Apr 28, 2026

Cara Mengubah Emosi Jadi Motivasi

 


Video klip di atas ada bunga Sepatu warna merah. SettiaBlog sering ketika memotret warna merah sering kali tampak ndak alami atau "pudar", bahkan ada yang warnanya jadi jingga. Kemungkinan ini pengaruh jumlah piksel hijau dua kali lebih banyak daripada merah atau biru. Proses penggabungan data (demosaicing) untuk memperkirakan warna merah di antara piksel hijau sering kali menyebabkan kehilangan detail tekstur atau pergeseran warna. Warna merah yang sangat cerah cenderung mencapai batas maksimal sensor (saturasi) lebih cepat daripada warna lain. Hal ini menyebabkan efek "clipping", di mana detail pada subjek merah hilang dan berubah menjadi blok warna solid yang rata dan ndak alami. Lho kok malah jadi ngomongin soal fotografi...O ya, maaf...maaf. Dan SettiaBlog isi dengan lagu "Summertime Sadness" milik Lana Del Rey. Lagunya c tentang tentang kesedihan mendalam, tapi ini di cover lebih ceria.

Kesedihan adalah bagian ndak terhindarkan dari kehidupan. Biasanya memahami tahapan kesedihan dapat membantu individu dan orang-orang di sekitarnya untuk beradaptasi dengan perubahan besar dalam hidup. Respons terhadap kesedihan sendiri sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keyakinan budaya, dan riwayat pribadi. Perlu diingat bahwa tahapan ini ndak selalu dialami secara linier dan setiap individu dapat mengalami kesedihan dengan cara yang unik.
Tahap 1: Penyangkalan (Denial)
Penyangkalan adalah tahap pertama dalam proses kesedihan. Pada tahap ini, individu mungkin menolak kenyataan atau mencoba untuk ndak mempercayai bahwa itu semua telah terjadi. Penyangkalan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan sementara untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional yang luar biasa. Contohnya, seseorang mungkin berkata, “Ini ndak mungkin terjadi padaku” atau “Aku merasa baik-baik saja.”
Tahap 2: Kemarahan (Anger)
Ketika realitas yang menyedihkan mulai meresap, kemarahan bisa muncul sebagai respons terhadap rasa sakit dan ketidakberdayaan. Kemarahan dapat diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau keadaan. Penting untuk diingat bahwa kemarahan adalah bagian normal dari proses berduka dan perlu diungkapkan dengan cara yang sehat.
Tahap 3: Tawar-menawar (Bargaining)
Tawar-menawar melibatkan upaya untuk membuat kesepakatan atau perjanjian dalam upaya untuk mengubah atau menunda kenyataan. Individu mungkin mencoba untuk bernegosiasi dengan kekuatan yang lebih tinggi atau membuat janji-janji jika mereka dapat membalikkan keadaan. Contohnya, seseorang mungkin berkata, “Jika aku bisa mengubah ini, aku akan…” atau “Aku berjanji akan menjadi orang yang lebih baik jika…”
Tahap 4: Depresi (Depression)
Depresi adalah tahap kesedihan di mana individu mengalami perasaan sedih yang mendalam, kehilangan harapan, dan kurangnya minat pada aktivitas sehari-hari. Depresi dapat termanifestasi dalam berbagai cara, termasuk kelelahan, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi. Penting untuk membedakan antara kesedihan normal dan depresi klinis, yang mungkin memerlukan intervensi medis.
Tahap 5: Penerimaan (Acceptance)
Penerimaan adalah tahap akhir dari proses berduka. Pada tahap ini, individu mulai menerima kenyataan dan belajar untuk hidup dengannya. Penerimaan ndak berarti bahwa individu merasa bahagia atau baik-baik aja. Akan tetapi, mereka telah mencapai titik di mana mereka dapat menerima kesedihan tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Kalau untuk yang baca blognya Settia gimana? Udah ndak yang bersedih SettiaBlog. Masak tha...? Alhamdulillah...., ya udah kalau gitu. E...SettiaBlog..., tapi bahasannya tetep di lanjutkan. O ...gitu tha? One...two...three....four...
Ahli sosial klinis mengungkapkan bahwa dalam batas tertentu, kemarahan bisa menjadi sesuatu yang positif lho... Setiap orang memiliki cara sendiri dalam menanggulangi emosi yang sedang dihadapi. Ada yang langsung meluapkannya seperti membanting pintu atau menggunakan nada tinggi saat berbicara, ada pula yang memilih memendamnya. Perilaku adalah agresi, perasaan adalah kemarahan. Kemarahan adalah respons alami dan normal terhadap berbagai rangsangan. Orang cenderung merasa marah ketika diancam, dianiaya, atau menjadi saksi ketidakadilan. Dan dalam batas tertentu, kemarahan bisa menjadi sesuatu yang positif seperti membantu orang termotivasi dan fokus. Berikut cara mengubah emosi menjadi motivasi:

1. Cari tahu masalah yang mendasari

Ndak hanya sehat, kemarahan sebenarnya memberikan Anda petunjuk berguna tentang apa yang memotivasi. Cari tahu penyebab kemarahan entah itu disebabkan sakit hati, ketakutan atau kesedihan. Setelah sumber diidentifikasi, masalah bisa diatasi. Akan tetapi saat masalah yang mendasari diabaikan, Anda hanya akan fokus untuk menghentikan perasaan marah aja. Ini justru akan memicu kemarahan yang lebih besar.
2. Kumpulkan informasi

Setelah menemukan masalah yang mendasari, ambil langkah lebih jauh dan tentukan alasan orang atau situasi tertentu membuat Anda sangat marah. Salah satu cara terbaik melihat kemarahan adalah dengan melihatnya sebagai informasi. Informasi, dapat membantu Anda menyadari apa yang Anda harapkan dari situasi ini.

3. Belajar dari kemarahan

Seperti halnya pengalaman dalam hidup, kemarahan bisa jadi bahan pembelajaran. Kemarahan bisa memberi pemahaman lebih baik tentang apa yang terjadi dalam hidup. Jika marah karena sakit hati, selanjutnya Anda dapat mulai belajar untuk menerima, memaafkan orang yang membuat rasa sakit hati. Dengan begini, Anda bisa belajar untuk menerima dan memaafkan diri sendiri.

4. Ndak semua tentang Anda

Saat marah, orang cenderung mempersonalisasi situasi tertentu sehingga membuatnya menjadi tentang mereka meski sebenarnya bukan. Mengubah situasi dan mencari tahu penyebab kekesalan. Apa Anda mengalami hal buruk? Apa ada yang memicu kilas balik masa lalu yang buruk? Ingat, Anda ndak bisa mengontrol semuanya. Kunci memanfaatkan amarah adalah dengan berdamai dengan fakta bahwa ada hal-hal di luar kendali Anda. Kesadaran ini memungkinkan Anda untuk menyalurkan amarah dengan cara yang lebih produktif dan dapat meredakan amarah lebih cepat.

5. Ambil tindakan

Kadang mencari tahu penyebab kemarahan itu mudah. Anda tahu alasan Anda marah sehingga siap untuk ambil tindakan dan mulai menyelesaikannya. Gunakan kemarahan sebagai motivasi untuk perubahan. Jika Anda marah, lakukan sesuatu. Lakukan perubahan, aktiflah. Jika ndak, itu akan berubah jadi balas dendam atau sikap apatis.

Udah ya, maafin SettiaBlog ya.


Untuk video klip kedua ada "seandainya. SettiaBlog...., cerita lagi tho...! Cerita apa..? Pokoknya cerita yang bagus. Ya...wes. Duduk santai ya, SettiaBlog tak cerita.
Suatu ketika di sebuah hutan luas yang masih sangat asri mengalir sebuah sungai besar yang menjadi sumber kehidupan bagi berbagai makhluk. Airnya jernih, arusnya kuat, dan tepiannya dipenuhi pepohonan tinggi yang akarnya mencengkeram tanah dengan kokoh. Di hutan itu hidup berbagai jenis hewan dari burung kecil yang bersahutan di pagi hari hingga hewan buas yang berkeliaran saat malam tiba. Namun di antara semua makhluk yang ada terdapat satu sosok yang paling ditakuti. Seekor buaya besar penghuni Sungai Utama. Buaya itu bukan buaya biasa. Tubuhnya panjang dan kokoh. Sisiknya keras seperti perisai dan rahangnya dikenal sebagai yang paling kuat di seluruh hutan. Ndak ada tulang mangsa yang ndak bisa ia patahkan. Bahkan sesama buaya pun enggan berurusan dengannya. Di antara kawanan buaya, dialah yang paling disegani sekaligus paling ditakuti. Hari-harinya dihabiskan dengan menguasai wilayah sungai. Ia berenang perlahan di bawah permukaan air mengintai siapapun yang lengah. Ketika waktunya tiba, ia menyerang dengan cepat dan dalam satu gigitan segalanya berakhir.

Seiring waktu bukan hanya kekuatannya yang tumbuh, tetapi juga rasa percaya dirinya. Ia mulai yakin bahwa ndak ada satupun makhluk di hutan itu yang mampu menandinginya. Suatu siang yang cerah ketika matahari bersinar terang di atas sungai, buaya itu muncul ke permukaan. Ia melihat seekor monyet sedang duduk santai di dahan pohon besar yang menjulur ke arah sungai. Monyet itu tampak tenang menikmati buah yang baru saja dipetiknya. Buaya itu mendekat lalu dengan suara berat yang tenang, ia bertanya,
"Apakah ada makhluk di hutan ini yang memiliki gigitan lebih kuat dariku?"
Monyet itu melirik sekilas lalu kembali memakan buahnya dengan santai. Tanpa ragu, ia menjawab bahwa ndak ada. Memang begitulah kenyataannya. Bahkan hewan sekuat harimau pun ndak memiliki gigitan sekuat buaya itu. Jawaban itu membuat si buaya semakin yakin dengan dirinya sendiri. Ia merasa berada di puncak kekuatan, ndak tertandingi, ndak terkalahkan. Dengan nada santai, seolah hanya bercanda, monyet itu kemudian menganjukan sebuah tantangan. Ia menunjuk pohon tempatnya bertengger, sebuah pohon tua dengan batang besar dan akar yang kuat. Pohon itu telah berdiri puluhan tahun menjadi tempat berlindung bagi banyak makhluk. Monyet itu menantang si buaya untuk merobohkan pohon tersebut hanya dengan rahangnya. sebuah tantangan yang terdengar mustahil.

Belum pernah ada buaya yang melakukan hal seperti itu. Rahang buaya memang kuat, tetapi digunakan untuk berburu, bukan untuk menumbangkan pohon. Monyet itu sebenarnya hanya ingin menguji. Ia berharap buaya itu menyadari bahwa ndak semua hal bisa diselesaikan dengan kekuatan gigitan. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Alih-alih menolak atau ragu, buaya itu perlahan naik ke daratan. Tubuh besarnya menyeret tanah basah meninggalkan jejak panjang di tepian sungai. Ia mendekati batang pohon itu dengan tatapan yakin. Dalam pikirannya ndak ada yang mustahil bagi rahangnya. Dan saat itulah tanpa banyak pertimbangan, ia membuka rahangnya lebar-lebar lalu menggigit batang pohon itu dengan sekuat tenaga.

Rahang buaya itu menutup dengan keras pada batang pohon tua tersebut. Awalnya ndak terjadi apa-apa. Pohon itu tetap berdiri kokoh seolah menanang kekuatan yang mencoba merobohkannya. Namun buaya itu ndak menyerah. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, menggigit lebih dalam, menekan dengan kekuatan yang selama ini membuatnya ditakuti. Sedikit demi sedikit kulit batang pohon mulai terkelupas. Suara retakan kecil terdengar pelan, namun cukup untuk membuat siapapun yang mendengarnya terdiam. Buaya itu semakin yakin. Ia mengulang gigitannya lagi dan lagi. Setiap gigitan meninggalkan bekas yang lebih dalam. Serpihan kayu mulai berjatuhan ke tanah dan batang pohon yang sebelumnya tampak ndak tergoyahkan mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan.

Di atas sana. Monyet yang awalnya hanya ingin memberi pelajar kini terdiam. Ia ndak menyangka apa yang dilihatnya. Pohon itu benar-benar mulai rusak. Rahang yang seharusnya digunakan untuk berburu kini dipakai untuk menghancurkan sesuatu yang jauh lebih besar dan keras. Dan yang lebih mengejutkan itu berhasil. Retakan demi retakan semakin jelas. Batang pohon mulai miring sedikit. Tanah di sekitar akarnya ikut bergeser ndak mampu lagi menahan beban yang terus melemah. Dengan satu gigitan terakhir yang penuh tenaga, terdengar suara patahan yang keras. Pohon itu akhirnya tumbang. Debu dan daun berterbangan saat batang besar itu jatuh ke tanah menghantam semak-semak di bawahnya. Suara gemuruhnya menggema ke seluruh penjuru hutan membuat burung-burung berterbangan panik. Monyet itu segera melompat menjauh sebelum pohon tempatnya bertengger benar-benar roboh. Ia berpindah ke pohon lain dengan gerakan cepat. Jantungnya berdebar kencang. Dari kejauhan ia menatap buaya itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Bukan sekedar kagum, lebih tepatnya terkejut. Ia ndak menyangka kekuatan itu bisa digunakan sejauh itu, bahkan untuk hal yang ndak semestinya.

Buaya itu berdiri di dekat batang pohon yang kini terletak ndak berdaya. Nafasnya berat, tetapi matanya penuh kebanggaan melihat hasil dari usahanya sendiri. sesuatu yang bahkan belum pernah dilakukan oleh buaya manapun sebelumnya. Dalam benaknya, satu keyakinan semakin menguat. Ndak ada yang ndak bisa ia lakukan. Monyet itu yang masih memperhatikan dari kejauhan akhirnya bersuara. Ia memuji kekuatan buaya tersebut. Mengakui bahwa rahangnya memang luar biasa. Namun setelah itu, tanpa banyak bicara ia memilih pergi. Ia ndak ingin berurusan lebih jauh dengan makhluk yang bukan hanya kuat, tetapi juga mulai kehilangan batas dalam menggunakan kekuatannya. Baginya, buaya itu kini bukan hanya menakutkan, tetapi juga berbahaya dengan cara yang berbeda.

Sementara itu, buaya kembali ke sungai. Ia masuk ke dalam air dengan tenang, seolah ndak terjadi apa-apa. Namun di dalam pikirannya, perasaan bangga itu terus membesar. Ia berenang perlahan menyusuri sungai besar itu, menikmati aliran air yang dingin di tubuhnya. Setiap gerakannya kini penuh keyakinan. Ia merasa mampu melakukan apa saja. Jika pohon besar saja bisa ia tumbangkan dengan rahangnya, apalagi hal-hal yang lebih kecil. Hari mulai beranjak mendung.

Cahaya matahari perlahan meredup. Tertutup awan yang semakin tebal. Angin mulai bertiup lebih kencang, menggerakkan daun-daun dan ranting-ranting di sepanjang hutan. Namun, buaya itu ndak terlalu mempedulikannya dan tanpa ia sadari, hutan di sekitarnya mulai berubah. Langit semakin gelap, adara menjadi berat. Sesuatu yang besar perlahan sedang mendekat. Langit yang tadinya hanya redup kini berubah menjadi gelap sepenuhnya. Awan tebal menggantung rendah menutupi cahaya matahari. Angin bertiup semakin kencang membuat pepohonan bergoyang dan suara gesekan daun terdengar di seluruh penjuru hutan. Sesekali kilatan petir menyambar membelah langit dengan cahaya putih yang tajam. Buaya itu akhirnya menyadari perubahan tersebut. Ia menghentikan renangnya lalu perlahan naik ke daratan untuk melihat keadaan. Tubuh besarnya bergerak berat di atas tanah basah, sementara matanya menyapu sekeliling. Ndak lama kemudian, sesuatu mulai terasa aneh. Udara menjadi panas dan berbau. Bau kayu terbakar. Ndak lama asap mulai terlihat di antara pepohonan. Tipis pada awalnya, lalu semakin tebal menyebar perlahan mengikuti arah angin. Kemungkinan besar salah satu petir yang menyambar telah membakar bagian hutan yang kering.

Dalam waktu singkat, pandangan mulai terbatas. Kabut abu-abu itu menutupi hampir seluruh area. Pepohonan yang tadinya terlihat jelas kini hanya tampak sebagai bayangan samar. Suara-suara hutan pun mulai meredup, digantikan oleh desiran angin dan gelegar petir. Buaya itu mengenyit. Ia ndak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Namun, alih-alih mundur atau mencari tempat aman, pikirannya justru kembali pada satu hal yang selalu ia andalkan, rahangnya. Dengan penuh keyakinan, ia percaya bahwa kekuatannya bisa mengatasi apapun, termasuk menyingkirkan kabut asap itu. Ia mulai membuka rahangnya lebar-lebar lalu menggigit ke arah asap di depannya. Sekali, dua kali, berkali-kali. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seolah mencoba mengusir kabut yang menghalangi pandangannya. Setiap gigitan dilakukan dengan tenaga penuh. Sama seperti saat ia merobohkan pohon sebelumnya. Dalam benaknya ndak ada yang berbeda. Jika pohon saja bisa hancur oleh gigitannya, maka kabut ini seharusnya bisa ia singkirkan. Ia terus melakukannya tanpa henti, menggigit ke depan ke samping, memutar tubuhnya, menyerang sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk. Waktu berlalu cukup lama. Tenaganya mulai terkuras. Nafasnya semakin berat.

Namun ia tetap bertahan. Yakin bahwa usahanya akan membuahkan hasil. Dan perlahan asap itu mulai menipis. Pandangan mulai kembali jelas. Pepohonan yang tadi tertutup kabut kini mulai terlihat lagi. Udara terasa lebih ringan. Buaya itu berhenti. Ia menatap sekeliling lalu perlahan mengangkat kepalanya dengan bangga. Dalam pikirannya, sekali lagi ia berhasil. Ia percaya bahwa gigitannya telah mengusir kabut itu. Padahal tanpa ia sadari hujan mulai turun dari langit. Tetes demi tetes air jatuh memadamkan sumber api kecil yang menyebabkan asap tadi. Angin pun berubah arah membawa sisa kabut menjauh dari area tersebut. Semua itu terjadi karena alam, bukan karena dirinya. Namun buaya itu ndak mengetahui hal tersebut. Ia kembali merasa unggul. Ia merasa telah menaklukkan sesuatu yang bahkan ndak bisa disentuh. Tanpa ragu-ragu, ia kembali ke sungai. Air mulai dipenuhi riak-riak kecil dari hujan yang semakin deras. Permukaan sungai yang luas itu tampak hidup bergelombang oleh tetesan air dari langit. Buaya itu masuk ke tengah sungai, tempat yang paling ia sukai. Berbeda dari buaya lain yang biasanya mencari tempat yang lebih hangat saat hujan, ia justru menikmati momen seperti ini. Ia membiarkan tubuhnya terendam merasakan dinginnya air hujan yang jatuh ke permukaan sungai. Bagi dirinya ini adalah saat yang tenang. Saat di mana ia bisa menikmati kekuasaannya tanpa gangguan.

Hujan semakin deras, angin terus bertiup dan jauh di hulu sungai sesuatu mulai terbentuk. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar asap. Hujan turun semakin lebat. Air yang jatuh dari langit seolah ndak ada hentinya mengguyur hutan dan sungai tanpa jeda. Permukaan sungai yang besar itu mulai berubah. Arusnya yang tadinya tenang kini semakin cepat, semakin kuat, dan semakin dalam. Di kejauhan, batang-batang kayu dan ranting mulai terbawa arus. Air dari hulu terus mengalir turun, membawa volume yang semakin besar. Namun, di tengah sungai itu, buaya tersebut masih berendam dengan santai. Ia memejamkan matanya, menikmati dinginnya air hujan yang mengenai tubuhnya. Ia merasa aman. Ia merasa ndak ada yang perlu dikhawatirkan. Baginya sungai ini adalah wilayahnya, tempat yang sudah ia kuasai sejak lama. Dan seperti biasa, ia yakin bahwa jika teradi sesuatu, ia selalu punya satu hal yang bisa diandalkan rahangnya. Namun keyakinan itu akan segera diuji. Tanpa peringatan, suara gemuruh terdengar dari arah hulu. Awalnya samar, lalu semakin jelas suara air yang bergerak cepat menghantam apun yang ada di depannya. Dalam hitungan detik, arus sungai berubah drastis. Air bah datang. Gelombang besar bergerak cepat membawa kayu, lumpur, dan apa saja yang terseret di jalurnya. Arusnya jauh lebih kuat dari sebelumnya, ndak terkendali, ndak terduga.

Buaya itu membuka matanya, namun semuanya sudah terlambat. Ia berada di tengah sungai yang sangat besar, jauh dari tepian, ndak ada waktu untuk berenang ke darat. Arus sudah lebih menarik tubuhnya, menyeretnya ampun. Ia mencoba melawan, menggerakkan ekornya sekuat tenaga. Namun, kekuatan arus itu terlalu besar. Tubuhnya terbawa, berputar, terseret semakin jauh. Dalam keadaan seperti itu, satu-satunya hal yang terlintas di pikirannya hanyalah rahangnya. Sekali lagi, ia mencoba mengandalkan kekuatan yang selama ini membuatnya merasa ndak terkalahkan. Ia membuka rahangnya lebar-lebar lalu menggigit air bah di sekitarnya ke kiri, ke kanan, ke depan. Ia menggigit arus itu sekuat tenaga berulang kali seperti yang ia lakukan pada pohon, seperti yang ia lakukan pada kabut. Dalam pikirannya, jika ia cukup kuat, air itu akan melemah. Jika ia cukup keras, arus itu akan berhenti. Namun, kali ini ndak ada yang berubah. Air tetap mengalir deras. Arus tetap menyeretnya tanpa henti. Gigitannya ndak memberikan dampak apun. Ia mencoba lagi dan lagi semakin panik semakin kuat. Namun hasilnya tetap sama. Ndak ada yang bisa ia lawan.

Untuk pertama kalinya kekuatan yang selama ini ia banggakan ndak berguna. Arus semakin cepat, suara gemuruh semakin keras, dan di depan sana sesuatu mulai terlihat. Sebuah tebing besar, air terjun. Mata buaya itu membelalak. Ia menyadari ke mana arus ini membawanya. Ia mencoba berbalik, mencoba berenang menjauh. Namun, semuanya sia-sia. Tubuhnya sudah terlalu jauh terseret dalam arus yang ndak bisa dikendalikan. Ndak ada pegangan, ndak ada daratan, ndak ada kesempatan. Untuk pertama kalinya ia benar-benar ndak berdaya. Dan dalam detik-detik terakhir sebelum mencapai tepi air terjun itu, ia menyadari satu hal. Ndak semua hal di dunia ini bisa dikalahkan dengan kekuatan. Arus membawa tubuhnya semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya terjatuh. terhempas ke dalam air terjun yang sangat dalam, hilang dari permukaan, ditelan oleh derasnya air yang ndak terbendung. Dan sejak saat itu ndak ada satuun hewan di hutan yang pernah melihatnya lagi.


Setiap masalah datang dengan solusinya masing-masing. Ndak semua hal bisa diselesaikan dengan satu cara yang sama. Seperti buaya dalam cerita ini, ia terlalu mengandalkan gigitannya untuk menghadapi segala situasi. Ia mencoba menggigitnya. Saat terseret air bah, ia kembali melakukan hal yang sama. Namun, kenyataannya, ndak semua masalah bisa diatasi dengan kekuatan yang sama. Dalam kehidupan nyata pun begitu. Saat kita merasa pintar, bukan berarti kepintaran itu bisa menyelesaikan semua hal. Kita ndak bisa memindahkan langsung sekarung besar gabah hanya karena kita pintar. Itu butuh tenaga. Memanjat pohon yang tinggi juga ndak cukup dengan kepintaran saja. Dibutuhkan keberanian, kekuatan, dan pengalaman. Dari sini kita belajar penting untuk memahami situasi sebelum bertindak. Gunakan cara yang tepat untuk masalah yang tepat. Karena kemampuan yang kita miliki akan menjadi sia-sia jika digunakan pada hal yang ndak sesuai.

No comments:

Post a Comment