur yang 6 bulan lalu bahkan nyaris ndak bisa ia tarik, kini dapat ia rentangkan hingga penuh. Otot-otot yang dibangunnya selama berbulan-bulan akhirnya mampu mengendalikan kekuatan busur perang itu. Suyo menghembuskan napas, memusatkan pandangan ke arah sasaran, lalu melepaskan anak panah. Anak panah melesat kencang hingga akhirnya jatuh ndak jauh dari sasaran. Jaraknya hampir mencapai 90 m. Suyo tersenyum untuk pertama kalinya sejak memulai latihan. Meski belum berhasil memenuhi syarat, setidaknya ia tahu bahwa seluruh kerja kerasnya ndak sia-sia.

Sang kakek yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan ikut merasa bangga. Menurutnya, kekuatan Suyo kini sudah cukup untuk menembakkan anak panah hingga jarak yang dibutuhkan. Yang masih kurang hanyalah teknik. Ia menjelaskan bahwa memanah jarak jauh bukan hanya mengandalkan tenaga. Cara berdiri, posisi kaki, tarikan tali busur, pengaturan nafas, hingga saat melepaskan jari dari tali busur harus dilakukan dengan tepat. Kesalahan kecil saja dapat membuat anak panah meleset beberapa meter dari sasaran. Nasihat itu menjadi awal dari latihan berikutnya. Sejak saat itu, Suyo ndak lagi berfokus memperkuat tubuh. Waktu latihannya lebih banyak dihabiskan untuk mengulang gerakan yang sama berkali-kali. Ia belajar mengendalikan napas, menjaga tubuh tetap stabil, dan membidik dengan lebih tenang. Setiap anak panah yang meleset menjadi pelajaran untuk tembakan berikutnya. 5 bulan kembali berlalu. Kini anak panah sudah mampu melampaui jarak 100 m. bahkan beberapa kali melesat lebih jauh dari sasaran. Namun, masalah yang sebenarnya baru mulai terasa. Mengenai sasaran dari jarak 100 m ternyata jauh lebih sulit daripada sekedar mencapainya. Tembakannya ndak pernah benar-benar tepat sasaran. Semakin keras ia berusaha menyempurnakan bidikannya, semakin ia menyadari betapa sulitnya kemampuan para prajurit kerajaan.

Tanpa terasa genap sudah 1 tahun sejak Suyo menerima busur dari Yizang. Hari yang selama ini ia nantikan akhirnya tiba. Pagi itu, Yizang pulang dari tempat penugasannya di kota untuk menepati janjinya menguji kemampuan Suyo. Suyo datang ke sebuah lapangan luas di pinggir desa. Tempat itu dipilih Yizang karena memiliki medan terbuka tanpa penghalang. Sama seperti kondisi yang biasa dijumpai di medan perang, di tengah lapangan berdiri sebuah orang-orangan yang dibuat dari jerami. Jaraknya tepat 100 m dari tempat Suyo berdiri. Suasana berubah hening ketika Suyo melangkah maju sambil membawa busur yang telah menemaninya berlatih selama setahun terakhir. Wajahnya terlihat tenang, tetapi di balik ketenangan itu, jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Semua kerja kerasnya selama 1 tahun akan ditentukan hanya dalam beberapa saat.

Yizang lalu menjelaskan aturan ujiannya. Suyo hanya diberi tiga kesempatan. Jika satu saja anak panah berhasil mengenai sasaran, maka ia dinyatakan memenuhi syarat. Suyo menganggukkan kepala. Ia menarik napas panjang kemudian memasang anak panah pertama pada busurnya. Gerakannya jauh lebih mantap dibandingkan saat pertama kali berlatih. Ia mengangkat busur, membidik dengan penuh keyakinan lalu melepaskan tali busur. Anak panah melesat sangat cepat menuju sasaran. Namun sesaat kemudian hembusan angin menyapu lapangan. Angin itu sebenarnya ndak terlalu kencang, tetapi cukup untuk mengubah arah terbang anak panah. Panah tersebut melintas beberapa langkah di samping sasaran sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Suyo terdiam. Barulah saat itu ia menyadari kesalahan yang ndak pernah terpikirkan selama berlatih.

Tempat latihannya berada di belakang desa diapit oleh hutan kecil di satu sisi dan pagar kayu tinggi di sisi lain. Selama 1 tahun penuh hampir ndak pernah ada angin yang cukup kuat untuk mempengaruhi arah anak panahnya. Sementara lapangan tempat ujian berlangsung benar-benar terbuka sehingga arah angin menjadi faktor yang ndak bisa diabaikan. Untuk percobaan kedua, Suyo mencoba menyesuaikan bidikannya. Ia sengaja mengarahkan busur sedikit menyimpang, berharap hembusan angin akan membawa anak panah kembali menuju sasaran. Namun, masih meleset. Melawan arah angin bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari hanya dengan perkiraan. Bahkan para pemanah kerajaan membutuhkan latihan bertahun-tahun untuk memahami perubahan arah angin di setiap tembakan. Namun, Suyo harus memahaminya saat itu juga.

Kini tinggal satu kesempatan terakhir. Suyo memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengingat kembali seluruh latihan yang telah dijalaninya selama 1 tahun. Setiap pagi yang dimulai sebelum fajar, setiap ember air yang diangkat dari sumur, setiap tetes keringat yang jatuh di tempat latihan, semuanya seolah terlintas dalam benaknya. Ia kembali mengangkat busurnya. Kali ini ia membidik lebih lama dari sebelumnya. Setelah merasa benar-benar siap, ia melepaskan anak panah terakhir dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Semua mata mengikuti laju anak panah itu. Sesaat kemudian terdengar suara lirih ketika anak panah menancap ke tanah. Bukan pada sasaran, melainkan beberapa langkah di sampingnya. Lapangan yang semula penuh harapan kembali diliputi keheningan. Suyo perlahan menurunkan busurnya. Ia ndak mengatakan apapun. Tubuhnya terasa lemas. Lalu ia terduduk di atas rumput sambil menundukkan kepala. Setahun penuh perjuangan ternyata belum cukup untuk mendapatkan pujaan hatinya. Ndak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata setelah tembakan terakhir itu. Yijang berjalan menghampiri Suyo. Wajahnya ndak menunjukkan kemarahan maupun kekecewaan yang berlebihan. Sebagai seorang prajurit, ia tahu betul bahwa satu tahun memang tak akan cukup untuk menguasai kemampuan memanah. Sesampainya di hadapan Suyo, Yijang mengambil kembali busur yang tahun lalu dipinjamkannya. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ujian telah selesai. Tanpa mengucapkan banyak kata, ia kemudian meninggalkan lapangan bersama beberapa tokoh desa yang sejak tadi menyaksikan jalannya ujian.

Suyo tetap duduk seorang diri. Tatapannya kosong mengarah ke tanah. Selama 1 tahun terakhir, seluruh hidupnya hanya berputar pada satu tujuan. Ia rela mengubah kebiasaannya, memaksa tubuhnya melewati batas, bahkan mengorbankan waktu istirahat yang dulu begitu ia sukai. Namun, pada akhirnya semua itu belum mampu membawanya mencapai hasil yang diharapkan. Rasa kecewa, kesal, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Bukan karena ia merasa usahanya sia-sia, melainkan karena ia begitu dekat dengan keberhasilan. Seandainya saja ia menyadari lebih awal pentingnya berlatih di tempat terbuka dan mempelajari arah angin, mungkin hasilnya akan berbeda.

Beberapa hari kemudian, Yijang kembali ke kota tempatnya bertugas. Kali ini ia membawa putrinya ikut bersamanya. Di sanalah ia telah memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan seorang prajurit yang telah memiliki kemampuan bertempur dan dianggap mampu memberikan perlindungan di tengah masa peperangan. Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Suyo. Ia menerima kenyataan tersebut tanpa mencoba mengubah keputusan siapun. Kesempatan yang pernah diberikan kepadanya telah ia jalani hingga batas waktu yang ditentukan. Ia gagal memenuhi syarat itu dan kesempatan yang diberikan kepadanya merupakan suatu kehormatan baginya.

Hari-hari berikutnya pun kembali berjalan seperti semula. Suyo kembali membantu kedua orang tuanya mengurus ladang. Namun tanpa ia sadari dirinya bukan lagi pemuda yang sama seperti setahun sebelumnya. Pekerjaan yang dulu terasa melelahkan kini dapat ia selesaikan dengan mudah. Mengangkat hasil panen, memikul karung atau menimba air dari sumur ndak lagi membuat lengannya cepat lelah. Tubuhnya telah terbiasa bekerja dari pagi hingga sore tanpa banyak mengeluh. Yang paling berubah justru kebiasaannya. Meski ndak ada lagi ujian yang menunggunya, Suyo tetap bangun sebelum matahari terbit setiap hari dan mulai mengerjakan apa saja. Tubuhnya seolah telah menyatu dengan rutinitas yang ia bangun selama 1 tahun. Waktu yang dahulu ia gunakan untuk latihan memanah kini dialihkan untuk membantu warga yang kesulitan. Setelah membantu orang tuanya di ladang, ia mulai membangun usahanya sendiri. Tanpa disadari Suyo, kegagalannya memang telah mengakhiri mimpinya. Namun, disiplin yang ia bangun selama setahun justru mulai membuka jalan menuju sesuatu yang sama sekali ndak pernah ia bayangkan. Bagi Suyo, semua itu sudah menjadi kebiasaan. Namun bagi warga desa, apa yang ia lakukan meninggalkan kesan yang berbeda. Ndak ada warga yang konsisten bangun lebih pagi darinya. Ndak ada warga yang bekerja lebih banyak darinya. Hingga pada suatu hari, kepala desa yang telah memimpin selama bertahun-tahun memutuskan mengundurkan diri karena usia yang ndak lagi muda. Warga kemudian berkumpul untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya. Beberapa nama sempat disebutkan. Namun setiap kali musyawarah berlangsung, pembicaraan selalu kembali kepada satu orang yang sama, Suyo. Bukan karena ia berasal dari keluarga terpandang, bukan pula karena memiliki kekayaan paling banyak. Warga memilihnya karena mereka telah melihat sendiri bagaimana ia menjalani hidup setiap hari. Kerja kerasnya, kedisiplinannya, dan kepeduliannya kepada sesama membuat banyak warga percaya kepadanya.

Tanpa persaingan yang berarti, Suyo akhirnya terpilih menjadi kepala desa. Di usianya yang masih muda, ia dipercaya memimpin seluruh warga desa. Kepercayaan itu bukan diperoleh dalam semalam, melainkan dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ia lakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Suyo memang gagal mencapai tujuan yang dahulu paling ia inginkan. Namun tanpa pernah ia sadari, satu tahun penuh latihan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Kebiasaan disiplin yang awalnya dilakukan demi mengejar satu tujuan justru mengantarkannya memperoleh kepercayaan, penghormatan, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Dan dari seorang pemuda desa biasa, Suyo akhirnya dikenal sebagai pemimpin termuda yang pernah dimiliki desanya.


Seringkiali perjuangan berakhir ndak sesuai harapan. Ada kalanya kita sudah berjuang keras, tetapi hasilnya tetap ndak memuaskan. Namun, jika selama proses itu kita membangun kebiasaan disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah, maka sebenarnya peluang besar sudah terbuka. Menjadi pribadi yang disiplin dan pekerja keras ndak akan pernah mengecewakan kita. Sebab itulah yang membentuk diri menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, lebih mampu, dan lebih siap menghadapi kesempatan lain di depan. Seperti Suyo, ia memang gagal memenuhi syarat untuk menikahi gadis yang ia cintai. Tetapi disiplin yang ia bangun selama 1 tahun telah mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia menjadi sosok teladan yang dihormati sehingga akhirnya dipercaya memimpin desanya di usia yang masih muda. Karena itu, jangan pernah menyesali usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab disiplin yang kita tanam hari ini mungkin ndak mengantarkan kita ke tujuan pertama, tetapi bisa saja mengantarkan kita pada masa depan yang jauh lebih baik.

No comments:

Post a Comment