Video klip di atas ada" twilight zone" miliknya Ariana Grande. SettiaBlog suka konsep video klipnya. SettiaBlog sendiri memaknai waktu senja:
🌠 Waktu yang tepat untuk merenung, mengevaluasi kehidupan, dan merenungkan pilihan-pilihan yang kita buat.
🌠 Waktu yang membawa pesan harapan dan kedamaian.
🌠 Momen romantis, di mana pasangan seringkali menyaksikan matahari terbenam bersama.
🌠 Sumber inspirasi bagi seniman, penyair, dan penulis.
🌠 Simbol cinta serta keindahan.
Dan sebelum pembahasan.
🌠 Waktu yang tepat untuk merenung, mengevaluasi kehidupan, dan merenungkan pilihan-pilihan yang kita buat.
🌠 Waktu yang membawa pesan harapan dan kedamaian.
🌠 Momen romantis, di mana pasangan seringkali menyaksikan matahari terbenam bersama.
🌠 Sumber inspirasi bagi seniman, penyair, dan penulis.
🌠 Simbol cinta serta keindahan.
Dan sebelum pembahasan.
On this joyous occasion of Eid al-Fitr, SettiaBlog apologize for any wrongs I have done to you. Eid Mubarak!
Di momen bahagia ini, SettiaBlog minta maaf atas segala kesalahan yang pernah SettiaBlog lakukan pada Anda semuanya . Selamat Hari Raya Idul Fitri!
May the blessings of Eid al-Fitr bring us closer and wash away any misunderstandings between us. Eid Mubarak!
Semoga berkah Idul Fitri membawa kita semakin dekat dan menghilangkan kesalahpahaman di antara kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Di momen bahagia ini, SettiaBlog minta maaf atas segala kesalahan yang pernah SettiaBlog lakukan pada Anda semuanya . Selamat Hari Raya Idul Fitri!
May the blessings of Eid al-Fitr bring us closer and wash away any misunderstandings between us. Eid Mubarak!
Semoga berkah Idul Fitri membawa kita semakin dekat dan menghilangkan kesalahpahaman di antara kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Untuk kartu ucapan di atas SettiaBlog terinspirasi dari kartu ucapan jaman dulu, menggunakan kertas Afdruk foto yang ndak jadi, itu lho warnanya yang jadi hitam semua. Terus di gores menggunakan logam tumpul. Tapi kali ini yang SettiaBlog gunakan media korek api Zippo hitam polos, terus SettiaBlog gores menggunakan obeng kecil. Font nya sendiri SettiaBlog gunakan font nya Google yang Skranji.
SettiaBlog bener - bener minta maaf kepada semuanya. Ya mungkin banyak bahasan SettiaBlog yang sifatnya kurang benar, mohon di lupakan dan jangan di masukkan hati.
Salah satu penyakit hati yang bisa hinggap pada diri seorang hamba Allah SWT adalah riya' atau pamer. Ketika melaksanakan ibadah, seseorang yang hatinya sedang terjangkit penyakit ini biasanya akan mengharapkan perhatian dan pujian dari orang lain. Selain ujub atau sombong, riya' adalah penyakit hati yang cukup berat untuk dilewati oleh seorang ahli ibadah. Namun demikian, ada beberapa cara dan upaya agar hati kita ndak terinfeksi riya', sehingga ibadah yang dilakukan ndak rusak dan memiliki nilai sebagaimana yang diharapkan. Mengenai hal ini, Imam Ghazali menjelaskan, setidaknya ada 4 pengingat bagi hamba Allah SWT agar bisa menghilangkan riya' dalam hati. Penjelasan ini diungkap Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin halaman 355-358.
Merasa ibadah masih kurang
Seorang hamba perlu mengingat dan merenungi firman Allah SWT dalam Surat At-Thalaq ayat 12
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Menurut Al-Ghazali, ayat tersebut menjadi teguran kepada hamba Allah SWT. Seolah-olah Allah SWT mengatakan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bumi, berikut keindahan yang ada di dalamnya untuk dinikmati oleh kita semua. Tapi hal itu ternyata ndak membuat kita ‘setia’ kepada-Nya sampai-sampai dalam beribadah pun harus mencari simpati dan pujian dari orang lain. Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui terhadap semua makhluk-Nya. Sementara kita adalah makhluk lemah, untuk melaksanakan shalat 2 rakaat aja masih banyak kesalahan dan kekurangan, namun malah berharap pujian dari selain Allah SWT atas shalat yang berkekurangan tersebut. Merasa ibadah yang kita lakukan masih kurang akan menghilangkan potensi untuk mengharapkan pujian dari orang lain. Sebaliknya, merasa ibadah sudah baik bahkan menganggap sempurna akan menumbuhkan benih-benih riya' dalam hati seseorang.
Mendapat kerugian besar
Pengingat selanjutnya adalah ibadah kita akan mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah SWT. Namun jika ibadah itu ternyata sudah terkontaminasi dengan riya', tentu aja balasan yang luar biasa tersebut sudah ndak berlaku lagi. Imam Ghazali mengumpamakan ibadah yang dikotori dengan riya' seperti seseorang yang memiliki permata dan siap dibeli dengan harga miliaran rupiah, namun malah memilih menjual murah permata itu dengan harga 1 rupiah. Semuanya tentu akan menganggap bahwa orang tersebut sangat rugi, punya selera buruk, dan lemah. Imam Ghazali mendorong agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT. Dengan begitu, niscaya balasan dunia (pujian, rezeki, kesehatan, dan sebagainya) sekaligus akhirat (surga) akan mengikuti. Sebab Allah SWT adalah pemilik dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 134.
“Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.”
Jika ibadah hanya ditujukan untuk dunia, misalnya untuk mendapat pujian manusia, maka pahala akhirat ndak akan didapat. Bahkan, dunia yang sejak awal menjadi tujuan ibadah itu pun bisa jadi ndak akan didapat. Semua pujian dari manusia ndak akan sebanding dengan balasan dan pujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan mengingat pada kerugian yang sangat besar ini, kemungkinan besar benih-benih riya' dalam hati seorang ndak akan tumbuh.
Orang lain ndak suka
Imam Ghazali menyarankan agar ndak beramal demi orang tertentu, karena bisa jadi orang tersebut ndak suka atau bahkan merasa risih dan keberatan dengan amal yang kita lakukan. Andai saja orang tersebut mengetahui bahwa amal itu untuknya, bisa jadi dia akan benci, marah, dan memandang hina kepada kita. Untuk itu, pengingat agar terhindar dari riya' adalah dengan menanamkan dalam diri bahwa orang lain ndak suka dengan amal ibadah yang kita lakukan. Dalam waktu yang sama, tujuan amal ibadah karena Allah SWT bisa mulai tumbuh secara perlahan. Sebab Allah SWT ndak akan pernah merasa keberatan dengan amal ibadah hamba-Nya. Justru Allah SWT akan mencintai dan memuliakan hamba-Nya yang ndak berpaling.
Mendapat Ridha Allah SWT
Pada pengingat berikutnya, Imam Ghazali kembali membuat analogi tentang orang riya'. Menurutnya, orang riya' itu seperti seseorang yang bisa mendapatkan restu raja, tapi malah memilih mencari restu gelandangan rendah. Padahal dengan restu raja, secara otomatis bisa dapat restu gelandang tadi. Tapi ketika hanya mencari restu gelandangan, raja malah akan murka dan gelandangan itu pun ikut murka. Dari analogi tersebut Imam Ghazali menegaskan bahwa ketika seorang mukmin beribadah karena Allah SWT dan mendapat ridha-Nya, secara otomatis ridla manusia juga bisa didapatkan karena Allah SWT adalah pemilik hati semua manusia yang ada di muka bumi ini.
Udah ya, maaf in SettiaBlog lho ya.
SettiaBlog bener - bener minta maaf kepada semuanya. Ya mungkin banyak bahasan SettiaBlog yang sifatnya kurang benar, mohon di lupakan dan jangan di masukkan hati.
Salah satu penyakit hati yang bisa hinggap pada diri seorang hamba Allah SWT adalah riya' atau pamer. Ketika melaksanakan ibadah, seseorang yang hatinya sedang terjangkit penyakit ini biasanya akan mengharapkan perhatian dan pujian dari orang lain. Selain ujub atau sombong, riya' adalah penyakit hati yang cukup berat untuk dilewati oleh seorang ahli ibadah. Namun demikian, ada beberapa cara dan upaya agar hati kita ndak terinfeksi riya', sehingga ibadah yang dilakukan ndak rusak dan memiliki nilai sebagaimana yang diharapkan. Mengenai hal ini, Imam Ghazali menjelaskan, setidaknya ada 4 pengingat bagi hamba Allah SWT agar bisa menghilangkan riya' dalam hati. Penjelasan ini diungkap Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin halaman 355-358.
Merasa ibadah masih kurang
Seorang hamba perlu mengingat dan merenungi firman Allah SWT dalam Surat At-Thalaq ayat 12
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Menurut Al-Ghazali, ayat tersebut menjadi teguran kepada hamba Allah SWT. Seolah-olah Allah SWT mengatakan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bumi, berikut keindahan yang ada di dalamnya untuk dinikmati oleh kita semua. Tapi hal itu ternyata ndak membuat kita ‘setia’ kepada-Nya sampai-sampai dalam beribadah pun harus mencari simpati dan pujian dari orang lain. Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui terhadap semua makhluk-Nya. Sementara kita adalah makhluk lemah, untuk melaksanakan shalat 2 rakaat aja masih banyak kesalahan dan kekurangan, namun malah berharap pujian dari selain Allah SWT atas shalat yang berkekurangan tersebut. Merasa ibadah yang kita lakukan masih kurang akan menghilangkan potensi untuk mengharapkan pujian dari orang lain. Sebaliknya, merasa ibadah sudah baik bahkan menganggap sempurna akan menumbuhkan benih-benih riya' dalam hati seseorang.
Mendapat kerugian besar
Pengingat selanjutnya adalah ibadah kita akan mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah SWT. Namun jika ibadah itu ternyata sudah terkontaminasi dengan riya', tentu aja balasan yang luar biasa tersebut sudah ndak berlaku lagi. Imam Ghazali mengumpamakan ibadah yang dikotori dengan riya' seperti seseorang yang memiliki permata dan siap dibeli dengan harga miliaran rupiah, namun malah memilih menjual murah permata itu dengan harga 1 rupiah. Semuanya tentu akan menganggap bahwa orang tersebut sangat rugi, punya selera buruk, dan lemah. Imam Ghazali mendorong agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT. Dengan begitu, niscaya balasan dunia (pujian, rezeki, kesehatan, dan sebagainya) sekaligus akhirat (surga) akan mengikuti. Sebab Allah SWT adalah pemilik dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 134.
“Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.”
Jika ibadah hanya ditujukan untuk dunia, misalnya untuk mendapat pujian manusia, maka pahala akhirat ndak akan didapat. Bahkan, dunia yang sejak awal menjadi tujuan ibadah itu pun bisa jadi ndak akan didapat. Semua pujian dari manusia ndak akan sebanding dengan balasan dan pujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan mengingat pada kerugian yang sangat besar ini, kemungkinan besar benih-benih riya' dalam hati seorang ndak akan tumbuh.
Orang lain ndak suka
Imam Ghazali menyarankan agar ndak beramal demi orang tertentu, karena bisa jadi orang tersebut ndak suka atau bahkan merasa risih dan keberatan dengan amal yang kita lakukan. Andai saja orang tersebut mengetahui bahwa amal itu untuknya, bisa jadi dia akan benci, marah, dan memandang hina kepada kita. Untuk itu, pengingat agar terhindar dari riya' adalah dengan menanamkan dalam diri bahwa orang lain ndak suka dengan amal ibadah yang kita lakukan. Dalam waktu yang sama, tujuan amal ibadah karena Allah SWT bisa mulai tumbuh secara perlahan. Sebab Allah SWT ndak akan pernah merasa keberatan dengan amal ibadah hamba-Nya. Justru Allah SWT akan mencintai dan memuliakan hamba-Nya yang ndak berpaling.
Mendapat Ridha Allah SWT
Pada pengingat berikutnya, Imam Ghazali kembali membuat analogi tentang orang riya'. Menurutnya, orang riya' itu seperti seseorang yang bisa mendapatkan restu raja, tapi malah memilih mencari restu gelandangan rendah. Padahal dengan restu raja, secara otomatis bisa dapat restu gelandang tadi. Tapi ketika hanya mencari restu gelandangan, raja malah akan murka dan gelandangan itu pun ikut murka. Dari analogi tersebut Imam Ghazali menegaskan bahwa ketika seorang mukmin beribadah karena Allah SWT dan mendapat ridha-Nya, secara otomatis ridla manusia juga bisa didapatkan karena Allah SWT adalah pemilik hati semua manusia yang ada di muka bumi ini.
Udah ya, maaf in SettiaBlog lho ya.