Video klip di atas ada "the lucky one" milik Taylor Swift. Sebentar SettiaBlog, emangnya ada tho 'keberuntungan' itu? Ya, semua itu tergantung cara memahaminya. Keberuntungan, yang sering diartikan sebagai hoki atau nasib baik, merupakan konsep yang telah lama melekat dalam berbagai budaya dan masyarakat di seluruh dunia. Secara umum, keberuntungan dapat didefinisikan sebagai keadaan atau peristiwa yang menguntungkan yang terjadi secara ndak terduga atau di luar kendali seseorang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoki didefinisikan sebagai "untung; mujur; beruntung". Definisi ini menekankan pada aspek positif dan menguntungkan dari suatu kejadian yang ndak direncanakan. Namun, konsep keberuntungan sebenarnya lebih kompleks. Keberuntungan dapat dipandang sebagai pertemuan antara peluang dan kesiapan. Seorang filsuf Romawi, Seneca, pernah berkata, "Keberuntungan adalah apa yang terjadi ketika persiapan bertemu dengan kesempatan." Ini menunjukkan bahwa meskipun keberuntungan sering dianggap sebagai faktor eksternal, sebenarnya ada elemen internal yang juga berperan, yaitu kesiapan kita dalam memanfaatkan peluang yang muncul.
Dalam konteks yang lebih luas, keberuntungan juga dapat dipahami sebagai rangkaian kejadian yang mengarah pada hasil yang positif, meskipun ndak selalu dapat dijelaskan secara logis atau rasional. Ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari karir, hubungan, keuangan, hingga kesehatan.
Penting untuk dicatat bahwa konsep keberuntungan berbeda-beda di berbagai budaya. Misalnya, dalam budaya Barat, keberuntungan sering dikaitkan dengan kebetulan atau coincidence. Sementara itu, dalam beberapa budaya Timur, keberuntungan lebih dipandang sebagai bagian dari takdir atau nasib yang telah ditentukan. Memahami arti keberuntungan juga melibatkan pengakuan bahwa ndak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan sepenuhnya. Ada faktor-faktor di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari usaha atau keputusan yang kita ambil. Namun, ini ndak berarti bahwa kita harus pasrah pada nasib. Sebaliknya, pemahaman tentang keberuntungan dapat membantu kita untuk lebih menghargai peluang yang muncul dan memanfaatkannya dengan bijak. Dalam dunia modern, konsep keberuntungan juga sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk mengenali dan memanfaatkan peluang. Ini melibatkan keterampilan seperti kecerdasan emosional, kemampuan networking, dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. Dengan kata lain, meskipun keberuntungan sering dianggap sebagai sesuatu yang "jatuh dari langit", sebenarnya ada banyak cara di mana seseorang dapat meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan keberuntungan.
Dalam dunia karir dan bisnis yang kompetitif, peran keberuntungan atau hoki sering menjadi topik perdebatan. Sementara beberapa orang menekankan pentingnya kerja keras dan strategi, yang lain mengakui bahwa faktor keberuntungan juga memainkan peran penting dalam kesuksesan. Mari kita jelajahi bagaimana keberuntungan dapat mempengaruhi perjalanan karir dan bisnis seseorang, serta bagaimana kita dapat memanfaatkannya secara optimal.
1. Peluang yang Ndak Terduga
Salah satu cara paling jelas keberuntungan mempengaruhi karir adalah melalui peluang yang muncul secara ndak terduga. Ini bisa berupa pertemuan kebetulan dengan seseorang yang kemudian menjadi mentor atau partner bisnis, atau mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan yang ndak diiklankan secara luas. Meskipun kita ndak bisa mengendalikan kapan peluang-peluang ini muncul, kita bisa meningkatkan kemungkinan untuk "beruntung" dengan:
ଛ Memperluas jaringan profesional
ଛ Aktif berpartisipasi dalam acara industri dan konferensi
ଛ Terbuka terhadap percakapan dan koneksi baru
2. Timing yang Tepat
Timing sering kali menjadi faktor kunci dalam kesuksesan bisnis atau karir. Meluncurkan produk atau memulai bisnis pada saat yang tepat bisa membuat perbedaan besar. Meskipun timing yang sempurna bisa dianggap sebagai keberuntungan, sebenarnya ini juga melibatkan:
ଯ Penelitian pasar yang teliti
ଯ Kemampuan untuk membaca tren industri
ଯ Fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan cepat
3. Inovasi yang "Beruntung"
Banyak penemuan dan inovasi besar dalam bisnis awalnya dianggap sebagai hasil dari keberuntungan atau kebetulan. Namun, lebih sering, ini adalah hasil dari:
ଷ Eksperimentasi yang konsisten
ଷ Kesiapan untuk mengambil risiko yang terukur
ଷ Kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang yang muncul dari kegagalan atau kesalahan
4. Dukungan dari Orang yang Tepat
Mendapatkan dukungan dari orang yang tepat - baik itu investor, mentor, atau anggota tim yang berbakat - sering dianggap sebagai keberuntungan. Namun, ini juga melibatkan:
ଅ Membangun reputasi yang solid dalam industri
ଅ Mengembangkan keterampilan komunikasi dan negosiasi yang efektif
ଅ Konsisten dalam menunjukkan nilai dan potensi Anda atau bisnis Anda
5. Bertahan dalam Krisis
Kemampuan untuk bertahan dan bahkan berkembang selama masa-masa sulit sering dikaitkan dengan keberuntungan. Namun, ini lebih merupakan hasil dari:
ଝ Perencanaan yang matang dan manajemen risiko yang efektif
ଝ Membangun ketahanan dan fleksibilitas dalam model bisnis
ଝ Kemampuan untuk beradaptasi cepat dengan perubahan situasi
6. Keberuntungan dalam Rekrutmen
Menemukan karyawan yang tepat sering dianggap sebagai keberuntungan, terutama dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif. Namun, perusahaan yang konsisten dalam menemukan talenta terbaik biasanya melakukan:
ଐ Pengembangan strategi rekrutmen yang efektif
ଐ Investasi dalam membangun budaya perusahaan yang menarik
ଐ Penawaran paket kompensasi dan manfaat yang kompetitif
ଐ Membangun reputasi sebagai tempat kerja yang baik
7. Keberuntungan dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan yang tepat dalam bisnis sering dikaitkan dengan intuisi yang beruntung. Namun, pembuat keputusan yang konsisten "beruntung" biasanya:
ହ Melakukan analisis mendalam terhadap data dan tren
ହ Berkonsultasi dengan berbagai ahli dan pemangku kepentingan
ହ Memiliki pengalaman yang luas dalam industri mereka
ହ Mengembangkan kemampuan untuk mengenali pola dan tren yang mungkin ndak terlihat oleh orang lain
8. Keberuntungan dalam Negosiasi
Keberhasilan dalam negosiasi bisnis kadang-kadang dianggap sebagai hasil dari keberuntungan. Namun, negosiator yang sukses biasanya:
ଈ Melakukan persiapan yang menyeluruh sebelum negosiasi
ଈ Mengembangkan keterampilan komunikasi dan persuasi yang kuat
ଈ Memiliki pemahaman mendalam tentang psikologi negosiasi
ଈ Fleksibel dan mampu beradaptasi dengan dinamika negosiasi yang berubah
9. Keberuntungan dalam Inovasi Produk
Menciptakan produk yang "beruntung" menjadi hit di pasar sering dianggap sebagai kebetulan. Namun, perusahaan yang konsisten dalam meluncurkan produk sukses biasanya:
ଭ Melakukan riset pasar yang ekstensif
ଭ Mendengarkan umpan balik pelanggan dengan seksama
ଭ Berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan
ଭ Memiliki proses pengembangan produk yang terstruktur namun fleksibel
10. Keberuntungan dalam Pendanaan
Mendapatkan pendanaan untuk bisnis sering dianggap sebagai keberuntungan, terutama bagi startup. Namun, pengusaha yang berhasil mendapatkan pendanaan biasanya:
ଏ Memiliki rencana bisnis yang solid dan terperinci
ଏ Mengembangkan pitch yang menarik dan persuasif
ଏ Membangun jaringan yang kuat dengan investor potensial
ଏ Menunjukkan traksi awal atau bukti konsep yang meyakinkan
Meskipun keberuntungan memang memainkan peran dalam karir dan bisnis, penting untuk diingat bahwa "keberuntungan" ini sering kali merupakan hasil dari persiapan yang matang, kerja keras, dan kesiapan untuk memanfaatkan peluang. Alih-alih mengandalkan keberuntungan semata, fokus pada pengembangan keterampilan, membangun jaringan, dan menciptakan kondisi yang meningkatkan peluang untuk "beruntung". Dengan pendekatan ini, Anda ndak hanya meningkatkan peluang untuk sukses, tetapi juga memposisikan diri untuk memanfaatkan sepenuhnya ketika keberuntungan benar-benar mengetuk pintu.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya ini SettiaBlog sengaja menggabungkan kombinasi motif Lasem dan motif Majapahit.
Penting untuk dicatat bahwa konsep keberuntungan berbeda-beda di berbagai budaya. Misalnya, dalam budaya Barat, keberuntungan sering dikaitkan dengan kebetulan atau coincidence. Sementara itu, dalam beberapa budaya Timur, keberuntungan lebih dipandang sebagai bagian dari takdir atau nasib yang telah ditentukan. Memahami arti keberuntungan juga melibatkan pengakuan bahwa ndak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan sepenuhnya. Ada faktor-faktor di luar kendali kita yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari usaha atau keputusan yang kita ambil. Namun, ini ndak berarti bahwa kita harus pasrah pada nasib. Sebaliknya, pemahaman tentang keberuntungan dapat membantu kita untuk lebih menghargai peluang yang muncul dan memanfaatkannya dengan bijak. Dalam dunia modern, konsep keberuntungan juga sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk mengenali dan memanfaatkan peluang. Ini melibatkan keterampilan seperti kecerdasan emosional, kemampuan networking, dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. Dengan kata lain, meskipun keberuntungan sering dianggap sebagai sesuatu yang "jatuh dari langit", sebenarnya ada banyak cara di mana seseorang dapat meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan keberuntungan.
Dalam dunia karir dan bisnis yang kompetitif, peran keberuntungan atau hoki sering menjadi topik perdebatan. Sementara beberapa orang menekankan pentingnya kerja keras dan strategi, yang lain mengakui bahwa faktor keberuntungan juga memainkan peran penting dalam kesuksesan. Mari kita jelajahi bagaimana keberuntungan dapat mempengaruhi perjalanan karir dan bisnis seseorang, serta bagaimana kita dapat memanfaatkannya secara optimal.
1. Peluang yang Ndak Terduga
Salah satu cara paling jelas keberuntungan mempengaruhi karir adalah melalui peluang yang muncul secara ndak terduga. Ini bisa berupa pertemuan kebetulan dengan seseorang yang kemudian menjadi mentor atau partner bisnis, atau mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan yang ndak diiklankan secara luas. Meskipun kita ndak bisa mengendalikan kapan peluang-peluang ini muncul, kita bisa meningkatkan kemungkinan untuk "beruntung" dengan:
ଛ Memperluas jaringan profesional
ଛ Aktif berpartisipasi dalam acara industri dan konferensi
ଛ Terbuka terhadap percakapan dan koneksi baru
2. Timing yang Tepat
Timing sering kali menjadi faktor kunci dalam kesuksesan bisnis atau karir. Meluncurkan produk atau memulai bisnis pada saat yang tepat bisa membuat perbedaan besar. Meskipun timing yang sempurna bisa dianggap sebagai keberuntungan, sebenarnya ini juga melibatkan:
ଯ Penelitian pasar yang teliti
ଯ Kemampuan untuk membaca tren industri
ଯ Fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan cepat
3. Inovasi yang "Beruntung"
Banyak penemuan dan inovasi besar dalam bisnis awalnya dianggap sebagai hasil dari keberuntungan atau kebetulan. Namun, lebih sering, ini adalah hasil dari:
ଷ Eksperimentasi yang konsisten
ଷ Kesiapan untuk mengambil risiko yang terukur
ଷ Kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang yang muncul dari kegagalan atau kesalahan
4. Dukungan dari Orang yang Tepat
Mendapatkan dukungan dari orang yang tepat - baik itu investor, mentor, atau anggota tim yang berbakat - sering dianggap sebagai keberuntungan. Namun, ini juga melibatkan:
ଅ Membangun reputasi yang solid dalam industri
ଅ Mengembangkan keterampilan komunikasi dan negosiasi yang efektif
ଅ Konsisten dalam menunjukkan nilai dan potensi Anda atau bisnis Anda
5. Bertahan dalam Krisis
Kemampuan untuk bertahan dan bahkan berkembang selama masa-masa sulit sering dikaitkan dengan keberuntungan. Namun, ini lebih merupakan hasil dari:
ଝ Perencanaan yang matang dan manajemen risiko yang efektif
ଝ Membangun ketahanan dan fleksibilitas dalam model bisnis
ଝ Kemampuan untuk beradaptasi cepat dengan perubahan situasi
6. Keberuntungan dalam Rekrutmen
Menemukan karyawan yang tepat sering dianggap sebagai keberuntungan, terutama dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif. Namun, perusahaan yang konsisten dalam menemukan talenta terbaik biasanya melakukan:
ଐ Pengembangan strategi rekrutmen yang efektif
ଐ Investasi dalam membangun budaya perusahaan yang menarik
ଐ Penawaran paket kompensasi dan manfaat yang kompetitif
ଐ Membangun reputasi sebagai tempat kerja yang baik
7. Keberuntungan dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan yang tepat dalam bisnis sering dikaitkan dengan intuisi yang beruntung. Namun, pembuat keputusan yang konsisten "beruntung" biasanya:
ହ Melakukan analisis mendalam terhadap data dan tren
ହ Berkonsultasi dengan berbagai ahli dan pemangku kepentingan
ହ Memiliki pengalaman yang luas dalam industri mereka
ହ Mengembangkan kemampuan untuk mengenali pola dan tren yang mungkin ndak terlihat oleh orang lain
8. Keberuntungan dalam Negosiasi
Keberhasilan dalam negosiasi bisnis kadang-kadang dianggap sebagai hasil dari keberuntungan. Namun, negosiator yang sukses biasanya:
ଈ Melakukan persiapan yang menyeluruh sebelum negosiasi
ଈ Mengembangkan keterampilan komunikasi dan persuasi yang kuat
ଈ Memiliki pemahaman mendalam tentang psikologi negosiasi
ଈ Fleksibel dan mampu beradaptasi dengan dinamika negosiasi yang berubah
9. Keberuntungan dalam Inovasi Produk
Menciptakan produk yang "beruntung" menjadi hit di pasar sering dianggap sebagai kebetulan. Namun, perusahaan yang konsisten dalam meluncurkan produk sukses biasanya:
ଭ Melakukan riset pasar yang ekstensif
ଭ Mendengarkan umpan balik pelanggan dengan seksama
ଭ Berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan
ଭ Memiliki proses pengembangan produk yang terstruktur namun fleksibel
10. Keberuntungan dalam Pendanaan
Mendapatkan pendanaan untuk bisnis sering dianggap sebagai keberuntungan, terutama bagi startup. Namun, pengusaha yang berhasil mendapatkan pendanaan biasanya:
ଏ Memiliki rencana bisnis yang solid dan terperinci
ଏ Mengembangkan pitch yang menarik dan persuasif
ଏ Membangun jaringan yang kuat dengan investor potensial
ଏ Menunjukkan traksi awal atau bukti konsep yang meyakinkan
Meskipun keberuntungan memang memainkan peran dalam karir dan bisnis, penting untuk diingat bahwa "keberuntungan" ini sering kali merupakan hasil dari persiapan yang matang, kerja keras, dan kesiapan untuk memanfaatkan peluang. Alih-alih mengandalkan keberuntungan semata, fokus pada pengembangan keterampilan, membangun jaringan, dan menciptakan kondisi yang meningkatkan peluang untuk "beruntung". Dengan pendekatan ini, Anda ndak hanya meningkatkan peluang untuk sukses, tetapi juga memposisikan diri untuk memanfaatkan sepenuhnya ketika keberuntungan benar-benar mengetuk pintu.
Udah ya, maafin SettiaBlog ya. Untuk backgroundnya ini SettiaBlog sengaja menggabungkan kombinasi motif Lasem dan motif Majapahit.
Untuk video klip kedua ini SettiaBlog kasih judul "memeluk semesta". Kalau ilustrasinya itu ada konstelasi bintang, kira - kira itu menunjuk arah mana? Ada yang tahu ndak? Posisi gambarnya SettiaBlog taruh tepi, sesuai dengan rumus golden ratio.
Salah satu tanda orang beruntung dalam pandangan syariat adalah mereka yang mendapat hidayah Allah ﷻ. Mengapa demikian? Bagaimana ndak, setelah sebagian umurnya hanya digunakan untuk hal yang sia-sia, banyak maksiat, meninggalkan ibadah, dan hanya mementingkan dunia, tiba-tiba seseorang menjadi tekun beribadah. Tiba-tiba dalam hidupnya hanya punya satu fokus yang dia tuju, yakni menggapai ridha Allah ﷻ. Orang yang mendapatkan hidayah harus bersyukur kepada Allah ﷻ. Sebab, dari posisi dia sebelumnya yang bergelimang dosa, Allah ﷻ menyelamatkannya menuju cahaya kebenaran. Allah ﷻ menjadikan jiwanya ringan menjalankan semua syariat-Nya. Hidayah merupakan anugerah Allah ﷻ yang berisi petunjuk ke jalan kebaikan.
Hidayah itu seperti sinar cahaya di saat purnama. Seseorang yang ingin menikmati indahnya cahaya rembulan , harus keluar rumah untuk mendapatkan cahayanya. Bukan hanya terdiam di dalam ruang yang gelap. Begitulah, cahaya itu didatangkan Allah ﷻ dan hanya diberikan Allah ﷻ kepada makhluk yang dikehendaki-Nya. Firman Allah ﷻ :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al- Qashas ayat 56)
Hidayah juga penyebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah ﷻ untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan ndak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Allah ﷻ berfirman:
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Dalam ayat lain,Allah ﷻ juga berfirman:
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS al-Kahf:17).
Untuk mendapatkan hidayah Allah ﷻ maka jangan diam dan melupakan-Nya. Allah ﷻ memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah yang merupakan surah yang paling agung dalam Al-Qur'an, karena sangat besar dan mendesaknya kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Bimbinglah kami (hidayah) ke jalan yang lurus"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah Ta’ala) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah atau orang-orang yang tersesat”.
Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan sehubungan dengan makna ayat di atas: Bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah di setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau ndak demikian? Imam Ibnu Katsir berkata: “Jawabannya: tidak demikian, kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya."
Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah ﷻ untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya.bSungguh seorang hamba ndak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah ﷻ membimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah ﷻ untuk selalu memohon kepadanya, karena Allah ﷻ telah menjamin pengabulan bagi orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang. Allah ﷻ berfirman :
فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).
Dan firman-Nya:
إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Jika engkau (wahai Muhammad ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).
Salah satu tanda orang beruntung dalam pandangan syariat adalah mereka yang mendapat hidayah Allah ﷻ. Mengapa demikian? Bagaimana ndak, setelah sebagian umurnya hanya digunakan untuk hal yang sia-sia, banyak maksiat, meninggalkan ibadah, dan hanya mementingkan dunia, tiba-tiba seseorang menjadi tekun beribadah. Tiba-tiba dalam hidupnya hanya punya satu fokus yang dia tuju, yakni menggapai ridha Allah ﷻ. Orang yang mendapatkan hidayah harus bersyukur kepada Allah ﷻ. Sebab, dari posisi dia sebelumnya yang bergelimang dosa, Allah ﷻ menyelamatkannya menuju cahaya kebenaran. Allah ﷻ menjadikan jiwanya ringan menjalankan semua syariat-Nya. Hidayah merupakan anugerah Allah ﷻ yang berisi petunjuk ke jalan kebaikan.
Hidayah itu seperti sinar cahaya di saat purnama. Seseorang yang ingin menikmati indahnya cahaya rembulan , harus keluar rumah untuk mendapatkan cahayanya. Bukan hanya terdiam di dalam ruang yang gelap. Begitulah, cahaya itu didatangkan Allah ﷻ dan hanya diberikan Allah ﷻ kepada makhluk yang dikehendaki-Nya. Firman Allah ﷻ :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al- Qashas ayat 56)
Hidayah juga penyebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah ﷻ untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan ndak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Allah ﷻ berfirman:
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Dalam ayat lain,Allah ﷻ juga berfirman:
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS al-Kahf:17).
Untuk mendapatkan hidayah Allah ﷻ maka jangan diam dan melupakan-Nya. Allah ﷻ memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah yang merupakan surah yang paling agung dalam Al-Qur'an, karena sangat besar dan mendesaknya kebutuhan manusia terhadap hidayah Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Bimbinglah kami (hidayah) ke jalan yang lurus"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah Ta’ala) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah atau orang-orang yang tersesat”.
Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan sehubungan dengan makna ayat di atas: Bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah di setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau ndak demikian? Imam Ibnu Katsir berkata: “Jawabannya: tidak demikian, kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya."
Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah ﷻ untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya.bSungguh seorang hamba ndak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah ﷻ membimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah ﷻ untuk selalu memohon kepadanya, karena Allah ﷻ telah menjamin pengabulan bagi orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang. Allah ﷻ berfirman :
فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).
Dan firman-Nya:
إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Jika engkau (wahai Muhammad ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).
